Saturday, January 30, 2016

Selamat Menikah Ardi & Lara

*Episode Ardi

Kini, bagi keluarganya, Ardi adalah cahaya. Ia suluh dalam lorong-lorong gelap yang sebelumnya berupa jalan terang benderang. Dalam gelap itu, Ardi selalu mencoba ada, mengawasi, dan menjaga. Meski sebelumnya, ia pernah menganggap dirinya hanya tembikar dalam keluarganya itu. Bukan emas yang bercahaya dan dielus-elus dengan kasih-sayang.

Suatu hari, ia pernah menangis sebab di hari ulang tahunnya, tak diberi uang untuk membikin senang teman-temannya. Ia memilih tak meratap meminta ke ayah-bunda. Tapi memilih mengadu dan menangis pada rumput-rumput yang dicabutinya. Semua itu, hanya kerikil-kerikil yang perlahan-lahan membuatnya tetap sesekali merasakan hangatnya kasih-sayang. Dan itu menempanya menjadi anak yang tak manja. Begitulah ia coba memaknai hidup di usia belasan tahun.

Ardi tumbuh menjadi tembikar yang bertahan dalam hari-hari yang menggemaskan. Di antara panas, hujan, dan badai, ia tak pernah retak. Sebab ia terlalu banyak menebar kebaikan-kebaikan dengan hatinya yang rendah.

Semakin berlalu tahun, ia semakin tegar hingga memiliki tameng berupa seragam Polri. Tameng yang diberikan ayahnya dengan sisa-sisa kilatan penuh harapan di bola mata. Kemudian, menurutnya, nasib hanyalah soal seberapa kuat ia mampu bertahan. Bahkan dalam kesendirian.

Sekali-dua Ardi termenung. Ada debur di dadanya. Masalah silih berganti memaksanya melurut dahi. Namun ia yakin, bahwa hidup tetap akan berjalan dengan semestinya. Sebab pengalaman hidup akan memberinya makna yang tiada tara.

Pernah kala itu, ia belum memikirkan untuk mencari pasangan hidup. Ia masih dengan nakalnya menggoda gadis-gadis. Pacarnya berganti-ganti untuk sekadar menghibur diri. 

Tanpa gadis-gadis, ia seperti ladang gersang tanpa tanaman. Sama seperti ketika ia diasingkan ke sebuah pulau seberang dalam tugas yang sunyi. Meski terbiasa dengan kesendirian, ia tak mampu tanpa pemanis.

Lalu, siklus hidup terus berputar. Ardi kembali dari pulau seberang. Tugasnya kini riuh di bawah lampu-lampu kota. Hingga akhirnya ia bertemu Lara. Seorang teman lama.

**Episode Lara

Lara adalah bunga di sudut pekarangan. Tumbuh dari lingkungan yang berlapang dada. Tubuhnya yang semampai suka sekali dibelai angin. Wajah tirus dengan kulit eksotis membuat ia menonjol sebagai sekuntum bunga. Di usia remaja, ia suka meloncat-loncat dan bersenandung. Burung-burung, kupu-kupu, dan kelinci-kelinci kerap iri dengannya.

Pernah dalam diam, Lara melirik arloji mungil yang melingkar di lengannya. Menghitung waktu agar ia lekas dewasa. Ia ingin pergi sejenak dari desa. Merasai bagaimana memasak, mencuci, dan tertawa lepas di kamar sewaan. Akhirnya ia disetujui menempuh jarak enam jam dari rumah. Mendidik pikir di negeri berlanskap pegunungan dan kembang-kembang.

Di tempat itu, dengan centil, Lara meloncat-loncat girang. Jenjang kakinya seakan menjejak pada tumpukan awan. Kini bukan hanya burung, kupu-kupu, dan kelinci yang iri. Bahkan masa lalu pun iri dibuatnya. Sebab Lara telah direbut hari sekarang, pun masa depan yang dengan sembunyi-sembunyi membauinya. Lara tumbuh semakin cantik.

Tahun meluncur deras tanpa disadari. Jelas Lara telah merasai cinta kali pertama, kedua, hingga ia suka tersenyum sendiri sembari memeluk guling. Ia juga suka menduga-duga nasib hubungannya. Baginya, mencari pasangan yang tepat bukan persoalan seberapa lama berpacaran. Sebab waktu bisa saja berdusta.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan Ardi, teman sepermainan di usia belasan tahun tatkala masih di desa. Sebuah desa yang sejuk dan tempat di mana semestinya telah tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.

***Episode Bersama

30 Januari 2016, keduanya bakal berikrar mengekalkan hubungan di altar yang lebih sakral. Menjadi sepasang suami-istri. Bola mata Lara berbinar-binar kala itu, tepat di hari mereka bertukar-lingkar dengan cincin di jari manis. Sementara Ardi masih coba menemukan, adakah kecemasan-kecemasan kecil yang tersisa.

Kali ini, sebuah tanggung jawab harus ia genggam. Masa pacaran secepat kilatan tak terasa di selang tugas-tugasnya yang jujut-menjujut. Menjadi seorang suami, atau kelak menjadi ayah, adalah jalan yang tak mudah untuk dijejaki. Hingga kecemasan itu akhirnya berganti sebuah kesiapan. Ia melirik lencananya.

Ardi sebenarnya masih terlalu menikmati kesendiriannya. Meski terkadang ia membutuhkan bahu untuk bersandar. Ia ingin menceritakan gundah tentang hari yang selalu lekas berlalu. Ia yang gemar menatap langit dalam kesendirian, kerap kali bercakap-cakap dengan angin, dan mendengar bisikan-bisikan tentang apa yang harus atau tidak ia lakukan.

