Friday, September 11, 2015

Tuhan Yang Maha Mendengkur

Kerah kemeja seragam sekolah bersandi rumput kupelototi. Namaku Idra. Dan aku baru mau berangkat sekolah, tapi kemejaku bau dan kotor. Ini hari Senin.
"Maaaaaaak!!" raungku, "kenapa kemejaku tidak dicuci?"
Tak ada sahutan dari luar sana. Rumah ini setelah kepergian ayah setahun yang lalu, jadi serupa pemakaman. Peziarah hanya kakak perempuanku beserta keluarga andalannya. Yang lain, hanya ayam-ayam peliharaan Mamak.
Aku merayap ke luar, berharap ada mahluk melata lainnya yang bisa kuajak bicara. Tak ada siapapun. Aku kembali ke kamar lalu meraih kemeja tadi, bergegas menuju kamar mandi. Suara sikat seakan memenuhi seisi kotak ubin dingin.
"Ah, andai Tuhan bisa kumintai pembantu."
Gerutuku tak lantas meretakkan plafon kamar mandi, lalu turun seorang babu dari atas langit sembari bermandi cahaya. Slow motion. Kenapa setiap doa yang acapkali seperti menyuruh Tuhan, tak pernah dikabulkan meski hanya lewat kebetulan? Tuhan sedang tidur, mungkin. Aku bersolilokui.
Usai menyikat kerah kemeja, sandi rumput sirna tersihir gelembung deterjen. Yang kubutuhkan hanya mengeringkannya. Kulempar wajahku ke jam dinding, tersisa dua puluh menit agar aku tidak telat ke sekolah. Setrika kuambil di samping meja makan, lalu memanaskannya. Setrika menempel di kerah basah yang meringis berdesis dengan asap membumbung. Seperti bernyawa saja pikirku. Sejak tadi, keringat kembali mengucur deras meski aku sudah mandi.
"Indaaanggg!!" Suara Mamak menyihir rasa yang memadukan antara lega dan kesal. Nama itu panggilan rumahku. Ah, Indang. Asal jangan rendang atau kunang-kunang.
"Sedang apa?" tanya Mamak menggelembungkan rasa kesalku makin besar.
"Sedang menelepon," sembari membayangkan setrika ini kutempelkan ke kupingku, "sedang menyetrika, Mak. Kerah kemeja ini ditumbuhi rumput hitam seperti jarum pengukur gempa."
"Aduh, benar, Mak lupa mencucinya kemarin. Kakakmu menelepon minta meresep bebek panggang di rumahnya."  Apologi dengan dalil yang begitu sakti tak bisa dibantahi. Diracik dengan wajah Mamak yang tiba-tiba bola matanya menghitam, berkaca-kaca, dan bergelembung di sudut mata. Mamak sedang berakting lagi. Untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, lain kali biar Indang yang mencucinya. Kalau Mak bilang, Indang tak berharap lagi. Tapi, memang seharusnya Indang tak berharap." Bersamaan dengan keringnya kerah, aku pun bergegas ke kamar.
Terlambat. Pintu kelas ditutup rapat. Aku mengetuk sekali, dua kali, dan....
"Masuk!"
Suara Pak Jun terdengar tak berkawan dengan alasan. Nadanya begitu keras. Kalau boleh, kerasnya tadi itu disusul deretan pagar tanda seru, dengan tanda kutip geram.
"Kamu terlambat lagi Idra Nadim!"
"Maaf Pak, tadi ban motorku bocor di tengah jalan." Alasan klasik yang terlampau hambar dilempar. Bahkan jika dilempar ke anjing sekalipun, pasti anjing enggan mengendus lagi, hanya menggigit sebab tahu yang dilempar itu tulang plastik. Tapi mau alasan apalagi, seribu alasan berbeda, tetap saja aku terlambat. Alasan seringkali tidak mampu merubah penilaian. Apalagi penilaian Pak Jun si guru pelajaran Agama Islam.
"Kamu dihukum, pergi ke musola lalu catat 99 Asmaul Husna di bukumu. Usai mata pelajaran akan kuperiksa!"
