Wednesday, October 19, 2016

Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil


Ilustrasi satuharapan.com

Sila kalian memindai di Facebook lalu cari nama Olden Wein Kakalang. Apa yang kalian temukan? Hanya bentuk kotak berisi siluet terang serupa foto KTP laki-laki. Itu tandanya si pengguna sedang menonaktifkan (mungkin sementara) akunnya.

Setelah menonaktifkan akun Facebook-nya, yo dega' dodob i Olden na' limbukon inaloan katopol au'?

Siapa yang tak gentar dihajar habis-habisan di pemberitaan oleh sejumlah wartawan di Bolmong; dilaporkan ke Polres Bolmong, terus disusul ke tempatnya bekerja di RSUD Kotamobagu. Sekelas bupati, gubernur, bahkan presiden saja bisa kudisan hanya karena dihajar berita-berita miring.

Perkara yang bertengger di pundak Olden sebenarnya sepele. Saya juga baru setengah serius menyimak sehari yang lalu. Seorang teman lama, Zakir, yang juga seorang wartawan, menautkannya di beranda Facebook saya. Saya coba bertanya, tapi alih-alih mendapat penjelasan darinya, saya malah mendapat petunjuk dari seorang teman wartawan pula, Renza. Darinya saya disuruh menengok akun Facebook milik Rahman Rahim, yang juga seorang wartawan.

Kendati tidak berteman di Facebook, saya bisa menyimak timeline yang dibagikan Rahman. Ada berita video, postingan foto, dan diskusi alit nan alot dari teman-teman wartawan di sana. Dari situ saya mafhum, geger apa yang sedang melanda dunia jurnalistik di Bolmong sekarang ini.

Sebenarnya di kolom chat BBM saya, berita-berita terkait Olden sudah berserakan. Tapi setelah membaca judul, saya selalu memilih untuk tidak mengeklik kemudian segera menekan opsi end chat. Sederhana saja, saya tidak ingin waktu saya tersita oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Seperti koran, kita berhak memilih untuk membeli atau tidak. Begitupun berita yang tersebar di internet, kita yang menentukan untuk menguras paket data atau tidak. Jangan sia-siakan membaca dengan estimasi waktu lima sampai sepuluh menit, untuk hal-hal yang tidak berguna.

Sampai kemarin sore, tiga artikel menyembul riuh di kolom chat BBM. Satu artikel dari blog Kronik Mongondow, lalu menyusul dua artikel masing-masing dari Neno Karlina Paputungan dan Fay Manoppo, yang disebar dari media daring lokal. Soal artikel, sejelek apapun, saya pasti akan membacanya. Setidaknya dia berusaha menulis. Asal jangan berita jelek.

Merunut bacaan, saya memulainya dari tulisan si empu Kronik Mongondow, Katamsi Ginano. Kemudian tulisan dari Neno. Terakhir tulisan dari Fay. Lucunya, dari ketiga tulisan yang dibagikan teman-teman di BBM, saya sudah bisa menduga berdiri di pihak yang mana mereka. Akhirnya, alih-alih mendalami kasus salah satu pasien BPJS di RSUD Kotamobagu yang diduga ditelantarkan pihak rumah sakit. Awak media di Kotamobagu malah diseret ke persoalan sepele.

Di sini, saya tidak ingin mendaras ketiga tulisan itu. Argumen siapa yang paling benar. Saya hanya hendak berbagi. Ini terkait tulisan saya kemarin "7 Ciri Wartawan Kepala Balon", yang beruntung naskahnya berhasil lucu dan lolos di Mojok.co.

Reaksi yang muncul tentu beragam usai tulisan itu disebar. Di Twitter, bahkan ada yang turut berbagi info tambahan. Yang katanya: wartawan yang memberitakan para koruptor tapi amplopan, memang benar adanya. Mereka bahkan suka bergantian mendatangi si koruptor atau keluarganya. Biasa, minta jatah kue.