Pernah rasa kesendirian itu diungkapkannya. Kilatan matanya merindui seseorang tatkala sedang bertutur kata demi kata.

"Ia adalah lelaki yang telah memberikan warna dalam hidupku. Ia lelaki yang selalu ada di saat aku susah maupun senang. Ia lelaki yang tak pernah bosan mendengarkan curhatanku saat sedang banyak masalah. Tapi di saat ia sakit, apa balasanku? Seakan tak ada waktu untuknya, seakan aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, padahal tanpanya aku bukanlah siapa-siapa, dan tak mungkin menjadi seperti ini. Di saat aku sendiri seperti ini, dan merenungkan semuanya, aku hanya bisa menangis dan mengatakan betapa bodohnya diriku ini, yang tak bisa membalas segala kebaikannya. Padahal ia hanya ingin sebuah perhatian sederhana, untuk sedikit mengurangi beban dan sakit yang ia rasakan. Saat ini, sebelum terlambat, aku ingin memperbaiki semuanya. Karena aku tahu di saat ia sudah tidak ada lagi, hanya tangisan dan rasa rindu yang akan selalu ada. I Miss You Dad."

Lalu Lara datang menyondongkan bahu. Ardi melekatkan wajahnya tanpa syarat. Lara mengusap rambut kekasihnya itu, menyeka air matanya, menenangkannya, lalu melebur rasa bersama. Lara menjadi jembatan yang menghubungkannya akan sebentuk rasa rindu yang dalam. Rindu akan kasih-sayang yang semakin hari, semakin menjauh darinya.

Apalagi yang bisa diragukan akan kesendirian yang saling datang melengkapi? Sekuntum bunga yang dibentengi tembikar, kini mekar dan terlindungi. Kemudian, mereka berdua memutuskan menikah tanpa sedikitpun ragu. Ardi sekali lagi harus menjadi cahaya bagi keluarga mungilnya, yang kelak akan melahirkan kesendirian dan kerinduan baru.

Selamat menikah Ardi dan Lara. Jangan pernah takut gulungan ombak yang acap kali datang menerjang. Sebab itu hanya hentakan yang membuat kalian semakin erat berdekapan.

Friday, January 29, 2016

Teye Liye, Kau Nulis tapi Jarang Baca

sumber gambar aruspelangi.com
Tidak usah saya runut nama-nama siapa saja yang bebalnya berjamaah, terkait isu LGBT yang melengkung warna-warni di langit Endonesa. Saya langsung saja ke satu orang yang mengaku penulis, sebab karya-karya novelnya telah bertelur macam penyu, dan beberapa telah dipilemkan pulak. Penulis ini yang ikut nimbrung menjadi bebal berjamaah.

Adalah Tere Liye, yang novelnya tak satu pun pernah saya bacai. Saya mau mengomentari statusnya di fanpage facebook, yang dengan begitu menyentuhnya, coba memelintir isu LGBTI ke ranah agama. Saya seorang jurnalis di media degorontalo.co, dan menetap di Gorontalo. Salah satu provinsi yang tingkat kereligiusannya, setara Aceh. Makanya kenapa Gorontalo kerap disandingkan sebagai "Serambi Madinah".

Oh, ya, mbak Tere, eh, mas Tere (maaf saya sebelumnya menganggap kau itu seorang perempuan), saya dan teman-teman dari 20 jurnalis se-Endonesa, baru-baru saja terpilih beasiswa "Better Journalis for LGBTI". Kami ikut workshop di Jakarta baru-baru, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indo bekerja sama dengan UNDP. Dan saat tengah berasyik-masyuk dengan materi-materi yang menggugah nan mencerahkan, kami dikagetkan pernyataan Menristek yang kurang piknik itu. Lumayan, materi kami bertambah. Pun begitu dengan pengetahuan kami. Gratis pulak! Tak perlu duduk di bangku kuliah yang biayanya bikin tipis kantong mamak dan papak.

Di workshop itu, kami diajarkan bagaimana mencoba memberitakan kaum LGBT sebaik-baiknya. Juga penggunaan istilah yang layak dalam pemberitaan. Dan setelah workshop selesai, yang digelar selama dua hari itu, saya pulang dengan rute Jakarta-Manado, dengan pengetahuan yang memadai soal isu LGBT. Sama seperti ke-19 teman saya lainnya.

Di kamar kos seorang karib di Manado, saya dikagetkan status di fanpagemu, yang dibagikan di grup facebook Gorontalo Menggugat. Busyet! Setelah membacanya, saya mempertanyakan, kau itu penulis tapi kayaknya kurang membaca.

Kau tahu mbak Tere, ehu, salah lagi, mas Tere, bahwa LGBT itu bukan penyakit kejiwaan. Itu adalah orientasi seksual yang normal. Jika yang hetero menganggap mereka itu tidak normal, mereka pun bisa menganggap yang hetero itu tidak normal. Tapi kaum LGBT tidak pernah menganggap seperti itu. Bahasa "tidak normal" malah hanya banyak digunakan masyarakat hetero pada umumnya. Padahal Tuhan menciptakan kita beragam gender, tak hanya laki-laki dan perempuan. Bahkan Tuhan pun, yang saya tahu tak berkelamin, pun hanya Dia yang mampu memutuskan sorga-neraka bagi umatnya. Manusia adalah mahluk superior yang dikaruniai akal, agar nalar kita mampu menakar apa arti kemanusiaan, tanpa atribut agama.

