Monday, November 2, 2015

Emarau dan Ujan

Di sebuah desa bernama Goron, hiduplah keluarga kecilnya Emarau. Di desa itu, matahari sesuka hati bersinar sepanjang tahun. Emarau dan keluarganya kerap dibuat kesulitan air, hal serupa yang dirasakan masyarakat di desa itu. Sawah yang coba digarap ayahnya saat sesekali hujan mengguyur, kini telah kering kerontang dan sekarat. Terkadang panen berhasil, namun gagal yang sering dialami.
Pada suatu siang hari yang terik, tanpa sengaja Emarau melihat dan mendengar ayah dan ibunya sibuk bercakap-cakap di teras rumah. Keduanya mengeluhkan hujan yang tak kunjung datang. Sebenarnya keluhan yang sama, yang acapkali terdengar di seantero desa. Tapi kalimat-kalimat yang diutarakan ibunya kali ini, membikin Emarau gelisah.
"Sebaiknya kita antar Emarau ke Desa Talo. Anak itu semakin hari kulitnya terus menghitam. Aku cemas anak itu akan dijauhi jodoh," Sang ibu mengeluh.
Memang, Emarau pun sadar, sebab beberapa teman-temannya, telah lebih dulu diungsikan ke Desa Talo. Kulit halus nan bening menjadi alasan mengirim anak-anak gadis mereka ke sana. Panas terik matahari di desa ini memang sudah terlalu.
Tapi rencana itu membuat Emarau gelisah. Karena dia tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya. Apalagi tinggal dengan bibinya, yang selama ini hanya dia kenal dari penuturan ibunya. Emarau cemas, sampai tak bisa tidur semalaman. Hingga keesokkan harinya, ibunya menyampaikan maksud itu padanya. Bahwa selang tiga hari, dia akan dititipkan ke rumah bibinya di Desa Talo.
"Emarau, ibu dan ayah sudah sepakat, kamu akan dititipkan pada bibimu,"
"Untuk apa?" tanya Emarau seperti dia sebelumnya tak pernah mendengar percakapan ayah dan ibunya.
"Usia kamu sudah 19 tahun."
"Lalu apa hubungannya dengan kepindahan Emarau, Bu?"
"Sudah waktunya kamu dilirik lelaki. Yang nantinya akan menjadi ayah bagi anak-anakmu kelak."
"Apa hubungannya dengan lelaki?"
"Emarau, jika terus di sini, kamu tidak bakalan dilirik lelaki. Lihat saja kondisimu, kulit menghitam, sampai rambut memerah."
"Kan, ibu juga begitu dulu. Tapi ayah tetap menikahi ibu." Ibunya terdiam. Tradisi untuk menikahkan anak di usia 20 tahun ke atas, memang sudah lama menjadi adat istiadat.
Di wilayah ini dan sekitarnya, anak-anak bersekolah hanya setingkat sekolah dasar. Mereka yang ingin melanjutkan sekolah, memilih keluar dari Desa Goron, lalu hijrah ke wilayah-wilayah lain, dimana bangunan-bangunan sekolah lanjutan didirikan. Jaraknya memang lumayan jauh. Butuh berjalan kaki sejauh 100 kilo meter. Sedangkan mereka yang tumbuh dewasa di desa, di usia 20 tahun, diharuskan menikah. Hidup menyendiri dan membangun rumah tangga.
Tak berselang lama, ibunya melanjutkan bujuk rayu itu. Ibunya menjelaskan bahwa semua itu demi masa depannya kelak. Ibunya juga mengisahkan pertemuan dengan ayahnya, yang kala itu telah terjalin sejak masa kanak-kanak. Cinta mereka bersemi dari persahabatan. Namun Emarau tetap memilih tinggal. Dia tak tega meninggalkan kedua orang tuanya.
"Tidak!" tegas Emarau. Ibunya menyerah.