Hampir sejam aku di musola, pun runut 99 nama Allah di lembar kertas sedari tadi usai. Pekerjaan ini memang mudah, aku tinggal browsing di internet. Namun batang hidung Pak Jun yang pesek itu tak kunjung kelihatan.
Hingga lonceng berdentang, Pak Jun tak datang. Aku memang sengaja dilupakan. Itu adalah hukuman terberat. Sengaja dilupakan.
"Sialan!"
Di rumah Tuhan nan mungil yang hanya bisa menampung 40 jamaah, aku tercenung setelah mengumpat. Dalam hati aku bertanya, mungkinkah Tuhan menghukum hambanya yang kerap terlambat salat?
"Idra, ayo pulang!" Panggilan itu menyayat lamunanku. Gilang tiba tanpa derak suara sepatu, seperti hantu. Atau memang aku yang tenggelam di lamun terlalu dalam.
"Aku lihat, ban motormu tak kempes."
"Ah, Gilang, kamu memang benda mati di ruang kelas. Seperti mistar."
"Maksudmu?"
"Itu yang kumaksud."
"Aku tidak mengerti maksudmu?" Alis tebal Gilang saling merangkul.
"Benda mati!"
Kemudian kejar-kejaran seperti Tom and Jerry terjadi. Untuk ukuran remaja yang duduk di bangku kelas dua SMA, Gilang berhasil bertahan setelah angkatannya sekarang sudah ngampus. Tapi, hanya ia satu-satunya sahabat yang pernah menolongku saat dikerubuti kakak kelas. Tubuhnya tinggi besar dan berkumis. Gilang masih keturunan Arab. Warisan bulu di sekujur tubuhnya cukup menjelaskan.
"Oh yah, Pak Jun kemana tadi? Kenapa ia tak datang ke musola?" Tanyaku penasaran sembari mengelap sadel motor.
"Istrinya menelepon, anaknya sakit."
"Sialan. Aku berpikir yang bukan-bukan tadi. Meski Pak Jun terkadang kejam, tapi di balik itu, ia memang jahanam!"
Gigi Gilang berderet tak beraturan saat tertawa.
"Kamu yang jahanam!"
Setelah itu sepeda motor kami berpisah di depan gerbang. Aku tak bergegas pulang, lalu mampir di toko buku Papirus yang biasa kusinggahi. Di rumah, sudah puluhan buku yang kujajani.
"Eh, Idra," sapa Sandra, perempuan berhijab penjaga toko. Usianya di atas 30, tapi terlihat masih 20an. Mungkin karena kulitnya putih, dibumbuhi dengan komposisi senyum yang acapkali tersimpul dan lesung pipit bak sumur di belakang rumahku.
"Ada stok buku baru?"
"Tadi ada, judulnya Iblis Menggugat Tuhan, sama.... Mmm... Sejarah Tuhan."
"Waduh, yang tuhan-tuhan gitu sudah banyak kubacai. Apalagi tadi barusan mengeja 99 nama Tuhan. Capek. Novel-novel atau kumpulan cerpen ada?"
"Iblis Menggugat Tuhan itu novel, tapi dari resensi kelihatannya ringan. Untuk usia remaja sepertimu mungkin bisa. Penuh tanya." lantas Sandra terkekeh.
"Kayak jual miras aja."
"Tapi buku memang punya standar pengetahuan. Tidak boleh dipaksakan. Dan IMT itu mungkin cocok denganmu."
Aku menuju rak di mana novel itu dijejerkan setelah bibir Sandra menyungging. Mataku tertuju pada sampul kuning. Di pinggiran sedikit jelaga hitam dan cokelat terpoles. Pria plontos kekar memunggungi dengan dua lengan mengepal mengacung. Seperti menantang. Nama pengarang tertato di punggung hitam pria tersebut. Shawni. Tiga lembar mirip papirus saling menindih di sampul bawah. The Madness of God.
Aku tertarik seperti ada kutub magnet setelah membaca sepenggal kalimat. "Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa?"
