Saturday, May 30, 2015

Bolmut Nan Imut

Hampir sebulan bertugas di Bolmut. Sekawanan awak media yang sebagiannya adalah karib, begitu ramah di setiap jumpa. Mereka  memperkenalkanku kepada si anu, si itu, dan si ini. Bolmut memang ramah, setulus dan seikhlas mamak angkatku (Mama Rendi).

Pijak pertama di Lapangan Kembar Boroko, Rendi wartawan media InfoBMR, kawannya Ebet yang juga adiknya Cakra si pemilik media yang menaungi Rendi, menjemputku di sudut lapangan. Ulur telapak kanan, mengenalkanku dengan keluarganya. Di sini, mamak Rendi adalah mamak angkatku. Bukan hanya masakannya yang enak, tapi tegur dan tawaran untuk makan, yang selalu membikinku berpikir, entah apa yang bisa membalas laku mereka.

Ikang puti. Wow! Itu lauk kesukaanku. Jikalau perang dunia berikutnya pecah, maka masakan mamak angkatlah yang akan kuselamatkan terlebih dahulu. Keluarga ini begitu santun. Ada si Rendi dan istrinya Ade. Ada anak mereka si Rein yang nama kecilnya Bibo. Ada anak indekos si Octav wartawan media online Berita Totabuan. Dan ada pula si Jana yang sesekali suka menawarkan kue.

Di Bolmut, ada begitu banyak kebaikan. Kawan-kawanku di Kotamobagu satu persatu menyembul. Di dinas-dinas yang kukunjungi, beberapa kawan lama duduk di balik meja, lalu heran berbinar di bola mata saat jumpa.

Inilah Bolmut, yang ditungkudi Bupati Depri Pontoh. Putra bupati, si Adit, juga pernah sebangku denganku, kala gelak tawa yang silam tersulam di Manado. Moi, istrinya Adit pun adalah kawan. Dunia memang kecil, apalagi hanya sepeta BMR. Wajah-wajah familiar berserakan tinggal saling mengernyit kening, mengingat.

Negeri Utara ini, bagiku adalah dunia baru. Kerja sebagai wartawan Radar Bolmong, nongkrong di kantor — mabes (markas besar) — memang melelahkan. Kami dikejar deadline, lalu pulang saat etalase finishing. Tapi di sini, usai mengirim berita — menyelesaikan tugas negara — maka leput mana yang mau kau tongkrongi, sembari memutar gelas kecut, lalu kenal sana-sini dengan jabat dan eja nama.

*

Bolmut nan imut. Kabupaten yang sedang merekah ini, masih perawan yang perlu dilirik dan dipandes investor. Pantainya begitu indah, saat kusaksikan melalui foto-foto buklet. Pantainya memang belum pernah kukunjungi, tapi potensi pariwisata di sini, bisa dibilang bakal gemilang. Ada sebut pantai di sini indah memang. Pantai dulang, pinagut, pulau bongkil, aer blanda, tanjung sidupa, dan entah apalagi sebut mereka. Semoga juga, nama pantai yang baru kuderetkan itu benar ejaannya.

Apalagi wisata puncak bohabak, dengan padang ilalang merunduk diterpa angin, menanti sentuhan para wisatawan. Indah. Beberapa pekan lalu, perancang busana batik Boroko, Yuku Moko, yang kujumpai di media sosial membuatku makin tertarik dengan negeri ini. Karyanya mendunia hingga ke Eropa dan Timur Tengah. Sempat kuwawancarai dan cetak di catatan kaki. Yuku adalah kakek usia 63 tahun, yang saking kecintaannya dengan negeri Bolmut asal kedua orang tuanya, ikan dijadikannya icon batik Boroko.

Selain itu, nama penulis Coen Pontoh lama mendengung di telinga. Coen dan kawan-kawannya yang suka mengganyang ketimpangan di negeri ini, dengan tulisan-tulisan kritis di Indoprogress.com. Atau karya hebat Coen berupa artikel "Konflik Nan Tak Kunjung Padam" pada buku Jurnalisme Sastrawi, yang bisa Anda bacai di sini: http://chasani.blogspot.com/2005/03/konflik-tak-kunjung-padam.html?m=1. Salah satu artikel terbaik.

