Monday, February 8, 2016

Inalillahi, Kucing

Menggali ingatan itu sulit. Tapi mengira-ngira mungkin bisa mempermudah. Kucing betina yang tak pernah kunamai itu, sekitar 5 tahun lalu mulai memilih menetap di rumah. Entah apa alasannya. Kucing itu milik tetangga. Di wilayah saya, kucing masih berkembang biak sewajarnya. Bahkan banyak ditemui anak-anak kucing di tanah lapang, saluran air, atau di dalam karung. Untuk itulah, ketika kucing itu memilih menetap di rumahku, tetangga tidak begitu mempermasalahkannya. Hal seperti itu sudah lumrah.

Setiap beberapa tahun, kucing kerap berganti corak, rupa, dan kelamin, di rumahku. Mereka datang begitu saja. Meski ada beberapa di antaranya yang kupunguti di jalanan. Kebanyakan betina, yang suka mengundang kucing-kucing liar, jantan, dan perayu ulung, tuk datang bertandang. Kucing tatkala bercinta, memang cukup ricuh. Hanya berselang beberapa pekan kucing di rumahku melahirkan, rumah bakal kembali ramai lagi di tengah malam. Rayuan-rayuan gombal mengeong, terdengar hampir setiap malam. Lalu tak lama lagi, perut buncit.

Sekembali ke rumah 5 hari lalu, aku mendapati kucing di rumah tubuhnya kurus. Bulu-bulunya banyak yang rontok. Mungkin karena sudah renta, pikirku. Aku pernah sekali membelainya, lalu membersihkan kotoran di matanya. Ia masih seperti biasanya. Di mana tempat aku duduk, makan atau tidur, pasti ia datang menghampiri. Bukan itu saja, jika aku kembali ke rumah, kata ibuku, kucing itu bakal lari menuju pintu. Hal yang sama kerap dilakoni kucing-kucing sebelumnya.

Dan entah seperti tongkat estafet. Seekor anak kucing yang coraknya mirip dengan kucingku, datang begitu saja di rumah. Warnanya didominasi abu-abu. Hanya beberapa garis putih dan kuning tergores di tubuhnya. Aku pikir, anak kucing itu, mungkin saja satu-satunya anaknya yang tersisa. Tapi sebelumnya kucing itu tidak ada. Aku pernah memberi makan dua kucing itu. Kucing rentaku membiarkan jatahnya diambil si anak kucing.

Kemudian, kabar itu datang dari ucap ibuku, di pagi ketika aku sedang sarapan.

"Kucingmu sudah mati."

Aku kaget sebab semalam masih sempat memberi jatah ikan kepadanya.

"Di mana?"

"Ia mati tepat di samping jendela kamarmu. Sudah ibu kubur tadi."

Usai makan, aku menuju jendela kamar yang masih tertutup. Pukul 7 pagi. Aku membuka jendela itu lebar-lebar. Pandanganku hanya menemui gundukan tanah.

"Ibu menguburnya di sini?"

"Iya!"

Aku tersenyum namun sedih ketika melihat gundukan tanah baru. Letak kucing itu mati dan jarak ibu memakamkannya hanya semeter. Tepat di bawah jendela.

Aku rebah sejenak, kemudian memutuskan menulis catatan ini. Sampai akhirnya aku ingat. Sesudah aku tiba di rumah, 5 hari yang lalu, aku sempat memotret kucingku.

Tanggal 6 Februari kemarin, aku sempat pula membuat status di BBM. Status yang kunukil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tepat di hari kelahiran sastrawan ini.
"Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan. Meski itu hanya seekor kucing (yang 'kucing' sebagai pengganti hewan 'kuda' pada nukilan sebenarnya di novel Bumi Manusia)."

Aku tersenyum, sebab Tuhan masih memberi pertanda itu padaku. Semoga damai di sana kucing tak bernama.