Soal memahami kebebasan kaum LGBT, kita tidak perlu jauh-jauh ngaca atau ngiblat ke benua Amriki atau Eropa sana. Mas tere tahu tidak, sebagai penulis, bahwa di negeri kita yang beragam ini, ada berbagai macam adat budaya yang telah membangun perspektif kesetaraan gender.

Tahu Bissu kan? Di adat Bugis, di Sulawesi Selatan. Jauh sebelum agama samawi hadir di negeri ini, agama "ibu" telah lahir dan tumbuh dengan begitu memaknai arti kemanusiaan. Kesetaraan gender di Bugis, sudah termaktub dalam I La Galigo. Mereka sudah mengenal tradisi 5 gender. Perempuan (makunrai), laki-laki (uruane), ada yang mendekati perempuan (calabai), yang mendekati laki-laki (calalai), dan ada yang berkelamin dan bergender ambigu (para-gender), yaitu para Bissu. Coba baca buku Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan, penulis Lily Sugianto. Buku yang diberi gratis oleh penulisnya saat kami mengikuti workshop. Tak seperti novel mas Tere, yang banyak mengangkat kegetiran hidup, tapi mereka yang hidupnya getar-getir tak mampu membeli novel itu. Aih!

Di Banyumas ada Lengger. Tahu Lengger kan? Saya bukan orang yang bermukim di pulau Jawa, jadi tidak secara jelas pula melihat aktifitas para Lengger. Tapi beruntung dunia digital sangat membantu kami. Dan untuk mas Tere yang bermukim di pulau Jawa, sekali-kali mas Tere piknik dulu ke Banyumas.

Setiap manusia memiliki sisi maskulin dan feminimnya, mas Tere. Bahkan saat seorang ayah menggendong seorang bayi, ada sisi feminim ibu yang hadir di sana. Mungkin sama pula dengan sisi feminim mbak Tere, ups! Salah lagi, mas Tere, yang memilih atau menerima nama pena, Tere Liye, yang terdengar begitu feminim. Meski itu dicaplok dari bahasa India, yang lebih-kurang artinya "untukmu". Namun tak dipungkiri, sebagian orang, bahkan saya pun pernah menganggap mas itu mbak. Teman saya pernah pula salah tafsir. Hi-hi-hi.

Sudah dulu ya, mmmbbmmaas Tere. Saran saya, perbanyak piknik, baca buku, jangan melulu merunduk sambil menulis novel. Ntar kejedot kepalanya.

Monday, January 25, 2016

Haz, itu Tulisan atau Tisu?

Jemari saya masih kilat berminyak usai makan gorengan. Jempol saya yang kapalan spontan mendarat di dengkul yang menjadi tisu alternatif. Klik. Tulisan sanggahanmu, Haz, saya iqro'. Cblskdhkskszvsbzfx. Selesai. Saya kembali masuk ke Joglo tempat workshop kami berlangsung. Coffee break sepuluh menit lumayan membikin kenyang.

Ponsel yang layarnya masih nyala, saya letakkan di atas meja. Saya kembali fokus dengan materi. Belum tebersit untuk kembali bergayung-sambut dengan tulisanmu. Sepintas, semua sanggahanmu konseptual. Nanti saja kalau saya sudah leluasa, tulisanmu saya jawab. Sebab workshop ini sangat penting buat saya. Usai workshop, kami terikat kontrak untuk membikin liputan sesuai proposal yang kami ajukan. Sebuah tanggung-jawab yang dengan binar mata akan saya tuntaskan. Deadline pun saya anggap hanya garis merah yang malah membuat jantung ini memompa riang.

Usai workshop dua hari, usai pula jumpa dengan peserta se-Indonesia, panitia, dan pemateri. Saya memilih pulang dengan rute Jakarta-Manado. Sebab Manado, kota yang sudah dua tahun terakhir belum pernah saya kunjungi lagi. Sumber yang nanti bakal saya wawancarai pun ada di kota ini.

Saya memang lebih berdebar-debar, ketika terbang menuju Manado, kemudian pulang ke Kotamobagu. Sebab saat ke Jakarta, setibanya, saya sesak dengan bising kendaraan, padatnya lalu lintas, serta langitnya yang kerap hitam. Kumpulan awannya seperti menyimpan debu yang meruap dari keserakahan yang sudah terbiasa. Lalu saya putuskan, saya tidak menyukai kota ini.

Tiba di Manado, saya menginap di sangkar karib. Saya rebah sejenak. Laptop kemudian saya nyalakan. Outline liputan saya pertajam lagi. Setelah itu, saya memutuskan menjenguk kembali tulisan sanggahanmu, Haz.

Imajinasi purba saya yang lebih menyenangi gorengan; tahu, tempe, pisang, yang minyaknya memoles sidik jari, mulai berloncatan. Saya memang lebih senang gorengan ketimbang Pizza. Untuk itulah, tulisanmu yang diawali dengan bayangan leleh keju, tak membuat imajinasi saya melengkung. Hanya datar. Bahkan tanpa bunyi.

Cerpenmu yang diakronimkan menjadi Serat Dapala itu, hadir begitu saja. Ia menyelinap ke kolom chat saya tiga tahun lalu. Bukan saya yang mencari atau menemukannya dari tumpukan-tumpukan di antara ratusan cerpen bermutu di jagat maya. Namun, saya coba bersepakat, mungkin saja Serat Dapala hendak berpinta, agar nukil itu harus diberi kaki. Lalu, kenapa saya yang dipilihnya?

