Tuesday, September 8, 2015

Osney

Namanya Osney, baru saja saya namai tadi. Saya sebenarnya jarang menamai hewan peliharaan atau ternak, sama seperti kucing, anjing, bebek, dan kambing yang pernah hidup di pekarangan dan rumah.

Osney ini jenis ayam yang ternyata setelah saya telusuri di wikipedia, tergolong endemik. Osney adalah ayam ketawa yang mulanya berkembang biak di kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan.

Lewat chat BBM, seorang kawan bernama Sandri berkata, "Sudah tepat kamu memelihara ayam itu." Usai ia memindai foto dan status saya di recent updates.

Saya tanyai balik, "Kenapa?"

"Coba kamu tengok, ayam itu menertawakan segala kegilaan di sekitarnya," balasnya.

"Ha-ha-ha. Nietzsche!" sambut saya.

"Ayam ini menertawai nasibnya yang bermula dari peliharaan para bangsawan Bugis, lalu berakhir di pogutatan," saya berseloroh.

Ah, nasib memang lucu, maka silakan tertawai sepuasnya.

Di wikipedia memang dijelaskan, ayam ketawa dikategorikan sebagai unggas endemik. Untuk itulah, ayam seperti Osney ini konon dulu hanya keliaran di lingkungan para bangsawan Bugis.

Benar sudah, Osney menertawai nasibnya yang sebagai simbol status sosial para darah biru di Bugis, kini harus berakhir di pekarangan belakang rumah saya.

Kisah Osney pun cukup dramatis, setelah saya tanyai ibu.

"Nenek Esa' (kakak kandung ibu) yang membawa ayam itu saat pogutatan tiga malam. Menurut ibu ayam itu dengan terpaksa dijual empunya, sebab sedang kesulitan uang. Si empu juga berpesan, kalau bisa jangan disembelih, tapi dipelihara saja," jelas ibu. Osney dibawa saat kenduri tiga malam berpulangnya ayah saya, Maret lalu.

Namun tanpa mendengar pesan empunya yang memang dianggap angin lalu oleh Nenek Esa', saya sudah menduga ayam ini spesial waktu ibu menyampaikan Osney jenis ayam ketawa.

"Jangan disembelih. Pelihara saja," pesan saya.

Tiba-tiba, seberkas cahaya dari langit menyoroti kandang Osney.

Ha-ha-ha. Nasib Osney terselamatkan, meski setelah itu saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. Ibu yang sehari-hari memberi makan, sebab saya tidak lagi menetap di rumah.

Osney baru dibiasakan dilepas, setelah sempat dipelihara di perkebunan Desa Otam, desa yang letaknya tak jauh dari rumah saya di Desa Passi. Osney dititipkan kepada suami sepupu saya, sebab di rumah nasib Osney hanya terus meringkuk di kandang. Ibu takut melepasnya, dengan dugaan keras bahwa Osney bakal kabur dan tak pernah kembali lagi.

Hanya beberapa pekan Osney kembali diantarkan ke rumah, sebab hampir seluruh ayam peliharaan di kebun menjadi jajahannya. Osney dengan tajinya suka mengejar ayam-ayam lain, lalu menghajar dan menertawai mereka.

Setelah kembali ke rumah, karena sudah terbiasa dilepas, Osney pun merasa telah memiliki rumah dan keinginan untuk pulangnya perlahan-lahan muncul. Sehari-hari Osney dilepas pagi, lalu petang menggiringnya kembali ke kandang.

Namun naluri mengejar, menghajar, dan menertawai ayam-ayam tetap tak kunjung hilang. Osney masih diwaspadai di sekitar rumah meski oleh jenis ayam jago sekalipun, sebab taji Osney yang dibiarkan meruncing, mampu menyurutkan niat ayam jago untuk sekadar mengadu nasib dengannya.

Bagi Osney, nasib sudah terlalu kejam, jadi untuk mati pun sebenarnya Osney lebih rela berakhir di pertarungan, bukan di balik kandang para bangsawan Bugis atau sayatan pisau. Sekarang, Osney sedang menertawai keterkandangan sekaligus kebebasannya.

Barusan, setelah lama memindai dan mencocokkan dengan apa yang tertulis di wikipedia, ternyata Osney ini jenis ayam ketawa jantan yang biasa disebut Lai. Dari nada ketawanya pun Osney termasuk jenis Garetek yang kokoknya beritme cepat. Setelah dicocokkan lagi dari warna bulu hitam dengan goresan merah hati, Osney tergolong Lapping.

Dari bahasa Bugis, Lapping artinya menampung harta, sehingga dipercaya Osney dapat menampung harta. Hmm, penjelasan ini terbunuh dengan sendirinya sebab si empunya Osney terpaksa menjual Osney sebab sedang kesulitan uang. Satu alasan lagi yang membikin Osney tertawa. Ha-ha-ha.

Soal penamaan, Osney adalah kata yang berarti: iya, OK, siap, yang saya cipta sendiri. Banyak chat kawan di BBM, acap kali saya balasi Osney. Asal saja.

Setelah lama memandangi Osney saya hanya bisa tarcenung, sebab tidak seperti saya — manusia —yang bisa menentukan nasib, bisa berikhtiar, dan apapun hasil dari ikhtiar kita itulah takdir, sedangkan Osney sendiri hanya bergantung pada apa yang kita ikhtiarkan; mungkin Osney bisa dijual lagi, disembelih, dicuri, atau malah ditakdirkan tergilas mobil di jalanan.

Namun di sisi lain, Osney beruntung sebab bisa terus menertawai nasib. Nasib kita. Manusia.