Wednesday, April 27, 2016

Percakapan Sigi

"Aku bukan ayah. Aku adalah semesta."

Begitu seorang ayah coba membujuk putri semata wayangnya, yang tengah merajuk. Dibelainya pundak putrinya yang ia panggil dengan sangat pelan... Sigi.

Namun baru saja ujung jemari hendak menyentuh, Sigi menghindarinya. 

"Kau tahu, Sigi. Ayah adalah semesta. Silakan kau membenci sedahsyat mungkin. Ayah akan tetap ada. Entah itu di langit atau di bumi. Sekali lagi, ayah adalah semesta."

Sigi menoleh. Rambutnya yang bergulung-gulung bergetar. Ia memandang wajah ayahnya itu. Penuh amarah. Bola matanya hitam namun begitu benderang.

"Aku tidak peduli dengan semesta. Aku hanya ingin ayah."

Langit kembali segelap lelap. Tak ada apa-apa. Bintang-gemintang menyelam kembali ke dasar langit.

"Ayah tahu... Kau marah. Tapi untuk apa marah? Bahkan kau sendiri belum cukup dewasa untuk mengerti."

Wajah Sigi yang jenak pergi itu kembali. Ia kali ini hanya mengintip dari sela bulu-bulu matanya yang lentik. Masih dengan tatapan yang sama.

"Bukankah, kata ayah, aku jangan pernah dewasa?"

Setiap hari ulang tahun Sigi, memang kalimat itu yang kerap terucap dari mulut ayahnya: jangan pernah dewasa.

"Bukankah, kata ayah, aku harus tetap menjadi bocah agar bisa terus bertanya-tanya lalu memahami?"

Ayahnya terdiam. Sigi bersiap dengan tanya yang ketiga. Tanya yang terakhir.

"Bukankah, kata ayah, menjadi dewasa itu membosankan?"

Bidang hitam sejauh mata memandang masih terhampar. Ayahnya coba menyusuri itu lalu perlahan mendekati Sigi lagi. Kali itu Sigi tak bergeming.

"Kau benar, Sigi. Tiga pertanyaanmu itu, adalah apa yang selama ini ayah ajarkan. Kau belajar dengan sangat baik."

Sigi menggerak-gerakkan kedua pipinya secara bergantian. Kiri menggembung. Kanan mengempis. Liang di kedua pipinya pun saling bergantian tergali.

"Ayah hanya ingin mengelak. Sekarang, apa yang belum aku pahami?"

Dari dalam sorot mata ayahnya tiba-tiba merangkak seekor bintang. Mengerlap-kerlip lalu terbang. Seluruh bintang dari dasar langit ikut menyembul. Langit seketika bukan bidang hitam lagi. Sangat ramai.

"Kau tahu, Sigi. Kau sebenarnya telah memahami."

Ah, jangan terlalu serius, mari dengarkan ini, Sigi...

28 April, penulis novel To Kill Mockingbird, Harper Lee, lahir. Juga penyair Chairil Anwar, berpulang. Di tahun-tahun yang berbeda tentunya, namun di tanggal dan bulan yang sama dengan hari lahirmu. 28 April, juga pertemuan Rangga dan Cinta, setelah 14 tahun lamanya terpisah. Iya, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) dirilis di tanggal lahirmu yang memang istimewa.

Sigi, ini tulisan keempat setiap tahunnya. Untuk tahun pertama ayah luput. Tentu saja tahun berikutnya, ayah tidak akan pernah lupa menulis untukmu. Sebab ruh dalam setiap tulisan ayah, adalah Sigi.

Oh, ya... Di tahun ini, kenapa ibumu jarang sekali mengunggah foto-foto terbarumu di media sosial? Juga video-video kenakalanmu. Mungkin kini, jempol ibumu sedang lelah, sebab katanya ibumu sedang mengandung adikmu. Wah, Sigi bakal punya adik. Meski dari ayah yang berbeda, curahkan kasih kakak dan sayang seorang saudara kepada adikmu. Sebesar-besarnya.

Sekarang, kau sudah tahu menghitung? Sudah tahu membaca?

Ah, lupakan itu semua. Bermainlah sesuka hatimu. Susupi setiap kolong meja, kursi, lalu menyelinaplah ke dalam lemari. Atau coreti tembok-tembok dengan lipstik ibumu. Buatlah negerimu sendiri. Sebab bala tentara Endonesa tak berhak melarang laku bocah sepertimu. Bahkan ketika kamu dengan tidak sengaja memurali tembok dengan simbol palu-arit. Mereka memang tak berhak melarang sebab sejarah telah retak. 

Kau tahu, Sigi. Jika kau sudah bisa membaca, bacalah buku sejarah tempat lahirmu, sejarah negaramu, juga sejarah dunia. Kau tentu bisa. Bahkan, segala semesta tak sebanding dengan akalmu. Akal mampu menyimpan apa saja. Begitu kata Imam Ali.

