Saturday, June 29, 2013

Cinderella di Pelabuhan

Cinderella bergegas pulang
Sementara kita masih mengupas semangka
Ranum dan memerah
Serona pipi Cinderella ditampar ibu tiri

Kenapa Cinderella menemu kita di pelabuhan?
Bukan ke kerajaan para pangeran ramai berdansa
Di laut tak ada apa-apa
Hanya angin melurut tengkuk

Cinderella, kembali saja ke rumah tua
Jangan terlalu lama tercenung pada ombak
Lantaran ini pantai tempat para perompak teriak
Pangeran tak suka amis, kan?

Tapi Cinderella kembali ke sini
Pukul 01:00
Bukan demi sepatu kaca
Amis itu yang ia rindu
Serindu kapal pada dermaga

(Minggu malam di pelabuhan Gorontalo)


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, June 27, 2013

Negeri Kaya Yang Teraniaya

Sepintas tadi saya membaca BC (Broadcast Message) dari kawan-kawan Brimob (Brigadir Mobil) di kontak BBM (BlackBerry Messenger) mengenai penembakan pihak OPM (Organisasi Papua Merdeka) terhadap enam anggota Brimob yang bertugas di Papua. Sebagai manusia pecinta perdamaian, hati saya tergetar kembali ketika pertumpahan darah di negri Cendrawasih masih terus berlangsung. Maka turut berbela sungkawa untuk itu kawan.

Agar lebih jelas, saya kutip isi BC yang saya terima:
"ADD berkabung!!!!
Terjadi penembakan kembali oleh gerakan separatis OPM. Enam anggota Brimob meninggal dunia yang sedang melaksanakan tugas di Papua. Emat di antaranya dari letting kami ADD dan dua Tamtama. Semoga amal ibadahnya di terima disisi-Nya. Amin."
Setelah itu ada rentetan nama-nama yang turut menjadi korban. Kalimat penutup BC lantas berbunyi: "Selamat jalan kawan, kami di sini semua mendoakanmu. Kita balas nanti, "Nyawa dibayar nyawa!"
Buat letting ADD di seluruh NKRI minta kesadarannya untuk sedikit mengeluarkan rezekinya untuk membantu meringankan keluarga saudara-saudara kita. 87-kan ke ADD yang lain.
Terima kasih let... "

***

Apa yang membuat saya tercenung ketika membaca BC tersebut? Tak lain adalah sebuah penggalan kalimat: "Nyawa dibayar nyawa!"
Sekarang mari kita coba bayangkan sejenak tentang akibat dari perkataan itu. Nyawa dibayar dengan nyawa. Sekalipun bumi ini terbelah dua, maka manusia akan menyeberangi langit untuk berperang demi kalimat itu.
Perang akan senantiasa berkecamuk jika yang ditanamkan dalam batok kepala kita adalah: balas dendam selalu menjadi alasan suci ketika bunuh-membunuh terjadi.
Bagi saya doktrin itu sungguh sesat dan bejat.

Saya bukan ahli yang secara khusus mengamati konflik yang terjadi di Papua. Serendah-rendahnya ragam informasi yang sempat saya baca dari berbagai sumber media cetak maupun dengan bertanya pada "Om Google", saya (sebatas ukuran pribadi tentunya) berkesimpulan bahwa apa yang terjadi di Papua, bukan semata tentang kaum OPM yang brutal dengan semangat yang membabi-buta untuk membunuh. Mereka adalah kaum yang termarjinalkan di tanah bumi kandung mereka sendiri.

Di jaman Orde Baru Soeharto, mereka dilabeli sebagai GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Mereka berontak karena kebiadaban negara ini menjual tanah kekayaan mereka ke genggaman corporate asing. Bumi mereka dikeruk habis-habisan dalam hitungan dekade dan terus berlanjut hingga saat ini.
Tanah air Papua yang mereka yakini dan percayai sebagai Ibu.

Papua adalah negeri kaya yang teraniaya. Harga-harga yang menjulang tinggi di antara tatapan-tatapan mata cekung rakyatnya. Kekayaan rakyat Papua dikeruk. Ibu yang tengah tidur menyusui "dibunuh". Tergagahi asing.

