Friday, September 30, 2016

Keras Hati

itulah kau, yang penuh luka tak kalah
seperti kata yang kerap ringan memulai
maka ambil beling gelas itu
lalu iris nadi pada puisi-puisimu

Dipan

Alit menampung mimpi galaksi
Liur meresap
Dingin menyesap
Bantal diam dipeluk rasi

Monday, September 26, 2016

Kelahiran

               

                     :untuk Amato

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Ia menyeret gulita pada keheningan yang merinding. Satu demi satu ketuk, mengutuk nasib dengan mantra-mantra hitam. Bersahut-sahutan sebab. Bersahut-sahutan muasal.

Gema suaranya mengusap dinding-dinding tua. Turun menjengkal lantai-lantai retak. Lalu seperti laron-laron yang rela terbunuh terang, puisi-puisi berguguran. Tak ada sayap-sayap patah di sana.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Anak-anak cahaya mengitarinya. Sembari merapal waktu yang mengajaknya kembali ke tahun 1994. Sebuah kelahiran tanpa nama. Sebuah kelahiran tanpa doa.

Baginya apa yang lebih suci dari doa? Selain puisi yang melahirkan doa-doa itu sendiri. Bukan dari pusaran petuah-petuah langit. Bukan pula dari desah sujud yang ujub.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Terlalu sulitkah sebuah kelahiran dipuisikan? Sedangkan kematian tak pernah mengusai. Seperti puisi yang terus merantai. Seperti puisi yang tak pernah ada kata selesai.

Terlalu mudahkah sebuah kematian dipuisikan? Sedangkan kelahiran yang memulai. Ia hanya berdecak dan bergumam. Sebab Passi menyeretnya kembali ke rahim.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Angka-angka pada jarak diubahnya menjadi sepotong roti. Lambung diusapnya berkali-kali. Tak ada doa menyusul. Tak ada janggut yang bergetar.

Lalu pada altar ada setangkup buah dada kehidupan. Seliang gua garba mengerang dan bercahaya. Lelaki itu tetap bersila. Kemudian ia mendengungkan tangisan.


Passi, 26 September 2016

Wednesday, September 21, 2016

Nasib

Terang menggempur desa. Perang berkecamuk di kolong dipan. Sementara
di luar sana, orang-orang panik menyembunyikan telapak tangan, sebab
matahari cepat menghapus garis-garis tangan mereka.

Monday, September 19, 2016

Tangan-tangan Seringan Kupu-kupu

ilustrasi plus.google.com

                                          -untuk A.S.T

Mungkin tadi, kau baru saja menggerus karang
menyulam senyum atau menambal kesepian
dalam ruang yang berbaris mimpi-mimpi
seperti gigi
mimpi bisa kau tata rapi

Atau mungkin
kau baru saja menyeka keringat di pelipis seorang bocah
setelah bocah itu melingkarkan waktu di lengannya
waktu yang ia maknai sepanjang hari sebagai ibu
sama seperti kakaknya

Kau mengenal nasib sebagai keceriaan bersama
keceriaan pada senyum anak-anak
pada rambut mereka yang berbau matahari
pada motif-motif batik
atau pada lembar buku yang baru saja kau baca kembali

Kau menghadirkan huruf-huruf itu
yang saling merekat dan terus merunduk sebagai pertanda;
ada tangan-tangan seringan kupu-kupu hinggap kali ini
bertengger pada cerita yang telah terbagi
usai tawa lepas anak-anak di sebuah ruang baca

Ruang meski berjarak, semesta punya caranya sendiri
seperti melipat langit dan bumi
lalu meletakkannya dalam genggam
atau menyelipkannya pada lembar buku
sebagai pembatas ingat

Thursday, September 15, 2016

Botol Vodka Kelima

Adalah botol vodka pertama yang membuatnya bertanya, "Kau kenapa?"

Dia selalu bisa menemukan kesunyianku. Meski aku bersembunyi di balik lipatan tangan, wajah ceria, atau mulut yang terlalu banyak bercerita.

Pandangannya terus bertanya. Disusul tendangan pelan yang mengajakku meraih tubuh botol. Setelah kusesap isinya, kini aku yang bertanya, "Kau kenapa?"

Adalah botol vodka kedua yang membuatnya berkata, "Aku tidak bahagia."

Dia sepertinya mulai mabuk. Kemudian satu demi satu jahitan di mulutnya terlepas. Ah, dia hanya sedang mabuk saja. Namun di matanya aku menemukan pembenaran.

Kosong adalah kelahi. Penuh adalah mesra. Begitu katanya. Aku juga menemukan kesunyian dalam getar suaranya, "Malam ini aku tak pulang."