Aih, buku ini pasti keren. Bisa menjadi referensi untuk menghujani Pak Jun dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya, di kelas, Pak Jun acapkali terdiam lalu marah saat pertanyaan-pertanyaanku terlontas seputar agama. Itulah satu dari dua alasan kenapa Pak Jun tidak menyukaiku. Terlambat dan terlalu banyak bertanya. Padahal siswa kan, seharusnya begitu. Seram jika mengingat tampang Pak Jun plus dahi hitamnya.
"Jadi diambil?" Tanya Sandra meletaskan gelembung lamunanku.
"Ngutang dulu yah. Celengan bawah kasurku belum membumbung."
"Hmm.... Okelah." Disusul bibirnya tertarik ke kiri.
Sesampai di pemakaman, eh rumah, hanya hening yang kutemui. Mamak seharusnya sudah pulang dari kantor. Kesempatan. Aku menyelinap ke kamar Mamak, lalu bagai ninja Hatori. Seluruh tempat penyimpanan uang dari; laci, gelantungan tas, bawah bantal dan kasur, sampai akhirnya dua lembar lima puluh ribu kutemukan terselip di bawah kain pembersih kacamata. Di dalam kotak mungil itu, aku pernah menemukan tiga lembar ratusan ribu. Tapi hanya seratus ribu yang kuambil. Sesuai kebutuhan, buat bayar buku. Ada kredo yang kuusung selama ini; 'Daripada nyuri buku, mending nyuri uang ibu'. Maaf bang Chairil Anwar, aku tak lihai mencuri buku, apalagi penjaga tokonya cantik dan baik hati.
"Indang kamu sudah pulang? Pintu rumah tidak ditutup kembali. Kalau maling masuk, gimana."
Berjinjit ringan bagai pipit aku berlari keluar kamar Mamak. Kusahuti setelah tiba di dapur.
"Iya, Indang lapar jadi langsung ke dapur Mak." Jurus itu yang kupelajari selama ini pada Mamak. Mengelak.
Masih berselempang tas sekolah, aku menemui Mamak.
"Dari mana saja Mak?"
"Biasa, arisan Senin. Ditambah belum gajian, eh apes, Mak Rojiun yang dapat. Besok kalau lapar, makan di rumah saja, uang Mak tinggal beli lauk esok. Beras juga habis."
Kotak kacamata melintas begitu saja di hadapanku. Mamak melangkah ke kamar tidur. Tak lama ia pun mendengkur.
Langit di luar sana memerah. Layung senja mulai diterkam jelaga. Lalu kemudian menghitam. Di bawah cahaya bohlam aku membacai malam. Di beranda posisi duduk melantai dan menekuri buku yang, tergolek di atas paha kiri adalah yang ternyaman. Tapi hasrat membaca tiba-tiba sirna, sebab hanya kotak kacamata kembali berkelebat. Mamak belum terbangun. Kesempatan jadi Hatori.
Masih serupa pipit tanpa cicit, aku menyelinap ke kamar Mamak. Masih gelap. Dengkuran masih bergema di seisi ruangan. Di atas meja rias jemariku merayap, merabai kotak kacamata. Sebuah botol kecil kaca yang entah apa jatuh pecah di lantai. Sialan. 
"Indaanngg!!"
Siluet tubuh Mamak bergerak menuju sudut kamar. Lampu berpijar bersama tatap nanar.
"Mak."
Mata nanar itu merangkak tertuju ke dua lembar uang di genggamanku.
"Indang! Tak perlu begini. Kalau perlu minta! Selama ini Mamak tahu saat mulai kehilangan uang. Mak sebenarnya mau Indang jujur, minta Ndang, minta!"
Tak pernah kulihat muka Mamak merah pertanda marah sekaligus bulir-bulir air mata bergantung di sudut matanya. Tak terbendung, Mamak menangis. Ini bukan akting.
"Mak, Indang tak bermaksud.... Indang mau mengem...."
"Keluaaaarrrrr!!!" Teriak itu menggelegar. Tak pernah hatiku bergetar seperti ini. Aku lari keluar kamar setelah melemparkan uang kusut ke atas ranjang.
