Saturday, October 22, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (9)


Tujuannya hanya agar oplah naik dan berita dikunjungi ribuan pembaca di media online. (Baca sebelumnya: Bagian 8)

Kekurangan informasi kepada masyarakat memang sangat terasa, baik itu di perkotaan ataupun pedesaan. Kasus tentang Perlindungan Anak malah menjadi momok tersendiri di berbagai desa pelosok. Kebanyakan perkara menjerat remaja-remaja tanggung, yang bahkan ketika ditanyai kenapa melakukan itu, sering kali dijawab dengan polos, bahwa mereka saling suka. Hanya itu. Saling suka. Tapi hukum tidak mengenal kata suka sama suka. Apalagi cinta.

Dalam Undang-undang Perlindungan Anak, ada beberapa pasal yang memang mengatur perkara tindak pidana seperti pedofilia, pemerkosaan anak di bawah umur, pelecehan seksual, dan kekerasan terhadap anak-anak. Dan Amir dijerat dengan dalil pemerkosaan. Bahkan keterangan pacarnya semakin memberatkan Amir, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah paksaan.

“Aku heran, kenapa pacarku tega mengatakan itu. Jika itu paksaan orangtua, sungguh tega sekali ada orangtua yang mengajarkan anak mereka untuk berbohong,” kata Amir, sambil mengetuk-ketuk pelan tembok sel dengan punggungnya.

Selanjutnya Amir bercerita mengenai sejumlah uang yang diminta kedua orangtua pacarnya. Orangtua Amir yang hanya petani, tak sanggup memenuhi permintaan itu. 60 juta… Gila! Amir yang hanya pengemudi becak motor setelah sekolahnya kandas di kelas 2 SMA, sampai membayangkan meski kedua betis dan lengannya meledak, dia tetap tidak sanggup menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.

Bercerita dengan Amir, semakin membuat beban di pundak Umar terasa ringan. Dia seperti mendapat perbandingan, bahwa apa yang tengah dihadapinya, ternyata belum seberapa.

“Aku dan teman-temanku akan coba membantumu,” kata Umar, sambil menepuk pundak Amir. Meski Umar tahu, hukuman selama apa yang akan dihadapi Amir nanti. Namun dia hendak menyampaikan maksud, bahwa teman barunya itu sedang tak sendiri.

Sepanjang hari mereka bercerita, sedangkan di sudut ruang sel, Indra masih bergeming. Cahaya matahari dari jendela kecil pun telah berganti temaram lampu.

Lalu seisi sel tiba-tiba diriuhkan oleh tiga tahanan baru. Tiga pemuda itu setelah ditanyai oleh beberapa tahanan lain, ternyata mereka baru saja dirazia akibat pesta minuman keras dan mabuk obat batuk di kamar kos. Tradisi ketika ada penghuni baru pun diberlakukan. Sama seperti yang Umar dan Indra alami saat pertama kali tiba. Memijat tahanan lain. Itu yang paling ringan. Sedangkan yang terberat, merasakan kepal tinju para penghuni tahanan.


***

Di kamar kos, Gladys berbaring di atas ubin yang dilapisi karpet biru. Tampak dia pelan-pelan meremas bibir bawahnya. Pandangannya menempel ke langit-langit kamar. Seakan-akan langit-langit kamar koyak dan dia sedang menuju ruang lain. Gladys sedang memikirkan Sigid. Dan ciuman itu.

"Dys! Menghayal lagi?"

Langit-langit kamar seakan runtuh. Gelembung-gelembung pikiran Gladys meletus satu per satu.

Gladys mengumpati Lina yang telah membuatnya kaget. "Sialan!"

"Ha-ha-ha... Eh, akhir-akhir ini sepertinya wajahmu sumringah terus," goda Lina.

"Sedang jatuh cinta?" susul Lina lagi.

"Diam, ah!"

"Ayo, jatuh cinta sama Mr. Journalist?"

"Oh, my god!" Gladys melempari Lina dengan guling.

"Lin, kau pernah merasa menginginkan sesuatu karena dipengaruhi sesuatu lainnya?"

"Maksudmu?"

"Begini... Aku ingin jadi jurnalis. Dan keinginan itu muncul sejak aku merasa dekat dengan Sigid. Sampai akhirnya aku... Akuu... Suka kepadanya."

"Lalu, masalahnya apa?"

"Sigid pernah bilang. Jika kita menyenangi sesuatu karena sesuatu, maka ketika sesuatu itu hilang, apa yang kita senangi akan ikut hilang juga." Gladys coba mengingat apa yang dikatakan Sigid semampunya.

"Kalian sudah jadian?" Wajah Lina tampak heran namun bahagia.

"Aduh! Jangan dipotong dulu!"

"Oke. Oke. Hmm... Menurut aku benar yang dikatakan Sigid. Tapi bagaimana jika itu dibalik. Kau suka Sigid karena dia jurnalis. Dan ketika dia tidak lagi menjadi jurnalis, kau tidak harus kehilangannya, bukan?"

"Tumben, logikamu licin kali ini. Tapi, bagaimana jika hal yang pertama itu benar-benar terjadi."

"Maksudmu, ketika kau putus dengan Sigid, cita-citamu menjadi jurnalis juga ikut pupus?"

"Iya, Lin."


"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda."

(Bersambung)