Adalah botol vodka ketiga yang membuatnya berkata, "Aku belum mabuk."

Tapi pada kedua pipi yang sejajar dengan hidungnya, dua lampu merah menyala terang. Matanya memicing. Bibirnya seperti embun yang disapa terang pagi. Terlalu basah dan hangat.

Sebatang rokok di jepitan jemarinya, dibiarkan membakar sendiri. Sekumpulan abu yang menyelimuti bara, membengkok lalu patah. Ringan jatuh menyampah di lantai.

Adalah botol vodka keempat yang membuatnya berkata, "Kau puas malam itu?"

Dia menoleh ke arahku tapi pandangannya ke lain tempat. Mungkin pada poster Nirvana yang kupunggungi. Jidatnya berminyak. Bayangan wajahku ada di sana.

Sepuluh tahun, itu waktu yang singkat. Tapi sepuluh jam adalah waktu yang lama untuk aku dan dia. Larut bersama vodka. Larut bersama kisah. Membicarakan ledakan-ledakan pada setiap pertemuan.

Adalah botol vodka kelima yang membuatnya berkata, "Aku nyaman bersamamu."

Kini di sepasang bola matanya, aku menemukan matahari dan purnama. Jemariku menyisiri rambutnya. Menggaruk pelan kulit kepalanya. Seperti sepuluh tahun yang lalu.

Aku memeluknya. Dia tidak memelukku. Dia sedang tertidur. Aku kemudian berbisik di telinga kirinya, "Jangan tinggalkan dia."

Tuesday, September 13, 2016

Jangan Pernah Pagi

Gerimis berloncatan di atap rumah. Riang sekali. Sedang malam baru saja mau meninggi. Tak ada tempat untuk menepi. Segalanya meruncing ke langit.

Jendela menganga. Pintu menguap. Lalu malam perlahan merangkak menuju pagi, membikin jendela dan pintu terkatup pelan. Selimut dibiarkan membungkus hampa.

Di kamar ini, tak ada suara napas. Hanya kilau kulit yang menyerap nyala dari luar sana. Degup jantung melipat angka-angka pada waktu. Menyimpannya di lereng sekotak laci.

Begitu hening dari luar. Tapi begitu hingar dari dalam. Lalu lipatan kulitnya terbuka. Waktu terhenti. Sekumpulan pohon rebah menunggu dengus hantu, yang kemudian menarik satu per satu napas menuju liang terdalam.

Di luar, gelap mulai runtuh dari langit. Tapi hati ini masih menunggu. Memejam jadi serupa kutuk. Mata begitu terang memijat setiap kulit tubuhnya. Jangan pernah pagi. Kumohon.

Friday, September 9, 2016

Kafka dan Arumi

Di senyum Kafka bersila ayah
Di kening Arumi bersimpu ibu
Saling bertukaran
Apa itu yang dinamakan bahagia?

Pada jarak ada rindu
Pada peluk-kecup ada yang tertebus
Saling mendekap
Apa itu yang disebut bahagia?

Beribu kata disimpul ayah
Dititipkan pada pelukan buku
Pada pelukan ibu
Itulah yang kalian namai: Kafka dan Arumi.

Bahagia

Wednesday, September 7, 2016

Untuk Perempuan-perempuan Hebat


"Eh, coba ngana batulis tentang kita dulu," kata Eling, pada suatu malam di pelataran bilik-bilik kamar rumah sakit.

"Ah, tau-tau kita batulis tentang ngana pe mamak. Daripada batulis tentang ngana." Eling terlihat dongkol dengan jawaban itu. Tapi kemudian tawanya menyusul.

Begitu percakapan kami malam itu. Lalu aku memutuskan menulis ini, setelah ayahnya Eling berpulang. Tapi ini bukan tentang ayahnya. Ini tentang tiga perempuan hebat.

Perempuan itu, ibunya Eling.

Aku tidak pernah menanyakan namanya. Tapi perempuan itu tak butuh nama untuk menjadi akrab. Senyumnya seperti senyum ibuku. Ajakannya untuk makan, persis pula dengan ibu-ibu angkatku lainnya, yang berserakan di setiap tempat yang pernah aku singgahi.

Perempuan itu suka tersenyum terlebih dahulu ketika berjumpa. Pada setiap kerut wajahnya, ada berjuta garis hidup yang pernah ia susuri. Garis-garis yang tegas, namun penuh kerelaan.

Di luar ruang perawatan, aku kerap kali menemukannya terbaring di bangku memanjang. Mungkin baginya, tidur satu jam sudah seperti tidur seharian. Sebab ia tidur dengan memeluk harapan.

