Tuesday, March 1, 2016

Logo "Kopi Sufi" Pilihan Barista Handi

Saya berusaha menerka logo mana yang bakalan juara. Satu per satu saya pandangi, saat 71 logo mulai kami rekatkan ke tembok. Setelah semuanya menempel, Handi si pemilik Kedai Kopi Maksoed yang menyayembarakan logo, menantang saya. Dari ke-71 logo, ia menyuruh saya memilih 5 terbaik. Saya segera mengerutkan dahi, lalu memandangi setiap logo. 5 berhasil saya pilih. Saya menunjuk satu per satu desain yang sederhana.

"Mantap, mantap!" kata Handi yang disusul dengan ulur jabat.

Saya sambut menjabat erat. Senang, sebab mungkin dari 5 logo yang saya pilih, ada salah satu yang memang bakal jadi juara, sesuai pilihan Handi.

Kemudian kami disibukkan dengan mendekor kedai kopi sore itu. Lampu-lampu hias yang dibikin Pipin dari tongkol jagung bergelantungan. Meja dan kursi rapi berjejer. Kedai kopi disulap jadi berwarna-warni nan remang. Temboknya pun telah dimural keroyokan sehari sebelum acara Sayembara Logo Kedai Kopi Maksoed.

Senja berpulang, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Mata mereka memindai segala sudut ruang. Logo-logo yang bertebaran di tembok jadi tuju yang utama. Setelah itu, mural menyusul mereka kagumi.

Pukul 8 malam, semakin bertambah banyak tamu yang datang. Kursi-kursi tak lagi kosong. Gelas telah ditebar. Kudapan hinggap dari satu meja ke meja lainnya. Acara pun dimulai. Komunitas Sastra Tanpa Nama (KSTN) yang telah hadir bersama penyair-penyair, diminta membuka dengan sesi Puisi Kopi. Jamil mulai memantrai penonton. Hening.

"Di akhir hari, pada sunyi jalanan dan riuh kedai-kedai kopi. Puisiku adalah perdu yang tak menemukan matahari. Diriku adalah perindu yang berupaya memecahkan teka-teki. Tentang pelukanmu yang mendadak, tentang kecupanmu yang sekelabat, tentang gigitanmu di bahuku yang berusaha jadi abadi."

Jamil meringkus nakal suasana, hingga mengundang siul penonton disusul gemuruh tangan bertepukan. Kemudian Yudin berganti duduk. Puisi masih bertema kopi dibacakan. Asrul paling akhir menyusul.

Sesi kedua, stand up comedy berupaya mengocok keheningan. Penampilan para komika lokal, sukses menggelitik kuping-kuping penyimak. Lalu musik akustik menggulir sesi. Pendengar berpayungkan teduh dari mereka yang bersuara merdu.

Di teras, live sketch dari Gorontalo Perupa (Goropa), mulai mencorat-coret kertas dengan model-model dari beragam raut. Ada laki-laki gendut, perempuan berhijab, dan pusaran wajah-wajah cemas lain yang berharap disketsa. Bagaimana mereka tidak tertarik? Bahkan larutan bubuk kopi pun jadi alat lukis.

Puncak acara yang saya nanti sedari sore akhirnya menggelinding tiba. Poster logo yang juara masih terbungkus rapat. Sejurus, bungkusan yang terpampang itu akhirnya dibuka oleh sang barista. Kilat lampu kamera bergantian menangkap momen. Dan yang jadi pemenang, sebuah logo berlatar warna cokelat. Ternyata karya Usman Dunda, karib yang tengah menjadi musafir ilmu di negeri seberang, Makassar. Segera kami buru di mana letak versi logo yang menempel di tembok. Logo itu hanya berjarak semeter dari posisi saya.

Selebrasi dari kami, yang juga tak menyangka bahwa logonya Usman yang juara, masih membisingi kedai kopi. Saya yang merekam momen itu, lalu segera mengunggahnya ke facebook. Usman saya tandai, pun dengan sederet ucapan selamat. Ia mengomentari tautan video, dengan basa-basi yang dibuat seolah-olah tak percaya juga, kalau ia bakal menang. Ia sedang merendah.