Kemarin saya sempat berkirim-kiriman chat BBM dan berbagi cerita tentang kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) di Papua. Bayangkan, untuk 1 liter bensin di desa-desa pinggiran di Papua bisa mencapai angka Rp 50.000. Apapun soal kenaikan BBM, maka imbasnya pula ke harga bahan-bahan pokok dan barang kebutuhan hidup lainnya. Di tanah Papua seolah-olah harga tak terkendalikan oleh invisible hand-nya Adam Smith.

Ini Tanah Air kami, hasil tanah pun kami beli, dan air pun kami beli. Ketertindasan dan kelaparan yang terus-menerus mereka alami, memuncak-jayakan satu kalimat lantang mereka; Kami berontak!
Rakyat Papua berontak lantaran ingin menunjukkan eksistensi mereka. Berontak kepada negara ini untuk membuktikan bahwa mereka 'ada' yang terlupakan dan terabaikan.

Rakyat Papua hanya ingin satu, mereka tak ingin menjadi budak lagi. Sepasukan OPM tak lebih hanya sekumpulan budak yang memberontak. Sekumpulan Gladiator yang berjuang bersama Spartacus demi keadilan. Spartacus pun pernah berucap dengan gagahnya, "Ketika manusia merdeka mati, ia kehilangan kenikmatan hidupnya. Ketika seorang budak mati, ia terbebas dari rasa sakitnya. Mati adalah satu-satunya cara yang diketahui budak untuk bisa merdeka. Kematian bukanlah hal yang ditakuti karenanya. Ketidaktakutan itu yang membuat kami menang!"

Menang untuk ketidakadilan.

Tapi apapun soal perang, selalu menyisakan duka. "Hanya yang mati yang melihat akhir perang," kata Plato.

Damailah... Damailah Papua, damailah Indonesiaku.

Powered by Telkomsel BlackBerry

Wednesday, June 26, 2013

Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce

Ini kisah dari negeri Komkomci. Sebuah negeri yang juga dijuluki negeri para Lonua'.
Di Komkomci, terdapat kota bernama Kamunce. Kota ini akan segera melakukan pemilihan Walikota. Selayaknya pesta demokrasi, suasana kota nampak penuh berhias bendera dan bangunan-bangunan posko pendukung. Rakyat pun gembira menyambut momen ini.

Persaingan antar kandidat yang ketat, membuat Tim Sukses masing-masing kandidat harus memutar otak beradu strategi dan tak-tik. Beragam siasat ditempuh. Dari yang menggunakan akal sehat, hingga yang berbau mistik.

Ya, kota Kamunce sedang menjadi "gila" dengan momen ini. Tak-tik, siasat, strategi, dan cara apapun bakal ditempuh asalkan kandidat yang mereka dukung menang.

***
Kulutuk adalah salah seorang kandidat Walikota di kota Kamunce yang memiliki Tim Sukses yang cukup ahli dalam politik. Salah satu yang terkenal adalah seorang yang bernama Kondo. Ia lulusan dari Universitas Kukule. Sebuah Universitas terkenal di negeri Kolokang―negeri tetangga Komkomci.

Kondo yang semasa kuliah dikenal rajin ditambah punya hobi baca buku terutama yang, bertema politik dianggap cukup menjadi bagian dari tim pemenangan. Lantaran Kondo sendiri memang telah memiliki pengalaman menjadi Tim Sukses yang berhasil mengantarkan kandidat yang didukung ke kursi kekuasaan. Kredibilitasnya dalam urusan pemilihan pemimpin kepala daerah semacam Bupati dan Walikota sudah teruji. Memang bukan berarti di kota Kamunce tak ada pawang politik. Bahkan dengan level lebih di atas Kondo banyak. Namun satu yang membedakan Kondo dengan pawang politik yang dimiliki kota Kamunce adalah, Kondo mempercayai hal-hal gaib atau yang berbau klenik alias perdukunan. Sedangkan pawang politik lain tidak mempercayai hal-hal yang demikian.