Ia mengenakan kerudung hitam kala itu, tapi pancaran matanya begitu benderang, setelah terbangun dari lelap. Aku kini menghormatinya selayaknya ibuku. Ibu yang kini sama-sama sendiri, setelah ditinggal pergi suami. Ibu-ibu yang tetap ada, sampai ajal merebut kekasih tercintanya.

Perempuan itu, dipanggil Onya'.

Tubuhnya mungil. Itu barangkali yang membuatnya gesit. Lorong-lorong di rumah sakit, kerap kali ia lewati dengan gegas. Tugasnya, menebus resep, membeli keperluan lainnya, atau bertengger di dahan pohon di halaman rumah sakit. Di pohon yang sering kami berbantahan tentang jenis pohon apa itu, ada sebuah tugas mulia untuk mulutnya.

Dialeknya begitu kental. Aku suka mendengarnya. Apalagi ketika ia bertutur tentang panen dan harga cengkih, tentang ayahnya, dan tentang pasien-pasien yang sudah lebih dulu berpulang.

Ia begitu tegar. Tapi tidak dengan malam itu ketika jazad ayahnya berada di kamar jenazah. Ia sempat memelukku sambil menangis, lalu mengucapkan terima kasih. Ucapan yang juga pantas untuk teman-teman lainnya, yang turut membantu mereka selama perawatan dan pemulangan jenazah.

Perempuan itu, namanya Eling.

Kenyang. Setiap kali bersama dengan Eling, maka kalian akan kekenyangan. Sewaktu di kamar kos, di Mogolaing, isi kulkasnya pasti akan tandas jika kami datang. Menurutnya, berbagi adalah sebuah keharusan. Meski terkadang ia tak rela berbagi Silverqueen denganku.

Selama di Manado, ia seperti setrikaan dari kos ke rumah sakit. Bahkan beberapa sopir taksi sudah akrab dengannya. Apalagi "ojek" Nanan yang suka dibentaknya. Tapi begitulah Eling. Ia suka membentak, namun dalam di lubuk hatinya, ada Nanan gendut yang bersemayam di sana. Bukan sebagai pacar, tapi tetap sebagai "ojek".

Dibandingkan kakaknya Onya', Eling terlihat yang paling tegar. Tapi malam itu, kami menemukan Eling yang berbeda. Sebab aku tidak pernah melihatnya menangis meraung-raung. Aku pun ikut tersedu sedan. Akhirnya Eling menangis juga.

Segala upaya telah dipertaruhkannya untuk kesembuhan ayahnya. Uang tak jadi soal baginya, tapi yang menjadi soal adalah darah. Dan itu adalah tugasnya, mencari pendonor darah. Sampai akhirnya, ayahnya harus menyerah sore itu. Tepat setelah Manado diguyur hujan.

Tiga perempuan itu, adalah perempuan-perempuan hebat. Juga perempuan-perempuan hebat lainnya, yang turut membantu segala kelancaran perawatan ayahnya.

Turut berduka cita untuk ayah andalan yang mewarisimu marga Sondakh. Semoga Tuhan mengajaknya ke hutan surga yang telah ia janjikan. Amin.

Pertemuan Bedew dan Onang

Ilustrasi by Putraholic.blogspot.com

Bedew baru saja dari pondok di belakang rumahnya. Mengenakan jersey putih andalannya, tentu saja jersey klub raksasa asal Spanyol, Real Madrid bertuliskan bwin, ia pelan melangkah menuju tanah lapang yang hijau membentang di depan rumahnya.

Sore itu, ada yang tampak berbeda. Di sudut tanah lapang, berkerumun orang-orang yang hampir semuanya ia kenal. Bedew penasaran. Ia menuju kerumunan itu.

Sesampainya di sana, pandangan Bedew memindai sekitar. Ia melihat Andol (Ardi) di teras rumah istri tercintanya Lara. Bedew berusaha mendekati Andol. Orang-orang yang ia lewati, tak sedikitpun merasa terusik. Mereka tetap sibuk bercakap-cakap dengan wajah sendu.

Bedew menembus kerumunan itu. Bahkan, ia sendiri sedang tidak sadar dengan hal itu. Yang ada dalam benaknya, segera menemui Andol, lalu bertanya. Andol kini berjarak sejengkal dengannya.

"Andol, ada kiapa ini?" bisik pelannya.

Namun Andol bergeming. Sekali lagi, Bedew bertanya dengan suara yang tak lagi berbisik.

"Woi! Ada kiapa ini?"

Tak ada respon. Bedew menyentuh pundak Andol. Telapak tangannya tak berasa apa-apa dan hanya menembus pundak kawannya itu. Ia kini sadar penuh, bahwa dunianya telah berbeda.