Ah, Bolmut, banyak yang lebih di sini. Bahkan sebulan pun, bibirmu belum kukecup. Aroma pun baru bisa kuendus. Semerbak dalam kecibak pun (meminjam istilah si botak Uwin), masih kutimang dan kupilah. Ada banyak yang indah di sini, meski sebenarnya masih serupa misteri para Raja yang purba. Mistik lokal sesekali terumbar. Kisah-kisah heroik pun menebal di udara malam.

Bolmut nan imut. Yang semoga konflik nan tak kunjung padam pun segera usai. Politik penuh intrik, memantik api di sana sini, semoga bisa disadari sebagai tarung menuju Bolmut yang makin imut, dan dikerumuni para pencubit pipi.

Thursday, May 21, 2015

Titip Duka Kami untuk Bagus

Ibunya perempuan tangguh. Kami akrab menyapanya Lince. Putranya adalah bocah hitam legam. Usianya masih lima tahun, saat kutemui lincah berlari di tanah lapang Elang Taruna Eropassi. Matahari mengguyur tubuh mungilnya hingga keringat mengucur. Bagus namanya.

Kemudian, rumah tangga Lince di ambang perceraian, yang membikin Bagus bimbang. Mau ikut ayah atau ibu. Namun kasih ibu menerangi jalan yang ia tapaki. Lince membesarkannya penuh cinta setelah perceraian.

Meski kami tengah berserak tawa dan mengunyah embun malam di bawah pohon tome-tome, Lince melesat cepat menuju rumah saat Bagus menangis dan mencarinya. Kemudian Bagus besar di Eropassi dengan gigi putih bersih.

"Biar saki, tetap musti gosok gigi," tutur Lince, saat aku berkesempatan mengunjungi Bagus yang, tengah dirawat di rumah sakit, beberapa bulan yang lalu. HB-nya sangat rendah. Wajah hitamnya memucat. Tapi senyum dan deretan gigi putih, masih di sana.

Kabar meninggalnya Bagus, kubacai di status BBM yang menumpuk. Inalillahi, dada kutepuk-tepuk. Jauh di Bolmut, tak sempat bersua tangis dengan ibundanya.

Tak disangka, Bagus yang tumbuh besar dengan fisik yang tampak setangguh ibunya, begitu cepat berpulang. Tubuhnya yang atletis sebab Bagus gemar berolahraga, kini terbujur. Sepakbola adalah masa depannya. Ia begitu gesit berlari menjemput bola, saat laga tarung antar desa atau sekolah, yang ia ikuti. Bagus kerap menjuarai beberapa lomba.

"Pokoknya main bola sampe di Jakarta sana," terang kilatan mata Lince saat itu.

Harap itu karam di hari Kamis yang penuh tangis. Foto-foto hanya bisa kupandangi di facebook dan BBM. Lince yang tangguh kini luluh lantak.

Matanya bengkak dan.... Ah, aku tahu seperti apa Lince meluapkan sedihnya. Meski masih memiliki putra kedua, di pernikahannya yang kedua, Duta masih begitu belia. Sedangkan Bagus adalah guardian-nya. Masih menunggu lama, untuk Duta tumbuh remaja. Kedua putranya ini berdarah Jawa, dari dua bapak yang berbeda. Tapi lahir dari satu perempuan yang telah mencecap ribuan luka, suka, dan duka, yang telah mengelilingi Nusantara.

Turut berduka cita dari kami Eropassi. Kami tahu sebesar apa sedihmu Lince. Namun kami pun tahu, setangguh apa dirimu. Bagus hanya sedang ingin berkunjung, atas undangan Tuhan, yang ingin menyaksikan kelihaiannya memainkan bola.

Kelak, saat Tuhan memanggil kita yang semoga saja di usia senja, piala-piala Bagus sedang berderet serapi giginya, menunggu kamu — Lince — si perempuan tangguh. Lalu silakan berpelukan menebus rindu. Sebab kita pun akan begitu.

Titip duka kami, yang tak sempat hadir pada pemakaman. Besarkan Duta menjadi Bagus yang kedua.