Selidik punya selidik Kondo ternyata memiliki pertemanan dengan seorang dukun sekaligus tukang ramal yang tiba-tiba saja namanya cukup tersohor di khalayak yang mempercayai praktek perdukunan. Tempat sang dukun tinggal ini tak begitu jauh dari kota Kamunce. Ketatnya persaingan antar kandidat membuat Kondo mengusulkan kepada pasangan kandidat yang didukungnya, untuk pergi mengunjungi rumah sang dukun untuk diramal sekalian minta petunjuk, petuah dan sebagainya yang pendek kata demi tujuan kemenangan.

Gayung bersambut. Kandidat mengiyakan. Jelang sebulan waktu pencoblosan mereka berangkat ke suatu wilayah di Komkomci bernama Kumpa, tempat sang dukun tinggal.
Perjalanan ditempuh cukup 1 jam mengendarai kereta kuda. Sesampainya mereka di sana, Kondo terlebih dahulu masuk ke kediaman sang dukun―yang ternyata diklaim juga sebagai gurunya―dengan berlagak begitu segan dan sopan. Sang dukun yang ditemui ini bernama Abunti.

Rombongan kandidat dipersilakan masuk. Setelah perkenalan, sudah bisa ditebak apa saja yang akan terjadi selanjutnya; kemenyan dibakar, bibir komat-kamit, nama dituliskan di atas secarik kertas, lalu dukun bernama Abunti ini mulai menerawang. Apa hasilnya? Abunti meminta kepada Kulutuk (kandidat Walikota) agar sepulang dari kunjungan ini―setelah memberi mahar tentunya―agar melakukan semua yang disyaratkan. Salah satunya adalah menempelkan nama sang dukun (Abunti), ke kereta kuda yang dipakai setiap Tim Sukses dari Kulutuk di bagian depan. Nama (Abunti) ini terlebih dahulu dicetak di sebuah media lalu ditempelkan di bagian depan kereta. Syarat ini harus dipenuhi. Jaminannya adalah kemenangan. Tak ayal, Kulutuk yang meskipun sebelumnya tak mempercayai praktek-praktek perdukunan karena agama yang dianutnya melarang, akhirnya mematuhi semua apa yang disyaratkan sang dukun bernama Abunti. Semua karena demi kemenangan.

***
Syarat itu segera diindahkan. Nama Abunti dicetak di sebuah media yang mudah merekat. Sejumlah kereta kuda mulai dihiasi dengan nama Abunti.

Seminggu menjelang hari pemilihan, Kulutuk yang tentunya ditemani Kondo dan beberapa sahabat Tim Sukses kembali mengunjungi rumah Abunti. Kebetulan hari itu hari Jumat. Seperti biasa, Kulutuk menerima wejangan dari Abunti dan ramalan-ramalannya. Ada satu yang menarik dari dukun ini di mana tangan kirinya senantiasa memegang sebuah alat penghitung semacam Sempoa. Entah apa yang ia hitung. Namun bisik-bisik mengatakan kalau jumlah huruf dari kandidat, tanggal lahir dan tahun beserta bilangan-bilangan lain termasuk jumlah hari dan sebagainya, senantiasa dikomparasikan sang dukun untuk kepentingan penerawangan. Sepintas orang akan mengira kalau dukun ini ahli juga dalam ilmu hitung menghitung.

***
Tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Hari pemilihan tiba. Hampir seluruh rakyat Kamunce berpartisipasi memberikan hak pilihnya. Dan sebagaimana yang telah diterawang Abunti, termasuk syarat yang diindahkan, Kulutuk menang. Seluruh pendukungnya bersorak-sorai. Beberapa kereta kuda yang di bagian depannya tertera nama Abunti berkonvoi mengarak para pendukung dan Tim Sukses. "Abunti benar, Abunti benar, sang Abunti benar, hidup Abunti, terima kasih Abunti," demikian luapan kegembiran para Tim Sukses, Kondo, termasuk Kulutuk sang kandidat yang menang. Matanya berkaca-kaca, haru, tak menyangka Abunti berkata benar.

Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya; "Adakah tumbal dari semua ini ... "


Tuesday, June 25, 2013

Ngabuburit di Kota "Perang" (Catatan Pasca Pilwako KK)

Seharian kemarin saya keliling Kota Kotamobagu. Suasana yang saya dapati agak "hening". Tak seriuh hari kemarin. Tapi ini adalah keadaan yang sangat saya suka karena saya tergolong jenis orang yang tidak tahan berlama-lama di keramaian.

Berkeliling menyaksikan keadaan Kota Kotamobagu siang tadi terasa seperti tengah mengelilingi sebuah kota dimana pertempuran sengit baru saja disudahi. Dan namanya pertempuran, selalu saja melahirkan mereka yang menang dan mereka yang kalah. Bukan pecundang bagi yang kalah, karena sebutan pencundang untuk mereka yang tak berani turun ke medan tempur.

Di Pilwako KK, para kontestan yang bertempur kemudian berada di pihak yang kalah adalah perasaan biasa bila kepala agak pening. Terlebih kandidat yang kalah meski telah bertarung mati-matian, dimana yang dipertaruhkan tak sekadar harga diri.
Namun apapun dan bagaimanapun kesengsaraan yang dirasakan pihak yang kalah sebagai hasil dari pertempuran, itulah konsekuensi logis dalam pertarungan di gelanggang politik. Lantaran menang-kalah sudahlah resiko yang harus disikapi dengan legowo, sebejat apapun itu.

Rasa pahit dan sakit tatkala kalah perang memang seperti binasa. Terlebih ditambah ejekan yang datang beruntun gulung-menggulung, dan terus menyiksa mereka yang telah terbungkuk-bungkuk seperti sepasukan budak. Sekalipun sang pemenang berpendapat hal itu sekadar balas dendam yang setimpal.

Seringkali manusia tidak lebih daripada merespon lingkungannya. Bahwa manusia bisa dibentuk, dilatih, dikontrol, selama lingkungan menginginkan demikian. Disaat inilah lingkungan menciptakan alter-ego kita yang berperan secara bergantian, yang suka mengolok-olok demi kepuasan dirinya, tentunya untuk contoh kasus sekarang.

Lanjut ke soal keliling-keliling kota. Ketika mobil yang saya kendarai bersama sahabat―sekaligus juga saudara dekat saya―Uwin Mokodongan kembali melewati Gogagoman, bangunan-bangunan posko yang biasanya dipenuhi "pasukan" nampak murung, lusuh, kosong dan mati. Entah ada berapa puluh, ratus, dan ribu harga diri bergelimpangan terbunuh di situ.

Karena merasa ngeri tak sekadar membayangkan namun juga menerjemahkan apa yang sekonyong-konyong tergambar dari bangunan posko-posko kelompok yang kalah, segera khayalan saya terseret ke suatu keadaan yang tak lama lagi kedepan akan membuat posko-posko yang lusuh, dingin, dan mati ini akan bangkit dan bersolek kembali tatkala Ramadhan tiba―bulan penuh hikmah dan pengampunan. Maka yang tergambar di hari kemudian adalah orang-orang ber-peci, baju koko, kain sarung, kerudung dan lantunan lagu-lagu religi.
Ah, alangkah indahnya dibanding posko-posko "perang" di hari kemarin.

Atau mungkin di posko-posko bekas para "serdadu berperang" dan "saling bunuh" ini, pada puasa yang tak lama lagi nanti akan ada berjubel penganan berjejer di situ mulai dari onde-onde, taripang, balapis, kukis putar, dan yang paling menyejukkan pereda dahaga kerena panasnya sengatan matahari yakni es cendol, es buah, atau es kalapa muda. Keadaan dan suasana kedepan inilah yang menurut saya merupakan momentum untuk menjadi penyejuk hati bagi mereka yang pernah menjadi "pasukan" dibangunan ini baik yang kandidatnya kalah, maupun yang kandidatnya menang untuk tetap menjaga persaudaraan sebagaimana Koyou In Mogoguyang.
Tak heran keliling-keliling Kotamobagu siang tadi membuat saya seolah merasa seperti dalam suasana ngabuburit pada bulan Ramadhan.

