Thursday, July 30, 2015

Pantai

Aku jatuh cinta dengan pantai. Sejak seragam putih-biru pertama kali berpasir di Pantai Lolan. Ini kolam punya siapa? Tanya polos anak SD yang kala itu turut ke pantai. Aku menjawab ini pantai milik bupati. Tawa pun lepas.
Jatuh cinta dengan pantai, tentu menyeret kenang yang kekal di mana saja kita berada. Dari pantai terindah di negeri ini, hingga menembus pantai-pantai di Boltim, negeri yang pertama kalinya kukunjungi dengan sedan Bumblebee di 2013. Iya, itu tahun pertama kali aku ke Boltim. Medan terjal Atoga sempat membikin lalu lalang kendaraan terkesiap; dari gerobak, mobil, motor, sepeda, bahkan sendal dan sepatu (bagiku sendal dan sepatu juga kendaraan yang bisa berfungsi dengan cara kita harus melangkah). Perasaan aneh tergurat di wajah mereka, sebab sedan yang dimodif 'ceper' bisa begitu leluasa merayapi gunduk dan cekung medan. Kami memang kurang waras. Aku, Uwin, Wiro, dan Onang. Berangkat dari kemabukan yang liar.
Tiba di Tutuyan, kaca mobil menurun dengan sekali pencet. Pantai berpasir hitam, namun masih terasa indahnya. Bentang laut memupus tatap. Desir berbisik saling bercakap dengan suara pasir tergilas, saat Bumblebee terparkir di tepi pantai. Berikutnya, tiga kali ke Boltim, yang inginku lihat hanya pantai. Gundah seperti larut bersama air garam, lantas meluap tak terkira tatap. Ah, pantai sering tak bising, itulah kenapa hening begitu mahal bagi yang tinggal di hingar perkotaan. Apalagi hening yang diantarai debur, desir angin, dan gesekan nyiur.
Dua tahun kemudian, di 2015 ini, jejak kaki bukan lagi di Boltim. Hae'-hae' (jalan-jalan, bahasa yang entah dari mana) atas tugas negara atawa lebih tepat nasib, menginjakkan kakiku di Pantai Pinagut di Bolmut. Dalam bahasa lokal, arti Pinagut adalah bebatuan yang menyembul dari bawah pasir. Kurang lebih begitu jelas Kakay di tepi pantai. Pantainya berpasir hitam, tapi setelah juang meloncati bebatuan, menapaki gelantung akar, dan lorong rerimbun pohon. Napas lepas keras. Ekspektasi serupa saat pertama kali menatap indah Pantai Dreamland di Bali. Pantai berpasir putih terhampar dengan buih ombak seperti saat membuka kaleng bir setelah dikocok. Pantai kembali menggali kenang yang kekal.
Di pantai ini, pertama kali aku berpikir mengabadikan air, pasir, patahan karang, dan keong, ke dalam botol Aqua (daripada dibuang lalu menjadi tumpukan sampah plastik). Kubawa ke kamar kos untuk dipajang. Pantai Pinagut ada di kamarku. Selang sebulan, ajak yang tiba-tiba membawaku ke Pulau Saronde di Gorontalo Utara. Sialan, dari keseluruhan pantai yang pernah kukunjungi, ini terindah dari yang terindah. Botol Aqua kembali mengekalkannya (bukan dalam ingatan). Bahkan saat ini, menatap botol Aqua saja, Pulau Saronde dengan pantai indah nian itu hadir. Apalagi yang bisa aku ceritakan di sini. Gambar selalu bicara lebih. Meski keindahan memang selalu subjektif. Tapi tunggu dulu, katanya di Bolmut masih ada pantai indah lainnya. Hmm... botol Aqua ready!

Why so SERIUS?