Saturday, May 9, 2015

Telunjuk Si Penuduh Santet

Saya seakan ingin tunduk, lalu menciumi telapak kaki ibu, kala mengingat tutur kisah tentang berpulangnya kakak perempuan Irmawaty Galuwo, saat saya di usai sekolah dasar, di tahun yang purba. Keping-keping kisah tak lagi jelas di ingatan, sebab cerita ini begitu personal dalam keluarga. Ibu pernah bertutur, kakak Ir meninggal karena disantet! Bahkan, cerita mahluk halus yang menampakkan diri di rumah usai kakak berpulang, berdengung ramai.
Iya, kakak meninggal tak wajar, sebab seluruh organ tubuhnya hancur dan menghitam. Kakak saya ini cantik, bentuk rupanya dipinjami wajah Sigi, dengan dagu meruncing serupa stalagtit mau memacak ke bumi. Binar matanya cerlang, dengan rambut keriting memahkotai. Dan ia meninggal di usia 20 tahun.
Ibu dendam tentunya. Ahli spiritual segala kutub dikejar dengan harap, agar dendam terbalas. Namun akhirnya, ibu ikhlas dan serah luruh ke hadirat. Nama si tukang santet dikantongi, tapi ibu mengucap, biarkan saja, mungkin sudah jalan kakakmu berpulang dengan kematian seperti itu.
Dari sinilah, menyoal santet selalu mengundang tanya dan sebuah hal yang irasional bagi saya. Kenapa begitu? Kenapa begini? Ah, kenapa bisa? Dan serentetan tanya, yang membikin saya menyimpul, persetan dengan itu, sebab tak masuk akal. Supranatural, yang gaib, yang transenden, memang selalu mencipta tanya. Hingga pada Sabtu (9/5) kemarin, berjejal gambar di BBM, terkait pembunuhan sadis di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kotamobagu. Si A menuding si B menyantet keluarganya, lalu si A memenggal kepala, jemari, dan melampiaskan kira di sekujur tubuh korban berkemeja kotak-kotak. Kepala lepas tanpa dialog kenapa begini dan begitu. Foto-foto segar pun tersebar sepersekian detik.
Usai memenggal, kepala si B dijinjing si A dengan rasa yang entah seperti apa. Mungkin saja dengan ucap; saya pembunuh sadis, saya emosi, saya mengadili, saya habis kesabaran, saya ingin membunuh! Dan entah apalagi yang sedang dirasa si A.
Korban dan si penjagal warga yang sama, dan mungkin saja pernah sederet kursi dengan kelakar akrab. Tapi kita tak pernah tahu, apa gundah yang merasuk ke relung si A, meski asupan gizi tayangan Tv kita yang berbau supranatural, atau pun segala yang gaib, jelas tentu bukan menjadi dasar pijak pikir, apa yang membuat si A itu begitu tega. Nekat tak selalu soal tontonan. See and do. Ia hadir begitu saja, mengira, lalu menghukum. Nekat itu begitu absurd.
Tentu saja, pembunuhan ini bukan terinspirasi tayangan hukuman pancung ISIS kepada sejumlah wartawan asing, atau hukuman penggal di Arab. Pun hukuman mati di Nusakambangan yang, bisa diselancari pemberitaannya di ponsel Mito, dengan begitu cepat. Jelas ada alasan yang menjadi sebab, lalu berkatalis dan segera memuncak jaya dengan kesimpulan, saya harus membunuhnya.
Apa yang dialami si A, apapun itu, jelas ia lebih mafhum, meski kita berhak menduga.
Sama seperti saat ibu bertutur tentang kakak, saya pun menduga benar lalu berniat dengan segala imajinasi superhero; saya ingin membalas dendam, serupa film superhero dan bollywood dengan segala ketertindasan. Tapi kali ini, apa yang dipikir si A yang kekar dan botak itu tak pernah bisa kita duga. Pembaca pun mungkin pernah merasa, kerabat atau siapa saja yang pernah disantet, lalu iba. Namun pembuktian selalu menjadi kendala, sebab ini adalah tentang yang jauh dari logika, pun jelas jauh dari pembuktian yang bisa diindrai.
Sekadar sebagai penimbang; kakak kandung saya perutnya membuncit. Saat ke rumah sakit, penyakitnya sukar didiagnosis. Saya memilih ke dukun, lalu kata dukun kakak saya disantet. Sebab rasa sayang terhadap kakak, saya pun sepakat lalu menghukum si penyantet.
Apakah alasan ini bisa diterima?
Dalam sidang yang kerap saya ikuti. Logika dijunjung tinggi. Apapun yang tak rasional ditelisik lalu disanggah dengan jawab yang, tentu saja rasionalitas diutamakan.
Turut berduka untuk keluarga yang ditinggalkan. Turut prihatin atas apa yang dilakukan si A dengan begitu tak manusiawi, meski hukuman untuknya tentu saja tak harus mati pula. Saya tak bisa dengan jelas merentang soal santet, meski penyakit yang sukar itu kerap tertukar dengan canda.
Satu mungkin yang bisa kita renungi di sini, bahwa yang sedang mengasuh iblis, jelas bukan si tertuduh. Tapi si penuduh dengan telunjuk yang, seharusnya ia arahkan tepat ke dahinya sendiri.