Seperti layaknya kukis, jika saya menyukai onde-onde, kamu menyukai balapis, ada pula yang doyan kukis taripang, dan mereka suka kukis lampu-lampu. Meski berbeda selera, tapi kita sama-sama penyuka KUKIS.
Mungkin seperti itulah analogi sederhana mengenai pesta Pilwako KK barusan. Lantaran kita berbeda pilihan, tapi sama saja, kita tetap harus menjaga rasa kemanusiaan kita. Tak saling membumi-hanguskan perasaan sesama dan tetap menjaga silahturahim. Kita manusia, bukan.

Namun khayalan saya tak begitu lama dan cepat buyar. Terkoyak oleh hingar-bingar dentuman musik dan riuh kelekar tawa dan luapan kegirangan berupa-rupa saat mobil yang kami kendarai telah berada di basis kelompok pemenang.
Hm, demokrasi memang merupakan pesta bagi para mayoritas se-kalap apapun pesta dan demokrasi itu. Pesta―tak hanya hura namun lengkap dengan olok-olok―seolah mahfum hanya milik mereka para pemenang di hajatan politik.

Akhirnya, jelang Ramadhan yang tak lama lagi, mari tetap kita jaga kedamaian, ketentraman, dan silaturahim seperti biasanya. Kehidupan ini seperti roda pedati. Kadang di bawah, kadang di atas. Kita semua akan merasakan hal itu dalam hidup kita. Malah bukan hanya di bawah, tapi kita tergilas roda itu sendiri, tanpa terkecuali.

Siapa pun kandidat Walikota dan Wakil Walikota yang telah terpilih, masyarakat kebanyakan tetap saja akan menikmati lauk yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu dua minggu nanti tatap bi' doman moyodungkul ikang putih, tahu andeka tempe. Deman bidon deho bo cakalang apalagi sinandoy.

Maka mari kita tak saling ejek-ejekan lagi―perang terek dan enggeng di dunia BBM so talalu span seolah tanpa adab―sebab terus-terusan larut dan terjaga dalam ejek, olok, terek dan enggeng. Kata sahabat di samping saya hanya akan menyita waktu istirahat, bercinta, tidur dan liburan Anda terbuang dengan percuma.
Jika mantan Kapolda Sulut berkata Brenti Jo Bagate, maka Brenti Jo Bagara juga baik, atau Brenti Jo Ba Pololeke. Sangat miris jika kita menggaung-gaungkan tentang orang Mongondow yang dengan semboyan keramatnya, 3-M (Mototabian, Mototompiaan, bo Mototanoban), kemudian kita sendiri yang kembali mencabik-cabiknya.

Jika kita pernah merasa sakit diejek, kenapa kemudian melakukan hal yang sama kepada orang lain? Bukan hendak sok bijak, tapi saya sekadar ingin meminjam omongan Konfusius; "Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu".

Compassion... Mohon maaf lahir dan batin.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, June 24, 2013

Euforia Sang Ratu

Kota Kotamobagu membara, Tatong Bara mengudara.

Pesta demokrasi Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Kotamobagu berakhir sudah dengan dilaksanakannya pencoblosan kemarin pagi. Dari hasil quick count dan tak lepas pula andil dari BBM (Blacberry Messenger), masyarakat bisa dengan cepat memantau siapa kandidat yang lagi on fire, dan ternyata pasangan Ir. Hj. Tatong Bara dan Drs. Hi. Jainuddin Damopolii menjadi nama―bara yang paling panas untuk dipakai menyulut mulut para pendukung kandidat lain hingga mereka bungkam, di BBM kemarin dan sampai tadi malam RU (Recent Updates) dijejali oleh status TB-JaDi yang merupakan jargon dari pasangan Tatong Bara dan Jainuddin Damopolii, status demi status saling bersenggol-senggolan, saling mengejek, dan apapun soal kompetisi seperti sekarang ini, pastilah seni "menghujat" adalah yang menjadi seni tertinggi.