Matahari dan banteng meliuk di langit. "Saya mencintai PAN," lirih matahari kala itu. Banteng mendengus. Kemudian, gambar-gambar di BBM hanya bisa saya pandangi, tanpa cuil niat untuk mengirim pesan tanya yang 'tahu'.
Tak lama, runtun link ini berjatuhan serupa kerikil permainan tradisional congkak — manual — yang memanfaatkan tanah pekarangan. Kerikil pertama "SMILE Disambut Ribuan Pendukung Fanatik http://m.zonabmr.com/read/188985/smile-disambut-ribuan-pendukung-fanatik.html, lalu disusul kerikil kedua Tatong: PAN Wajib Dukung Alul http://m.zonabmr.com/read/188989/tatong-kader-pan-wajib-dukung-alul.html, dan kerikil ketiga Alul: Saya Mencintai PAN http://m.zonabmr.com/read/188997/alul-saya-mencintai-pan.html. Meski hingga hari ini, masih banyak kerikil-kerikil lainnya. Sampai 'kerikil' urung niat mendaftar.
Ingat segera menderetkan kalimat Machiavelli di pikiran. Meski sebenarnya saya tak kunjung tahu, deretan kalimat (bahasa) atau pikiran, yang mana yang lebih dulu. Bahasa atau pikiran? Jawaban itu hanya bocah yang benar-benar tahu.
Singkat ucap Machiavelli, "One must consider the final result." (Kita harus mempertimbangkan hasil akhir).
Iya, akhirnya koar itu disumpal. Namun masih tersisa juang di sana. PAN memang cukup lihai bermain congkak. Seperti kanak-kanak. Tapi inilah politik, sebuah taman bermain yang terkadang kedewasaan harus ditanggalkan. Kita bisa berpura-pura merampas sebongkah, layaknya bocah. Lalu syahdu mendengar tangis sesaat yang lepas di ujung genggam. Meski ada isak yang hanya berdiam di lubuk, lalu kemudian datang bujuk, padahal katanya tak ada rajuk. Iya, tak ada yang terampas di sini, yang ada hanya yang terbuang.
Namun tunggu dulu, apa yang benar, belum tentu menang, bukan? Hasil akhir kata Machiavelli. Tarung masih panjang.
Saya tak ingin lagi merentang apa yang sudah media beritakan. Tentunya pembaca cukup tahu, gegap-gagap apa yang tengah berkejaran di tanjakan Atoga sana. Ada artis?
Iya, PAN memang riuh dengan para artis. Apalagi di sini, banyak artis instan. Saya tak ingin menyebut badut meski itu lebih pantas, sebab itu agaknya terlalu kasar bagi anak seumuran saya. Untuk usia saya yang baru menginjak empat tahun, badut begitu menakutkan, atau terkadang malah menghibur. Ha-ha-ha-ha.... Yang kemarin itu memang lucu nian.
Ah, kebocahan itulah yang membuat saya iseng menelaah, kekanak-kanakkan apa yang tengah bergemuruh di timur sana. Memang, hanya pandang bocah yang mampu menangkap itu. Hanya bocah berleleh ingus.
Saya lantas tertarik mencermati gambar, bukan berita lagi. Sebab gambar menyiratkan ribuan kata.
Coba tengok matahari yang katanya tegar itu. Saat lengannya mengancung, kelihatan serupa kusuf. Kepalnya rengsa dengan sisa tenaga; empat jemari mengatup lembut, sedang  jempol bengkok lusuh. Dada remuk redam. Di sampingnya, banteng tegap namun hati agak menunduk. Tak mendengus lagi. Senyum terselip di sana, tapi kecut lebih berpendar. Ah, bangsat! Sekali lagi tawa. Ini memang keadaan di mana 'ha-ha-ha-ha' sangat tepat merepresentasikan perasaan. Mereduksinya menjadi barisan pesan. Pesan tawa yang layak.
Apalagi, kala matahari berhijab bermata gelap, menyembul ke permukaan. Raut pucat sisa-sisa meraup jasa, razia, dan jajah tanah juga bersandar di wajah. Gelap. Hanya gelap. Masih juga ada tawa terselip di jejer gigi gadingnya. Ngok!
Lalu matahari, tegar dengan dada membusung. Ada pendar di sana, tepat di samping kiri, padahal yang terlihat hanya redup. Di sampingnya sang maha matahari benderang. Kami akan menangkan DIA, teriak maha matahari  riuh rendah. Matahari yang lebih maha lagi datang membakar. Mereka saling membakar. Ah, di Boltim terlalu PANas. Bocah suka berleleh ingus.
Cermati lagi gambar-gambar lainnya. Di sana banyak tawa yang riuh rendah.
Eh, Eyang kemana saja yah? Masih memilin kumi (s)?
Yang terakhir terlihat di gambar, ia sumringah. Layaknya artis sungguh. Tapi ingat hasil akhir. Saya saja sukar menebak. Sesukar menebak tawa Eyang di balik belukar kumi-(s)-nya. Why so SERIUS?