Intertekstual yang dijadikan tameng olehmu, hanya menambah tawa saya. Nuruddin Asyhadie, Executive Director di Teteruga Indonesia dan Executive Director di Pustaka Kushala, usai membaca cerpenmu, yang bahkan sudah bertahun-tahun itu, baru ia bacai, segera berkata, "Itu plagiat!". Penjelasan lengkapnya tak mau saya beberkan di sini. Jangan-jangan dikira saya memplagiat komentar lagi.

Yang lebih menambah tawa saya, ketika itu adalah karya GM pula, yang membuatmu mengakui begitu mengidolakannya. Sanggahanmu begitu konseptual. Jika ingin memahami intertekstual lebih dalam, baca kembali penjelasan Julia Kristeva soal Intertextuality and Plagiarism. Di wikipedia akan lekas terpindai oleh jemari kejumu. Saya tidak ingin menguras energi untuk tulisan yang malah — saya tidak bisa membeda — antara sebuah tulisan atau selembar tisu. Saya seketika ingat mulut nakal Saut. Ha-ha-ha. Ta*k!

A.S Laksana pun pernah mengulas soal itu, pada karya Dadang Ari Murtono, yang memplagiat karya Akutagawa Ryunosuke, Roshomon. Cerpen Dadang, Perempuan Tua dalam Rashomon (saya singkat Peret Daras), yang dimuat di Lampung Post, sangat identik dengan Roshomonnya Akutagawa. Sama seperti yang saya contohkan kemarin, antara GM dan Haz (kamu). Ingin saya paparkan contoh cerpen Dadang dan Akutagawa? Ya, ya, ya, meskipun karyamu adalah sepotong puisi yang terprosakan.

Alangkah lebih lucunya (pokoknya banyak lucunya), ketika saya ingin sedikit menyenangkan hatimu, saat menyebut ribuan kata di cerpenmu adalah karya orisinil, yang dirusak sepotong "Gandari". Kamu malah berapologi dengan sepotong ayat, yang bahkan tanpa diberi kaki pun, sepotong ayat itu bisa diendus bocah-bocah santri berleleh ingus. Jika itu adalah jejak intertekstual, saya kira kamu kurang berhasil. Terlebih, kilahmu akan judul tulisan saya, yang dengan sengaja meringkus substansi akan kritik plagiarism karyamu.

Mengenai Plato dan Aristoteles, dengan Homo Mimesis, tak perlu dijelaskan, kawan. Di Kompasiana, ada yang menulis sama persis dengan sanggahanmu, soal Homo Mimesis. Jangan-jangan.... Aih, memang sepintas semua isi tulisanmu terkesan konseptual. Tapi sudahlah, penulis muda memang begitu. Penuh amarah dan semoga saja tidak terpikir bakar naskah, apalagi bunuh diri.

Tiba-tiba saya ingin berak. Ada tisu? Atau buku?
sumber ilustrasi www.aktual.com

Tuesday, January 12, 2016

Ekspedisi Gembira ke Batui



Saat kau menerima dirimu
dan berdamai dengan itu
kau menari dengan waktu
tanpa ragu yang membelenggu

Taifun dari Barasuara kusetel di pemutar musik di ponsel, usai kapal bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Kami duduk bersantai di buritan saat itu, sembari menyesap kopi di cup plastik yang dipesan di kafetaria.

Pukul 9 malam, kami baru bisa berangkat, setelah menunggu dari pukul 5 sore. Ini adalah pengalaman pertama saya naik kapal laut. Sebelum berangkat tadi, kami bertujuh, saya, bang Jufri, Mat, Chris, Ivol, Arnold, dan Opan, yang menggenggam tiket kelas bisnis, merasa gerah. Setelah kami mendapati kelas bisnis adalah ranjang papan dua susun yang berjejer, tanpa kasur, dengan posisi kami berada paling bawah. Masing-masing dari kami hanya mendapat tempat seukuran sleeping bag, memanjang, dengan laci di atas kepala tempat menaruh barang. Kami macam di barak tentara.

Bang Jufri yang makin gerah, mengusulkan agar mencari tempat yang lebih nyaman di kelas VIP. Beruntung kami menemukan ada tempat kosong yang pemesannya tak kunjung datang. Deal. Kami diminta menambah uang tiket 30 ribu dari tiket sebelumnya yang harganya 95 ribu.

Di kelas VIP ada teve 24 inci. Difasilitasi pendingin ruangan pula. Meski berjejer di kasur, lumayan, asal tak segerah di kelas bisnis. Langit-langit kamar juga terlihat, bukan punggung dari ranjang susun. Di VIP pun tak bising sebab letaknya di haluan dan pintunya tertutup rapat. Seusai merapikan barang-barang itulah, kami menuju kafetaria di atas bagian buritan. Coba mencari udara segar.

Di kapal kesenjangan sosial sangat nampak memang. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Bau keringat dan logam menyatu, meruap menebal di lorong-lorong dan tangga-tangga yang kami lewati. Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai di antara kafetaria mungil dan deretan kursi. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di kardus-kardus.

Kapal feri yang kami tumpangi ini kira-kira seluas dua kali lapangan futsal. Selama perjalanan itu, laut sangat berkawan. Tak ada ombak besar. Ketakutan saya untuk naik kapal hilang perlahan. Saya mulai menikmati perjalanan.

Setelah lama duduk berbincang di buritan, kami masuk menuju kamar lagi. Ada belasan orang di antara kasur-kasur lain, berjejer pulas. Saya mencoba rebah sejenak bersama Mat. Sedangkan yang lainnya memilih kembali ke buritan. Di saat itulah, beberapa kasur milik kami yang ditinggal kosong, tiba-tiba ditiduri tiga orang laki-laki. Yang satunya seorang marinir.

