Monday, December 23, 2013

Di Teras Rumah Buya Hamka Menjelang Natal

"Selamat Hari Natal Dan Tahun Baru 2015"

Satu kalimat di atas menjadi maklumat keramat MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan bersolek beruntun menjadi polemik snow ball bagi umat kita (islam) di Indonesia ― bahwa itu sesat. Iya, benar itu fatwa yang setiap tahun menggelinding sejak mula ucap itu diutarakan dan ditanda-tangani Buya Hamka, pertama kali pada tanggal 7 Maret tahun 1981 dan terus diamini. Sebenarnya Hamka tak melarang pengucapan selamat Natal, tapi yang dinyatakan terlarang adalah mengikuti upacara Natal ― liturgi.

Kita tentu saja masih ingat Gus Dur, sang guru bangsa yang aroma ke-pluralitasan-nya selalu menohok ujung cuping hidung para pengkhidmatnya hingga sekarang. Ia yang acapkali dengan santainya menggumamkan, "Gitu aja kok repot (Yasir Wa La Tuasir)."

Guru bangsa ini mengajari kita untuk berani mencukur botak rambut kita kala berada di kuil, atau menyelipkan kemboja di telinga, dan berani bersalaman mesra dengan Santa dan pendeta, lalu hening bersama pada malam misa Natal, ataupun reriungan di bawah kerucut bangunan, dan kemudian meratapi tembok sinagoga dengan rapalan mantra Musa. Atau... Ia mengajari kita memandangi langit kosong berserak gemintang, dan berkata, "Lihatlah, kita tak sendiri."

Yah, kata mereka, mengakui Tuhan itu banyak subjektif, kan? Nah, bukankah kita mengakui Tuhan itu satu subjektif pula? Hamka ketawa sembari menyuguhkan secangkir kopi. Sedang aku terus menengadah pandang. Kita memang makhluk yang beragam, kataku pada langit.

Di teras rumahnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) berkisah tentang buku novel karyanya "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" dan filmnya sedang booming saat ini. Sementara di ujung lorong, Pramoedya Ananta Toer (Pram) terus mengukir kata "Plagiat" di kulit tembok rumahnya, dan meminta agar anak bangsa mem-film-kan karya tetralogi-nya, Bumi Manusia. Karyanya itu, ia maui bukan anak asing luar antah berantah yang mengiming-imingnya uang lalu membikinnya, lantas memboyongnya ke rumah bertembok marmer Italia. Pram hanya mau, anak negeri mengemasi potong demi potong dialog dalam buku, dan terucap oleh 72 bidadari dari rekah bibir yang tersayat.

Di teras rumah ini, kisah berlanjut makin mengecil serupa boneka Rusia Matryoshka dan makin ke titik nadir. Merendah dengan ujar yang pungkas, "Silahkan mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru," ujar Hamka yang tiba-tiba saja raga rentanya mengencang.

Pada titik ini aku seketika stagnan. Tak perlu membual dengan ratusan lapisan kulit ular, yang terus berganti dan menyisakan kering. Sebab dari fatwa itu, manusia terjerat dalam pusaran dogmatis. Kemudian selalu berakhir kepada para Nabi ― yang merubah tongkatnya menjadi ular, atau muncrat air dari ujung jemari. Hamka memutuskan: sendal kalian dilepas jika di teras.

Aku tak ingin berbicara tentang Nabi di depan Hamka. Sebab manusia akan menjadi sangat kecil di cangkir bumi. Cukup kuseruput dua kali bibir cangkir ini, dan Hamka membisikanku se-paragraf kalimat-kalimat dari kata pengantarnya ― di salah-satu kitab Tan Malaka, "Islam Dalam Tinjauan Madilog" Biarku sitir paragrafnya: "Adapun setelah membaca "Islam Dalam Tinjauan Madilog" insyaflah saya bahwasanya di jaman modern ini untuk membela agama perlulah kita memperluas pengetahuan, di dalam ilmu-ilmu yang amat perlu diperhatikan di jaman baru. Sosiologi, dialektika, logika, dan lain-lain sebagainya yang berkenaan dengan masyarakat modern, tidaklah boleh diabaikan kalau betul kita ingin iman Islam itu menguasai masyarakat jaman sekarang."