Tuesday, July 14, 2015

Sajak Genit

Cintaku
melumat bibirmu
dengan desah doa

Kukulum penuh cinta

Lalu kita bermandi peluh
Tetes demi tetes doa

Sunday, July 12, 2015

Berbagi Kasih

Saya tak sedang bertutur laku luhur. Bukan pula menebar amal yang, seharusnya lebih terasa ikhlas jika tak disebar. Namun di sini, saya ingin membagi, apa yang menggelinjang dalam dada, setelah kunjung Berbagi Kasih Radar Bolmong, Kepala Unit BRI Boroko Jefri Abbas, bersama komunitas pengajian One Week One Juz (OWOJ) yang dinakhodai Sakti.
Ini keping demi keping kisah yang, sepatutnya menjadi cermin, bahwa beterima-kasihlah kepada mereka yang tak berpunya. Sebab jika hidup ini dipenuhi orang berpunya, apalagi arti berbagi.
Kisah bermula dari gubuk yang didiami seorang Babay (bahasa lokal Bolmut, sebutan untuk nenek), yang pertama kali kami kunjungi. Sesuai deretan daftar penerima sembako, rata-rata memang mereka yang uzur. Kakay (kakek) telah di pusara.
Dari sebagian penerima yang terdiri dari 15 orang. Beberapa di antaranya, cukup memprihatinkan. Yang melekat di relung, yakni Babay Mitu di Desa Kuala Utara Kecamatan Kaidipang, Bolmut. Babay ini penderita tunarungu. Meski renta, kepulan asap masih me-rajawali di atas kepala berubannya, di tengah temaram bohlam. Setelah sadar ia kedatangan tamu, kursi-kursi ia rapikan. Rokok di jemari keriputnya bergegas direbahkannya ke asbak. Tak jelas apa yang dikatakannya saat menyambut. Kami pun diberitahu salah satu anggota komunitas OWOJ. Babay ini tak bisa mendengar. Bicaranya pun terganggu.
Kemudian gestur dan suara tetap berusaha kami nyaringkan, mengisyaratkan paket sembako ini untuk Babay. Bungkusan ia rengkuh dengan rengsa. Dipaksa dibuka. Kami hanya terus mengawasi. Setelah dibantu membuka simpul lapis pertama bungkusan. Ia memaksa merobek lapisan kedua. Kami heran, entah apa yang akan dilakukan Babay.
Setelah sobek menganga, Babay menyentuh isi bungkusan. Hanya menyentuh. Lalu lengan hitam legam berkerut itu menengadah dengan kedua telapak tangan terbuka. Babay berdoa. Rapal yang entah. Saya baru sadar, ia hanya ingin menyentuh isi bungkusan untuk melanjutkan puja ke Yang Kuasa. Jauh menembus langit-langit rumahnya yang reyot. Kemudian menggetarkan semesta.
Jabat tangannya mengusai sudah pertemuan. Di dalam mobil, Pak Jefri hanya singkat berujar.
"Doanya itu yang membuat meteor-meteor jatuh ke bumi."
Kalimat itu terlontar begitu saja. Selanjutnya, kunjung bergulir ke Babay dan Kakay lainnya. Di dalam mobil, saya hanya bisa tercenung. Mungkin itulah ucap Bung Karno; Tuhan bersemayam di gubuknya orang miskin. Tapi saya tidak mendengar ada suara Tuhan di gubuk Babay Mitu.
Di gubuk berikutnya, satu lagi, kami dipertemukan dengan Babay yang namanya lupa kutanyai kepada Sakti. Babay ini penderita tunanetra. Ia memohon maaf sebab tak bisa mengenali kami. Ada nada sesal merangkul tutur katanya. Kemudian sebait doa ia rapalkan. Di gubuk ini, saya pun tak melihat Tuhan yang, katanya sedang bersemayam di sini.
Pamit untuk melanjutkan kunjungan, Babay terus berterima-kasih, sampai langkah kami melewati pekarangannya.
Kembali di dalam mobil saya termenung. Di gubuk tunarungu saya tak mendengar suara Tuhan di sana. Di gubuk tunanetra pun saya tidak melihat Tuhan. Bukan keimanan dalam diri saya, yang sedang saya pertanyakan. Tapi iman yang bersemayam dalam diri kedua Babay itu.
Babay Mitu bukan hanya tak pernah mendengar kabar tentang keberadaan Tuhan, agar imannya teguh. Ia tak pernah bisa mendengar sabda. Sama seperti Babay penderita tunanetra, yang tak pernah bisa menyaksikan alam semesta, apalagi keberadaan Tuhan agar imannya kokoh.
Cinta itu... cinta tanpa pernah mendengar keindahan sabda dan ayat-ayat suci. Cinta tanpa pernah melihat rupa. Cinta mulia Babay kepada Tuhan.
Tuhan memang sedang bersemayam dalam lapuk tiang kayu gubuk kalian.
Tidak dalam megah bangunan masjid bermarmer italia.
Terima-kasih telah berbagi kasih dan cinta Babay. Kepada Tuhan.