Motor kubiarkan terparkir, sama seperti buku yang menunggu di lantai beranda. Aku menuju kedai kopi yang tak jauh letaknya, hanya tiga kali menyudahi gang. Kantong kurabai, ponsel tak ada, uang pun nihil. Sebuah pipa besar di samping jembatan dekat kedai kopi, menjadi kursi ternyamanku sekarang. Sialan! Gara-gara buku itu aku nekat lagi mencuri uang.
Kerikil sebesar kelereng mengenai punggungku. Aku mencari-cari dari mana lemparan maha dahsyat yang mendebur punggungku. Aku memicingkan mata, di jejeran payung-payung kedai kopi, nampak sosok bertubuh besar melambaikan tangannya. Seketika sosok itu berubah menjadi peri mungil, bersayap, bertongkat, lalu mengabulkan dahagaku akan kopi. Gilang. Hampir empat puluh meter jauhnya, tapi kerikil itu sampai juga.
"Itu kerikil ketujuh," terangnya dengan raut muka heran, "ngapain kamu di sana?"
"Ah, tadi ada sedikit musibah di rumah."
"Namanya musibah itu tidak sedikit."
"Emang harus tsunami Aceh, gempa Jogja, gunung Krakatau meletus, baru dinamai musibah?" debat antara aku dan Gilang dimulai lagi, "berkawan denganmu saja itu adalah musibah!"
Bantah-bantahan terulang, meski akhirnya tawa menjulang. Kedua sahabat kental ini larut dalam buih-buih kopi susu dan cerita bersusun-susun. Tiba-tiba, Gilang menatapku seraya membenamkan pandang begitu dalam. Aku jelas mulai risih. Tapi Gilang terus terpaku. Baginya, aku seperti sebuah lukisan yang sedang tidak dimengerti lalu coba dimengertinya. Wajah kotakku, rambut cepak, dan tubuh yang agak gendutan, ditambah bola mata cokelatku jadi serupa lukisan pemandangan yang tak tepermanai. Aku jadi sahabat teruniknya.
"Gilang! Kamu kenapa?"
"Eh, nggak, aku pulang dulu ya."
Setelah membayar, Gilang pergi yang kali ini meninggalkan coretan kerut di dahiku. Aku pun melangkah pulang dengan harapan Mamak sudah kembali mendengkur. Sesampai di depan rumah, lampu dapur menyala. Aku berjalan ke samping kanan rumah menuju jendela dapur. Kudapati Mamak tengah merokok. Hampir sebulan Mamak berhenti merokok, setelah batuk hebat membikin bising di seisi rumah. Bising yang ia sendiri pun benci lalu memutuskan membuang dua bungkus rokok ke tong sampah. Mataku menemukan tong sampah non organik terbuka di samping pintu dapur. Beberapa sampah plastik berhamburan.
Aku berjalan menuju beranda untuk memastikan bukuku masih di lantai. Tak ada buku. Gagang pintu kuputar searah jarum jam, kubukai pelan-pelan agar Mamak tak menyadari kehadiranku. Bagaimana pun, gengsi sebagai seorang anak remaja yang diusir keluar rumah masih secuil ada. Bukuku kutemukan berada di atas kasur. Aku kemudian tertidur tanpa kuketahui apakah aku ini pendengkur. 
"Indang bangun, kamu harus ke sekolah. Seragammu sudah Mak cuci dan setrika."
Suara itu terdengar begitu bijaksana. Mamak seperti balita yang terlalu cepat lupa dengan tangis.
"Iya Mak." Aku menyahut selembut mungkin. Aku memang yang salah meski telah berniat mengembalikan uang itu.
Berangkat ke sekolah, aku memutuskan ke toko buku dulu. Meski aku yakin telat, tapi niatku tetap ke toko buku untuk mengembalikan buku. Aku paling takut berhutang lebih dari sehari.
Beruntung Sandra memang pekerja yang rajin. Pagi adalah pusaran rejeki menurutnya, untuk itulah pukul tujuh ia sudah membuka lebar-lebar pintu toko.
"Hai."
"Hei!"
"Sepagi ini?"
"Iya, aku mau mengembalikan buku ini."