Logika, aku seorang penganut Yudaisme yang mempunyai seorang kakak laki-laki dan mengawini seorang muslimah, dan kemudian ia memilih menjadi seorang muslim. Kala itu acara khitanan anaknya digelar, dan aku menghadiri acara tersebut, mengucapkan selamat. Sesaat setelah acara itu, tiba-tiba saja keimanan saya berubah, dan tetes darah merembesi selangkangan paha. Aku disunat pula pikirku, padahal aku sudah di-metzitzah b'peh. (Ketawa terbahak-bahak)

Di teras rumahnya itu, Hamka melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu kembali dengan kepul cerek dan kretek. Duduk dan berkata, "Beri aku hadiah Natal, Santa!"

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Sunday, December 22, 2013

Sepanci Ubi Milik Ibu

Sepanci ubi ditanak lunak
Mendidih jadi siap disantap
Itu sebelanga ubi dan kasih Ibu
Di atas bara dan abu tundra

Raganya belum mau ringkih
Seraya menggelung rambut
Ibu menghitung putih, berharap abadi
Ia masih ingin mencabuti ubi, bukan rambut putih

Sepanci ubi....
Ibu selalu tahu, Robbi
Kita di dunia terjatuh dan terkapar
Kemudian menjalari bumi

Tak ada sesal apalagi kesal
Meski, Huh! Acap kali terlontar
Rupamu yang kekal, mengemasi ucap caci dan benci
Lalu menanamnya di sudut kebun

Sepanci ubi milik ibu
Ia selalu mau berbagi

(Thanks Mother and Sigimom, puisi ini terpilih untuk dibukukan oleh Garasi 10 Bandung, Dedikasi Untuk Ibu, "Mom, The First God That I Knew" (https://m.facebook.com/events/228604620646748?view=permalink&id=234596690047541&_rdr) \m/(˘̶̀⌣˘̶́҂)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

The Godfather

Jauh sebelum aku dan kakak-kakakku dilahirkan, entah masih berada di mana jiwa kami saat itu. Pertanyaan itu selalu hadir setiap memandangi kedua orang-tuaku. Mereka media agar kami bisa meneriaki dunia. Malam ini, pertanyaan itu kembali hadir, sesaat setelah ayah tiba-tiba saja rengsa dengan teriak yang hampir hilang. Di rumah ini, tinggal aku satu-satunya anak yang tersisa. Memapahnya ke kamar mandi, dan dengan telinga yang terus siaga kala tidur.

Tadi saat di kamar mandi, seekor cicak memangsa serangga di dinding samping bohlam. Nyawa begitu saja terlahap, oleh detik, menit, jam, bahkan tahun pun akan terasa sangat singkat. Hidup selama ini, kami yang masih muda dan gagah, pun tak ketinggalan kerap merasakan maut mengecup kening dengan hening. Tapi hingga kini, kami masih berdiri gagah.

Ayah pernah segagah kami di kemarin yang lampau. Sepulang kantor mengurusi kolam di belakang rumah, pulang dengan memikul seikat kayu bakar dan lima hingga enam sisir pisang, juga beberapa ekor ikan yang mulutnya telah terjahit seutas temali dari rautan pelepah pohon pisang. Ayah terlihat sangat gagah saat itu. Tak seperti yang sedang aku saksikan saat ini.

Puluhan tahun lalu, aku hanya bocah yang selalu merasa nyaman berada di antara kain sarungnya yang serupa ayunan, sembari menonton TV di rumah tetangga. Puluhan tahun lalu hingga sekarang, tak pernah ada tamparan mendarat di pipi, layaknya yang sering aku terima dari para guru-guru di sekolah. Hanya beberapa kali gertak cambuk ikat pinggang yang tak pernah terlecut.