Saturday, July 11, 2015

Congkak Dipilin Kumi(s)

SIAPA yang tak kenal congkak? Saya sendiri baru sadar dan kerap salah sangka, ejaan kata congkak (jenis permainan tradisional) ternyata ‘bukan congklak’.
Jadi ada dua kata sama tapi beda arti. Congkak yang satu adalah sifat dan kelakuan orang; merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia. Atau sikap pongah dan angkuh. Sedangkan congkak yang satunya lagi; adalah permainan dari kulit lokan. Bentuknya seperti perahu dan berlubang-lubang. Di masa ketika saya adalah bocah berleleh ingus, gemar melantak tanah pekarangan, dilubangi satu persatu, lalu dijejali kerikil.
Apa hubungan permainan ini dengan sikap congkak (pongah)? Jelas ada. Seringkali kita menjadi congkak, saat meraup kerikil atau biji dengan jumlah yang banyak secara simultan. Sedangkan lawan yang dianggap kurang beruntung, harus pasrah dengan kerikilnya yang jatuh ke lubang kosong. Atau berakhir di nganga lubang lawan.
Sekadar menarik ingatan, saya pernah bersikap congkak—ketika main congkak—di depan lawan. Bahkan sembari memberi ledekan ketika seluruh kerikil yang menggunung di lubang, kuraup dengan pongah. Tentu berharap agar lawan panas.
Permainan berjalan, terus jalan..terus…terus… jalan terus, lalu keadaan berbalik. Saya kalah. Satu pelajaran yang saya tarik; tak perlu congkak saat bermain congkak.
Nah, pengalaman masa kecil ini hendak saya tarik ke nuansa politik terkini di Boltim. Ya, sudah pada tahu bukan? Tentang Eyang (Sehan Landjar) dan Alul (Sam Sachrul Mamonto). Ada apa dengan mereka? Jelas kita tahu, apa yang tengah menjadi isu hangat dan memanas sepekan ini.
Alul yang sebelumnya telah menggenggam puluhan kerikil, harus berakhir di lubang kosong. Penyebabnya adalah surat nomor 136 Tertanggal 6 Juni 2015, yang ditanda-tangani Asman Absur. Isinya apa? Adalah kandasnya impian Alul berpasangan dengan Medi Lensun sebagai pasangan Calon Bupati – Wakil Bupati Boltim.
Dalam berpolitik, sikap congkak kadang merepotkan. Selain melahirkan blunder, terkadang kita tidak pernah tahu, nasib apa yang akan membawa kita ke lubang yang sama, meski dengan keadaan berbeda; lubang berisi atau lubang kosong.
Dedy Dolot (Dedol) Wasekjen DPP PAN, tak mungkin tak panas oleh pernyataan Alul di Harian Komentar, Rabu 1 Juli 2015, Kolom Totabuan (Hanya nama Sachrul Diusulkan ke DPP, PAN Boltim Dituding Bohongi Kandidat). Di situ Dedol membenarkan. “Hanya nama Sachrul yang diusulkan ke DPP,” kata Dedol sebagaimana dilansir Harian Komentar.
Setelah sebelumnya berkacak pinggang, sebab posisinya sebagai Wasekjen itu, eh, pasti panas ketika jabatan strategisnya dienteng-pandang lewat pernyataan Alul di Komentar.
“Jadi ada sepuluh nama yang mendaftar sebagai bakal calon. Lima di antaranya adalah lima calon bupati dan sisanya calon wakil bupati. Kesemuanya kita pleno dan diserahkan ke tim penjaringan Pilkada DPD hingga DPP PAN,” kata Alul sebagaimana kepada Komentar.
Masih menurut Alul dalam pemberitaan itu, Dedol sendiri tidak memiliki kapasitas memberikan penjelasan terkait rekom, siapa yang akan didorong PAN.
“Karena kapasitas Dedi sendiri bukan bagian dari tim pemenangan pilkada DPP PAN. Yang pasti persetujuan calon bupati usulan partai sudah ada. Tidak perlu dipolemikkan,” kata Alul.
Nah, bagaimana rasa dan suasana hati Dedol selaku Wasekjen DPP PAN dikatai begitu? Ah, entahlah.
