Sunday, March 20, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (1)


"Awas ada razia!"

Peringatan itu dalam bentuk pesan singkat di ponselku. Pesan dari tetangga kos yang kebetulan seorang polisi. Aku melirik arloji di lengan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seperti biasa, temanku itu suka mengabari jika sedang ada razia di tempat-tempat umum, hotel-hotel, sampai toilet kos-kosan yang tak luput dari kejelian perazia.

Yah, beginilah hidup di Kotamobagu. Kota kecil yang bahkan tidak cukup strategis untuk dijadikan Kota Jasa. Kenapa? Sebab kota ini bukan berada di jalur transportasi antar provinsi. Kota ini berada di tengah-tengah. Sudah tidak strategis, mengusung tagline Kota Model dan Jasa, dan kerap menggelar razia. Apes.

Aku juga heran, kenapa hotel sebesar Sutan Raja nekat berjudi dengan membangun hotel megah di Kotamobagu. Tapi mungkin manajemen hotel itu sedang ingin belajar dari pengalaman mereka membangun hotel megah di Manado. Sutan Raja di Manado ramai, kan? Ups!

Tak berselang lama, pesan singkat dari Gladys masuk. Dia seorang mahasiswi yang kebetulan berteman baik dengan mantan pacarku. Isi pesannya.... soal razia. Sialan! Kota ini memang sedang diteror.

"Sigid, kos Gladys tadi dirazia. Banyak wartawan tadi ke sini. Tolong jangan diberitakan di koran ya. Kalau bisa, Gladys minta tolong, kasih tahu teman-teman Sigid juga yang wartawan-wartawan lain."

Meski hanya lewat pesan singkat, bisa dirasakan kegelisahan di hati mahasiswi itu. Tapi keningku seketika saling merangkul. Aku heran, sebab pacar Gladys kan polisi. Kenapa juga bisa dirazia?

"Kau diangkut ke Polres tidak?" Aku mengirim pesan balasan.

Beberapa detik kemudian, dia membalas, "Tidak sih. Anehnya tadi usai razia ada beberapa polisi yang minta nomor handphone sama pin BBM."

"Eh, kau bukannya pacaran sama polisi?"

"Sudah putus," sejurus kemudian, Gladys mengabarkan bahwa kos-kosan sudah aman. Bergegas aku menemuinya.

Gladys dan teman-temannya sedang ramai di luar kamar. Mereka masih panik usai razia tadi. Di salah satu kamar yang ditempati mahasiswi juga, teman sekampus Gladys, ditemukan botol-botol bir. Menurut Gladys, meski botol-botol yang ditemukan di bawah kasur itu kosong, tapi yang menjadi masalah ada sebotol bir di dalam kulkas yang belum dibuka. Temannya tetap diangkut.

Saat diseret keluar kamar, temannya itu meronta dengan penuh pinta. Air matanya deras. Teriakannya keras. Wartawan-wartawan seperti singa kelaparan yang dengan segera menerkam momen itu dengan lampu-lampu kamera. Sempat terdengar makian dan teriakan temannya itu kepada para wartawan.

"Anjing! Kalian tahu kalau orangtuaku sampai tahu? Aku akan diberhentikan kuliah! Anjiiinnnggggg!" tiru Gladys. Dia tampak masih syok melihat kejadian itu.

Namun yang lebih miris lagi, saat mendengar makian itu, seorang wartawan menyeletuk.

"Wah, bagus ini. Bisa jadi angle menarik. Judulnya bisa jadi, Seorang Mahasiswi Memaki Wartawan Saat Dirazia." Gladys kembali meniru. Tampangnya menunjukkan rasa jijik. Teman-temannya yang lain kembali masuk ke kamar mereka masing-masing. Kami dibiarkan berdua.