Ada satu kebiasaan yang hingga sekarang, tidak bisa dihilangkan darinya. Merokok. Pernah sekali-duakali aku ingatkan, tapi jawaban darinya yang klasik dan berulang-kali terucap, "Kita meninggal bukan karena ini (rokok), tapi disebabkan oleh maut." Itu jawaban yang singkat dan meringkus segalanya. Dan karena jawaban itu pula, hingga sekarang, jika aku kehabisan rokok di tengah malam buta, tak perlu jauh-jauh ke warung, menembus gigil malam, sebab di bawah bantal tidurnya, selalu terselip sebungkus rokok di sana. Itu sebungkus rokok yang terlampau istimewa. Apapun mereknya.

Kini raga itu menggigir, rengsa dengan sekujur tubuh penuh peluh. Tapi candaan dari kedua pasutri termulia di muka bumi ini masih sempat-sempatnya terlontar. "Besok pake pampers jo ne," tanya ibu, dan singkat dijawab olehnya, "Jadi sama deng Sigi."

Cepat sembuh ayah. Bukan hanya di tahun ini harap dan doaku untuk kesehatan ayah, juga ibu. Selalu. Bahkan meski harus kutukar dengan kesehatanku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, December 20, 2013

IBU

Hampir cerlang hari ini, yang seketika merengut tirai embun pagi. Tampak dua lengan itu sedang membasuh kantuk dengan percikan-percikan air di wajah rentanya. Di sudut kamar mandi berdindingkan lempeng tipis besi berkarat, ada ember penuh oleh air dengan setumpuk pakaian siap dibilas. Ada laron-laron mati di kulit air bergelembung sabun itu, yang diramaikan pula oleh puluhan sayap-sayap terputus dari jasad alit yang mengambang. Hembusan nafas lelahnya tampak melukis udara dingin. Tapi perempuan itu tetap jongkok membilas nasib.

Matahari belum menengadah. Dan sederet jemuran terkulai basah menggilas semut-semut yang berjejeran di atas temali. Banyak semut yang terkulum basah, sementara lainnya ringan jatuh dan mendarat enteng di permukaan tanah, bersamaan dengan peluh perempuan itu, dan tetesan air dari deretan pakaian. Kini, setelah selesai dengan seember air, ia masih melanjutkannya dengan menjerang sepanci air lagi, membikin segelas teh untuknya, dan segelas kopi untuk suaminya, kemudian setelah itu, dilanjutkannya menanak bubur untuk sarapan anaknya. Urusannya dengan air belum selesai, karena ia masih akan memandikan anaknya yang mau berangkat ke taman kanak-kanak.

Rasanya... Apa yang tentang dia, tentang ibu, selalu terlalu banyak, memoriku penuh untuk mengingat, dan selalu ― hanya Ibu. Kita punya bejibun kisah tentang dia, tapi coba ceritakan satu? Maka yang akan kamu tulis hanya ― IBU.

(Aku terlalu mabuk untuk melanjutkannya!)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, December 13, 2013

Kata-kata Dari Langit-langit

Malam ini kami niskala, hanya untuk malam ini
Yang tuarang, yang tundra, bingung
Bukan di keduanya kami berpijak
Sekali lagi, kami niskala

Kata mereka, manusia dari lempung
Memiuh yang di langit
Jadilah kita, mereka, dan segala yang hidup, pun yang mati
Tapi kita jatuh terpacak diam sesaat di bumi
Kemudian digoda kehendak
Kita bergerak

Kami tak ingin bicara yang di langit malam ini
Ups! Aku bicara tentang memiuh
Ah, itu di cetak kitab
Tapi kami percaya
Kata ibu, kata bapak
Kata leluhur...

Jangan-jangan itu benar?
Ah, kata leluhur benar
Iya itu benar
Sudahlah
Kita nisakala, kan?

Malam ini


Powered by Telkomsel BlackBerry®