Friday, April 22, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (6)


... "Apa?" (Baca sebelumnya: Bagian 5)

"Sigid."

Jeritan Lina mengagetkan seisi mikrolet. Cubitan Gladys tepat mendarat di pipi tembemnya. Kemudian, mikrolet itu disesaki nama Sigid. Sepanjang perjalanan.

***

Pertama kali memberitakan soal kasus korupsi yang, ternyata melibatkan beberapa pejabat penting di Kotamobagu, termasuk pamannya Indra. Media online kami dibanjiri ribuan pembaca. Sedangkan pertemanan di antara kami dan Indra, kini semakin kemarau. Retakan pertama, Indra menghapus aku, Umar, dan Deni dari pertemanan di semua media sosial.

Umar juga telah meniadakan nama paman Indra dari daftar donatur. Atau lebih tepat, nama samaran pamannya. Mereka memang terkecoh, sebab Indra berbohong bahwa donatur itu adalah kerabatnya di Bali. Jika saja Indra jujur bahwa pamannya yang menjadi donatur selama ini, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak. Hanya saja, jabatan pamannya itu memang cukup rentan. Apalagi beberapa orang teman pamannya, pernah terjerat kasus korupsi. Umar sendiri pernah mengutarakan kecurigaannya kepadaku. Bahwa paman Indra berada dalam lingkaran itu. Pada akhirnya, lingkaran itu mencipta liang yang cukup besar pada persahabatan kami.

Lamunanku buyar karena ponsel yang bergetar. Deni menelepon.

"Di mana?" tanya Deni.

"Kos. Kenapa?"

"Aku ke situ!" Deni menyudahi panggilan.

Aku penasaran, sebab belum mendapati penjelasan apa maksud Deni. Aku menyalakan laptop. Nyala layar membuat mataku memicing. Sedari pagi, tirai jendela kubiarkan tertutup. Dan ini sudah pukul 11 siang.

Hanya sela beberapa menit, pintu digedor. Aku bergegas membuka pintu.

"Gladys!" aku salah menduga.

"Maaf, aku terlalu keras mengetuk pintu," kata Gladys disusul senyuman.

"Tidak apa-apa. Kapan kembali?"

"Baru dua jam yang lalu."

"Masuk. Maaf  berantakan."

Aku segera menyibak tirai lalu membuka jendela. Buku-buku yang berserakan di atas kasur kurapikan. Gladys mengelilingi seisi kamar dengan pandangan. Dia tampak memindai poster-poster yang menempel tak beraturan di tiga sisi dinding. Ada enam poster yang terbagi di tiap sisi dinding berbeda. Dicetak besar seukuran kulkas dua pintu.

Poster hitam-putih penyair Chairil Anwar, tepat berada di atas TV dengan posisi miring. Di sekelilingnya lembaran kertas buku menempel, juga tak beraturan. Gladys mendekat. Bait-bait puisi tampak tertera di tiap lembaran. Dengan tulisan tangan.

"Ini puisi-puisimu?" tanya Gladys.

"Ah, cuma coretan-coretan. Sebagian puisi-puisi Chairil."

Aku kembali sibuk merapikan kamar. Empat kaleng bir di lantai, segera meluncur ke keranjang sampah. Tentu saja, kaleng-kaleng itu kosong. Siapa yang tega menyisakan bir, yang bahkan buihnya mampu mendidihkan imajinasi.

Pandangan Gladys kembali merangkaki dinding. Poster kedua dicetak berwarna. Senyuman Mohammad Hatta mengukir di wajah teduhnya. Lembaran kertas di sekeliling poster, berisi kutipan-kutipan. Masih dengan tulisan tangan. Poster ketiga, karikatur hitam-putih Gus Dur. Tawa yang khas. Lembaran kertas yang sama berisi kutipan-kutipan mengelilingnya.

"Mau minum apa?" tanyaku.

"Ada bir?"

"Bir dingin?"

"Ah, aku bercanda. Ini masih terlalu siang untuk sekaleng bir. Kopi saja," kata Gladys.

"Barista beraksi! Aku menjerang air dulu." Aku berlari secepat Naruto dengan membungkuk dan kedua lengan lurus ke belakang, menuju dapur mini.

Yang tampak di depan Gladys kali ini, poster Munir. Posisinya tepat di atas poster Gus Dur, di satu sisi dinding yang sama. Warnanya didominasi merah. Di sisi dinding yang ketiga, senyum Joker memanjang hingga ke cuping telinga. Sedangkan poster terakhir, tampak Pramoedya Ananta Toer duduk menyamping. Jemarinya menari di atas mesin ketik antik.

"Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak..."

"... Di hadapan orang lain." Aku melanjutkan ucapan Gladys, yang tengah membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer.

"Bagiku, kutipan itu sarat makna bagi seorang jurnalis. Oh, ya, ini kopinya." Aku menyodorkan secangkir kopi yang di atasnya masih berarak-arak sekumpulan awan.

"Kita melantai saja," ajakku.

Gladys segera menyambut cangkir kemudian selonjoran di lantai. Dia lantas mengejar perkataanku. "Kalimat itu, untuk seorang jurnalis hubungannya apa?"

"Aku pernah bercerita kepadamu, soal media yang sudah aku tinggalkan."

"Iya. Aku ingat,” kata Gladys. Dia lalu menyeruput kopi.

"Aku ingin bertanya sekali lagi. Sebenarnya alasanmu ingin menjadi seorang jurnalis itu apa? Alasan terbesarmu."

Terdengar hela napas Gladys. Dia hanya diam memelototi cangkir kopi.

Melihat Gladys hanya diam, aku melanjutkan, “Gladys, jika alasanmu balas dendam, maka yang ada dalam pikiranmu hanyalah kebencian.”

“Apakah, ketika aku ingin menjadi jurnalis, itu terlalu sulit bagimu?”

“Bukan begitu. Sebenarnya menjadi seorang jurnalis itu sederhana. Miliki nurani. Itu saja.”

Gladys memandangi aku begitu lama. Kedua bola matanya seakan meloncat masuk ke dalam mataku.

“Jika aku beralasan… Karena seseorang?”

“Maka ketika seseorang itu hilang, keinginanmu pun akan ikut pudar perlahan.”

“Dia tidak mungkin hilang. Aku baru saja menemukannya. Orang itu sekarang ada di depanku,” kata Gladys.

Kali ini, aku yang dibuatnya terdiam. Seperti ada bongkahan es yang tiba-tiba mengurut ulu hatiku.

Gladys lantas menggeser posisi duduknya. Kami seperti sebungkus rokok dan korek api. Begitu dekat. Pelan diraihnya kedua tanganku. Lalu dia menuntun dan melabuhkan tepat di pundaknya. Wajahnya semakin mendekat.

(Bersambung)