Di logo kecil yang tertempel di tembok, saya terus terpaku. Memang desainnya sangat sederhana. Ini juga soal pilihannya Handi, si owner sekaligus barista di Kedai Kopi Maksoed. Jujur saja, logo itu tidak berhasil menggoda pandang saat saya coba menerka sedari sore. Dari 5 yang saya pilih, tak ada satu pun logo itu. Handi hanya coba membikin hati saya senang sore tadi, dengan uluran tangan dan ucapan 'mantap'. Sialan.

Namun saat seseorang berkomentar tentang ilustrasi logo cangkir yang serupa melayang, saya mulai bisa berdamai dengan pilihan Handi. Saya memerhatikan sekali lagi, logo yang telah terpajang seukuran separuh pintu rumah itu. Saya coba mencermati dan mulai menduga-duga.

Begini, Handi adalah sosok barista yang religius. Bahkan pelanggannya kerap kali menungguinya, saat ia mendadak menghilang. Alasannya sudah diduga-duga pelanggan setianya. Sebab setiap Handi kembali, rona wajahnya seperti baru saja melakukan pertemuan dengan relasi antar galaksi atau dimensi. Ya, kalau bukan dari taman pengajian, paling-paling dzikir bersama. Butiran tasbih yang terkalung di leher mempertegas dugaan. Meski itu satu-satunya aksesoris berbau religi yang menempel di tubuhnya.

Dari alasan itulah, saya mulai sepakat dengan Handi. Desain logo yang sederhana itu, menyiratkan sebuah kesederhanaan dari sosok Handi dan kedai kopi mungilnya. Pada logo, cangkir dan tatakan berwarna putih tampak bergradasi menjadi abu-abu lalu kehitam-hitaman. Tiga lengkungan uap kopi melengkapi atas cangkir yang ternyata memiliki makna; bahwa founding fathers Kedai Kopi Maksoed adalah tiga sekawan. Sedang ilustrasi bayangan di bawah tatakan, mengisyaratkan bahwa benda di atas tengah melayang. Lalu tulisan Kedai Kopi Maksoed berada paling bawah. Simpel dengan warna kuning dan putih.

Saya coba menginterpretasikan secara singkat pilihan Handi itu. Setelah semalam kesal tak berhasil mendapat jawaban, kenapa ia memilih logo karya Usman.

Saya pikir, Handi cukup tahu nuansa filosofis dan sufistik pada logo tersebut. Entah pikiran saya sama dengannya, tapi setelah saya cermati, posisi cangkir dan tatakan yang melayang, mengibaratkan spiritualitas seseorang. Semakin tinggi maqom spiritual manusia, maka ia seakan berada di antara bumi dan langit. Namun bayangan di bawah, mengingatkan manusia akan sifat membuminya. Sedangkan lengkung uap yang meninggi, adalah pikir kita yang juga tetap melangit.

Tentang gradasi warna pada cangkir, putih kerap jadi simbolisasi kesucian. Dari gradasi warna putih pada logo, yang berubah menjadi abu-abu lalu kehitam-hitaman; adalah ilustrasi dari gradasi wujud. Putih saya ibaratkan wujud 'Tuhan', lalu abu-abu dan kehitam-hitaman adalah 'manusia'. Ketika 'Tuhan' maujud menjadi 'abu-abu' lalu 'hitam', itu adalah tentang proses penciptaan. Bahwa kita manusia berasal dari citra Tuhan itu sendiri. Posisi sebaliknya, jika manusia yang dari 'hitam' maujud menjadi 'abu-abu' kemudian 'putih', itu menandakan suatu proses maqom spiritualitas seorang manusia. Kembali ke citra asal.

Setidaknya begitulah Handi. Ia sedang menjalani proses itu. Menjadi seorang barista sufi.

But, a picture is worth a thousand words. Sila menafsir sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, saya ingin mencuri kalimat Pidi Baiq, vokalis The Panas Dalam yang juga seorang penulis.

"Ya Allah, mudah-mudahan sederhana. Tetapkan pikiran kami terus melangit, dan dengan hati yang terus membumi."