Thursday, March 24, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (2)

... lalu mengajakku makan. (Baca sebelumnya: Bagian 1)

"Kau pasti lapar. Aku kebetulan masak tadi. Ayo, temani aku makan," ajaknya sambil menuntunku masuk ke kamar kos dan menuju dapur mini.

Tak bisa menolak, aku pun menemaninya makan. Bincang berlanjut. Gladys kemudian menceritakan alasannya putus dengan pacarnya yang polisi.

"Namanya Faisal. Dia anggota tim Gagak juga. Tapi semalam dia tidak ikut razia."

Sebenarnya, sebelum hubungan mereka putus sebulan yang lalu, ketika datang giliran razia, kos-kosan mereka dipastikan aman. Gladys juga tidak berani menuding, bahwa setelah putus dengan Faisal kemudian kos-kosan mereka jadi target razia.

"Aneh ya. Di tempat umum dilarang. Setelah mengurung di dalam kamar kos, tetap saja digeruduk. Mau mereka apa sih!" gerutunya.

"Oh, ya, jika kau tidak suka ditelepon polisi tadi, kenapa memberinya nomor handphone?"

"Aku pikir mungkin dia bisa dimanfaatkan jika kami dirazia lagi."

"Tapi penolakanmu tadi, awal yang buruk untuk sebuah niat agar bisa memanfaatkannya."

Gladys bergumam. Kemudian paha ayam goreng dicabik-cabiknya dengan garpu. Sambil mengunyah, matanya seperti sedang menyusun kata demi kata. Ada segelembung pikir di atas kepalanya.

"Ah, gampang. Tinggal kirim emoticon senyum lewat pesan singkat, pasti direspon. Ya, pokoknya buat jaga-jaga saja."

"Kau nyaman tinggal di Kotamobagu?" aku melontarkan pertanyaan yang membuka celah untuknya. Dia sepertinya tengah tersudut.

"Nyaman apaan. Ruang seprivasi kamar kos saja diterobos. Bahkan isi kulkas pun digeledah. Sekalian saja lubang kloset diobok-obok pakai tangan."

Gladys mengaku sudah jemu tinggal di Kotamobagu. Pulang dari kampus sedang capek-capeknya, tiba-tiba didatangi dan ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Penghuni kos-kosan lainnya adalah pekerja kantoran dan mereka juga acap kali mengeluh.

Beberapa tahun belakangan razia masih sepi. Tapi akhir-akhir ini jadi seperti sedang kedatangan rombongan jamaah tabligh di satu wilayah. Hampir setiap hari pintu diketuk. Urusan iman dan moral personal pun ingin mereka gagahi.

"Itu ada juga yang dari Satpol PP. Sok-sok jadi superhero kepagian!"

"Tim Tuturuga namanya. Bakal menyusul tim Pokpok." Seketika tawa kami lepas, yang sekejap mengundang teguran dari kamar sebelah.

"Gladys! Mau dirazia lagi?" teriak tetangga kamar.

Gladys melempar pandang ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Melihat tingkahnya, aku lantas pamitan setelah berterima-kasih atas jamuan makan malamnya.

"Makasih juga ya. Kau semakin menebalkan dendamku. Atau, lebih tepat niatku untuk menjadi jurnalis," ucap Gladys.

"Tapi kalau mau jadi jurnalis, pasti bakal menetap di Kotamobagu. Katamu sudah tidak nyaman di sini?"

"Ah, rasa kesalku bukan untuk kota ini."

"Untuk siapa?"

"Untuk mereka yang juga kau benci!"

"Asal jangan dendam sama mantan." Kami tertawa lagi. Tapi setelah membekap mulut. Takut dibentak sama penghuni kamar sebelah.

Setelah pamit, aku ditemaninya sampai ke depan pagar kos-kosan. Senyum manisnya terakhir kali terekam di wajah. Kemudian suara motorku menderu, dengan hati yang menggebu-gebu.

Saat perjalanan pulang, aku masih berpas-pasan dengan beberapa anggota Satpol PP di sebuah taman kota. Wajah mereka tampak garang. Terlalu serius dengan pekerjaan mereka. Aku mampir lalu mengeluarkan kamera dari dalam ransel. Kilatan lampu kameraku mengundang perhatian mereka. Aku memang sedang memotret untuk mengundang perhatian mereka. Tahu aksi mereka sedang dipotret, tiba-tiba salah satu anggota Satpol PP dengan gesit melompat ke dalam taman. Seperti Batman yang sedang memergoki Joker. Kemudian terdengar bentakan.