Belajarlah tajamkan pendengaranmu. Agar bisikan angin bisa kau dengar. Buka matamu yang indah itu besar-besar, agar kau bisa melihat keragaman mahluk hidup di muka bumi. Sayangi mereka seperti kau menyayangi adikmu. Kata Pramoedya Ananta Toer yang juga berpulang 30 April itu: berterimakasihlah kepada segala yang memberi kehidupan, meski itu hanya seekor kuda.

Iya, Sigi. Kasihi pula binatang, sebab dengan mengasihi semua mahluk, kau akan belajar untuk tidak sombong menjadi manusia. Dewi Lestari pernah berpesan seperti itu pula di Supernova: Partikel.

Sila cerewet dengan mulutmu. Tapi hendaklah kau pikir dulu apa yang ingin kau katakan. Sukar meralat sepatah kata yang telah terucap, tinimbang ratusan kalimat yang masih dalam pikiran. Sekali lagi, ayah pernah membaca pesan Imam Ali itu. Kau tentu akan mengenal Imam Ali. Iya, Ali bin Thalib.

Kau sudah memberi nama boneka-bonekamu?

Jika belum, berilah mereka nama. Meski tak bernyawa, mereka bisa mendengarkan suara hatimu, ketika tak seorang pun yang mampu mendengar. Meski cara boneka-boneka itu mendengar tentu berbeda dengan manusia. Mereka memberi tanda, bahwa mereka bisa mendengarmu, dengan cara mereka diam.

Sigi, sewaktu ayah pulang kali ini, nenekmu bercerita. Kau pernah ke rumah nenek untuk memanen buah di kebun belakang. Baru beberapa pekan yang lalu. Itu memang sudah jadi kebiasaanmu. Setiap musim buah, maka itu menjadi musim kedatanganmu di rumah nenek.

Kau memang jarang sekali ke rumah. Beruntung ada buah-buahan. Kakekmu yang terbaring di kebun belakang yang menanamnya. Mungkin kakek membaca tanda-tanda itu. Cucu-cucu akan berkumpul di rumah jika sedang musim buah-buahan.

Eh, sudah seberapa tinggimu? Kau sudah bisa bercermin di meja rias ibumu? Sesekali, saat bercermin, kagumilah rambut keritingmu sedari kecil. Tak usah hiraukan iklan-iklan sampo di TV nanti, bahwa wanita cantik itu rambutnya lurus. Pikiranmu saja yang diluruskan.

Sigi, jika kau sebuah perumpamaan, maka kau adalah sebuah rumah. Tempat di mana ingin untuk pulang kerap mengulang. Namun sebuah rumah pun bisa kehilangan kunci. Ayah kehilangan kunci itu, lalu dibiarkan tetap asing di luar rumah sembari berharap pintu itu terbuka.

Rumah tak selalu seperti dalam pikiran kita. Rumah bisa berubah menjadi sebuah kecemasan seketika. Seperti yang sedang ayah rasakan sekarang. Ayah masih tetap asing di matamu. Ayah belum menemukan kunci itu. Sigi, bisa membantu ayah menemukannya?

Hingga hari ini, kita berdua belum terlalu akrab. Kau tahu, Sigi. Meski begitu, ayah tetap menulis di blog ini setiap saat. Agar semakin banyak yang bisa kau baca nanti. Anggap saja ayah sedang mendongeng untukmu. Sebab ayah memang sedang membayangkan itu ketika sedang menulis.

Mungkin sampai kau mampu memahami nanti, sudah akan ada ribuan catatan di sini. Semuanya ayah tulis; tentang pekerjaan ayah, ketika kakek sakit, saat kakek berpulang, nenek sedang menyapu, puisi, cerpen, dongeng, bahkan kisah tentang tikus terperangkap dan kucing mati pun ada di sini. Semoga kau tak bosan membaca.

Jika kau tumbuh besar kelak, mungkin zamanmu akan sangat berbeda dari sekarang. Mobil-mobil sudah berterbangan, kalian berkomunikasi secara hologram, robot-robot suruhan seliweran, dan pelbagai kecanggihan lainnya. 

Manusia akan semakin malas untuk beraktivitas. Sama seperti di film animasi Wall-E. Di zamanmu yang serba canggih, kau harus men-download dan menonton film itu. Nonton film lawas itu asyik. Kau bisa dibawa terlempar jauh ke yang purba. Kau bisa mengerti asal dan mengenal itu sesal.

Maka ketika masa-masa itu tiba, tetap rajinlah membaca. Semoga blog ini pun awet seiring waktu. Jika minatmu untuk menulis muncul kelak, maka mulailah menulis. Berimajinasilah sebanyak-banyaknya. Peradaban dimulai dari imajinasi.

Selamat hari ulang tahun, Sigi. Sudah yang kelima? Ups! Kau tumbuh begitu cepat!

Jangan pernah dewasa...
Sistha Ghasyafani (Sigi)