"Loh, kan, bisa dibayar kapan-kapan. Kamunya sih yang terlalu cepat bayar hutang."
"Nggak, memang aku jadi tidak berminat membacanya."
"Itu buku bagus loh."
"Biarlah."
Buku Iblis yang penuh pertanyaan kritis itu pun kembali ke rak. Sandra terus menatapku heran. Setelah pamit aku memacu motor ke sekolah. Sepanjang jalan, bayang-bayang iblis yang mempertanyakan statusnya di mata Tuhan terus menggangu. Tapi pikirku, sudahlah, nanti kalau punya uang aku akan membelinya. Atau mungkin mencurinya. Sekarang, bang Chairil benar, mending mencuri buku daripada mencuri uang.
Setelah membujuk Pak Idun si satpam yang meski tampangnya seram, namun ada hati ibu peri dari balik otot-ototnya, aku diizinkan masuk.
"Masuk sana!"
Aku berlari menuju kelas berharap mata pelajaran Bahasa Indonesia baru dimulai. Itu pelajaran kesukaanku.
"Braakk!!!"
Buku-buku berhamburan. Aku terpental dan pot-pot bunga kuseruduk. Sedangkan orang yang bertabrakan denganku.... Sialan! Pak Jun!
"Anak kurang ajar!"
Pak Jun sambil mengurut dengkul terus mengumpat.
"Maaf Pak."
Tiga hari aku berdiam diri di rumah. Aku diskors hanya karena tabrakan dengan guru. Mana ada aturan hanya karena tabrakan, terus tidak harus mengikuti pelajaran selama tiga hari. Jumat baru aku bisa masuk sekolah lagi. Selama diskors, tak ada buku yang bisa kubaca, maka kuhabiskan dengan menonton film di laptop. Gilang sesekali ke rumah menawarkan film-film di laptopnya yang didominasi film Bollywood.
Mamak sepulang kerja menuju kamar tidur usai memberiku sebungkus nasi goreng. Berminyak tapi enak. Sebelum Mamak masuk ke kamar, aku iseng bertanya.
"Mak, menurut Mak, manusia itu akan benar-benar bertemu Tuhan jika mati nanti?
"Iyalah."
"Jadi bapak sudah bertemu Tuhan?"
"Pasti sudah."
"Lalu jika seperti kita ini yang masih hidup, akan ketemu Tuhan?"
"Indang, memang kita nggak ketemu Tuhan kayak kamu tabrakan sama Pak Jun itu. Jika seperti dua sisi mata koin, Tuhan dan manusia itu satu, bersama tapi tak saling pandang. Tapi jika melebur bersama, tak ada lagi dua sisi itu. Seperti koin logam yang dilebur. Nyatu Ndang."
Mendengar itu, aku seperti menemukan beribu buku ditutur Mamak. Setelah mengusap rambutku, Mamak masuk ke kamar. Tak lama suara dengkuran terdengar. Mamak memang selalu cepat tertidur. Andai saja tidur Mamak bisa kubeli. Aku melangkah menuju pintu kamar. Kupandangi wajah lelah Mamak. Aku melihat Tuhan yang sedang tidur.
Jumat aku tidak telat. Lalu hari bergulir begitu cepat. Senin kembali lagi, Monday itu Monster Day. Ah, Sabtu dan Minggu, weekend yang hanya kuhabiskan di rumah saja. Kini saatnya menekuri pelajaran Agama Islam. Pak Jun. Dan.... Terlambat.
"Kamu setelah bersemedi selama tiga hari di rumah, plus ditambah libur dua hari bukannya merenungi perbuatanmu!"
"Sana ke musola, catat kembali 99 Asmaul Husna dan artinya!"
Secarik kertas diserahkan Pak Jun. Gontai aku melangkah ke musola. Semilir angin mengusap wajahku. Setelah menjelajahi internet lagi, 99 nama Allah kutulisi satu per satu hingga nama terakhir. Setelah angka 99 aku menggenapinya 100. Al-Mamak. Yang artinya Tuhan Yang Maha Mendengkur. Pak Jun menggugat Indang.