Aku hanya bisa memijit dagu. Melihat raut Gladys yang semakin mengerut, aku coba mengalihkan topik pembicaraan. Aku bertanya kapan dia akan selesai kuliah. Air mukanya terlihat kembali tenang. Dia berkata, tinggal setahun lagi akan wisuda. Setelah diwisuda dia berencana menjadi wartawan. Aku heran sekaligus tertarik mengejar cerita tentang cita-citanya itu.

"Kau mau jadi wartawan?"

"Iya."

"Alasanmu?"

"Aku ingin balas dendam! Kesal saja."

Mendengar jawaban itu, arah tanya-jawab ini semakin membuatku penasaran. Dan setelah aku bertanya lagi. Aku mendapati jawaban dari seorang mahasiswi yang sebenarnya boleh dibilang lebih mafhum akan profesi seorang jurnalis.

Gladys ingin balas dendam, setelah melihat realita yang kerap kali dia temui sejak tinggal di Kotamobagu. Menurutnya, wartawan-wartawan seperti enggan mengangkat sisi kaum yang termarjinalkan. Terlalu banyak beropini, amplopan, partisan, dan bahkan dengan yakinnya mengatakan pekerjaan mereka itu mulia.

"Tega ya? Mereka memberi makan anak-istri atau orangtua mereka dengan uang-uang itu."

Kalimatnya kali ini menusuk dada. Aku hanya bisa menunduk, sebab yang diterjang bukan hanya para wartawan yang menghujani jepretan kepada temannya. Tapi aku juga.

"Bukan hanya wartawannya, Gladys. Media tempat mereka bernaung juga yang mengharuskan mereka berbuat demikian."

"Mediamu juga?" dia menodongku.

"Begini, aku dulu sempat bekerja di media seperti itu. Aku juga pernah amplopan. Tapi pada akhirnya, aku sadar, yah, seperti yang kau katakan tadi, tega tidak memberi uang terlebih kepada orangtua dari hasil kita menjerat tikus?"

Aku lanjutkan berkisah, bahwa banyak wartawan yang ketika pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mereka dikenalkan dengan wajah jurnalisme yang salah. Seiring waktu, jelas mereka akan terus mengingat dan memakai topeng wajah yang pertama kali mereka kenali. Ada beberapa yang sadar dan memilih melepaskan topeng itu. Tugas menjadi jurnalis sebenarnya berat, sebab sebagai penyampai pesan.

"Jika wahyu Tuhan itu disampaikan malaikat Jibril. Maka bagi jurnalis, wahyu itu berupa keluh-kesah dari orang-orang tertindas dan yang menjadi Jibril adalah jurnalis itu sendiri. Tidak mungkin kan, Jibril menyampaikan wahyu yang salah?"

Mata Gladys berkaca-kaca. Pipinya merah terkena cahaya bohlam. Terang saja, sebab dia berkulit putih yang diwarisinya dari ibu berdarah Minahasa. Terlihat dia semakin teguh ingin menjadi jurnalis setelah mendengar penjelasanku, yang hampir mirip dakwah Sunan Kalijaga.

“Tapi manusia itu bukan malaikat. Paling-paling para wartawan berapologi begitu.”

“Jelas saja, manusia bukan malaikat. Tuhan lebih mengistimewakan manusia malah. Karena apa coba? Akal kita. Itu bukti superioritas atau keunggulan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan.”

Ponsel Gladys tiba-tiba berdering. Ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Setelah mengernyitkan dahi ke arahku, dia menekan tombol hijau di ponsel androidnya.

“Ini siapa?” Gladys menyetel pengeras suara. Membuatku bisa mendengar jelas suara si penelepon.

“Oh, ini dari Arga. Tadi yang ikut razia dan minta nomor kau. Aku bisa main ke kos?”

“Enak saja!” Tut, tut, tut. Gladys mengakhiri pembicaraan.

Tiba-tiba dia beranjak dari kursi, menatapku sembari tersenyum. Semerbak wangi sampo dari kibasan rambut panjangnya berbaur dengan aroma tubuhnya. Gladys merebut lenganku, lalu mengajakku...

(Bersambung)