Sunday, March 13, 2016

Ayah, yang Kamu Lakukan ke Sigi itu, Jahat


Malam kali ini begitu hening. Seperti sebuah kecupan ibu di kening. Tak ada suara apa-apa. Bahkan angin pun sepertinya pergi bertapa. Aku lantas menengadah lama ke langit. Menemui sepi yang serupa miliaran bintang tanpa bunyi. Gemerlap yang senyap. Kemudian aku ingat. Kau.

Aku ingin menyebut 'kau' di sini. Aku ingin seperti sedang bercakap dengan sahabat. Tentu kau setuju, Sigi?

Ulang tahunmu sebentar lagi. Bukan kau yang memilih tanggal lahirmu tepat 28 April. Tapi kejang tubuh ibumu dan letupan ketuban. Itu tanggal yang begitu spesial kali ini memang. Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) perdana tayang di tanggal itu. Iya. Tepat di hari ulang tahunmu. Kau memang spesial. Sampai-sampai Rangga rela membacakan puisi-puisi di hari ulang tahunmu, setelah 14 tahun dan ribuan purnama berlalu. Cinta pasti cemburu padamu.

Tapi, ketika aku melihat trailer perdana usai gerhana matahari total kemarin. Aku masih merasa biasa-biasa awalnya. Meski sebenarnya sangat berdegup ketika menunggu trailer itu, tinimbang gerhana yang tak sedetik pun aku saksikan dengan kacamata-kacamata rakitan itu. Lalu di akhir trailer berdurasi mendadar telur itu, tiba-tiba Cinta mengucap satu kalimat. Tak lama setelah Rangga berkata apa yang ia lakukan kepada Cinta itu tidak adil.

Cinta menyahut, "Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat."

Di situlah aku mengingatmu untuk pertama kalinya. Bukan malam ini. Sekali lagi, kau di sini sebagai sahabat. Sebab ketika kau kuanggap sosok putriku. Maka jelas kau akan sangat marah saat membaca catatan ini kelak. Untuk waktu dua bulan, aku hanya merinduimu dua kali. Aku memang tidak adil bahkan hanya untuk merindu. Tapi kita bisa bersahabat, bukan? Sahabat selalu memaafkan.

Kau tahu, tidak seperti pasangan remaja di era 90an, atau mereka yang telat merasai kepuitisan AADC, yang lalu coba mendonlotnya hanya untuk sekadar beradaptasi dengan cerita. Aku di sini bukan melihat sosok Rangga dan Cinta sebagai sepasang kekasih, yang hubungan mereka telah berjaring laba-laba belang di tembok keraton putih. Tapi aku pada posisi ayah dan kau itu anakku. Aku tidak memilih posisi itu. Namun ia berkelebat hadir begitu saja. Berdiam di atas ubun-ubunku. Tentu saja aku merasa jahat. Apalagi yang mewakili mengatai itu Cinta.

Tahun demi tahun aku lalui tanpamu. Atau lebih tepat, tahun demi tahun kau lalui tanpa aku. Tak hanya sekali, aku dibuatmu mengecil saat bersua. Tatapan asingmu. Senyummu yang begitu berat. Hingga tangis dan enggan yang berulang kali, saat aku berpinta memelukmu. Seiring waktu aku menjadi semakin asing. Itu yang membuatku cemas, seberapa jahat nanti aku di matamu.

Tapi mungkin saja benar; sosok ayah yang tidak pernah hadir dalam kehidupan anaknya, akan membuat anaknya semakin terobsesi dengan sosok ayahnya. Kalimat yang sedikit menghibur, yang saya temui tatkala menonton film Daddy's Home. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. 

Setiap ulang tahunmu, aku kerap membikin catatan di blog ini. Hanya tekor di tahun pertama. Tahun kedua, ketiga, dan keempat, aku rajin mengirim tulisan yang meski belum saatnya kau pahami. Aku niatkan seluruh isi tulisan di blog ini untukmu. Semua waktu yang abai ingin kutebus dengan cerita. Setidaknya saat kau membaca nanti, waktu yang kuringkus dalam catatan demi catatan bisa lepas menemanimu. 

Jika aku mati, tulisanku tak ikut mati. Cerita tuk Sigi nanti.

Aku menuliskan kalimat itu di profil akun google. Meski ngeri juga sebab ada kata 'mati'. Padahal aku ingin mati seribu tahun lagi. Aku masih ingin menulis untukmu.

Lantas apakah 14 tahun lamanya, baru kita bisa bertemu lagi? Tentu tidak. Waktu selama itu memang jahat. Meski setahun pun sudah jahat untuk kita. Sebulan juga jahat. Seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik, ah, tetap jahat.

Tapi aku akan coba menemuimu 28 April nanti. Aku memilih untuk mengabaikan menonton AADC2. Sebab kau lebih spesial dari itu. Bahkan dari 1000 puisi yang telah terbacakan Rangga dan Cinta atau para pujangga.

Kemudian, malam masih tetap hening. Seperti sebuah kecupan ibu di kening. Tak ada suara apa-apa. Bahkan angin pun sepertinya pergi bertapa. Aku lantas menengadah lama ke langit sekali lagi. Menemui sepi yang serupa miliaran bintang tanpa bunyi. Gemerlap yang senyap.

Kali ini, aku mengingatmu untuk ketiga kalinya. Sejahat-jahatnya mengingat.