Monday, February 15, 2016

Kotamobagu, Sebuah Kerinduan akan yang Lampau

sumber foto: beritatotabuan.com

Kotamobagu, adalah kota kecil yang selalu saya rindukan. Pusat keramaian yang hanya berada di satu titik, dengan jalan kaki saja, kita bisa menikmati seisi kota. Dimulai dari berjalan kaki mengitari Lapangan Hotinimbang yang dirangkul pepohonan rindang, yang suasana asrinya membikin damai di hati. Lapangan ini, dulunya begitu ramai di malam hari.

Pada suatu ketika, di bawah tahun 2010, hampir di setiap tepi lapangan, berjejer komunitas mobil, motor, sampai bentor. Lagu-lagu hip-hop, punk, dan lagu-lagu melow disetel riuh-rendah, pada masing-masing pemutar musik di tiap kendaraan.

Jika malam Minggu tiba, kita akan banyak menemu orang-orang berkaos merah. Entah kenapa, dulu sempat tren, jika malam Minggu, kostum resminya adalah berwarna merah. Keren, sebab saya pun jatuh cinta dengan warna ini. Bukan karena warna ini dijadikan dasar bendera Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi karena warna ini, adalah simbol perjuangan dan pengorbanan. Darah.

Di lapangan kota, meski di kala itu, miras merajalela seperti tak mengindahkan wanti-wanti si Raja Dangdut, Rhoma Irama. Tapi kita tak bakal menemui botol-botol berserakan di sekitar lapangan. Sebab ada beberapa bocah yang kerap keliling memunguti botol-botol untuk dijual. Lumayan kata mereka, untuk jajan di sekolah.

Beberapa kali pula bentor-bentor taruhan, siapa yang paling jawara menggetarkan musik hingga ke ulu hati. Bentor dari Eropassi, pernah menjadi juara bertahan dan tak terkalahkan saat kontes. Nama jokinya, Buyung Ismu. Selain jadi ajang promosi, para pengendara bentor pun ingin melepas penat, dari seharian berjemur dan berkeringat di jalanan.

Tak jauh dari lapangan, ada pula Taman Kota. Jika ingin cari makan, sila ke taman. Gerobak-gerobak jajanan mengelilingi taman itu. Sila pilih, ada nasi goreng, bakso, mie ayam, gorengan, kacang rebus, jagung bakar, pokoknya komplit. Beberapa kali pula acara-acara musik digelar. Lampu-lampu taman kota juga kala itu masih terang benderang. Bahkan jika koin jatuh pun, dengan lekas bisa ditemukan.

Sesekali, pengamen-pengamen yang terdiri dari komunitas anak punk, seliweran sana-sini. Lirik-lirik lagu Marjinal, tegas terlafadz dari mulut-mulut mereka yang ditindik. Bukan hanya ngamen, jika ada bencana alam, bahkan sedahsyat gempa Jogja 26 Mei 2006 silam, mereka mengumpulkan dana untuk disumbangkan. Uang dari hasil garukan senar gitar dan lantang suara.

Tak jauh dari taman, ada pula simpang empat yang dinamai Bundaran Paris. Penamaan itu melekat begitu saja, sebab supermarket Paris, tepat berada di ketiak simpang. Kotamobagu tampak lebih kota jika kita sedang berada di Bundaran Paris. Anak-anak punk pun menjadikan scan di sekitar bundaran, sebelum akhirnya menerima nasib yang sama. Digeruduk.

Seiring tahun tergelincir dari kalender ke kalender, Kotamobagu jadi kota geger. Di lapangan kota, tak ada lagi kerumunan orang-orang berkaos merah. Pun mobil-mobil, motor, dan bentor. Orang-orang jadi takut dengan tempat-tempat umum semacam itu. Geger razia di sana sini, dari hotel, kos-kosan, dan semua titik-titik keramaian. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu, di genggaman Walikota Tatong Bara, menancapkan visi misi Kota Model Jasa. Namun dengan sendirinya, visi misi itu terbunuhi oleh tindak-tanduk pemerintah itu sendiri.

Di Polres Bolmong, ada tim yang mendaku bernama Maleo. Keliling-keliling kota dan menjadi "hantu" bagi muda-mudi di jalanan. Bahkan di ruang seprivasi kamar kos pun digeruduk. Urusan seksual seseorang pun dijadikan santapan media, dikunyah, lalu dimuntahkan ke para pembaca. Kemudian menyusul tim Kura-kura Ninja, yang terdiri dari para baret cokelat. Tim Satpol PP Pemkot yang dikepalai Sahaya Mokoginta ini, menambah daftar "hantu-hantu" di Kotamobagu. Menyusul lagi, tim lain yang digagas pula oleh Sahaya, bernama Power Rangers. Sangat miskin ide tapi kaya lelucon dan kekonyolan.

Hotel-hotel kelas melati, kos-kosan, kini harus lebih waspada. Karena jelas saja hotel sekelas Sutan Raja, yang dengan megah memancang di antara persawahan, tidak nangkring di daftar target. Orang-orang pun akan lebih memilih menginap di hotel semacam itu, ketimbang digedor saat tengah berasyik-masyuk di hotel bercat buram. Kos-kosan tempat para pekerja dan pelajar melepas lelah, tak luput dari razia. Mereka yang beralasan, karena miras di tempat umum dilarang, lalu memilih mengurung dan meriuh di kamar kos, terpaksa harus pasrah diinterogasi. Bahkan yang hanya bermaksud berkasih-sayang dengan pacar, wajib cemas dengan degup jantung, na' limbukon inalowan katopol.

Maka, apalagi yang bisa dirindukan dari Kotamobagu, yang tingkat kegegerannya melebihi Gotham? Kota yang berisi segala macam superhumor dan "teror"!

Kini yang hanya bisa ditemui di Kotamobagu, lapangan kota yang sepi. Rumah-rumah kopi serupa jamur, tempat para generasi merunduk kopdar. Taman kota yang gelap-gulita lalu kerap kali menjadi ring kelahi. Tak ada lagi sekumpulan anak-anak mohawk yang ngamen di jalanan. Yang ada hanya sebuah kerinduan. Kerinduan akan yang lampau. Kotamobagu yang bebas dan merdeka.