Di desa mereka memang banyak anak lelaki, yang sibuk bekerja di kebun, meski harus berjuang mati-matian, sebab musim tak pernah adil dengan desa itu. Pohon-pohon kemiri menjadi satu-satunya tempat bergantung harapan. Meski tanaman itu tidak terlalu mencukupkan. Apalagi sekilo biji kemiri hanya dihargai lima ribuan oleh tengkulak. Nasib para petani bergantung pada komoditi itu saja. Uang hasil penjualan biji kemiri, dipakai untuk keperluan makan dan lauk-pauk sehari-hari. Dan untuk berladang atau menanam tanaman lain, cukup sulit karena kemarau yang berkepanjangan. Untuk setahun saja, desa itu hanya diguyur hujan dengan hitungan jari. Banyak yang mencoba menggarap sawah, jika sesekali hujan turun. Ada yang berhasil memanen, namun dengan hasil yang sedikit. Sebab terkadang hujan bisa berbulan-bulan tak turun. Beruntung untuk sumber mata air, satu sumur tua di sebuah kaki bukit, masih tetap mengucurkan air meski tak sederas kala hujan. Sumur itu menjadi satu-satunya sumber kehidupan masyarakat Desa Goron. Untuk mencuci pakaian, mandi, dan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Di Desa Goron, Emarau hanyalah satu dari beberapa gadis yang memilih tetap bertahan di desa. Rambut para gadis di desa ini memerah terpanggang terik matahari. Kulit mereka pun menjadi hitam legam, sebab tak mungkin hanya berkurung diri di rumah seharian. Mereka juga harus membantu orang tua memanen buah kemiri dan menjemurnya. Terkadang, sinar matahari memang sangat dibutuhkan.
Di desa inipulah, lelaki-lelaki yang ingin menikah, terpaksa mencari jodoh ke luar desa. Bagi mereka yang mengharapkan gadis-gadis cantik berkulit putih bersih. Ada beberapa yang tetap memilih menikahi gadis-gadis di desa. Sebab memang telah lebih dulu akrab dari masa kanak-kanak. Cinta seperti itu memang lebih lekat dan kekal. Seperti cinta kedua orang tua Emarau.
Sampai di suatu pagi, Emarau memutuskan ikut dengan ibunya, mengunjungi bibi mereka di Desa Talo. Emarau sebenarnya enggan, sebab bisa jadi itu hanya jebakan ibunya. Sampai akhirnya dia diyakinkan, bahwa hanya sebatas mengobati kerinduan ibu kepada adik satu-satunya. Ibunya berjanji mereka hanya sehari di rumah bibinya, lalu esoknya segera pulang.
Tatkala gerobak yang mereka naiki memasuki Desa Talo, yang berjarak 20 kilo meter dari desa mereka, mata Emarau terbelalak. Sawah terhampar menghijau dibentengi bukit-bukit biru. Anak-anak sungai mengalir bening dan tampak beberapa bocah berloncatan, memercikkan air, riang, dan basah.
Gadis-gadis berkulit putih bersih, berambut lurus dan hitam, sesekali lewat sembari memanggul keranjang berisi buah rambutan, mangga, dan pisang. Di Desa Talo memang sedang musim buah-buahan. Emarau terngagah sampai ibunya tersenyum lalu menimpuk pundaknya.
"Kamu benar tak ingin tinggal di sini?"
Kusir gerobak melirik Emarau, lalu ikut tersenyum. Kemudian kusir itu melecut bokong lembu yang menarik gerobak. Langit telah mendung.
"Ibu, Emarau tak ingin hidup senang di sini, sementara ayah dan ibu sekarat."
"Kami sudah terbiasa. Maksud ayah dan ibu hanya ingin agar kamu hidup bahagia," jelas ibunya sambil mengelus pundaknya.
Tepat pukul 10 siang, hujan mulai turun. Emarau memandangi langit, yang berisi himpunan awan hitam berarak-arak pelan. Disusul bulir-bulir hujan jatuh, sesaat setelah mereka tiba di rumah bibinya. Telapak tangan Emarau menyambut hujan. Semakin deras.
"Mari masuk. Waduh, hujan di sini selalu datang tiba-tiba. Padahal Bibi baru saja menjemur pakaian," kata perempuan paruh baya itu, menyambut kedatangan kakaknya.
Emarau bermonolog dalam hati. Hujan yang acapkali dirindukan di desanya, malah dikeluhkan di desa ini. Desa yang sepanjang tahun, panas mataharinya hanya bisa terhitung dengan jari. Beruntungnya, pagi atau sore hari hujan reda dengan sendirinya. Lalu matahari bersinar lagi. Sehingga tanaman-tanaman di Desa Talo tetap terjaga dari pembusukan buah, karena hujan yang berlebih. Namun, itu tadi, jemuran dan segala yang ketergantungan akan sinar matahari, menjadikan hujan adalah bencana. Tapi sesekali, hujan di desa ini bisa berhari-hari.
"Jika hujan reda, Emarau bisa keliling desa sendiri, Bu, Bi?"