Friday, May 8, 2015

Cepat Sembuh Ses

BENRADABEN!!! Begitu salam Om Nal, orang yang diklaim geger otak dan menjadi gila, sebab popor senjata yang menghantam batok kepalanya, di waktu yang lampau, entah karena salah apa. Inilah Bolmut, dengan kisah tragis dan kelucuan Om Nal, kala pertama-mula saya bertugas di sini sebagai biro Bolmut. Om Nal suka bicara yang tak nyambung. Ia sehari-hari lampaui durasi giat para pewarta mengunjungi kantor-kantor. Pokoknya, Om Nal itu BENRADABEN!!
Saya di Bolmut, sebab tugas dari media Radar Bolmong kepada saya yang, kata Uwin terlalu suka meringkuk di balik sarung mendiang ayah saya, yang serupa kantung kangguru. Kalimat itu melesat dari balik botak Uwin dan benjolan sastra di dahinya yang serupa benjolan di dahi dolphin, saat saya, Sigidad, Atol, 83, Yakuza, dan entah julukan apalagi, tengah merayakan ultah April kemarin. Sebuah tafsiran dari berbagai tafsiran dalam tulisannya, tentang saya yang gemar mengucap kalimat, "Jangan pernah dewasa."
Jumat tadi, sahabat saya Shandri sedang merayakan ultah. Ucapan yang sama saya utarakan, "Jangan pernah dewasa."
Iya, jangan pernah dewasa, sebab masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban. Sifat innocence bocah, kepolosan yang selalu menjadi bara yang menguapkan keingintahuan pada pikir mereka. Coba kita melempar pandang pada cahaya bulan malam ini, pada gemintang dan benda-benda yang menggantung di angkasa. Kita sudah merasa terbiasa, sementara bocah selalu ingin tahu, apa itu bidang hitam di angkasa, pijar bintang, pucat purnama, atau arak-arakan halimun. Iya, jangan pernah dewasa kawan, agar kalian selalu merasa ingin tahu.
Malam kemarin, saat tengah berserak gemintang dan botol bir di undangan miras salah satu teman saya, di belahan 'benua' lain tepatnya di Eropassi (julukan Desa Passi); Katz julukan buat Uwin, Ses Rulli, dan kawan-kawan lain pun tengah berpesta kecut. Katz mengirim BBM, ada tulisan dari Ses Rulli, buat saya dan Darwa (Dani). Tulisan itu pun berkesempatan bersilahturahim barusan. Kubacai dan gelak tawa meledak serupa mercon, lalu membedaki langit malam Lapangan Kembar Boroko.
Ses Rulli dan cita-citanya. Ha-ha-ha-ha...
Saya tak ingin lagi ulas-oles tentang rentetan cita-citanya, yang mau jadi aktivis, atau misalnya babulang manuk dan pemabuk mamuig-mamuntag. Saya ingin dengan segera membahas julukan Ses, yang pertama kali diutarakan kawan saya Darwa, sejak Rulli asyik mencermati kusta, TBC, ola'ap, gatal-gatal, di balik bangku kuliah Akademi Keperawatan Manado, eh, Totabuan (entar kena bully lagi).