Opan yang baru saja dari buritan, mendapati tempatnya ditiduri seorang marinir berpostur Rambo. Ia hanya terus memelototi si marinir, dengan mata merah yang mengisyaratkan ia sudah sangat mengantuk. Sedangkan saya terus cekikikan melihat tingkah Opan yang serba salah. Saya sempat memotretnya. Ia lantas menuju buritan dan melaporkan hal itu ke Bang Jufri. Opan kembali ke kamar bersama Bang Jufri Cs. Dua orang laki-laki di samping saya dibangunkan. Sedangkan si marinir, masih tergolek diam, serupa singa tidur.

"Opan, kasih bangun jo!" kata Bang Jufri. Kami terus cekikikan, sampai seorang ABK datang dan coba membangunkan marinir itu.

"Oh, iya, maaf ya," kata si marinir. Ia lalu mengambil pistol yang diselipkannya di bawah kasur. Melihat tampang Opan saat itu, kami tambah cekikikan.

Setelah masalah si marinir beres, kami pun beristirahat. Dibuai ombak, kami tertidur dengan cepat dan pulas. Pukul 5 pagi, kami bangun menuju buritan lagi, untuk mengambil foto sunrise. Pemandangan indah terhampar. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Matahari dengan cantiknya menyembul perlahan.

Sunrise dari kapal feri, saat mendekati pelabuhan Pagimanan, Luwuk Banggai
Dua jam lagi kami akan tiba di Pelabuhan Pagimana, Luwuk Banggai. Selama itu, waktu banyak kami habiskan di buritan, dengan bercup-cup kopi, popmie, dan berbatang-batang rokok. Tak terasa, dari kejauhan dermaga telah nampak. Kapal bersandar dengan riuh para penumpang. Dari pelabuhan Gorontalo, perjalanan kami habiskan selama 12 jam. Sejak pukul 9 malam, tanggal 8 Januari, sampai tanggal 9 Januari, pukul 8 pagi.

Dua kawan kami Kadir dan Abdi yang bertugas menjemput belum tiba. Kami masih menyempatkan sarapan di warung makan di pelabuhan. Tak lama mereka berdua tiba. Usai makan, kami bergegas. Baru saja 30 menit perjalanan, kami dicegat puluhan mobil yang terparkir. Ternyata jalur yang kami lewati, sedang ada perbaikan jalan. Dan sialnya, kami tepat berada di waktu penutupan jalan. Pukul 12 siang, baru jalan itu dibuka lagi.

Banyak warung-warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Bencana bagi kami, adalah anugerah bagi para penjajah makanan. Kami terpaksa menunggu di salah satu warung. Memesan es kelapa muda dan kopi. Empat orang anak punk yang sekapal dengan kami lewat. Mereka berempat adalah penumpang liar. Bang Jufri memanggil mereka dan menawari makan.

"Kami tidak punya uang, Om," kata salah satu dari mereka.

"Makan, sudah!" ujar Bang Jufri. Mata anak-anak punk itu berkaca-kaca. Lalu mereka berterimakasih.

Akhirnya pukul 12 siang. Jalan dibuka kembali. Sekitar 30 menit di perjalanan, kami mampir di tempat wisata air terjun Salodik. Pepohonan yang rimbun, dengan air terjun bersusun-susun menyapa sejuk. Momen ini kembali kami isi dengan sesi foto-foto. Air terjun Salodik sangat indah. Hanya setinggi empat, tiga, dua, bahkan satu meter, tapi bersusun-susun. Belasan orang pengunjung menyempatkan diri untuk mandi. Sedangkan kami hanya membasuh muka saja.

Air terjun Salodik
Setelah berkeliling, saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya 2 ribu per pengunjung, dengan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.

Kami tak berlama-lama, sebab masih akan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan kota Luwuk pun tidak sempat saya saksikan, sebab ketiduran.

Kami terus melaju ke Batui. Sejam kemudian, perusahaan gas bumi dengan cerobong api besar menyambut kami. Pertanda bahwa kami telah tiba Kecamatan Batui. Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di kelurahan Batui. Rumah saudara Mat menjadi persinggahan, selama kami berada di Batui. Tujuan kami, untuk menyaksikan prosesi adat Tumpe, pada malam harinya. Sebuah ritual keagamaan yang digelar setahun sekali.

Dan.... Malam harinya, kami menyaksikan prosesi adat yang memiliki daya magis begitu kuat. Kisahnya, akan saya tulis terpisah. Butuh kesadaran lebih untuk menuliskannya, sebab batas-batas rasionalitas diterabas oleh apa yang kami saksikan di depan mata. Sungguh, itu adalah momen yang tak akan pernah terlupakan, dalam Ekspedisi Gembira.

