Friday, February 5, 2016

Tak Ada Lagi

Nyaris tak ada, di segala sudut rumah ini yang tak mengingatkanku pada ayah; remote Tv yang lama terdiam di atas meja, asbak kosong, juga sendal yang terparkir tanpa derak langkah terseret. Nyaris tak ada. Di kamar, di bawah bantal coba kupastikan bungkusan rokok dan pemantik api di sana. Tak ada lagi. Kamar mandi tepat di samping kamar ayah, gerung dan seru pun hilang, bersama batuk ayah.

Tv coba kunyalakan, lalu menyetel siaran sinetron yang dengan terpaksa ayah gemari. Itu pilihan saat siaran sepak bola atau tinju sedang tak tayang. Tadinya, sinetron ini seru per episodenya, sebab selalu ada yang menunggu. Namun kali ini tak ada lagi teriak minta siaran diganti saat jeda iklan usai, karena ternyata remote dirampok cucu.

Tatkala hujan deras tiba-tiba mengguyur, tak ada lagi wajah cemas setiap kali menatap plafon dapur. Satu tetesan air selalu membuatnya gusar. Kursi pun ditariknya lalu dengan seketika plafon dilepas menganga. Deretan pipa dicopot lalu dipasang lagi. Cemasnya akan hilang jika tak ada lagi tetesan air hujan. Sisa genang air di lantai dengan segera ibu mengepelnya. Ayah pun tersenyum lalu kembali bersandar di sofa. Tetes hujan telah reda bersama gelisah.

Cangkir kopi kosong. Pun tak ada lagi asap membumbung. Kudapan apa lagi yang ingin ibu sajikan di meja? Kali ini ibu memilih menyapu pekarangan, setelah seisi rumah telah bersih dari debu dan kenangan.

Kemarin ibu tertunduk lama. Ia menemukan koleksi kacamata hitam milik ayah. Dan beberapa arloji antik yang seakan memutar kembali waktu. Ibu tersedu tapi ada senyum terselip di raut rentanya.

Pernah sehari, aku mengurung diri dalam rumah. Memerhatikan secara detail apa yang berubah. Hanya hening. Pinta dan suruh dari ibu pun luruh. Tak ada lagi kalimat; "Kalau ke kamar mandi jangan pergi sendiri." Meski jarak antara kasur dan kamar mandi hanya dua meter, ibu akan selalu cemas, sebab telah berkali-kali menemukan ayah terkapar di ubin dingin.

Ah, tak ada lagi suara berderak di pintu kamarku. Yang sesekali ayah coba melirik memastikan, apakah jendela-jendela kamarku terkunci rapat. Kini, biar pintu kenangan kubuka lebar-lebar. Agar rindu ini tak tertutup rapat.