"Burein, salalu dapa lupa," gerutunya.

Ia kemudian melangkah masuk ke rumah Onang, yang ditebali raung tangis. Bedew terus melangkah masuk, menembus dinding, lalu menuju kamar di mana sumber tangis terdengar paling menyayat.

Di sana, Bedew melihat Endang (adik laki-laki Onang) dan Ida (kakak perempuan). Mata mereka seperti bendungan pecah. Ucil (adik laki-laki), Pei dan Mei (keponakan), juga begitu. Ayahnya Onang, bersandar di dinding kamar, berusaha tegar meski airmata menderas. Sedangkan Onang, terbaring dengan kain penutup sebatas hidung. Matanya cekung. Rambutnya yang kerap kali dipotong pendek, terlihat memanjang dan menyentuh cuping telinga.

"Bah!"

Suara dan hentakan di pundak, membikin kaget Bedew. Ia menengok ke belakang sampai-sampai kepalanya seakan terpuntir.

"Woi! Boneng! (Onang)"

"Ha-ha-ha. Baku dapa to torang dua?" kata Onang yang dari sorot matanya memancar girang.

"Hai, kiapa ngana? Tu hari ngana masih bajaga pa kita di rumah sakit Malalayang e," tanya Bedew heran.

"Sobagitu, sama deng ngana, dongka sababu in takit. Tetap samua mo kasitu. Eh, mo kasini," canda Onang yang kemudian disusul tawa renyahnya Bedew.

"Mar gode' ngana e," kata Bedew.

Onang memang terlihat berbeda dari kondisi jazadnya. Rambutnya juga dipotong pendek. Matanya berbinar. Bagian lengan kausnya digulung sampai ke bahu. Itu sudah kebiasaannya jauh-jauh hari sebelum ia memutuskan merajah tubuhnya dengan beberapa buah tato. Kaus merah berlengan pendek dipadupadankannya dengan celana putih selutut.

"Ah, ngana le gode', ndak sama deng tu dasaki tu hari," kata Onang coba menyelaraskan suasana.

Bedew meninju pelan perut Onang. "Pobure!"

Kedua kawan segendang-sepenarian ini akhirnya memutuskan, jenak keluar dari riuh-rendah tangisan.

"Manjo nongkrong di atas sana," telunjuk Bedew mengarah pada menara salah satu provider telepon genggam, yang terpancang kokoh tepat di belakang rumahnya.

"Hai, boleh so?" tanya Onang heran.

"Ngana lia jo pa kita, baru bapegang di tangan ne," kata Bedew.

Kemudian Bedew terbang menembus atap rumah, mengajak Onang menuju puncak menara. Onang masih terheran-heran. Saat terbang, ia sempat sekali menoleh ke arah rumahnya. Ratusan pelayat di sana.

Sampai di puncak menara, mereka berdua duduk sembari mengagumi pemandangan indah di sore hari yang memupus mata.

"Ngana so pernah nae sini?" tanya Bedew.

"Nanti skarang."

"Iyo, kita le waktu masih hidop ndak pernah nae sini. Dulu yang pernah cuma Bulog (Yunus), Atol (Sigidad), Riki, deng Darwa (Dani). Kong Om Uleng dapa marah kong dusu pa dorang," cerita Bedew.

"Ha-ha-ha. Oh, iyo, malam-malam itu, abis Magrib. Kita pernah dengar dari pa Bulog."

Usai tawa, Onang tiba-tiba terdiam. Matanya kosong. Arah pandangannya bukan pada tanah lapang yang luas membentang di bawah sana. Atau pada rumah-rumah, bukit-bukit, dan Kota Kotamobagu yang serupa remah-remah roti dari kejauhan. Ia memandang langit biru dan sekumpulan halimun diarak angin. Tapi tetap saja, matanya kosong.

"Woi! Paling bapikir masih suka hidop kang?" kata Bedew sambil menepuk pahanya Onang.

"Ngoooollllll!" Onang malah bersuara mirip kucing liar. Itu juga kebiasaannya. Gigi tongosnya menyembul. Gigi yang membuat kawan-kawan memanggilnya Boneng.

"Sebenarnya torang dua ini so sanang. Co ngana lia, so boleh terbang le," Bedew coba menghibur.

"Bukang itu kita mopikir. Selama ini, kalu bukang kita deng Endang, sapa yang mourus patape ade' deng keponakan?"

"So bagitu, sedang kita, kadang-kadang jaga tapikir kiapa torang musti mati muda bagini. Padahal masih banya yang torang bole bekeng pa keluarga," kata Bedew.