Friday, January 8, 2016

Mari Pergi

mari pergi, kawan
lewati jalan langit yang diremahi bintang gemintang
dibuai gelombang di antara jutaan mata-mata ikan
lalu dibelai angin yang mengendus nasib perlahan

mari pergi, kawan
masuki malam yang hening
yang hitamnya begitu bening

mari pergi, kawan
menuju sandaran di bahu seberang

Thursday, January 7, 2016

tuhan (ku) gila

aku berpuisi atasmu
dengan genang suci di pusarku
usai serapal ayat dari lembar di laci

aku masih berpuisi denganmu
dengan namamu

aku bisa apa?
tuhan (ku) gila
wahyukan kisah-kisah darah
pada masalalu yang purba dan diraba-raba

tuhan bisa apa?

lihat mereka!
tanpa mata mereka berkata
BUNUH DIA!!!
seakan hidup hanya hadiah
dari tuhan

tuhan mereka

aku kembali berpuisi untukmu
tuhan (ku) gila
lihat ada aku sejuta yang melata
meliuk-liuk di atas tanah tundra
di antara rumput dan lumut

bukankah adam dan hawa dari sana?
dari tanah-tanah basah yang entah
tempat di mana ular lihai memagut
tanah yang direngkuh dari kepasrahan dan.... keputusasaan

aku coba berhenti berpuisi
sebab aku tak tahu lagi
aku atau tuhan yang gila
tuhan para pemilik mulut berserat

tuhan
ku
gila

Segulung Kalimat "Usang" dalam Kepala

sumber foto www.republika.co.id

Haz Algebra. Saya mengenalmu dari seorang kawan. Nama kawan itu Cakra Buhang. Mungkin di tahun 2013, saya dikirimi sebuah link yang berisi cerpen oleh Cakra. Judulnya 'Segulung Cerita Tua Dalam Kepala', penulisnya adalah kamu.

Seingat saya, Cakra saat itu mengatakan cerpen-cerpenmu sudah dibukukan. Salut. Nah, titik mula membahas tentangmu, tatkala Musda Badko HMI Sulut-Gorontalo, 2013. Saat itu kamu sebagai salah satu kandidat Ketua Umum Badko Daerah Sulut-Gorontalo. Kaitannya dengan Bolmong, sebab ada pula kandidat asal Bolmong kala itu. Saya sempat mewawancaraimu sebagai narasumber lewat chating di BBM. Namun kini, kontakmu hilang setahun atau dua tahun lalu dari daftar pertemanan.

Hai, Haz, yang tersebut sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi, Manado. Begitu seingat saya menurut penuturan Cakra. Mungkin pula sekarang kamu sudah menamatkan studimu dan bergelar dokter. Tak banyak memang, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang bergelut pula di dunia sastra. Saya cukup kagum, setelah membaca cerpenmu. Diksi-diksi segar dan imajinasimu meloncat-loncat. Sebagai penulis muda, kamu berbakat. Apalagi yang menilai, maqomnya jauh di bawah darimu. Apes!

Namun saya seperti tersedak setelah di tengah-tengah cerita. Saya heran dengan ingatan saya, yang terkadang encer, tapi kadang-kadang malah beku. Tapi kali ini ingatan saya encer tiba-tiba. Sebab dalam plot cerpenmu, saya menemukan kalimat yang begitu familiar. Saya terus menajamkan pikir, hingga akhirnya saya putuskan mengetik beberapa potong kalimat itu di google, lalu menyematkan kata facebook. Syukurlah, mesin pencarian google, menambatkannya pada status saya.

Terpindai, saya pernah membuat status yang mirip dengan potongan kalimat di cerpen itu. Status itu pun saya kutip dari bait puisinya Goenawan Mohamad (GM), Gandari.

Mari kita pergi.
Ke sebuah kota di mana nujum tak dibaca.
Di mana anak-anak tak tumbuh.
Di mana masa lalu adalah masa kini.
Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Selengkapnya: (http://sastrawan.com/index.php/puisi/goenawan-mohamad,119/gandari,1447)

Pada bait puisi di atas, saya pun lupa mencantumkan nama penyair atau judul puisi di status tersebut. Saya hanya mengunggah sebuat foto kota Bikini Bottom bersamaan. Kota tempat Spongebob dan kawan-kawannya tinggal dalam dunia kartun. Pikiran iseng saya, bait puisi GM di atas sangat tepat disandingkan dengan kota Bikini Bottom dalam serial kartun SpongeBob SquarePants. Kota di mana nujum tak pernah dibaca. SpongeBob dan kawan-kawannya yang tak kunjung tumbuh menjadi lebih besar atau menua. Masa lalu dan masa kini yang sesekali bertukar. Tempat di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia, saya segera ingat Patrick kala itu. Dan kota di mana kabar adalah sebuah tafsir yang terlambat, sebab di Bikini Bottom, kabar kerap ditafsirkan terlambat. Cocoklogiku tepat ya? Ha-ha-ha.

Sebelum-sebelumnya saya pernah membikin status di BBM. Saya hanya menyematkan judul puisi, Gandari. Itu sekitar 2011, sejak saya mulai tertarik membaca puisi-puisi GM. Di tahun-tahun sebelumnya, saya hanya tertarik membaca catatan pinggir atau artikel-artikel lepasnya. Saya terlambat mengenalnya sebagai penyair, atau malah terlalu cepat mengenalinya, sehingga sekarang saya mulai melupakannya.

Kembali, setelah membaca cerpenmu, Haz. Dimana saya sempat tersedak, sebab saya menemukan potongan kalimat yang begitu mirip dengan bait puisi Gandari.

"Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda, di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia."

Selengkapnya: (http://sains.kompas.com/read/2011/04/28/03274622/segulung.cerita.tua.dalam.kepala)

Cerpen itu dimuat di Kompas. Saya bukan hendak menjadi seorang kritikus sastra di sini. Tapi sebagai penikmat puisi, cerpen, novel, dan apapun berbau sastra, saya merasa sedikit alergi untuk tidak menuliskan ini. Niat saya ini sudah sejak tahun 2013. Dan akhirnya baru bisa saya tuliskan sekarang. Silakan mendedahnya. Kesamaan itu bisa ditemukan pada larik ini:

GM: Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Haz: Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda.

