Sunday, October 23, 2016

Kualitas Buruk Media Online di Bolmong

picture solopos.com

Tahun kemarin, dunia jurnalistik di Indonesia meriuh dengan polemik senjakala media cetak. Wartawan Kompas, Bre Redana, menuliskan: kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat, di artikel "Inikah Senjakala Kami..." Kompas edisi 28 Desember 2015. Bre juga menyentil media-media online, yang kerap menyajikan berita-berita kurang bermutu.

Di akhir tahun 2015, ada beberapa media cetak yang akhirnya menghembus nafas terakhir. Seperti: The Jakarta Globe, Medio Desember, Sinar Harapan, Harian Bola, lalu disusul Koran Tempo Minggu yang berhenti cetak.

Media-media cetak di Amerika, sudah jauh-jauh tahun berjatuhan. Sejak 2009 sudah 40 koran di Amerika bangkrut di antaranya: Tribune Co, The New York Times, Majalah Newsweek, Majalah Reader's Digest, dan Rocky Mountain News. 2013 lalu, Washington Post, menambah daftar panjang itu. Jurnalisme digital membabat habis media-media cetak di sana. Di negeri Uncle Sam itu, mereka sudah lebih dulu membaca tanda-tanda zaman.

Tidak bisa dipungkiri, pesatnya perkembangan teknologi membuat orang semakin mudah mengakses berita-berita lewat gadget. Namun yang disayangkan, ada saja berita-berita tidak bermutu, hoax, judul eye catching, kejar klik, dan tidak mendidik, yang beredar di media online.

Untuk memagari stigma buruk media online, maka bermunculanlah media-media online yang mengedepankan mutu jurnalistik. Seperti pindai.org, historia.id, tirto.id, dan ada beberapa lagi. Media-media online itu mengandalkan indepth reporting. Bukan kecepatan. Seperti kecepatan yang jadi jualan utama media-media online lain yang mengandalkan breaking news, reporting the news as it happens.

Menukil perkataan Gabriel García Márquez (a.k.a Gabo), “Mereka digerakkan oleh semangat bahwa cerita terbaik adalah yang pertama kali dimuat, bukan oleh cerita yang paling bagus dituturkan.” Media online memang seharusnya tidak boleh kalah dari media cetak, berkenaan dengan cara penyajian beritanya. Ignatius Haryanto, Remotivi.or.id, mengatakan media online di luar negeri, seperti Pro Publica pernah menerima penghargaan Pulitzer, beberapa tahun yang lalu.

Keunggulan jurnalisme digital, selain bisa menampung big data, pun menyuguhkan realitas yang lebih utuh. Misalnya video bisa dalam satu tubuh berita selain foto. Tapi saya tidak ingin bicara terkait senjakala media cetak dan kebangkitan jurnalisme digital, yang sudah sering didebat oleh beberapa wartawan kawakan.

Saya, sebagai jurnalis yang kini kembali menetap di tanah leluhur, Desa Passi, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), sadar diri bahwa kualitas media-media cetak maupun online di sini masih memprihatinkan. Sudahlah media cetak yang ketika mendirikannya harus bermodalkan ratusan juta. Maka dengan sendirinya, perkembangan media cetak khususnya se-raya Bolmong seperti 'jalan siput'. Sedangkan media online, seperti amuba yang dengan cepat membelah diri.

Dari puluhan media online di Bolmong, coba pindai apakah pernah melakukan liputan indepth reporting? Saya pernah membuat status di sosmed ketika tahu bahasa daerah — bahasa Lolak sudah merangkak menuju punah. Tapi tidak ada satupun media di Bolmong yang meliput tentang itu secara mendalam. Baik media cetak ataupun online. Yang bisa disimak di sini, hanya berita-berita rilis dari humas yang terang saja membikin mata lelah dengan judul-judulnya.

Saya pikir, dosa-dosa media online di Bolmong sudah terlalu banyak. Penyajian berita yang mengandalkan kecepatan sering berbuah cibiran. Penjudulan yang salah, isi berita yang membingungkan, dan abai kaidah jurnalistik. Kata Bill Kovach: kualitas jurnalisme menentukan kualitas masyarakatnya.

Pedoman Media Siber yang dipajang di website, hanya seperti pajangan pot-pot bunga plastik. Tidak pernah terlintas untuk saksama membacanya. Selain itu, rekrutmen wartawan baru yang sering mengedepankan asas pertemanan, akhirnya mengabaikan mutu.

Siapa saja bisa menjadi wartawan atau mendirikan media online. Tidak ada yang berhak melarang itu. Tapi ketika semangat itu didorong oleh hal-hal yang tidak baik semisal; tidak patuh UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Media Siber, maka yang dipermalukan ialah wartawan atau media itu sendiri.

Jurnalis adalah profesi yang sangat dihargai di dunia. Tidak sedikit karya-karya liputan para jurnalis, yang akhirnya dibukukan dan difilmkan. Seperti hasil liputan Truman Capote dalam bentuk buku berjudul In Cold Blood, yang akhirnya difilmkan dengan judul Capote. Copote menyumbang satu pengertian baru yang sangat penting dalam bahasa Inggris. Cold blood yang berarti "sangat kejam" didefinisikan setelah tulisan itu. Ada juga film Spotlight yang kemarin berhasil meraih penghargaan Oscar sebagai film terbaik. Kill the Messengger, All the President's Men, A Thousand Time Good Night, The Bang Bang Club, dan masih banyak lagi.

Bagi yang malas membaca dan memiliki hobi menonton, alternatif belajar bisa dengan menyimak film-film di atas. Di situ ada: cara peliputan investigasi, indepth reporting, bagaimana mengakses data, memburu sumber-sumber, memotret, peace journalisme, buruknya jadi reporter imajiner, journalistic truth, skeptical, self cencorship, embedded journalism, dan masih banyak lagi.

Media-media online di Bolmong, jarang sekali ditemukan konten-konten bermanfaat selain berita tentang pejabat. Cobalah liputan-liputan objek pariwisata, kuliner, sejarah, dan hal-hal sederhana lainnya yang melibatkan masyarakat. Untuk liputan investigasi, sila menuduh lalu buktikan. Tentunya investigasi dalam arti kasus yang belum pernah dimuat media lain, lalu disajikan mendalam.

Laporan investigasi, tidak harus beranjak dari hal-hal besar. Bahkan soal temuan tahu isi berformalin juga termasuk investigasi. Tentunya dengan riset mendalam dan disajikan layaknya makanan lezat. Atau gigi palsu yang ternyata dibuat dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Praktik pungli juga bisa menjadi bahan investigasi. Apalagi sedang gencar-gencarnya diserukan oleh Presiden Jokowi.

Di Bolmong banyak pemula yang masih segar dan berpotensi. Sayangnya, ketika mereka terjun ke dunia jurnalistik, mereka terpaksa harus terbawa arus. Kuncinya terus belajar, jika memang lurus bercita-cita menjadi jurnalis. Kami selalu menunggu karya-karya terbaik tercipta dari kalian. Dan di saat itulah, kami akan mengangkat pena dan menghormati kalian.

Selalu ingat pula, "Technology is easy, but journalism is hard."