"Bisa, tapi alangkah lebih baik jika ditemani putri bibi, Jirani," jawab bibinya.
"Emarau ingin sendiri saja," pintanya. Yang akhirnya membuat ibu dan bibinya mengalah. Apalagi, Jirani juga belum kembali, sampai hujan reda beberapa jam kemudian.
Berbekal payung yang diberikan bibinya, untuk berjaga-jaga jika hujan turun lagi, Emarau mengelilingi Desa Talo. Pohon-pohon rindang yang mengkilat basah, dan gemericik suara selokan, menghibur langkah-langkahnya. Dalam hati, dia membayangkan, andai saja desanya bisa seperti ini. Kenapa Tuhan disebut Maha Adil, jika desanya terus-terusan kemarau. Sedangkan desa ini selalu bermandikan air hujan. Tanya Emarau dalam hati.
"Toolllooooonnggg!!! Tooolllooooonnngg!!!"
Emarau dikagetkan suara seorang ibu, yang tiba-tiba menyembul dari semak-semak dan rimbun hutan bambu. Baju ibu itu penuh lumpur dan sekujur tubuhnya basah. Keringat, air mata, dan hujan menyatu. Di rautnya bergelayut kesedihan yang begitu dalam. Beberapa warga berkerumun lalu bertanya-tanya. Ibu itu hanya terus menangis, dan terbata-bata berkata-kata. Dengan sisa kekuatan, akhirnya ibu itu berkata, putranya hanyut di sungai. Kerumunan warga tadi merangsek ke dalam hutan bambu. Emarau seperti disihir, juga ikut berlari mengekori para warga. Hanya beberapa puluh meter, sungai selebar 10 meter, yang deras airnya berwarna cokelat, menandaskan tapak kakinya. Di sana beberapa orang lelaki, dengan seutas temali dan potongan bambu terus berteriak. Nama anak itu dipanggil-panggil. Tak ada sahutan, hanya deras air semakin menderu. Ibu anak itu pingsan setelah menyumpahi hujan. Bencana itu merengut nyawa anak satu-satunya.
Ibu, bibi, dan Jirani datang menyusul Emarau. Setelah berita hanyutnya bocah itu menghebohkah warga. Tiga jam pencarian berlangsung. Akhirnya mayat bocah itu ditemukan di tepi sungai, tersangkut pada akar pohon.
Emarau memeluk ibunya dengan tangis. "Emarau sedih melihat ibu anak yang hanyut itu. Ibu itu terus memaki hujan. Emarau tak ingin meninggalkan ibu, Emarau ingin pulang!"
Kejadian itu membikin Emarau syok. Ditambah sayup-sayup dari kamar bibinya, dia mendengar percakapan bibi dan ibunya. Bahwa kejadian itu sudah berulang kali. Meski alam di desa ini begitu asri, namun ibu-ibu di desa ini acapkali kehilangan anak-anak mereka, jika hujan datang tiba-tiba. Bukan hanya anak lelaki, tapi anak perempuan pun kerap menjadi korban. Meski telah dilarang bermain di sungai, bocah-bocah yang menjadi korban itu lolos dari kontrol orang tua mereka. Apalagi hujan suka datang tanpa diundang. Sungai yang meluap, longsor, dan banjir menghantui Desa Talo.
Ibunya mengetuk pintu kamar. Emarau bangkit lalu membuka pintu.
"Kamu sudah baikan?"
"Emarau ingin pulang."
Esok paginya, ayam berkokok dan pipit mencicit. Suara sapu lidi yang menggaruki tanah terdengar. Emarau bangkit lalu mengintip dari balik jendela, dan mendapati bibinya tengah sibuk menyapu pekarangan. Masih ada sisa-sisa becek di tanah. Sesaat, terdengar suara ibunya memanggil. Setelah menyahut, Emarau keluar menemui ibunya yang telah berkemas. Tinggal menunggu jemputan gerobak yang akan mengantar mereka pulang.
"Ayo mandi. Kita pulang sekarang." suruh ibunya dengan nada pelan.
Di pekarangan, tampak bibinya sibuk bercakap-cakap dengan beberapa orang ibu dengan wajah serius. Tak berselang lama bibinya masuk ke rumah.
"Waduh, jembatan di ujung desa putus!"
