Sunday, April 9, 2017

Ibu-Ibu Bercaping

Foto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Aku menemui ibu-ibu bercaping yang sedang menyimpan mata, mulut, dan kuping mereka di lumbung. Kata seorang ibu dengan bahasa isyarat; tak perlu lagi tatap benci, teriak caci, dan dengar basa-basi. Cukup mengecor pintu surga. Biar merah neraka tak jilati hijau hutan dan sawah mereka.

Aku melukis wajah ibuku di wajah-wajah kosong mereka. Puluhan ibu dengan wajah serupa, mengitari tungku dan periuk. Bara mereka cipta dari lembar demi lembar uang kertas. Untuk apa uang, jika mereka tinggal di surga?

Aku pernah mengeja cerita tentang berpeluh-peluh almanak yang telah mereka lewati. Di antara sengat hujan, cambukan matahari, dan arus angin yang terus memilin, tak pernah sedikit pun mereka bergetar takut. Sebab melawan tindas adalah iman termegah yang mereka yakini.

Aku merekam ingatan tentang pria-pria berlengan logam, yang menghempaskan caping dari kepala seorang ibu. Pria- pria tegap yang tak pernah sadar, tubuh mereka tersusun dari tetes demi tetes air susu ibu.

Aku menyusuri anak-anak sungai yang mengurat di bawah pegunungan kapur. Warna airnya tak sejernih air di kolam renang rumah-rumah mewah. Tapi di sana lelah dibasuh oleh lumpur. Bukan serakah yang tak mungkin terbasuh, sekalipun oleh air Gangga.

Aku menangis ketika maut merebut satu di antara mereka. Tapi percuma air mata. Tak mampu menenggelamkan istana. Tak perlu pula melejang ke dalam. Tembok penghalang dari adukan semen dan koin itu terlalu kukuh. Kecuali tumpahkan bara sekam dari langit.

Aku juga menemukan sepotong puisi yang terselip di antara dinding bambu sebuah gubuk. Di sana tertulis: kejahatan tak selamanya bertahta. Tapi mungkinkah kebaikan selalu menjadi pemenang?