Sunday, April 3, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (4)


... Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan. (Baca sebelumnya: Bagian 3)

Sambil melahap makanan, keduanya kembali terlibat pembicaraan. Masih dengan tema yang Satu jam saja waktu yang ditempuh. Desa Mopuya Selatan menyambut dengan hijau persawahan. Hari ini cukup cerah. Langit yang membiru seperti ditopang puncak bangunan gereja, masjid, dan pura yang saling bergandengan.

Di desa Gladys yang mayoritas terdiri dari diaspora suku Jawa, bercampur dengan Bali, Gorontalo, Minahasa, dan Mongondow, tempat peribadatannya memang sengaja dibangun berdekatan. Simbol toleransi yang erat. Desa ini bahkan menjadi objek pariwisata ketika perayaan hari-hari besar keagamaan. Masyarakatnya yang heterogen saling berjibaku. Pemuda-pemudi digiatkan dan ditanamkan sikap saling menghargai sejak kanak-kanak. Meski desa ini dikepung oleh wilayah yang cukup rentan konflik antar desa. Tapi sejauh ini, masyarakat Desa Mopuya Selatan tidak pernah tertular sikap bigot-bigot kerdil yang kerap membikin onar itu.

Konflik yang acap kali terjadi di Dumoga, penyebabnya bisa dari kuping, mulut, dan perut. Telinga yang terlampau sensitif, saling adu mulut, lalu akhirnya otot atau samurai diadu. Untuk urusan perut, yang sering menyulut masalah yakni persoalan tambang tradisional. Anak-cucu didongengi dengan kisah-kisah heroik para pendekar tambang. Sejak kecil, mereka diajari mengidolakan pendekar dari asal desa mereka, lalu membenci pendekar dari desa lain. Bahkan diajari membenci seluruh penghuni desa yang menjadi seteru.

"Kita bisa sedikit tenang di sini. Setidaknya di sini tidak ada tim Gagak, Tuturuga, atau Pokpok," ujar Gladys yang disusul tawa.

"Tenang? Ya, karena kita beruntung terlahir di desa ini," kata Lina.

"Iya juga sih. Aku juga heran dengan desa-desa lain di Kecamatan Dumoga yang suka tawuran."

"Eh! Kenapa Ririn tidak kita ajak?" Lina memotong, sebelum mereka larut dengan pembicaraan soal konflik di Dumoga yang sudah seperti arisan.

"Di depan, pak!" Gladys tiba-tiba menyeru sopir, sebab mikrolet yang mereka tumpangi sudah tepat berada di depan rumahnya.

"Lin, turun di rumah saja," ajak Gladys.

Usai membayar ongkos, Gladys menanggapi pertanyaan Lina tadi. "Iya, harusnya kita ajak Ririn."

Gladys merogoh ponsel di sakunya. Lalu menelepon Ririn. Tidak aktif. "Mungkin dia masih tidur."

Belum masuk pekarangan rumah, ibunya Gladys sudah di beranda. Segaris senyum terlihat di wajahnya, yang hampir seperti telur rebus dibelah dua dengan putri satu-satunya itu.

"Kenapa tidak bilang-bilang?" tanya ibunya.

"Mau kasih kejutan," kata Gladys.

"Sudah makan? Ibu masak ikan teri sama sayur kangkung."

"Masakan ibu bikin air liur merembes." Segera Gladys dan Lina menyerbu dapur.

"Kalian makan dulu, ibu mau ke rumah pak Wayan. Mau antarin teh. Seminggu lagi Nyepi. Sedang ramai-ramainya warga membantu membuat Ogoh-ogoh."

"Nanti kami menyusul."

Tradisi Ogoh-ogoh memang menjadi alasan lain Gladys untuk pulang ke kampung halaman. Sehari menjelang Nyepi, umat Hindu akan mengarak patung-patung dalam wujud berbagai macam raksasa. Yang menarik, Ogoh-ogoh pun kerap dijadikan bentuk kritikan kepada pemerintah. Misalnya dalam bentuk pejabat-pejabat yang korup. Usai Ogoh-ogoh diarak keliling, biasanya replika raksasa-raksasa atau patung pejabat-pejabat korup itu dibakar.

sama. Kotamobagu yang tengah diteror razia.

"Aku cenderung lebih suka Kotamobagu, ketika di zaman SMA dulu," kata Lina.