Selanjutnya, saya membaca kabar media, terkait pernyataan Dedol; keputusan Tim Pilkada DPP PAN (merekomendasikan Eyang dan Rusdi) karena ingin menang di Pilkada. Maka peluang yang manalagi yang hendak didustakan? Setelah seteru politik di partai atau se-partai di ibukota, berimbas pada lubang-lubang kecil. Akan selalu begitu.
Eyang sendiri sebagai petahana, sembari memilin kumi(s), harus tertawa lebar. Syaraf dan insting politiknya, terus digelitik. Baginya ini bukan konflik, tapi inilah politik. Eyang mungkin tak sedang menggenggam buku Machiavelli sebagai hand book (buku pegangan). Namun di sini, jelas terpatri, Eyang memang seorang politikus handal yang melumat habis ‘lembar demi lembar buku berisi teori Machiavelli’. Dalam berpolitik, bagi sebagian orang sikap licik itu halal. Tak ada ‘moral’ di sana. Tak ada pula sikap ‘belas kasih’. Setiap peluang adalah celah di mana seberkas cahaya menyelinap. “Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya, haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan," demikian sabda Machiavelli.
Di sini saya hendak menegaskan, bukan Eyang yang sedang bersikap licik, namun politik itulah yang licik. Atau harus dengan pertimbangan moral, merampas kerikil-kerikil dalam lubang lawannya itu salah. Politik itu serupa permainan congkak. Silakan Anda meraup. Sebab begitulah aturannya. Tapi di sini, ada yang sedang bersikap congkak rupanya.
Alurnya secara simultan bisa digambarkan seperti ini; Aljufri Mamonto protes soal penjaringan bakal calon Bupati Boltim oleh DPD PAN Boltim. Kenapa? Karena menurutnya, hasil yang dikirim (rekom) mengesampingkan mekanisme. Hanya nama Alul yang dikirim ke DPP PAN. Nah, dalam satu partai pun, harus seperti main congkak. Kita harus punya, setidaknya sanding yang lain.
Tentu Dedol heran, kenapa hanya nama itu yang dikirim. Padahal, saat penjaringan sejumlah nama calon terjaring, termasuk penulis ‘Nalar Bengkok’. Tapi kenapa nama Medi Lensun (bukan PAN) yang terekom? Lalu dari PAN hanya Alul? Tak ada nama lain. Dedol mempertanyakan itu. Alul malah nekat ‘menganggap remeh’ Dedol selaku Wasekjen DPP PAN yang katanya tak punya kapasitas soal urusan siapa direkom DPP PAN untuk bertarung dalam Pilkada Boltim.
Sikap congkak mulai nampak di sini. Apa ada informasi Dedol adalah Wasekjen DPP PAN yang bukan bagian dari tim Pilkada PAN? Dedol selaku anak Mongondow yang berhasil menduduki posisi strategis di DPP, dengan tenang, tetap mengikuti ritme permainan. Yang akhirnya bulat menilai sebulat palung congkak. Alul adalah sosok arogan yang tak punya etika organisasi. Belakangan Dedol dan Tim Pilkada DPP PAN akhirnya memutuskan, Alul tak pantas. Entah karena congkak atau apalah, tak tahu.
Maka dicarilah orang yang pantas ‘dijual’. Tapi siapa? nama Ahmad Alheid si penulis ‘Nalar Bengkok’ sempat dikocok. Tapi entah kenapa gugur.
Eyang yang lagi menahan haus puasa, sembari membaca koran nasional; kring, kring, kring... ponsel berdering. Rupanya dari DPP PAN: Siap maju di PAN? Eyang yang tak lain adalah politisi dengan berbagai predikat tertanam untuknya, sembari memilin kumi(s) dengan cepat bergumam; hmm sudah kuduga.
Empat buah kerikil di tangan Alul, jauh melewati lubang inti, menuju lubang Eyang. Mati.
Eyang meraup kerikil ‘estafet’. Pada akhirnya, politik PAN, memang seperti permainan congkak.