Berjam-jam mereka berdua menghabiskan waktu di atas menara. Lalu layung senja, menggoda dengan keindahannya.

"Hidop deng momati kurang sama jo kang? Mati ini, hidop kadua kali deng selamanya," kata Onang.

"Eh, bagimana ngana pe siksa kubur? Dari pe banyak tato bagini kita," tiba-tiba Onang penasaran. Sebab ia akan dimakamkan besok.

"Ah, nanti ngana rasa sandiri. Akhirnya kita sadar di situ, ini hidop ternyata berbuat baik saja. Cuma itu," kata Bedew.

Onang tersenyum. Bedew pun ikut tersenyum. Malam akan tiba. Di bawah sana, beberapa orang terlihat berjalan menuju masjid dengan sajadah terkulai di bahu mereka. Onang pun berpamitan kepada Bedew.

"So tau terbang sandiri to?" tanya Bedew.

"So boleh, kan, torang ini somati. Dari dulu kita suka skali jadi rupa burung. Akhirnya tercapai juga," kata Onang disusul tawa.

"Da' baya' don. Kita cuma moturung ka bawah situ. Nanti ulang baku dapa sini," kata Bedew.

Onang melompat dari puncak menara. Ia lebih dulu meliuk-liuk di udara, melambaikan tangannya, lalu menukik ke sudut tanah lapang di bawah sana. Menuju rumahnya yang, ternyata rumah bukanlah satu-satunya tempat untuk pulang.

Sunday, September 4, 2016

Selamat Jalan Onang


Pakowa menuju Kampus. Lorong-lorong dan jalan lurus yang pernah kita coreti tembok dan tiang listriknya. Kita kerap bersama usai senja, hingga pada lindap subuh yang sepi dari lalu-lalang kendaraan, tapi ramai dengan lampu-lampu kota dan bau comberan. Rokok kita beli batangan. Tapi rasanya sejuta. Setiap hari begitu. Kita jalan kaki menyusuri setapak menuju tempatmu bekerja, lalu kembali pulang ke rumah Abang.

Kau terbiasa mengeja huruf-huruf dan menjumlah angka-angka, demi rupiah yang akan kembali kosong di kantongmu. Katamu, hidup bukan untuk menabung. Tapi melekaskannya untuk jajan dan biaya sekolah adik dan keponakanmu.

Ah, Onang... Tubuhmu mungil, tapi tulang punggungmu logam.

Hampir semua kawan di 'pertigaan' punya kisah denganmu di Manado. Di Pakowa, Banjer (Tampa Potong), Kampung Arab, Kembang, Dolog, Kleak, Sario, dan Teling. Kau juga pernah menetap sementara di sangkar, yang katamu melengkapi perjalanan hidupmu.

Lebaran adalah pertemuan terakhir denganmu. Di hari yang biasa kita riuhi bersama, akhirnya kau harus pasrah untuk terbaring memanjang di kursi tamu. Segelas air dan sepiring bubur menemanimu. Seperti biasa, kaus berlengan pendek selalu kau gulung hingga ke bahu. Lalu jabat tanganmu menyambut dengan senyum yang tampak lelah.

"Kalo somo bae, kita somo ka Mnado ulang. Nanti mobawa pa Pei cari karja di sana, baru sama-sama di sana ulang torang."

Itu percakapan terakhir denganmu lewat telepon beberapa pekan lalu. Aku merasakan girangmu saat percakapan itu. Keinginanmu untuk sembuh, sangat kuat terasa. Kendati putaran napasmu begitu pelan terdengar. Suaramu seperti direbut udara dari rongga dadamu. Kemudian kau pamit untuk istirah dari lelah.

Kota Manado diguyur hujan ketika kesedihan itu berserakan di Eropassi. Namamu di sana. Duka untukmu di sana-sini. Belum dada kami reda oleh gemuruh kehilangan. Kau sudah kembali mendebur.

Maaf kali ini tidak bisa hadir pada pemakamanmu. Pertemanan dan persaudaraan kita sudah melampaui batas, untuk tak lagi saling menyalahkan siapa yang hadir dalam sakitmu. Atau siapa yang paling di depan memikul kerandamu. Tak ada siapapun yang mampu menakar kesedihan ini.

"Mereka memikul kerandamu. Aku memikul kenanganmu."

Hanya kata-kata itu yang bisa aku curi dari puisi Ayah Amato. Untuk mengutarakan kesedihan ini.

Selamat jalan Onang. Maafkan kami yang tidak sempat hadir pada pemakamanmu. Tempat terbaik untukmu. Titip salam untuk Bedew.