Saturday, April 16, 2016

Surat Kegelisahan untuk Kompasdotkom

Sumber gambar: Iklan Aqua www.youtube.com
Niat saya untuk menulis surat ini, sebenarnya hanya ingin menyampaikan kegelisahan saya, atas pemberitaan kompasdotcom. Iya, cumak gelisah. Dikit juga gelisahnya. Seupil.

To the point saja! (Aih, jadi ingat masa-masa SMA) Kegelisahan saya ini soal berita kompasdotkom, Sabtu 16 April. Judulnya saya nukil, Terkait Aksi "Kartini Kendeng", Ini Kata Dian Sastro. 

Yaa... Dewa Mabuk. Seguci sudah nama Dian Sastro habis saya teguk dari pelbagai media. Kompasdotkom ngasih seguci lagi. Berita yang di judulnya tertera nama Mbak Dian itu di-tag Mbak Debby Mano. Dia Ketua AJI Kota Gorontalo yang lucu dan buncit. Dan ketika berita itu di-tag, dia nyinyir pula.

Begini katanya, "Petani modalnya air. Selebriti modalnya air mata. Pantas aja gak nyambung mbak ini. Bagi para pemuja dian sastro monggo dibaca, apa mo lanjut fans atau balik kanan hahahahahha."  

Ketika saya iqro' beritanya...

Sungguh tega kalian kompasdotkom! Kenapa kalian tega mewawancarai Mbak Dian dan minta tanggapan atas aksi Mamak-mamak SuperSamin yang ngecor kaki mereka tempo hari?

Saat wartawan kalian mewawancarai, Mbak Dian ngomong (atau malah ngelantur), bahwa ada tanda tanya besar menyoal peran Papak-papak Samin. Dengan sangat dewasanya, Mbak Dian mempertanyakan apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa menurutnya yang harus bicara malah perempuan?

Dan sekali lagi dengan sangat dewasanya Mbak Dian kasih komentar lagi. Bahwa Mamak-mamak Samin harus terlepas dari politik lalu kembali ke urusan domestik.

Huft! Debur di dada meretak karang. Tega sekali kompasdotkom mewawancarai Mbak Dian. Puas, kan? Baca tuh! Semakin ngelantur, kan?

Ehu! Tidak salah lagi! 

Kompasdotkom, kalian sudah mewawancarai artis yang memiliki jadwal padat syuting iklan, film, pemotretan, dan lain sebagainya. Yang jarang nonton berita di TV. Yang jarang baca berita di koran atau media online. Yang nggak nonton dokumenter Samin Vs Semen padahal gratis di youtube. Yang luput membaca mojok.co.

Dan... Artis yang sudah beranjak dewasa.

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Dian. Cukup nonton Samin Vs Semen. Mbak Dian pasti melongo seperti di ending iklan Aqua.

Lalu biarkan saja para pembaca yang menakar, seberapa dewasanya Mbak Dian itu tumbuh. Seberapa tebal alis Mbak Dian. Dan seberapa kencang jogingnya. Puas, kompasdotkom? Itu, kan, yang kalian mau?

Kenapa juga, kalian kompasdotkom memilih mewawancarai Mbak Dian dari sekian banyak artis perempuan lainnya? Saya yakin alasannya bukan karena Mbak Dian bakal meranin Kartini. Dalam tubuh berita, juga tidak disinggung soal film Kartini.

Ini tentu ada kaitannya dengan demam Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang tengah mewabah. Terus biar ngejar rating, tiba-tiba kepikiran mewawancarai Mbak Dian. Meski film AADC 2 juga tidak disebut dalam berita. Saya yakin dengan semua dugaan ini. Pasti soal rating. Sebab wabah AADC 2 telah dihirup lebih dahulu se-Endonesia. Lihat kan, beritanya sudah ribuan pembaca. Hiks. Sebagian besar pembaca pasti para penggemar AADC. Luluh-lantak sudah.

Kompasdotkom, yang kamu lakukan ke para penggemar itu, jahat!

Tapi, saya sebagai remaja yang unyu di tahun 80an, meski kesal dengan kompasdotkom, akhirnya bisa sedikit lega. Sebab saya sebenarnya bukan menggemari Mbak Dian dalam realita. Tapi menggemarinya dalam dunia fiksi. Jika AADC 2 nanti jelek, saya tetap masih punya Cinta yang belum dewasa di AADC 1. Yang alisnya masih sejumput.

Kompasdotkom, meski kalian jahat, tapi kalian telah membuka mata batin saya untuk bisa memilah. Yang mana Mbak Dian dan yang mana Cinta.

Jangan pernah dewasa, Cinta.

Jangan pernah joging di hutan karena ada pabrik semen.

Jangan pernah belok ke pantai karena ada reklamasi.