Tuesday, November 10, 2015

Pak Tani itu Bernama Robi

"Aku pikir manusia yang terbagus dan paling bernilai dewasa ini, adalah seorang petani yang sehat, kasar, cerdik, bengal, awet, itulah jenis paling bangsawan kini." sabda Nietzsche, di buku Sabda Zarathustra.

Menjadi petani itu memang keren; petani yang sehat akal budinya, tentu kasar dan pekerja keras, cerdik memilih bibit-bibit tak berlabel yang dijual sepaket dengan pupuk dan pestisida, bengal dan berani jika diperlakukan tak adil, dan tetap awet dan segar dengan inovasi. Jenis petani seperti ini yang diperlukan bangsa Indonesia. Dan merekalah yang layak disebut BANGSAWAN.

Namun, petani-petani seperti itu malah dimusuhi bangsa ini. Kita bisa lihat petani-petani sekarang yang lahannya dicaplok penguasa dan pengusaha. Bahkan yang paling tragis, pembunuhan kerap terjadi. Centeng-centeng peliharaan penguasa dan pengusaha menjadi mimpi buruk. Tentara dan polisi bukan lagi mengayomi malah memerangi. Tapi seperti kata Wiji Tukul. Lawan!

Di Indonesia sendiri, perlawanan dari segi musik mulai bermunculan. Apalagi sebelum dan sesudah rezim Orde Baru tumbang. Salah satu band grunge yang dibentuk 1996 dan tetap eksis pasca Orba dan getol memperjuangkan hak-hak kemanusiaan adalah Navicula. Lirik-lirik lagu mereka membait kritik-kritik sosial dan isu ekologi.

Vokalisnya, Robi Navicula, berkesempatan bertemu pada kegiatan yang digagas Forum Komunitas Hijau (FKH) Gorontalo, berbagi cerita cukup banyak. Dan ia adalah seorang petani.

Selama tiga hari Robi yang ditemani fotografernya, Gusti, main ke Gorontalo. Seabrek kegiatan mengisi waktu selama tiga hari. Dari membikin mural di Taman Kota Gorontalo, mengunjungi Danau Limboto yang kondisinya sangat memprihatinkan, pun berlumpur-lumpuran saat menyemai benih padi di persawahan.

"Menjadi petani itu keren. Seperti kawan-kawan saya petani-petani di luar negeri, mereka sering datang ke Bali. Ya, karena pemerintah sangat memperhatikan nasib mereka di negara asalnya," jelas Robi yang juga mengaku petani kopi.


Balada Pak Tani, menjadi salah satu lagu yang membuat penonton merenung, tatkala Robi membawakannya pada malam puncak kegiatan FKH. Lirik-liriknya kritis dibawakan akustik, diringi gitar A Fat Lady-nya. Ia memang dikenal aktif berkecimpung di LSM lingkungan di Bali. Selain itu ia pun mengajar Pertanian di Bali International School. "Saya pernah usulkan agar bisa kerjasama dengan sekolah-sekolah di Bali. Tapi kepala sekolah mereka menolak. Eh, malah yang mau belajar itu anak-anak bule," kata pemilik nama lengkap, Gede Robi Supriyanto ini.

Saat berdiskusi santai di Kedai Kopi Maksoed, Sekretariat AJI dan kantor DeGorontalo.co, ia bertutur banyak. "Setiap apa yang diberi oleh alam, maka kita harus mengembalikannya ke alam. Mengambil secukupnya, juga harus ikut melestarikannya," sampai Robi.

Di setiap lagu-lagu Navicula yang hampir semuanya ditulis Robi, berisi kritikan pada penguasa juga pengusaha dan keprihatinannya pada petani, orang miskin, pembunuhan aktivis, pepohonan, binatang, sampai masalah-masalah sampah. Keprihatinan mereka akan ketidak-adilan pada manusia dan alam, kerap menjadi inspirasi lagu mereka. Tak ayal, band Navicula diundang pentas di festival seni bergengsi di Sydney Festival 2013. Mereka pun menang kompetisi International Rode Rockers di Amerika Serikat. Menyingkirkan 500 band dari 43 negara.

Terima kasih Pak Tani, Bli Rob. Telah berkunjung ke Gorontalo dan berbagi dengan kami. Salut untuk lagu-lagu kalian. Tetap sehat, kasar, cerdik, bengal, dan awet. Cheeerrsss!!! Yuuuurrrwoookk!!! \m/

*Balada Pak Tani*

Lirik & Musik: Gede Robi Supriyanto

Katanya tanah negeri kita kaya raya/ kaya hasil bumi hadiah Ibu
Pertiwi/ katanya negeri kita negeri agraris/ tapi ada wabah kelaparan
oh, ironis/ anakmu nangis

Petani duka rindukan tanah moyangnya/ yang dulu pernah ditukar dosa/
lahan yang hijau, bermandi sinar mentari/ yang kini mulai hiasi mimpi/
mimpi tiap malam/ anak negeri

Petani kita kini sudah jadi junkie/ tergantung bibit hibrida dan pupuk
kimia/ harga produksi gila, panen laba nggak ada/ kebijakan pangan ada
di tangan mafia/ kebutuhan hidup tak bisa lagi ditunda

Lahan desa terjual, orang kota membelinya/ uang ternyata tak bisa
bertahan lama/ petak sawah terakhir, menunggu gilirannya/ ahh! terjual
juga

Petani duka rindukan tanah moyangnya/ yang dulu pernah ditukar dosa/
lahan yang hijau, bermandi sinar mentari/ yang kini mulai hiasi mimpi/
mimpi tiap malam/ anak negeri

Hingga rumput pun sirna/ sapi makan temannya/ dan sapi-sapi pun jadi gila