Oh, Ses, Ses.... kamu tahu kawan, mungkin beda titik koordinat antara Atol, Darwa, dan Ses, yang hidup dan besar di lingkungan Eropassi atas dan kamu di pertengahan. Kami yang di atas sudah terbiasa dengan julukan, tak lagi alergi, seperti Ses yang sekarang tengah mengidap penyakit alergi julukan. Noi kompit kai nami in tangoi, sejak paman Kupit julukan buat Ading menyematkan Darwa ke Dani, Eding dan kawan-kawan menamai saya Atol, Katz (Ketua) dan KPA Bomlest me-mintahang-kan 83, sebutan Bulog (sogili) dan Laji kepada Yunus, atau Adan kepada Anto', Sukro kepada Ewin yang bertransformasi menjadi Bedew (karena kecipratan air liur-ewe'-gidi-gidi), Pqmz kepada Eding, Badut dan Andol kepada Ardi. Juga ada julukan Pinggo', Pinky, dan Pinggirli kepada manusia kekar Ping (ha-ha-ha), Pluri kepada Didin yang karena kebiasaannya bertutur dengan kecepatan melebihi Paman Ocing (Rossi). Pluri disematkan saat Didin asyik main Counter Strike di Play Station,  dengan kecepatan verbalnya, kotak, kotak, untuk reload pluru, menjadi takkatak pluri. Didin yang, bahkan jalan rusak disingkatnya menjadi JRX!. Masih ada lagi julukan Kartolo kepada Karta, Haye untuk Rizki, dan siapa lagi yang belum saya sebut ya? Oh, ada si Ferri yang hitam legamnya membikin ia dipanggil Ale (bukan rasis ya, Ale pun gak merasa gitu). Ada pula Kiki yang dinamai Ji'i karena kelincahannya monalok kon manuk i tete naton komintan. Toput untuk Opan, Pulut buat Awi, dan ah, masih banyak lagi label akrab lainnya. Dan, kami senang....
Oh, ya, hampir lupa, Darwa nitip nih, kata Darwa mongenggeng, "Takdir bukan hukuman, tapi pilihan," ha-ha-ha-ha...
Darwa memang kawan penuh lelucon.
Oh Ses, meski julukan itu adalah kesengajaan yang diucap Darwa, namun di balik itu ada persekawanan yang, yang, yang, sangat luhur.
Label yang membuat kami anak-anak pertigaan merasa akrab, dan menjauhkan kami dari tafsir-tafsir bisik yang berbias mengira. Kami secara gagap dan sepakat, menamai Ses, karena kamu sudah menjadi bagian dari anak-anak pertigaan, biar abad-abad pertengahan, bisa memanjat jauh meninggi menuju yang atas. Tapi sebelum ke atas, Ses memang telah disaring dengan ejek-ejekan khas Darwa. Dua kerabat yang cukup 'akur'.
Semoga, kamu tak lagi alergi. Sebab sungguh aneh, jika Ses tak bisa mengobati penyakit yang sekelas CTM pun bisa memulihkannya. Biar lidah tak lagi terjulur serupa lidah penjahat kelamin, atau petinju yang kena jotos. BBM-mu semalam Ses, yang bilang selamat menikmati Bolmut dengan kesunyiannya. Lalu kubalasi, bahwa yang ramai bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam diri kita-internal-dengan mencipta riuh itu sendiri. Mungkin juga, Bolmut yang pernah kau rasai sebagai hukuman, kurasai seperti sebuah sorga, sebab apapun tentang pesisir pantai, gemuruh ombak selalu berbisik, "Semoga cepat sembuh ya Ses, salam dari Negeri Utara."

Monday, May 4, 2015

For Adew Mahasiswa from Kakaw Wartawan

Waduh, salut buat adew Febri. Bakat menulisnya memang ada, sejak saya sebagai admin blog Saung Laung Arus Balik, kerap dikiriminya tulisan. Isu-isu sosial budaya di Bolmong diulas cukup segar, enak dibaca pula.

Tak berapa lama, tulisan Febri (http://pondulakmongondow.blogspot.com/2015/04/galau-galau-wartawan-bolmong.html?m=1) bertengger di ruang chat saya. Waw! judulnya Galau-galau Wartawan Bolmong.

