Monday, September 21, 2015

Wartawan atau Hartawan?

Di kantor Walikota Kotamobagu, dua tahun lalu. Saya (media online) dan teman wartawan (media cetak), Kano', yang dulunya pernah karib di masa-masa masih sering urunan lima ribuan buat beli tjap tikoes, terlibat pembicaraan. Saya wartawan www.lintasbmr.com kala itu. Usai menandaskan tinutuan di kantin Pemkot, saya yang hanya punya uang pas untuk bayar sepiring tinutuan dan satu tahu goreng, mendatangi Kano'. Ia sedang sibuk membolak-balik halaman koran di atas meja. Saya yang mengamini kalimat "jika usai makan lalu tak merokok itu, rasanya seperti ditabrak truk" menyapanya.
"Kano' punya rokok?"
Ia mendelik beberapa detik. "Ah, kamu ini wartawan tapi tidak punya uang."
"Aih, justru yang aneh itu jika wartawan terus punya banyak uang." silatku.
Masih dengan kedua alis yang saling merangkul, ia mengeluarkan sebungkus rokok. Aaahhh!! Merdeka!! Tak jadi disambar truk 100 bola. Ha-ha-ha.
Saya baru tiga bulan menjadi wartawan kala itu. Mengaku jurnalis saja saya enggan. Disebut wartawan saja itu sudah lebih dari cukup, meskipun sebenarnya memang tak ada bedanya wartawan sama jurnalis. Hanya istilah kerennya wartawan itu jurnalis yang dipungut dari bahasa inggrisnya journalist. Dan saya saat itu belum keren. Bahkan sampai sekarang, saya masih lebih suka disapa wartawan.
Nah, banyak lika-liku setelah terjun di dunia kewartawanan di BMR. Hampir dua tahun, setelah sempat mencecap bagaimana rasanya menjadi wartawan media cetak di Radar Bolmong. Saya merasa sepertinya epistemologi (bahasa kerennya ilmu pengetahuan) sebagai pewarta masih belum memadai. Perlu banyak lagi yang harus dipelajari. Meski pengetahuan sekarang terserak di dunia maya yang, memudahkan kita mencari-cari referensi atau bacaan yang bisa menambah wawasan. Akan tetapi itu tidak akan cukup jika tak pernah ada rembuk antar sesama pewarta. Mendiskusikan kekurangan-kekurangan, apa yang kekinian, dan masih banyak lagi tentunya terkait jurnalisme.
Saya sempat iri dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Sangat iri malah. Teman saya yang mengajak untuk bergabung, si Yudin Gajah, acapkali meledek dengan rentetan chat, menyoal; diskusi buku, film, dan sebagainya yang dilaksanakan AJI. Seperti baru-baru ini, Dandhy Dwi Laksono si penulis buku Jurnalisme Investigasi dan videografer film dokumenter di Ekspedisi Indonesia Biru, berkesempatan mampir di sekretariat AJI. Tentu saja, jika kita sadar bahwa profesi kita adalah wartawan, apapun kegiatan mengenai dunia jurnalistik pastinya menarik. Bukan lebih tertarik dengan open house, acara pelantikan ini, atau peresmian itu.
Saya sadar, sebagai diri pribadi, bahwa tak ada apa-apa yang bisa dipelajari di BMR, selama menjadi pewarta. Di sini, sebagian besar wartawan-wartawan masih membincangkan masalah penulisan yang kelebihan atau kekurangan huruf. Preposisi 'di' untuk kata kerja dan tempat. Meski karena faktor buru-buru acapkali menjadi alasan. Tapi, di AJI Gorontalo, apa yang didiskusikan wartawan-wartawan di sana jauh berabad-abad melampaui BMR. Buku Elemen-elemen Jurnalisme yang berisi sembilan elemen, dibedah. Dari kesembilan elemen itu, perlu ditambahi ini dan itu. Yang akhirnya bincang diakhiri dengan bertambahnya pengetahuan. Maka saya pun sadar, istilah jurnalis pantas disematkan kepada mereka. Salah satu alasan 'jempol' saya makin membesar, mereka sangat alergi dengan yang namanya 'amplop'.
"Bro, kalau mau kaya jangan jadi wartawan, jadi pengusaha!" Disusul dengan tawa meledek-ledak di udara. Aih.
Berat. Iya, sebenarnya profesi wartawan itu berat. Yang paling memberatkan adalah bagaimana telapak tangan kita ini dibikin berat untuk menerima amplop. Bagaimana agar lengan jangan diringankan.
Selama menjadi wartawan, saya masih bisa menghitung dengan jari, berapa kali saya menerima amplop. Tapi tak satu pun dari amplop itu berisi kesepakatan bahwa diharamkan memuat berita terkait si A dan si B. Itu amplop uang bensin atau makan sebagai tanda terima kasih, sebab nama si narasumber bakal menghiasi berita dengan pernyataannya. Bukan pula berita servis, sebab apa yang disampaikan narasumber memang berdasarkan fakta informasi yang saya tanyakan. Meski sebenarnya itu pun tergolong najis ringan. Siapa yang pernah buru-buru merobek amplop lalu uang ikut sobek? Ha-ha-ha. Teman saya pernah mengajak '86' sebuah kasus. Meski enggan akhirnya terpaksa saya ikut. Apalagi konfirmasi sangat saya butuhkan pada narasumber yang bakal ditemui. Uang ratusan ribu dibagikan, tapi satu-satunya berita yang naik hanya berita saya. Saya ditelepon dan ditegur habis-habisan. Ha-ha-ha. Najis memang. Tapi setidaknya saya tetap memberitakan.
"Namun alangkah lebih najisnya jika dompet kamu kosong, motor habis bensin, lalu dalam keadaan lapar kamu terpaksa keringatan mendorong sepeda motormu. Maka jika perlu ambil." Kata seorang sesepuh dunia jurnalistik di BMR. Beberapa kali saya coba menolak sebab masih ada sisa gaji terselip di dompet. Namun jika lagi kosong, apa salahnya. Lagipula ini bukan uang kesepakatan atas kasus yang tak perlu diberitakan, yang jelas amplop semacam itu tebalnya minta ampun. Saking tebalnya transfer antar rekening dilakoni. Selama menjadi wartawan, yang telah melewati dua kali momen Idul Fitri. Tak pernah telapak tangan ini menengadah. Gaji sudah lebih dari cukup. Yang pantas memberi THR hanya perusahaan yang menaungi.
Hari demi hari, akhirnya saya sadar. Bahwa letak kemuliaan profesi wartawan itu ketika melebihkan kepentingan warga di atas segala-galanya, tanpa mengharapkan amplop. Satu-satunya loyalitas wartawan itu kepada warga, tulis Bill Kovach di buku Elemen-elemen Jurnalisme. Dan benar pula, sebab wartawan adalah penyambung lidah, menyoal apa-apa kendala warga yang kita temui di lapangan, lalu diverifikasi kebenarannya pada yang berkompeten. Di sinilah, momen kemuliaan profesi wartawan diuji. Sebab setelah dikonfirmasi dan disampaikan kendala apa yang dialami warga. Amplop tebal tergolek di atas meja. Jantung berdegup kencang. Wartawan atau hartawan? Silakan pilih kemuliaanmu. Hey, it's not so easy being a JOURNALIST!