Meski sidang pleno belum digelar, tapi setidaknya untuk "kaki kanan" dari kedua pasangan TB-JaDi sudah melangkah masuk ke rumah dinas Walikota, "so di dalam pokoknya". Lantaran sedari kemarin sore, hingga malam tadi kedua pasangan TB-JaDi dan para pendukungnya telah merayakan kemenangan di rumah dinas Walikota dengan pesta kembang api, kebahagiaan kedua pasangan TB-JaDi dan para pendukungnya ini bak mercon yang disulut bara api, kemudian mengudara, meletas di angkasa Kota Kotamobagu.

Kali ini, seorang Ratu yang memegang tampuk kekuasaan. Setelah dulu Bolaang-Mongondow pernah di pimpin oleh seorang perempuan pula, Ibu Bupati Marlina Moha Siahaan.
Kapal laut kerajaan TB-JaDi yang berhasil menerjang ombak dan badai. Yang lainnya, seperti istilah-istilah yang sekarang meruyak di seantero Kota Kotamobagu, "Kapal so oleng kapten!" Kalimat ini yang paling saya sukai dari semua bentuk frasa ejekan di status-status BBM.

Jujur saja, ada beberapa kawan baik saya yang menjadi tim pemenangan kandidat TB-JaDi, maka dari itu kawalah suara rakyat dan kepemimpinan Ratu kalian ini ke depan.
Lantaran itu saya sempat berpikir bahwa ketika seseorang―kawan saya memilih jalur politik, maka ia sudah pasti mencemplungkan dirinya pada lumpur. Sudah pasti ia kotor dan maka itu bersebrangan dengan "kaum non-politis", oh, betapa naifnya saya. Namun rasa-rasanya setiap orang tidak bisa dilepaskan dari tindakan politis. Setiap orang bersiasat, bahkan antara dirinya dengan Tuhan. Ternyata siasat demi siasat tidak identik dengan kebusukan hati. Ada orang yang bersiasat dengan hati yang luhur, dan orang yang bersiasat dengan hati yang rendah.

Semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya. Masyarakat Kota Kotamobagu mungkin tahu apa yang belum mereka miliki.

Sukses untuk Ir. Hj. Tatong Bara dan Drs. Hi. Jainuddin Damopolii. Masyarakat Kota Kotamobagu telah memilih Ibu dan Bapak, memberi kepercayaan untuk Kota Kotamobagu― 5 tahun ke depan. Semoga bukan hanya piala Adipura yang akan kalian angkat dan bawa pulang ke Kota Kotamobagu. Karena yang masyakarat perlu adalah sikap "Adi luhur" kalian berdua, bukan "Adi pura".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, June 23, 2013

Musuhmu Adalah Musashi (Ayu dan Pilwako KK)

(Refleksi atas tragedi Ayu dan Malam Bakupas Pilwako KK)

Gantungkan pelepah daun kurma di atas keranda, dan kita tulis bait-bait tentang kematian.

Dari tulisan sebelumnya, saya sempat "mengulas" tentang siapakah musuh Ayu Basalamah, yang hingga hari ini belum tercuil satu pun pelaku dan motif yang melatar-belakanginya. Maaf jika saya nekat mengaatakan bahwa aparat berwenang (polisi) tersita dan "terpaksa" sibuk dengan "perang politik" di Kota Kotamobagu.

Dari malam kemarin serasa suhu politik Pilwako Kota Kotamobagu menyarukan kasus Ayu. Ayu tenggelam diluapan hiruk-pikuk "serangan fajar" melumat kalimat Syahrini dengan cetar membahanannya, ini tak sekadar cetar, tapi membumi di tanah Bogani dengan isu-isu tamparan centil amplop-amplop merah dan biru, yang membakar nurani, yang memporak-porandakan "suci hati". Rakyat Kota Kotamobagu sedang dipanggang, entah apapun yang terjadi nanti, pasti soal jauh api daripada panggang. Yang pasti pemilih terpanggang untuk selamanya; mereka memelihara api dan yang memantiknya. Hidup dalam nurani tanpa tahu tirani sedang menggerogoti dengan bengis.
Kita sedang tak asing dengan bau amis. Kota amis dengan kasus Ayu, tapi kita menutup hidung untuk itu. Amis apa? Cakalangkah??