Hmm... karena saya wartawan di salah satu media di Bolmong, saya pun tertarik membacanya. Apalagi, judulnya mengenai kegalauan seorang wartawan, carut-marut, dan gundah gelisah menyesak di tenggorokan. Lantas wartawan itu bermonolog di sosial media (sosmed) dengah suara parau, sehabis menangis semalaman, inenggeng i galau na'a, lalu terciptalah dialog — curhat — ke adew Febri.

Oh, ternyata buntut dari kontrak berita pemerintah kabupaten (Pemkab), hingga berderetlah kalimat yang cukup puitis, "Belenggu itu bernama kontrak pencitraan." Oleh sebab kontrak Pemkab, akhirnya independensi wartawan dipertanyakan. Wartawan tak lagi bebas menguliti, mencerca, menerabas, me... me... meee apalagi ya?

Nah, buat adew Febri yang lagi menuntut ilmu di Makassar. Cukup elok perhatian adew kepada kakaw-kakaw wartawan di Mongondow. Betapa membikin terharu sehingga jangan heran, kalau kakaw-kakaw wartawan yang tengah ngopi di Jarod dan Korot, atau yang sedang berjibaku dengan deadline di kantor, tiba-tiba terlonjak dari kursi, saat menyimak paragraf demi paragraf tulisan.

Namun sebaiknya, ada satu yang lebih dulu adew pelajari dengan lebih matang, kalau perlu adew telanlah pil tuntas sekalian. Agar niat adew tak cumak jadi bahan lelucon kakaw-kakaw wartawan di sini yang, adew tahu, paling jago ba ajar, ba bully, deng ba poleke.

Nah, supaya niat baik tak jadi bahan bully, maka adew disarankan:

1. Adew buka KUBI atau KBBI dan lihat apa arti KONTRAK.
2. Adew cari tahu apa arti IKLAN dan BERITA.
3. Adew sedang bermain yongkit tulu', kalau untuk urusan tiga kata itu belum di atas meja hijau, tapi nekat merangsek ke ranah "penghakiman" kepada kakaw-kakaw. Nanti kena ketok palu hakim bully lagi.

Adew tahu, media dikontrak bukan berarti lidah wartawan menjulur seperti anjing, terus menjilati bokong si pejabat A dan si pejabat B. Ah, pokoknya adew kudu ke rumah kopi nanti kalau sudah mudik ke Kotamobagu. Silakan wawancara kakaw-kakaw, sebelum dibully.

Adew tahu kan? bully di Mongondow sepertinya lebih kejam dari eksekusi mati, apalagi ibu tiri. Ari Hanggara pun, enggan di-bully orang Mongondow. Ratapan Anak Tiri, akan menjelma judul jadi Ratapan Anak Bully. Di sini. Iya, di sini. Oh, sudahlah, adew juga tidak kenal Ari Hanggara. Filmnya masih zaman kakaw-kakaw.

Lalu soal standar kompetensi wartawan, adew sudah bacai semua berita mentah kakaw-kakaw di sini? Waduh, pasti jauh lebih bagus adew menulis yah? Nah, coba melamar jadi wartawan usai kuliah yah, biar adew bisa ikut berenang dan menyelam di samudera asin, tinimbang berasyik-masyuk dengan ketipak-ketipuk air di wahana pemandian, lalu menuding percik sana-sini.

Kakaw bilang, ada yang mo dapa pangge ka biru ini tante!Ada yang mo oleng ini tante!

Terus, soal media abal-abal. Coba adew deret dengan begitu rapi, nama-nama media itu, serapi dereten pagar level tujuh di Clash of Clan (CoC) yang suka adew mainkan. Juga teman adew itu, bisa berkenalan dengannya? apalagi semua wartawan di Bolmong kan, serupa kepompong kata Sindentosca. Alangkah superhero-nya dia, jika menuliskan kegundahan hatinya itu sendiri. Atau sudahlah, temanmu itu mungkin hanya ingin menjadi ghost writer.

Namun, satu saran dari adew kepadanya, alangkah lebih elok jika tidak ia terima, soal berhenti saja dari media tempat ia mengais gold, elixir, dan dark elix. Sebab nanti, dengan apalagi ia meng-upgrade wizard tower-nya? membeli air sweeper, mengecat pagar hingga berapi-api. Karena tanpa kontrak, iklan, dan berita itu, CoC-nya mungkin tak akan sampai Town hall level 9. Atau barbarian king dan archer queen-nya tak sampai memakai toga. He-he-he....