Sementara di BBM, banyak yang japri (akronim dari jalur pribadi yang artinya chating berdua) terus curhatan. Dari yang merasa menyesal karena jarang memberitakan keluhan warga, sampai sikap jujur yang mengakui dari ketujuh ciri Wartawan Kepala Balon, ia termasuk di dalamnya. Lain lagi di Facebook, reaksi yang berhasil saya pindai hanya lucu-lucuan saja. Entahlah, mungkin ada yang status nyinyir tapi saya luput memindai.

Saya juga mendapat info tambahan dari teman-teman yang japri lewat BBM. Baik dari wartawan dan mereka yang berprofesi lain. Bahkan dari salah satu pegawai yang bilang ada beberapa wartawan yang hampir setiap hari ke kantornya, terus minta duit. Bahkan ia menyebut mereka sebagai wartawan Pak Ogah. Saya kira Pak Ogah hanya sebutan untuk tukang parkir liar yang suka bilang, "Cepek dulu dong."

"Nanti satu kali, kita mofoto ne pa dorang, Kak?" katanya.

"Oh, iyo, foto jo. Supaya kita kanal le."

Sebenarnya, saya turut sedih ketika orang-orang berkomentar demikian. Sebab profesi wartawan adalah profesi saya juga. Tapi mau apalagi, faktanya memang demikian.

Ada juga wartawan yang bilang, "Terus keluarga saya mau dikasih makan apa?" Saya balas, "Aduh, jadi wartawan itu digaji, kan?" Tapi yang miris, kebanyakan wartawan memang tidak digaji layak oleh pihak perusahaan. Mereka berharap dari fee ketika berhasil mendapat advetorial, iklan, atau berita berbayar. Namun jika ada wartawan yang digaji layak terus amplopan, apa bedanya dengan pejabat yang digaji dan dapat tunjangan, terus dia korupsi?

Hey, it's not so easy being a journalist. Menjadi wartawan itu tidak mudah, bro. Tak semudah mengupil. Bahkan menulis berita dan menulis fiksi itu, lebih mudah menulis fiksi. Ketika menulis fiksi, kau tinggal menghayal. Tapi menulis berita, butuh verifikasi berkali-kali. Ejaan nama yang salah saja bisa fatal.

Sebenarnya, persoalan kualitas wartawan juga kerap kali berawal dari rekrutmen. Di Bolmong, perusahaan media cetak maupun online mana yang menerima wartawan dengan syarat menyertakan contoh karya jurnalistik? Karena tahu menulis ialah yang utama untuk menjadi wartawan.

Sampai di sini saya hanya bisa membayangkan, jika sekarang ada orang yang mengatakan: saya ini seorang wartawan yang suka minta-minta duit, dan saya sendiri memang melakukan itu, bo onuon au'?

Mungkin benar: perkataan orang menyiratkan apa yang sedang terjadi. Mereka menilai profesi wartawan itu begitu brengseknya, ya karena perilaku wartawan yang memang brengsek. Dan ketika mereka menilai profesi wartawan begitu mulia, ya karena memang pekerjaan ini dijalankan dengan mulia. Kata Gabriel García Márquez (a.k.a Gabo): menjadi jurnalis itu adalah pekerjaan terbaik di dunia.

Sangat disayangkan jika kita harus berjalan mundur. Padahal sejarah pers di Indonesia berangkat dari perjuangan yang berdarah-darah. Perjuangan melawan penjajah dan Orde Baru. Lantas di penghujungnya hanya berisi limbah. Sejatinya media itu menjadi watchdog (anjing pengawas/penjaga) bukan lapdog (anjing peliharaan).

Jika berani mendaku sebagai jurnalis, maka bersikaplah selayaknya seorang jurnalis. Ada teman seprofesimu yang tengah dianiaya terkait kerja jurnalistik, maka rasakan dukanya. Tunjukkan solidaritasmu. Bukan hal-hal sepele yang dibesar-besarkan, sementara hal-hal besar disepelekan.

Tabe' takin salamat...

motayak kon bulawan
modapot kon Namlea
mobali' wartawan
dika mocengeng ulea