Wednesday, February 24, 2016

Misteri Trailer AADC2

Cinta dan Rangga di AADC2 (sumber www.mampoo.com)
resah di dadamu
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
dipisah kata-kata
begitu pula rindu

lihat tanda tanya itu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Rengsa suara Rangga tatkala membacai bait-bait puisi itu. Ada sebuah rindu yang ia pendam dan terus mengait di dadanya. Ada sebuah resah yang harus ia tebus. M Aan Mansyur, sukses merekatkan puisi itu dengan rahasia-rahasia yang berdiam jauh di dalam sepasang mata Rangga. Mata yang selalu siap memendam apa saja. Bahkan rindu yang telah beratus-ratus purnama.

7 Februari 2002, film Ada Apa Dengan Cinta 1 (AADC1) menggetarkan dada para pujangga. Puisi-puisi menjadi kalung mutiara di setiap helai surat cinta. Muda-mudi membacai Chairil Anwar, melafadzkan bait-bait Aku, dan coba menjadi semirip Rangga ataupun Cinta. Rako Prijanto jadi bintang baru di daftar para penyair. Film itu, menggali kembali masa-masa keemasan para penyair.

Dalam mini drama yang diproduksi Line 2014, setelah 12 tahun menanti, para penyanjung AADC seperti menemui cenayang, yang meramalkan seperti apa kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Di New York, Rangga digambarkan seperti seorang jurnalis mapan. Ia melintas dengan visual sedang mewawancara, mencatat, dan memotret. Tinggal di apartemen berkelas, ia terlihat segar dan kekar. Jauh dari sosoknya di AADC1.

Entah kenapa, Rangga yang individualis, sosok penyendiri, dan pendiam, tiba-tiba menjadi jurnalis, yang jelas saja sangat bertolak belakang dari sifat-sifatnya saat di AADC1. Sukar menemu seorang jurnalis yang pendiam, penyendiri, dan suka memandang sinis. Tapi bisa jadi, New York telah menempa Rangga menjadi seperti itu.

Adegan Cinta sendiri, tampak  sibuk dengan komputer di meja kerja, kertas-kertas bertumpukan, dan helai demi helai gambar bertebaran. Mengisyaratkan, ia seperti sedang menjadi redaktur di salah satu majalah ternama. Tapi, perannya sangat tampak, bahwa ia seorang perempuan yang terlalu fokus dengan karir. Meski memang pekerjaannya tak jauh beda saat mengurusi mading di sekolah. Teman-temannya pun tampak seperti wanita-wanita karir. Saat mereka reriungan, terlihat seperti ibu-ibu muda metropolitan yang sedang arisan. Mereka anggun dengan riasan tebal dan kening yang kekinian. Juga dengan kalung-kalung berjuntai mengkilat.

Sebagian penggemar ada yang lebih sepakat bahwa AADC2 nanti, harusnya seperti visualisasi di mini drama itu. Rangga harus keliatan mapan dengan penampilan rapi. Ada pula yang bilang, di trailer singkat AADC2 yang ditayangkan Miles Films di youtube, Rangga terlihat lusuh. Meskipun mini drama Line menjadi trigger, tapi saya pikir Riri Reza cukup tahu, seperti apa imajinasi para penyajung AADC.

Saya cenderung lebih suka melihat Rangga yang lusuh. Meski sebenarnya, saya yang seorang jurnalis, juga agak setuju ketika Rangga menjadi jurnalis. Tapi, kemisteriusan dalam trailer singkat itu, menggelitik tanya; apakah Rangga menjadi seorang penulis atau penyair? Dan bisa pula, Rangga memang tidak menjadi apa apa. Ia hanya seorang pengangguran lulusan salah satu universitas di Brooklyn, New York.

Pada Video Diary yang dirilis Miles Films pun, Rangga hanya tampak berjalan di antara salju yang tak disangka-sangka turun saat syuting. Sebuah anugerah kata Mira Lesmana. Salju yang menambah ruh dalam potongan demi potongan adegan. Butiran-butiran salju seakan merangkul kesendirian Rangga. Rambutnya yang menggulung, menangkapi satu per satu butir salju, membawanya pulang untuk dijadikan sebait puisi. Bukan kah puisi, kerap kali hadir pada sosok-sosok seperti Rangga?

Cinta pun saat syuting di Yogyakarta, dengan rambut panjang berponi, juga dengan gaya berjalan yang kerap bergegas, sangat membaui karakter Cinta saat masih di AADC1. Sekali lagi, Riri Reza cukup kenal dengan mereka berdua. Ia tahu apa yang diinginkan para penonton setia AADC. Trailer Miles Films dan Video Diary, meski misterius, tapi ada jejak-jejak yang lampau di sana.

Dan jika benar Rangga akan menjadi penulis, mungkin saja kepulangannya ke Indonesia, karena ingin riset untuk penulisan sebuah novel. Kalau pun jadi penyair, bisa juga ia hendak ke Yogyakarta, karena ingin bertemu teman-teman penyair, yang kebetulan berkenalan dengannya lewat jejaring sosial. Namun di balik itu, tetap saja alasan terbesarnya, Cinta.

Cinta, jangan-jangan menjadi jurnalis? Seperti ramalan Puthut EA. Saya pun setuju jika cinta yang jadi jurnalis, biar rasa bangga menjadi seorang jurnalis, lebih terasa. Setidaknya, passion kita sama Cinta.

Tapi, untuk AADC2 kali ini, mau jadi apapun Rangga sama Cinta, mengutip perkataan teman saya, asalkan Dian Sastro masih tetap ada. Dan itu adalah kerinduan terbesar, jauh melebihi rasa rindu Rangga di antara ratusan purnama yang telah ia lewati.

Semoga, KPI tidak menyensor adegan yang telah "membandarakan" hati para penyanjung AADC.