Begini dulu ya adew tersayang, kalau sudah matang mengartikan kata KONTRAK, IKLAN, dan BERITA, adew menulis lagi yah. Kakaw-kakaw wartawan ingin membaca lagi, apa yang menggelinjang dalam dada temanmu itu. Si wartawan pula.

Friday, May 1, 2015

Humanisme Pemabuk

Hampir sepertiga malam, yang di mana katanya Tuhan akan turun ke bumi, dengan kaki kiri di timur sedang yang kanan di barat. Tuhan enyah dari
Arsy lalu turun nikmati bumi. Hadits sahih dari beberapa perawi jelas
sepakat, Tuhan sedang di sepertiga malam akhir.
Nyiiiitt! Nyiiittt!
Nada BBM berbunyi. Suaranya mirip robot. Kawanku mengirim pesan, agar
aku ke Eropassi (sebutan untuk Desa Passi). Bakar-bakaran daging ayam
dijadikan senjata pamungkas, hingga liur tak kuasa menolak.
Brummm!! Brummm!! Eropassi.
Sepuluh menit berlalu, laju motor sampailah sudah. Di teras rumah
kawanku, meja dilingkari kursi. Lima singgasana bagi para pemabuk
disiapkan, satu yang kosong untukku. Empat kawanku sedari tadi menunggu dengan serakan botol bir bintang. Cerek bening menunggu pula
dengan gelas kristal. Di dalamnya cap tikus dan bir beradu sisakan buih. Di piring, paha ayam bakar siap dicubit. Kemudian aku melarut seperti garam jatuh ke samudera. Kami berlima adalah; dua kawan sekampung, sedang yang dua lagi kawan dari desa tetangga, tapi kukenal akrab. Ayam bakar ditawarkan seperti aku ditunggu sedari tadi, dan paha nan pedas itu hanya untukku. Segelas kusesap, lalu kubenamkan kuku di empuk daging.
Diibaratkan, aku sedang di terminal Bonawang, lalu mereka berempat sudah di Desa Poigar menuju kerlap metropolitan. Mereka mabuk. Aku baru mau mabuk.
Bicara pun mengalir. Aku bertutur saat perjalanan dari Sinindian ke
Eropassi, seorang pencuri ayam (diduga) sedang merangkul dua ekor. Lelaki itu berjalan menyusuri gulita dan lampu motorku menerangi pijaknya yang sempoyongan. Pencuri itu mabuk juga dan berlakon seperti dua ekor ayam itu kesayangannya. Aktingnya kurang bagus untuk disimak Tuhan yang sedang mampir ke bumi.
Beberapa jeda, cerita menuju Nusakambangan. Kawan seberang kampung si penjual cap tikus mengawali. Disambutlah dengan argumen-argumen yang membuat dahi mengernyit, namun ditumisi humor. Jadilah diskusi nan lezat.
(Kutulis dengan bahasa lokal, sebab mungkin pembacanya pun kita-kita yang lokal)
Yadi (Bintau): "So jadi bunung pa dorang tu narkoba?"
Riki (Passi): "Sudah so caw. So tewas le dorang lapan!"
Wandi (Bintau): "Kasiang kang."
Ewin (Passi): "Mar Mary Jane ndak jadi."
Wandi: "Iyo dia memang cuma ada jebak kata."
Apa yang mereka bicarakan, masih seperti merempah bebek dan
bumbu-bumbu sedang disiapkan.
Yadi: "Kita ndak stuju deng hukuman mati. Kasiang orang itue."
Wandi: "Sedang ayam torang piara sayang mo ba potong."
Dan baru kusadari, daging ayam yang kucicipi, rasanya ber-deja vu. Ternyata benar, paha itu dibeli di Bobara Bakar.
Riki: "Sedang kita pe kucing tiga hari ndak pulang, kita so was-was, apalagi mo bunung. Kita pe toti' kesayangan itu."
