Tuesday, September 29, 2015

Selamat Jalan Mak Dar

Panas terik Kotamobagu menyengat. Kemarau panjang yang melanda, mampu mengeringkan segala mata air. Tapi tidak untuk kabar duka yang bersusun di RU BBM hari ini. Kabar duka itu tak mampu membendung air mata. Inalillahi, ibunda dari kawan saya, Dar dan Eka berpulang.
Apa yang bisa dikisahkan dari sepiring kudapan pisang goroho stick (dipotong kecil-kecil), yang ditaburi bumbu penyedap Royco, dan sepiring tinutuan yang acapkali disajikan dengan senyum riang dan sekali-kali jenaka itu? Terlalu banyak.
Mak Dar, panggilan familiarnya, pertama kali saya singgahi dengan kerumunan kawan, di tahun 2007. Tatkala merasai pisang goroho stick, tinutuan, mi ojo, atau mi instan yang dihidangkannya, saya mencecap ada yang istimewa, yang bukan berasal dari semua sajian makanan itu. Dibandingkan dengan kantin-kantin lainnya, rasanya tak jauh beda.
Pisang goroho gurih dan kental tinutuan sama akrabnya dengan kantin-kantin di desa saya. Tapi ternyata, yang dirindui pengunjung
pun pelanggan adalah dabu-dabu (sambal) kepala ikannya. Itu yang begitu istimewa. Kepala ikan cakalang digoreng, lalu diolah bersama cabe, bawang merah, dan tomat yang digoreng pula. Setelah ditumbuk, warna kecoklatan dabu-dabu, dengan lelehan minyak goreng menambah kilatan yang membangkitkan selera. Ah, nikmatnya tak perlu ke sorga. Dabu-dabu Mak Dar, SAKTI!
Waktu itu kantin Mak Dar masih terletak di samping masjid Kelurahan Sinindian, Kotamobagu. Berada di pinggiran jalan raya, kantin itu begitu strategis. Pengujung bisa bebas memarkir kendaraannya di sayap
jalan. Bangunannya terdiri dari susunan papan kayu sederhana. Beberapa set meja kursi di dalam kantin hanya mampu menampung belasan orang. Ditambah dua buah meja yang dikelilingi bangku yang terbuat dari bambu, terletak di luar kantin. Pohon ceri memayungi pengunjung. Alangkah nikmat dan sejuknya.
Di zaman itu, rumah Kopi Korot tak ada apa-apanya. Kantin Mak Dar menjadi pusaran segala jenis pergaulan di Kotamobagu. Yang tua, muda, PNS, anak sekolah, kuliahan, begal, narapidana, pengangguran, dan sebagainya mengepung kantin Mak Dar. Saking terkenalnya, logo McDonald's yakni Mc'D, dijadikan logo M'Dar, yang tersebar begitu saja tatkala ponsel Blackberry makin menjamur. Tak ada Wi-Fi menjadi satu
keunggulan tersendiri di kantin ini. Pengunjung yang semula janjian,
bisa bercakap-cakap lama tanpa perlu terpaku lama ke gadget. Cerita saling bertukar, terurai, dan canda lepas meriuh.
Jikalau kita tengah dahaga dan lapar, usai menghabiskan malam yang begitu brengseknya, Mak Dar selalu sedia melayani dengan canda.
"Paling mabo le tadi malam." Lalu bongkahan es batu yang membeku di dalam botol aqua tersuguh; bersama nutrisari dingin, atau teh panas, pun kopi sesuai selera pemesan. Menu andalan adalah pisang goroho dan
tinutuan tentunya.
Usai sajian ditandaskan, tanpa sadar dari arah dapur, Mak Dar datang membawa sepiring lagi pisang goroho, kemudian ditambahkannya begitu saja di piring yang hanya tersisa butiran Royco dan keping-keping sisa.
"Gratis itu, makang jo."
Ah, Mak Dar bukan sekadar ibundanya Dar dan Eka. Ia adalah ibunda bagi mereka yang pernah merasakan garam pergaulan di Kotamobagu. Yang paling berkesan, Mak Dar selalu sedia menerima cek undur (ngutang). Ia adalah ibu kami saat perut mengerang. Ia selalu berbagi.
Sejak berpindah kantin, tepatnya di lorong depan masjid. Meski terselip, kantin Mak Dar masih ramai. Ada beberapa pelanggan yang
mungkin telah bertahun-tahun tak singgah, menyempatkan datang untuk sekadar bernostalgia. Ini membuktikan bahwa bukan tempatnya yang dirindui. Tapi dabu-dabu yang istimewa itu, yang mampu menggali ingatan ke masa lalu.
Akhir Agustus, saya dan seorang kawan terakhir kali mampir ke kantin Mak Dar. Senyum itu masih di sana. Sampai tiba kabar bahwa Mak Dar telah berpulang. Mak Dar seakan terlalu rindu dengan suaminya, Pak Dar
yang telah lebih dulu berpulang beberap tahun yang lalu. Lalu pergi membawa semua kenangannya.
Selamat jalan Mak Dar. Terima kasih untuk kenyang yang selama ini kaubagi.