Friday, July 10, 2015

Peluh itu Puisi

Mungkin benar puisi itu berat. Namun mampu mewarnai angin. Perihal apa
yang entah, yang absurd, yang buncah, semua menyembul serupa peluh. Menetes begitu saja. Lelah pun sirna. Lalu kita lega.
Puisi seperti peluh siapa mereka yang bekerja. Hasilnya akan selalu indah. Tapi puisi pun akan jadi sakit, jika mengendap terlalu lama serupa peluh. Dan kita manusia tak bertubuh kempal. Kita berpeluh.
Aku punya deretan sahabat yang suka berpuisi. Mereka berpikir,
bekerja, menikmati, kemudian sirna. Sama seperti peluh yang jatuh di
kulit air, sahabat-sahabatku ini tak pernah tahu, apa yang pantas dan
yang terhempas, itu jauh lebih berarti. Setidaknya kalian pernah
berpuisi. Meski sirna, rimanya akan bergema.
Pernah bersama, kami sepakat membangun mimpi. Kami harus punya sebuah buku kumpulan puisi. Dan kami berkerja penuh peluh. Lembar demi lembar ditulisi. Ada yang harus disobek dan berakhir di tong sampah. Hingga pada lembar terakhir. Semuanya berakhir. Mimpi kami masih di kulit sampul. Tapi kami tetap tertawa. Bahagia sebab buku itu akhirnya berada di deretan lemari. Tepat di rak ke tiga.
Sahabat yang perempuan terus tertawa. Meski katanya ia lelah. Tapi
kami tetap berpuisi. Si rambut putih pun tetap tersenyum. Senyum yang
terus menjauh. Yang suka mengajak makan, terbang kembali ke dahan yang sama denganku, bersama si hitam. Kami tetap sepakat akan membangun mimpi. Tentu mimpi yang berbeda.
Ini memang pekerjaan terindah dalam hidup. Berpeluh dan berpuisi.
Kami tak pernah merebut mimpi, tapi memilih memiliki mimpi kami
sendiri. Sebab menulis puisi dengan peluh itu, adalah mimpi abadi.
#FREES