Ewin yang diduga kelelahan seharian di kantor cabang Bank BRI, hanya diam dan menunduk. Lelah dan mabuk berpadu, iya, mungkin dia lelah. Jadi ingat dengan istilah mungkin dia lelah yang kalau bisa diklaim, awalnya istilah itu dari si Mita, sepupu Sandri. Saat nginap di rumah Mita di Manado, kucing Anggora peliharaannya tidur-tiduran di bawah meja makan. Saat dipanggil, kucing itu hanya diam, lalu terlontarlah kalimat mungkin dia lelah dari ucap Mita. Sandri pun membuat status di BBM, begitu juga denganku. Lalu mungkin dia lelah ngetop, ha-ha-ha-ha. Bisa jadi itu awal mulanya.
Yadi: "Mar memang kiapa musti ada hukuman mati e?"
Wandi: "Iyo no, padahal cuma Tuhan boleh ambe torang pe nyawa."
Cerita berlanjut, menerabas sisi humanisme.
Riki: "Mar itu Brimob yang ba tembak, dorang lagi barasa bagimana sto itu kang?"
Yadi: "Ada kita pe tamang dulu Brimob pernah taiko ba eksekusi bagitu. Siksa no dia bilang, ada beban. Bukang mo ba tembak babi utang ini."
Wandi: "Mar dari dua puluh ja ba tembak, cuma satu yang ada pluru kang?"
Yadi: "Iyo no, jadi dorang ndak rasa bersalah, dari nintau sapa pe senjata yang ada pluru."
Sejenak aku berpikir. Mungkin kah demikian prosedurnya? 
Google menjawab; misalnya dari 12 polisi yang mengeksekusi, semuanya
akan diberi senapan laras panjang. Namun hanya ada 3 senapan yang
berisi peluru, 9 lainnya kosong. Tepat untuk pertanyaanya si Wandi,
hanya satu atau beberapa senapan yang diisi peluru. Itu seperti jawab Yadi (tanpa melihat Google), bahwa menghindari kondisi psikologis eksekutor dari rasa bersalah. Senapan pun diambil secara acak. Terpidana memakai pakaian putih, dengan tanda sasaran bidik di dada. Jaraknya sekira lima meter atau sepuluh meter.
Setelah dijelaskan, diskusi mengalir lagi.
Yadi: "Mar yang siksa, kalo ndak mati kong ada satu yang mo ba tembak 
terakhir di kening."
Riki: "Pemar yang ja ba tembak itu samua jago. Jadi kalo ndak mati,
patut dipertanyakan deng mungkin dapa sanksi."
Wandi: "Tetap mati itu, di dada no. So biasa batera burung dorang."
Ewin mengambil cerek lalu mengguyur basah isi gelas, yang sedari tadi sisa busanya telah meletas dan kering. Gluk, gluk, gluk.
Ewin: "Kase abis jo, sadiki le kita so mo pulang, so manganto."
Aku: "Sadiki le, libur kwa besok, tanggal merah."
Ewin: "Iyo mar mata le so merah, kong mata ndak libur."
Ha-ha-ha-ha....
Yadi: "Intinya nimbole tu hukuman mati."
Wandi: "So sampe di unti ni cirita. Kukis sto. Mar masih brapa negara sto kang yang jaga pake hukuman mati?
Riki: "Di timur tengah masih banyak."
Yadi: "Iyo di Arab jaga penggal le dang."
Wandi: "Di Iran jaga gantong."
Tiba-tiba lampu padam.
Yadi: "Huh! bukang main ni PLN. Samantara ba cirita hukuman mati, lampu pi mati."
Wandi: "Marijo somo pulang."
Perjamuan para pemabuk bubar. Kami pulang ke rumah masing-masing. Bercerita tentang mati di kala mabuk, bahkan prihatin masih di sana, menelusup dan merembes ke cekung hati. Mereka merenung tentang kematian yang, bahkan binatang pun mereka enggan menghukum. Tak perlu belajar filsafat untuk merekam kebijaksanaan dalam keseharian kita. Laku humanisme mereka utarakan, tanpa sedikit pun menghidu bau debu buku kisah Socrates, ujar Palto, kata Protagoras, puitika Voltaire, ucap Jean Paul Sartre, tutur Bertrand Russell, sampai Cicero, atau kisah tokoh-tokoh humanisme lainnya.
Satu kalimat dari salah satu pemabuk tadi yang membuatku ingin menulis, "Hapus hukuman mati!"
Cheers!!!