Tak ada jalur lain untuk pulang ke Desa Goron. Hanya itu satu-satunya jembatan penghubung. Kabar itu membikin Emarau lebih cemas. Tidak mau tidak, kepulangan mereka tertunda. Meski pagi itu matahari bersinar terang, namun hati Emarau mendung. Dia masih trauma dengan kejadian kemarin. Ibu bocah malang itu menggaruk-garuki tanah berlumpur. Dengan sisa-sisa tenaga, ibu itu memuntahkan sumpah serapah pada hujan.
"Emarau ingin jalan-jalan dulu sebentar."
"Ditemani ya?" kata Jirani.
"Terima kasih. Emarau sudah lebih tenang sekarang." Meski dalam hati, gemuruh sumpah serapah itu masih menggetarkan lubuk hatinya.
"Kamu yakin, Emarau?" Ibunya ragu.
"Iya, tidak apa-apa Bu."
Setelah kembali meyakinkan ibu dan bibinya, dia melangkah keluar. Tak ada lagi payung di genggamannya. Sebab payung yang kemarin, entah tercecer di mana. Kejadian kemarin membuat dia lupa akan segalanya, bahkan dirinya sendiri.
Setelah lelah berjalan, di bawah pohon mangga yang rindang, Emarau duduk memandangi hijau persawahan yang membentang. Dia lalu merenung, dan kembali bertanya-tanya dalam hati, bahwa Tuhan Yang Maha Adil, menjawab pertanyaannya kemarin. Tapi kenapa jawaban itu berupa tragedi. Desanya disinari matahari yang berlebih, malah menjadi impian desa ini. Doa-doa dari orang-orang yang mendambakan hujan, dan mereka yang berharap agar matahari bisa bersinar terang, sebelum mencapai langit, pasti doa-doa itu berseteru di atas sana. Keinginan yang saling bertolak belakang.
"Hai!" Suara seorang lelaki tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Setelah mendongak ke arah datangnya suara, Emarau yang berlesung pipit, memaksa tersenyum lalu membalas sapaan lelaki itu. Masih seumurannya, tapi sungguh apa yang tampak di depannya, sosok lelaki yang jauh dari ciri-ciri para lelaki di desanya. Mata lelaki ini hitam dan begitu teduh, dengan rambut ikal kecokelatan yang sesekali bergelombang dibelai angin. Kulit lengannya putih, saat terjulur menyalami.
"Ujan."
"E, eee, Emarau."
"Apa? Kemarau?"
"Namamu juga aneh. Hujan!"
Kemudian Ujan membuat rumput-rumput merunduk didudukinya. Emarau yang gugup, karena baru kali ini dia duduk bersanding dan berpasangan dengan teman lelaki sebaya, lalu memetik batang rumput dan memainkannya di jemari. Ujan hanya terus menatapi wajah hitam manis Emarau. Rambut merah yang melambai-lambai menambah kesan eksotik. Hidung mancung, lesung pipit, dan bibir tipis Emarau yang sesekali tergaris senyum itu, terus dipandangi Ujan. Bola mata Emarau yang kecokelatan dipayungi alis hitam, terus berlari-lari ke segala arah.
"Kamu dari Desa Goron ya?" Ujan mencoba mencairkan suasana beku itu.
"Karena kulitku yang hitam?"
"Ah, kamu manis menurutku. Kecantikan itu tak harus identik dengan rambut hitam lurus, halus, dan berkulit putih. Beda orang, beda penilaian, juga beda selera,"
"Kalau begitu, aku juga salah jika menilai lelaki tampan itu seperti kamu."
"Memangnya aku tampan menurutmu?"
Emarau makin mengecil. Saat ini, dia hanya ingin sembunyi di balik semak belukar. Dia keceplosan. Selain itu, pikirannya berkelana ke desanya, membayangkan para lelaki di sana, yang berkulit hitam, berambut merah, dan sangat jauh dari sosok yang sekarang tengah duduk bersanding dengannya. Ah, cinta pada pandangan pertama, pada percakapan ini, dan pada sosok ini seketika hadir. Emarau tak bisa mengelak. Untuk saat ini, dia telah di tahap suka pada lelaki ini.
"Kamu melamun terus," ucap Ujan dibarengi sundulan jemari telunjuk di lengan hitam Emarau.
"Kamu tadi bilang aku cantik, lalu gadis-gadis di desa ini, yang jauh lebih cantik dariku?" Emarau coba memastikan. Dia sebenarnya hanya ingin sekali lagi mendengar pernyataan lelaki itu tentangnya.
"Kan, tadi aku bilang, soal penilaian."
"Bukan selera?"