Ayu adalah mayat kaku yang kita temui kemarin dengan bau amis, bahkan bau amis ikan dan aroma uang kertas yang menusuk hidung di kegelapan malam kemarin dan malam kali ini tak sebanding dengan itu. Ini tentang darah. Darah manusia. Tapi tetap saja, kasus itu tergeserkan layaknya kasus Eyang Subur yang dihempaskan begitu saja oleh beragam kasus.

Sejenak kasus Ayu bak Timeline di Twitter yang tergeser begitu saja. Lupakan saja. Kita fokus dengan Pilwako. Tapi apakah seperti ini penanganan pihak berwajib? Ada satu hajat besar dan yang hajat-hajat kecil selalu terlupakan. Kita terbiasa melupakan hal-hal kecil; dosa-dosa kecil, padahal dari tumpukan dosa-dosa kecil itulah dosa besar menumpuk, menggunung.

Soal pembunuhan, itu bukan dosa kecil, hanya saja itu framing sekarang ini. Kasus Ayu termasuk lukisan puluhan ribu yang dijejerkan pelukis amatir di jalanan kota Ubud, Bali.
Namun pagi ini, mari kita menunduk dan merenung sejenak; lihat tumpah ruahnya Broadcast Messages soal malam Nisfyu Sya'ban. Tentang yang tertindas dan keadilan yang jauh panggang dari mereka yang termarjinalkan. Kita ini manusia berakal, jangan kantongi akalmu Anda, sebagai kantong untuk uang, bukan untuk pikiran rasional kita.

Sekarang saya melemparkan diri ke perkataan Musashi. Bahwa musuh adalah guru yang menyamar. Guru itu masih tetap dibalik topeng. Saat ini musuh Ayu masih belum diketahui. Sama halnya dengan siapa Walikota selanjutnya. Belum satu setanpun hingga kini memasti siapa yang tahu sudah.

Tapi soal keadilan dan ketertindasan, saya menukil satu kalimat dari Nietzsche; "Dimanapun kekuatan ada, di sana jumlah yang menjadi tuan, ia paling berkuasa,"

Jumlah akan selalu menjadi pemenang, sama halnya dengan esok. Bersama riuh "orang-orangan" yang telah ditaksidermi dari penggalan-penggalan jerami dan pakaian lusuh. Kita tinggal memilih menjadi Musashi yang menganggap musuhnya adalah guru yang menyamar, atau memilih menjadi diri kita sendiri dengan pemahaman, bahwa musuh dalam bentuk apapun itu adalah lubang yang kita akan pelajari dengan seksama.

Alangkah idiotnya manusia yang kemarin masuk melesak ke dalam lubang, dan selanjutnya ia kembali memijaki lubang yang sama.

Ayu dan Pilwako. Kita tak pernah tahu siapa pembunuhnya. Dan kita tak pernah bisa tahu pasti siapa Walikota selanjutnya (malam ini). Kota hanya butuh kenyamanan. Namun tetaplah memiliki musuh. Karena sebenar-benarnya musuh dalam hidup kalian adalah KOTA.

Sunday, June 9, 2013

Sunyi

Aku menggigil di subuh ini
Mengulum kerikil es dalam mulut
Terus mengunyahnya
Tak tersisa

Hela napas seperti gesekan batu
Jelas dan memukul
Sepagi ini, hanya jarum jam dinding menepuk udara hampa
Berbunyi sangat sunyi

Ini terlalu
Tak ada suara
Hanya suara jarum jam dinding tua
Tapi tunggu, embun menyusul mengetuk atap
Menetes tercerai berai demi bunyi
Agar tak sunyi

Mari tidur saja ajak Buddha
Lantaran pagi kembali terpanggil
Ia datang dengan warna biru atau abu-abu nanti
Semoga saja bukan hitam
Hitam itu sunyi
Tak berbunyi


Powered by Telkomsel BlackBerry®