GM: Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Haz: di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia.


Memang Haz coba meminimalisir kesamaan, namun tetap saja aroma GM tercium. Saya mungkin bisa salah mengendus. Bisa jadi kamu, saking mengidolakan GM, terkagum-kagum dengan puisi Gandari, hingga muncul niatmu untuk mencongkel satu per satu kata dari bait puisi Gandari, kemudian menambalkannya secara utak-atik ke salah satu paragraf cerpenmu. Namun sidik jari GM masih membekas di sana. Atau saya bisa juga salah, jangan-jangan bait puisi itu, adalah isi dari epos Mahabharata, yang luput saya baca, dan sah-sah saja jika kalimat itu mau dinukil di tulisan manapun dan oleh siapapun.

Semoga saja saya salah. Sebab saya sangat kagum dengan cerpenmu. Meski di antara karya-karyamu, yang baru saya baca adalah satu-satunya cerpen itu. Segulung Cerita Tua Dalam Kepala. Ya, segulung kalimat dalam cerpen itu, meski telah "usang" di tahun-tahun kemarin, semakin tahun menggangu isi kepala saya. Saya seperti menemukan sebuah kebenaran, yang terus saja saya simpan. Saya ingin memuntahkannya, dengan niat agar saya bisa membaca sanggahanmu, sebagai seorang penulis. Jangan tuntut saya telah mencemarkan nama baik. Ha-ha-ha.

Karyamu lainnya dalam bentuk video adalah satu puisi, yang pernah saya saksikan di youtube. Puisi saat pernikahan kawanmu, yang jika tidak salah dibacakan oleh Reiner Ointoe. Seorang budayawan dan penyair di Manado. Sangat disayangkan, suara tidak terlalu jelas, sebab video direkam secara manual menggunakan ponsel.

Namun saya tetap kagum denganmu, apalagi kamu adalah penulis dan penyair muda asal Manado. Beberapa bukumu sudah bertengger di rak-rak toko buku. Kamu seprovinsi dengan tempat lahir saya pula. Berkali-kali; semoga saja dugaan saya ini salah. Dan jika benar, saya pernah pada suatu waktu, menganggap memplagiat karya itu hanya supaya memicu giat menulis. Sebab dari sebait kalimat, kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah cerita panjang. Pendapat itu ada, sebelum saya begitu mafhum, bahwa memplagiat adalah sikap tidak terpuji bagi para penulis.

Tapi untuk satu karyamu itu, kenapa juga kamu nekat menyelipkan sebait kalimat itu, yang pada akhirnya melebur orisinalitas karyamu? Padahal ribuan kata lainnya dalam isi cerpen, adalah buah pikirmu. Saya merasa kecewa, sebab cerpen bagus, malah dirusak oleh sepenggal kalimat.

Ah, selamat tahun baru 2016 dan sukses untukmu, Haz. Semoga kita bisa menjadi kawan. Ini mungkin cara saya agar kamu bisa berkawan dengan saya. Mencari perhatian. Sebab saya pun pernah mendapat karib, hanya dari cara ia menegur saya seperti ini. Oh, ya, kita berkawan di facebook. Silakan kabari saya, Kristianto Galuwo. Dan semoga juga saya segera dapat kiriman buku-buku karyamu. Gratis. Ha-ha-ha.

Wednesday, January 6, 2016

Aku di sini Kawan!

aku pernah menyantap musim
dengan puas yang buas
sampai akhirnya terluka pada jejak-jejak pasir itu
pada buih-buih ombak yang congkak

Saturday, January 2, 2016

Cinta Harga Mati

Cinta adalah keputusasaan yang harus disimpul kembali. Atau mungkin, tidak sama sekali.

Kalimat itu mungkin cocok denganku. Dalam setahun, aku bisa bergonti-ganti pasangan hingga belasan kali. Dari pegawai negeri sipil, polisi, tentara, om-om berkumis, bahkan remaja belum berbulu. Sebagian ada yang kuputuskan, lalu kembali merajut kasih. Sebagian lagi hilang dan berganti. Aku sebenarnya sudah ingin menikah. Namun tak kunjung menemukan pasangan yang tepat. Entah kenapa, sebenarnya beberapa di antara mereka bersedia mengajakku menikah. Bahkan bela-belaan berjuang hingga ke titik nadir. Tapi, seperti itulah, hatiku belum tertambat. Aku memilih terus berlayar dan terlena dengan kebebasan. Lalu bagaimana aku bisa menikah, jika aku masih ingin bebas?

Aku bertato. Namaku July. Nama panjangku July Maryani. Ya, bisa ditebak aku dilahirkan bulan Juli. Usiaku memang sudah seharusnya bertengger di pelaminan. Genap 24 tahun pada Juli 2016 nanti.

Waktu aku memutuskan bertato, orang tuaku akhirnya bersikap biasa, setelah sebelumnya kerap cemberut. Aku anak perempuan satu-satunya. Kedua adik laki-lakiku masih di bangku sekolah dasar. Jarak usia kami terpaut jauh memang. Untuk itulah, aku yang bekerja di salah satu toko pakaian, menjadi tulang punggung keluarga. Ayahku sudah berpulang sejak aku berseragam putih-biru. Setelah tamat dengan segala tetek-bengek atribut sekolah, aku memutuskan bekerja.

