Friday, November 13, 2015

Puncak Ka Ita Saleh

Ilustrasi okezone.com

LELAKI paruh baya berkulit legam itu duduk selonjoran di tanah. Ia bersandar pada batu yang dikelilingi rimbun dan julang pepohonan jati. Matanya cekung menatap kosong ke langit yang biru dan diam. Sudah tiga bulan desanya dipanggang kemarau.

Tak ada botol air yang ia bawa. Dahaga sudah menyiksa tenggorokannya sedari tadi. Untuk menghalau rasa haus, lelaki itu sibuk membersihkan goloknya dari sisa-sisa tebasan ilalang. Kaus putih warisan pesta demokrasi yang ia kenakan lusuh dan basah oleh keringat. Celana hitam selututnya pun mulai memudar dan penuh sobekan kecil di sana-sini. Ia telanjang kaki.

Sudah menjadi tugasnya menjaga lahan seluas dua hektar itu. Lahan yang dijejali pepohonan jati yang berada di areal perbukitan. Pemandangan dari puncak bukit sangat indah. Ada sekitar belasan bukit lain masih dipenuhi padang ilalang. Jika bukan musim kemarau, hijau padang ilalang bak permadani yang bergelombang tertiup angin. Seperti pinggul-pinggul bidadari.

Sadar hari sudah sore, lelaki itu bangkit. Ia seharusnya bisa disebut Pak Tani meski lahannya tak ada. Ia hanya disewa per bulan untuk menjaga dan mengurusi pepohonan jati. Membersihkan rerumputan di sekitar pohon dan harus selalu awas akan bahaya kebakaran.

Pemilik lahan itu adalah seorang Pak Bos, pimpinan di salah satu surat kabar harian nomor satu di provinsi itu. Pak Bos itu sangat kaya. Saking kayanya, ia sudah tiga kali berhaji dan umroh tak terhitung lagi. Ke negeri para nabi sudah seperti piknik.

Baru saja mau beranjak, dari kejauhan tampak sepeda motor menuju ke arahnya. Ada seorang lelaki muda yang mengendarainya, dengan tas di punggung dan kamera terkalung di lehernya. Lelaki itu kemudian berhenti, lalu bersegera turun dari atas motor. Pandangannya masih menyapu seluruh pepohonan, kemudian ia mendekat.

“Assalamualaikum... Bapak, penjaga di sini?”

Sapa dan tanya lelaki muda yang menenteng ransel dan kamera itu cukup sopan untuk tak digubris. Golok yang telah tersarung diikatkannya ke pinggang. Kemudian ia mendekati lelaki muda itu.

“Iya, kenapa, ya?” katanya usai menjawab salam.

“Oh, kenalan dulu, Pak. Saya Jassin, kebetulan lagi jalan-jalan.”

Uluran tangan disambutnya. “Saleh,” ucapnya sembari tersenyum.

“Enaknya saya panggil siapa, Pak?”

“Orang-orang sering panggil saya Ka Ita* Saleh, karena ini,” katanya seraya terkekeh, menuding kulit badannya sendiri yang hitam legam. Ka Ita Saleh meringis. Memamerkan giginya yang juga menghitam karena nikotin tembakau.

Jassin balas tersenyum sambil mengeluarkan sebungkus rokok. Menawarkannnya kepada Ka Ita Saleh. Lalu sekali lagi pandangannya menyapu sekeliling. Perbincangan pun mengalir begitu saja. Jassin bertanya seputar kepemilikan lahan dan rencana pembangunan jalan aspal, yang membelah bukit hingga ke sebuah vila di puncak. Ka Ita Saleh menjelaskan tanpa bertanya balik soal identitas Jassin. Mungkin ia terlalu serius menjawab. Seperti telah menemukan teman berbagi.

Menurut Ka Ita Saleh, ada sekitar 200 hektar lahan milik Pak Bos. Hampir seluruhnya ditanami kelapa. Sedangkan yang ia jaga dan urusi adalah lahan yang ditanami pepohonan jati saja.

Meski seluas dua hektar, tapi pekerja di lahan itu hanya ia dan seorang tetangganya lagi. Sebulan ia digaji Rp800 ribu. Ka Ita Saleh mengeluh, sebab pekerjaannya tak sebanding dengan upah yang diberi majikannya. Temannya pun suka mengeluhkan hal yang sama.