Setelah terlibat percakapan yang akhirnya mengundang tawa dan menambah keakraban, keduanya berpisah. Hujan datang tiba-tiba. Hujan memang bencana, yang meredam keriuhan dan perasaan gembira yang berloncatan di hati Emarau.
Setibanya di rumah, wajahnya yang penuh senyum, mengundang tanya pada ibunya. Tanpa malu-malu, dia menuturkan pertemuannya dengan Ujan. Dan secara tiba-tiba, dia menyampaikan keinginannya untuk tinggal bersama bibinya. Seminggu setelah jembatan putus berhasil diperbaiki, ibunya pulang ke Desa Goron. Sedangkan Emarau bertahan di Desa Talo, dengan benih-benih cintanya yang mulai tumbuh perlahan.
Emarau dan Ujan acapkali bertemu di pohon mangga yang rindang itu. Ujan lalu mengajaknya ke sungai, ke pematang sawah, ke puncak bukit, sampai mandi bersama di lebatnya hujan. Sebulan, dua bulan, dan waktu itu tiba. Ujan melamar Emarau. Mereka menikah. Tapi, pilihan mereka yang membuat orang tua kedua belah pihak terheran-heran.
"Kami ingin tinggal dan membangun rumah, yang lokasinya tidak di Desa Goron dan Desa Talo. Lokasinya di perbatasan," tutur Ujan, pada orang tuanya dan orang tua Emarau. Juga pada pemimpin desa, lembaga adat, dan masyarakat yang hadir saat pesta pernikahan digelar.
"Lalu, tepatnya kalian akan tinggal di mana?" ayah Ujan penasaran.
"Kami menamai tempat itu Gorontalo. Gabungan dari dua nama desa asalku dan Emarau. Letaknya tepat di perbatasan perkebunan."
"Kenapa kalian ingin hidup di sana?" tanya pemimpin desa.
"Kami ingin merasakan dua musim, yang selama ini kerap menjadi bencana, atau malah anugerah yang didambakan masing-masing desa." Emarau angkat bicara.
Setelah disetujui, usai pernikahan berlangsung, mereka pun pergi membangun rumah mungil nan sederhana di salah satu wilayah perbatasan, antara lahan perkebunan kedua desa. Berbulan-bulan kemudian, akhirnya sejoli ini dikaruniai seorang putra. Hidup mereka sangat bahagia. Meskipun tak selalu luput dari cobaan-cobaan yang menerpa rumah tangga mereka.
Tahun demi tahun berlalu. Berikutnya, beberapa lelaki Desa Goron menikahi gadis-gadis Desa Talo. Begitupun lelaki-lelaki Desa Talo, menikahi gadis-gadis Desa Goron. Tak banyak memang, yang mengikuti jejak dan kisah cinta Emarau dan Ujan. Tapi satu per satu, tahun demi tahun, pasangan-pasangan itu pun memilih membangun rumah, yang berdampingan dengan rumah Emarau dan Ujan. Hingga akhirnya deretan rumah terus bertambah. Dan Gorontalo pun ditetapkan menjadi sebuah desa. Di sana, pasangan-pasangan itu terus beranak-pinak sampai Gorontalo menjadi satu wilayah di mana keadilan Tuhan itu begitu nyata hadir. Kemarau dan hujan, menjadi dua gejala alam yang memiliki porsi sebanding di wilayah itu. Masyarakatnya hidup damai dan bahagia. Subur dan sentosa.
Tapi, Tuhan tampaknya tak berlama-lama dengan kata 'adil' itu. Wilayah Gorontalo bisa sekali-kali menjadi sosok Emarau begitu lama. Dan sekali-kali berwujud Ujan hingga berbulan-bulan. Sebab semakin bertambahnya penduduk, doa-doa pun beragam. Ada yang meminta hujan, bersamaan pula dengan pinta akan terik matahari. Namun Tuhan tak pernah memberi cobaan melampaui kemampuan umatnya. Bukan?
***
Di atas sebuah bukit, di gundukan tanah basah bernisan, seorang perempuan renta bersimpuh. Kedua tangannya meremas segumpal tanah. Pipinya masih diderasi air mata. Pusara itu tidak baru tapi masih penuh haru.
"Emarau, sudahlah, ikhlaskan kepergian anak kita. Itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu."
"Kenapa harus dia. Bencana itu. Dan kenapa Tuhan tak pernah mengirim penggantinya?" Perempuan itu semakin mengepal erat gumpalan tanah. Suaranya berat. Dan entah dia harus menyumpahi apa dan siapa.