"Bikin apa kalian di sini?" bentaknya kepada kerumunan remaja di taman.

Aku coba mendekati satu personil baret cokelat itu, "Maaf, aku wartawan. Bisa minta komentar tentang razia malam ini?"

"Oh, bisa, bisa."

"Sebenarnya fungsi taman kota ini apa?" aku melempar pertanyaan yang sebenarnya, aku pun tidak berniat membuat berita soal razia itu.

"Hmm... Untuk... Untuk kumpul-kumpul. Juga untuk bersantai."

"Bagaimana rasanya jika sedang asyik menikmati suasana malam Kotamobagu, terus dirazia?"

"Kalau tidak miras, ya, biasa saja. Pokoknya yang kedapatan miras di tempat umum, pasti diangkut,"

"Kalau mereka yang miras di kos-kosan?"

Dia seperti kura-kura yang, perlahan-lahan memasukkan kepala ke dalam cangkang. Saya lantas pergi meninggalkannya.

Saat perjalanan menuju kos, aku mampir ke warung untuk membeli sebungkus rokok. Tiba-tiba suara knalpot meraung di jalanan. Sebuah sepeda motor melaju kencang, oleng, dan menabrak pembatas jalan. Sepeda motornya terhempas dan menggaruki aspal jalan yang, menyebabkan kilatan serupa kembang api. Tubuh pengendara motor terhempas jauh, lalu mendarat di depan pelataran sebuah toko. Helm pengaman retak dan lepas dari kepalanya. Darah menggenang. Tubuhnya diam.

Orang-orang berlarian. Tampak sebagian dari mereka merogoh ponsel dari saku. Lalu siaga memotret. Mereka terlihat berlomba-lomba melakukan itu.

Wartawan-wartawan satu per satu berdatangan. Mereka memang berkelebat cepat kalau ada peristiwa seperti ini. Apa yang berdarah-darah dan berlendir, pasti disukai pembaca. Rating. Sedangkan aku sibuk mencari mobil di jalanan, untuk mengangkut korban menuju rumah sakit.

"Mati?"

Aku coba mengejar arah suara itu, yang ternyata semburat dari mulut seorang wartawan. Namanya Jeki. Dia tampak sibuk memotret.

Tubuh korban terlihat seperti lampu disko. Lampu-lampu kamera berkedap-kedip tanpa henti. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolong korban.  Atau barangkali mereka takut darah tapi bisa dengan cekatan memotret dan membaginya ke media sosial.

Berhasil mencegat mobil yang bersedia mengangkut korban, aku dibantu dua orang warga dan satu wartawan yang tergerak hatinya, segera mengangkat tubuh korban ke dalam mobil. Tubuhnya hangat dan bergerak. Napasnya seperti mendengkur. Tak lama, beberapa personil polisi berdatangan.

Dan tiba-tiba kami dikagetkan suara teriakan. Sumber suara dari perempuan beruban yang adalah ibu korban. Seseorang yang mengenali korban mengabari orangtuanya. Ternyata jarak rumah korban dan tempat kejadian tidak begitu jauh. Sekarang, giliran ibu korban yang bermandikan kilatan-kilatan lampu kamera.

"Kalian tidak punya otak? Anakku keadaannya sudah begini mau kalian foto-foto terus disebar? Coba kejadian ini menimpa saudara kalian? Dasaaarrr! Biadab!" Ibu itu berlumuran darah anaknya. Kemudian sopir mobil coba menenangkan ibu itu, lalu mengajaknya menemani anaknya ke rumah sakit terdekat.

Beberapa wartawan pergi mengejar korban ke rumah sakit. Unit gawat darurat telah dipenuhi wartawan dan keluarga korban. Kondisi ibu korban masih terlihat syok. Seorang wartawan memberanikan diri mendekati ibu korban. Berharap bisa mewawancarainya.

"Maaf ibu. Bisa tahu nama ibu?"

Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak!


(Bersambung)