Dia dan Gladys memang seiring sejalan sejak masih SMA. Mereka memilih bersekolah di Kotamobagu kala itu, meski di daerah mereka sudah ada SMA.

"Tapi kita juga tidak harus membandingkan kondisi desa kita dengan kota. Jelas bedalah," kata Lina.

"Iya juga sih. Tapi setidaknya, kota yang lebih modern seharusnya pemikirannya juga lebih terbuka."

Sekali lagi Lina mengangguk pelan. Mulutnya tampak sibuk menguyah. Pipinya yang tembem tambah menggembung.

***

Aku baru saja terbangun. Kali ini, menjadi hari yang begitu berat bagiku. Pesan singkat yang masuk dari redaktur www.koyow.com, membikin aku bergegas ke kamar mandi. Hanya sejurus kemudian, usai merapikan rambutku yang berombak dengan jemari, aku segera menemui Umar di kedai kopi. Dia redakturku.

Media online kami yang idenya berawal dari perbincangan di kedai kopi, bersama tiga temanku, memang belum memiliki kantor. Kedai-kedai kopi jadi tempat persinggahan kami untuk membuat berita. Aku menemui Umar di kedai kopi yang biasa kami tongkrongi.

"Benar kabar itu?" aku setengah berbisik. Kedai kopi telah penuh dengan pengunjung.

"Buat apa aku berbohong?" jawab Umar dengan tampang serius.

"Terus?"

"Ya... Kita tetap harus memberitakan itu."

"Tapi itu pamannya Indra. Aku tidak enak saja."

Umar segera membereskan laptop dan beberapa buku di atas meja. Setelah semuanya masuk ke dalam ransel, dia mengajakku ke rumah Deni.

"Kita lebih aman bercerita di sana," katanya, usai membayar tagihan kepada kasir di kedai kopi.

"Aku masih tidak percaya."

"Aku juga begitu tadinya. Tapi setelah bertanya ke orang-orang yang tahu benar kasus itu. Aku menghubungimu," jelas Umar.

Rumah Deni, wartawan di media online kami, juga salah satu teman yang menginisiasi terbentuknya www.koyow.com, tak jauh letaknya dari kedai kopi. Hanya beberapa menit, Deni tampak sudah menunggu kedatangan kami di beranda.

"Yakin kau, Mar?" teriak Deni, setelah kami memarkir motor.

"Sialan! Aku saja belum bernapas, sudah ditodong," sahut Umar.

Di depan rumah Deni, ada pohon mangga rindang dilengkapi bangku memanjang. Mereka memilih mengobrol di situ. Umar lantas bercerita duduk perkaranya. Adik ayahnya Indra, yang seorang anggota legislatif terlibat kasus korupsi. Indra adalah pemimpin redaksi, juga teman baik dan termasuk founding fathers media online kami.

"Jadi, kita harus memberitakannya juga?" tanya Deni.

Umar yang jauh-jauh tahun lebih berpengalaman dari aku dan Deni, tampak gelisah. Kegelisahan itu jelas tergambar di wajahnya, apalagi Umar tahu tugasnya sebagai redaktur akan lebih berat.

"Apa sebaiknya kita bicarakan juga dengan Indra?" tanyaku.

"Jelaslah! Tapi kita bertiga harus sepakat dulu," kata Umar. Dia menjetikkan puntung rokok yang telah pupus.

"Media lain juga pasti akan memburu berita itu," kata Deni.

"Pasti. Dan jika kita memilih tidak membuat beritanya, citra media kita yang independen ikut tercoreng," aku coba berpendapat.

"Benar! Tapi bagaimana perasaan Indra nanti?" tanya Deni.

"Jelas ini bukan persoalan hubungan pertemanan kita dengan Indra. Tapi ini soal bagaimana seharusnya kita memposisikan diri. Yang lebih dipentingkan adalah independensi, bukan netralitas," jelas Umar.

"Kok, tiba-tiba rambutmu memutih, Mar. Kau berubah jadi Bill Kovach," kata Deni, yang memancing tawa kami bersamaan. Ucapan Deni mencairkan suasana yang sedari tadi serius. Aku seketika ingat Gladys, yang pernah juga aku dakwahi.

Mobil Avanza yang pelan merangkak masuk pekarangan dan menuju ke arah kami, membuat tawa kami terhenti. Indra turun dari mobilnya. Wajahnya cerah. Tak seperti hati kami yang seketika mendung.

(Bersambung)