Pernah mereka berdua sepakat untuk pindah dan bekerja saja di perkebunan yang bersebelahan dengan lahan Pak Bos. Di lahan kebun itu berdiri sebuah vila dan sekelilingnya pun ditanami pohon jati. Upah per bulan setiap pekerja di atas sejuta. Tapi karena jumlah pekerja sudah cukup, permintaan mereka ditolak.

“Kami pernah mengadu ke Pak Bos untuk dinaikkan upah. Tapi tidak digubris. Ya, mau ke mana lagi. Terpaksa tetap bekerja di sini,” keluhnya, sembari kembali duduk selonjoran.

Jassin mengambil sebongkah batu sebesar buah kelapa. Lalu mendudukinya. Ia kembali bertanya tentang pembangunan jalan, yang membuka akses menuju vila di puncak.

Ka Ita Saleh kembali bercerita. Ternyata, pemilik vila itu adalah pejabat penting di provinsi itu. Sebuah papan proyek pun terpancang tak jauh dari tempat mereka berbincang. Jassin sempat berhenti di papan proyek itu tadi lalu memotretnya.

Kembali diceritakan Ka Ita Saleh, bahwa majikannya juga berencana akan membangun sebuah vila. Tapi masih menunggu waktu yang tepat. Sedangkan vila milik pejabat penting itu sudah berdiri megah. Di samping vila dibangun pula musala mungil.

Menurut Ka Ita, pekerja di sana hidupnya berkecukupan. Hampir sebagian pekerja adalah tetangga dan orang-orang di desanya. Tingkat kesejahteraan pekerja di kedua lahan perkebunan itu cukup jauh berbeda. Bukan hanya ia dan temannya yang merasakan kecilnya upah. Tapi para pekerja di lahan perkebunan kelapa pun suka mengeluhkan hal yang sama.

Meski demikian, Pak Bos dan pejabat penting itu dikenal berteman cukup akrab. Apalagi Pak Bos adalah seorang pimpinan sebuah koran lokal, yang kerap terafiliasi dengan pemerintah. Kantor media itu cukup megah, terletak di ibukota provinsi. Bahkan Ka Ita Saleh menaruh curiga, jangan-jangan memang kedua Big Boss itu telah janjian, untuk menguasai lahan-lahan di perbukitan nan indah itu. Tak heran pula, jika akses jalan beraspal menuju lokasi vila dan perkebunan, dikerjakan cepat dan licin.

“Lebaran lalu, kami hanya diberi THR (tunjangan hari raya) sekaleng biskuit.” Bola mata Ka Ita Saleh seperti dasar sumur yang mulai mengering.

Anak bungsunya yang berusia lima tahun, dituturkannya sangat girang saat membuka kaleng berisi biskuit empat rupa. Tapi tidak dengan Ka Ita dan istrinya. Ada lima orang anak yang harus dibelikan baju lebaran. Upah sebulan pun telah habis, sejak masih bulan Ramadan. Ka Ita terpaksa mengutang ke tetangganya yang berkecukupan.

“Kami mendapat jatah bibit pohon jati, dua sampai tiga pohon. Menunggunya lama. Punya kami umur 8 tahun baru bisa ditebang,” Ka Ita melanjutkan ceritanya. Kali ini, golok ia keluarkan dari sarung, lalu menebas pelan rerumputan di sampingnya.

“Hasilnya juga tak sebanding. Dijual untuk bayar utang, dan lainnya buat menambal dinding rumah.”

Jassin serius mendengarkan. Ia lalu meminta izin memotret Ka Ita Saleh yang dengan senang hati mengiyakan. Jassin mengabadikan tubuh legam lelaki paruh baya itu, ekspresi mukanya yang gagap menghadapi kamera, menimbulkan kesan nestapa. Wajah orang yang kalah.

Tak berselang lama, Ka Ita mengajaknya keliling perkebunan. Sampai di batas lahan milik pejabat penting itu. Sebuah vila megah tampak dari kejauhan. Jassin kembali mengarahkan kameranya. Dari dua lahan itu, tampak ada sekitar seribuan pohon jati seukuran keranjang basket. Daun-daunnya telah mengering karena kemarau. Tapi pepohonan jati itu tetap tahan meski ukurannya jauh lebih kecil dari usianya. Itu dipengaruhi jarak tanam yang hanya dua meter. Terlalu padat menurut Ka Ita Saleh.