Wajahku oval dan cantik. Tinggi badan dan bentuk tubuhku proposional, berpadu dengan rambut panjang yang dicat merah. Makanya, aku jelas lebih cepat memiliki pacar lagi meski baru saja putus cinta. Aku suka minuman berakohol dan itulah yang membuat pergaulanku tidak berbatas. Di lorong lorong, di pub, di taman kota, di rumah kosong teman, di kos-kosan, kerap menjadi tempat di mana aku memuaskan dunia malamku. Aku binal dan sintal. Dan aku seksi. Aku juga sangat jujur.

Aku sangat terbiasa membagi penggal-penggal kisah hidupku di sosial media. Terlebih di status blackberry messenger. Aku suka membikin status tentang apa saja yang baru kualami. Entah itu soal pacar, dikejar anjing, mencaci teman kerja, dan kisah-kisah putus cinta. Aku terbiasa dan merasa terhibur dengan semua itu. Aku seperti telah membagi gundah dalam hati. Ada beberapa teman yang akhirnya berinteraksi lewat pesan. Aku curhat dan imbalannya solusi. Kadang-kadang malah ada beberapa yang mendukung pilihanku.

"Apa yang kamu lakukan sudah benar!" tulis salah satu teman laki-laki mengomentari statusku. Ah, pesan itu modus. Laki-laki itu menyukaiku dan mencoba merayuku lewat upaya bentuk kepedulian. Bullshit!

Aku baru saja putus dengan pacar tentara. Tahu, kan, tentara itu negara kesatuan saja harga mati! Tapi apakah cinta mereka juga harga mati?

"Sayang, aku sangat mencintaimu, tolong balas pesanku," begitu rajuk pacar tentaraku di pesan. Aku sedikit mual membacanya. Bukan sekali ini aku berpacaran dengan tentara. Sudah berkali-kali. Polisi juga begitu.

Aku sebenarnya mencintainya. Tapi tentara yang namanya Rudi ini, terlalu nampak begitu mencintaiku. Padahal perempuan seperti saya, lebih suka dengan laki-laki yang agak cuek. Biar tak cepat jenuh dengan panggilan sayang. Ah, selain itu Rudi juga tidak terlalu tampan. Bukan tipeku juga. Aku suka pria bertato, seperti mantanku yang hampir sekujur tubuhnya dirajah. Aku mencintainya, tapi seperti itulah, mantan bertatoku itu juga nampak begitu menyukaiku. Aku jadi cepat bosan.

Pacarku yang tentara ini, beberapa hari sebelum kuakhiri kisah cinta kami, pernah mengirim pesan. Ia mengatakan sangat menyesal. Padahal yang harus menyesal itu aku. Sebab aku memutuskannya tanpa alasan yang tepat untuk standar sepasang sejoli.

Selain itu, aku juga sebenarnya takut bertemu orang tua setiap pasanganku. Bagaimana jika mereka mengetahui calon menantu mereka berlumuran tinta di tubuh. Aku kerap takut akan persoalan itu. Sebelum berpacaran dengan tentara ini, aku pernah berpacaran lama dengan seorang remaja manja. Aku mencintainya, tapi saat ia menawari agar aku ke rumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya. Aku menolak. Pertengkaran kerap terjadi usai itu. Lalu kami putus. Kami pacaran selama setahun, itu adalah rekor terlama aku berhubungan dengan seorang laki-laki.

Sama seperti pacar tentaraku. Eh, mantan tentaraku. Ia pernah membujuk agar aku bertemu kedua orang tuanya. Sialan. Aku jelas menolak. Saat aku mabuk, aku mengatainya. Padahal minuman alkohol itu ia yang beli. Peduli setan. Aku tetap membentaknya. Kemudian aku meninggalkannya yang saat itu juga tengah mabuk. Ia mengejarku dengan motor berknalpot bising. Aku cuek dan terus menghindar memandanginya. Raungan knalpot mengisyaratkan kesedihannya. Pengemudi becak motor terheran-heran.

Tiba di rumah, pengemudi itu berkata, "Tadi saya sangat takut. Tentara itu berseragam."

Lampu ruang tamu aku padamkan. Aku rebah di sofa, lantas tertawa. Bagaimana itu bisa menakutkan? Seorang tentara berseragam mengejarku, merajuk, terus pengemudi becak motor menyaksikannya. Itu hal terkonyol yang pernah kualami. Aku terus tertawa. Apalagi setelah membaca isi pesan yang susul-menyusul di ponsel.

"Aku mencintaimu!"

"Kemarin saja, aku heran karena setelah aku keluar asrama, kamu sudah tidak ada. Apa salahku?"

"Aku tidak rela diputuskan seperti ini!"

"Tolonglah sayang, aku mengaku salah, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Dengan jiwa ragaku!"

"Kamu adalah cinta harga matiku!"

Pesan-pesan itu makin membuatku mual. Aku bergegas ke kamar mandi. Ponsel kuletakkan di atas meja ruang tamu. Setiap langkahku dikejar nada dering pesan. Sialan! Kenapa aku pernah menerimanya menjadi pacarku. Beruntung, aku baru dua kali berhubungan intim dengannya. Aku juga menyarankan ia memakai kondom. Aku tidak ingin hamil, yang kemudian itu menjadi alasan aku harus menikahinya.

Usai dari kamar mandi, aku menemukan ponselku dijejali 15 panggilan tak terjawab, 5 pesan singkat, dan 17 pesan blackberry. Aku menghapus semua tentangnya lalu mematikan ponselku. Aku mencoba tidur, tanpa merasa ada beban apa-apa. Tentunya tak seperti apa yang mantan tentara itu rasakan sekarang. Cinta harga mati. Sialan! Ia tak pernah tahu, kalau aku ingin merdeka dari semua yang telah dihargai dan dipenuhi kematian ini.