Lama berbincang, waktu tak terasa bergulir cepat. Layung senja berwarna tembaga, mengundang lensa kamera Jassin mengabadikan momen. Ka Ita berpamitan pulang. Jassin lantas menawarkan jasa untuk mengantarkannya. Apalagi jarak dari perkebunan ke rumahnya cukup jauh. Hampir empat kilometer. Ka Ita biasanya mengambil jalan pintas melewati perkebunan. Tapi kali ini, bantuan yang ditawarkan Jassin tak bisa ditolaknya.

Sesampainya di rumah, Ka Ita mengajak Jassin. “Masuk dulu. Minum teh atau kopi?”

“Terima kasih, Ka Ita. Aku buru-buru.”

Setelah menjelaskan pekerjaannya, Jassin pamitan lalu menancap gas, sebab ia sudah terlambat mengirim berita. Deadline sejak pukul 4 sore. Sedangkan azan Magrib sudah terdengar di beberapa masjid desa yang ia lewati.

Di kamar indekos, Jassin segera menyalakan laptop. Lima berita yang satu per satu diketiknya di ponsel tinggal disalin, lalu dikirim ke email redaksi. Beserta foto-foto. Seusai mengirim berita, Jassin melanjutkan dengan menulis feature untuk liputannya tadi.

Nama Ka Ita Saleh, istri dan anak-anaknya, juga data-data lain dirasainya lengkap sudah. Selain itu, nama pejabat penting itu, juga nama Pak Bos yang cukup dikenalnya telah ia catat.

Ia tinggal menelepon dinas terkait di daerah setempat, untuk menanyakan tentang pembangunan jalan, melengkapi liputannya. Sebenarnya ia tak sengaja menemukan kisah ini. Awalnya maksud Jassin menuju puncak, hanya ingin melepaskan penat setelah seharian mencari berita. Sampai akhirnya bertemu dengan Ka Ita Saleh.

Jassin kembali teringat Pak Bos itu, yang tak lain adalah atasannya sendiri. Direktur utama di koran tempat ia bekerja. Hampir setiap pekan, Pak Bos itu rajin menulis feature tentang perjalanannya mengeliling dunia. Minggu ini Thailand, selanjutnya di New York, kemudian dilaporkannya lagi ia sudah berada di London.

Bahkan perjalanan dramatis saat umroh pun diterbitkannya. Mungkin Pak Bos itu berharap pembaca berlinang air mata, terharu, dan bangga dengan perjalanan hidupnya. Jassin sendiri acap kali terpingkal-pingkal dan merasa jijik, lalu dengan segera meremas koran berisi tulisan-tulisan Pak Bos itu, usai membacanya. Bisa dibayangkan, setahun sekali, Pak Bos itu hanya memberi sekaleng biskuit, sebagai THR pada para pekerjanya. Dibandingkan dengan tiket keliling dunia dan uang jajannya, jumlah uang yang ia habiskan itu bisa membeli sebukit beras.

Hanya sejam, tulisannya telah rampung. Tapi tulisan itu akan menentukan jalan hidup yang dipilihnya. Pertemuannya dengan Ka Ita Saleh telah mengubah cara pandangnya tentang hidup seorang jurnalis. Sebenarnya itu adalah kejadian akumulatif, dari keseluruhan pengalaman yang ia renungi selama setahun bekerja menjadi wartawan. Puncaknya adalah kisah Ka Ita Saleh.

Jassin beranjak begitu tulisan itu terkirim di email redaksi. Ia meraih handuk lalu melangkah ke kamar mandi. Jassin tampak senang sekali. Ia merasa menang. Meski ia tahu betul, sangat tidak mungkin cerita itu dimuat. Jassin menggosok badan sembari bersiul. Siulan orang merdeka.

*Panggilan lazim ala orang Gorontalo yang merujuk pada kulit hitam seseorang. (Ita, Hitam), ada juga pangilan kuni, khusus buat seseorang yang berkulit terang/kuning.

Cerpen ini sebelumnya dimuat di DeGorontalo.co dengan judul yang sama.