Thursday, April 9, 2015

Pengendali yang Terlupakan

Selamat untuk sahabat segelas dan sebuku, yang telah mendirikan media elektronik, yang dengan begitu merdeka dinamai Arus Utara. Media yang dikendalikan sahabat sekaligus kerabat. Saya tak akan lagi merentang tentang media ini, cukup akses www.arusutara.com maka lengkap sudah informasi yang Anda cari.
Tertarik menyimak artikel yang diunggah Pemimpin Redaksi Uwin Mokodongan di tautan facebook, juga lewat pesan di BBM. Sederet link ( http://arusutara.com/2015/04/pdam-dan-cita-cita-menjadi-the-last-airbender/ ) tergolek ingin dijamah. Enter.
Artikel berisi celotehan tentang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bolmong yang, kali ini para petingginya harus bersusah-payah bolak-balik Polres Bolmong. Artikel yang digerbangi dengan sedikit kisah mengenai film animasi Avatar The Last Airbender. Film ber-genre petualangan dan fantasi. Dari kebanyakan film animasi atau kartun bertema asia, mungkin pikir kita tertuju pada kata Manga. Namun Avatar bukanlah Manga atau film yang diangkat dari komik jepang. Film ini ditayangkan di saluran Nickelodeon televisi di Amerika. Lalu di Indonesia stasiun Global Tv berkesempatan menghibur kita, lengkap dengan paket film kartun Spongebob.
Lanjut dengan tulisan si botak (Uwin), yang juga tak lupa merentang fungsi dan pentingnya air bagi kemashalatan rakyat banyak. Pun satire yang kerap melafadzkan nama saya.
Teringat saat masih menjadi liliput (sebutan saya untuk para peliput) di media online www.lintasbmr.com. Kala itu kami (saya, Uwin, Buyung, Zakir, dan si kocak Hamka) penuh semangat dan begitu solid, meski akhirnya tersengat arus ego dan terbujur koid. Kasus laporan beberapa pensiunan karyawan PDAM ini, sudah berlarut-larut. Terkait gaji pensiunan yang sudah bertahun-tahun tak dibayarkan perusahaan. Seingat saya, 2014 silam pernah dilakukan hearing di kantor DPRD Bolmong. Namun hearing berubah fungsi, menjadi labirin yang semakin membuat bingung para pensiunan.  Akhirnya, melapor ke Polres Bolmong, adalah satu-satunya harapan yang tersisa di saku para pensiunan ini.
Saat di Lintas BMR. Saya dengan merdekanya bercita-cita mengungkap borok PDAM Bolmong. Mengesampingkan ikatan emosional saya dengan bunda saat rumah singgahnya di Sinindian, menjadi barak para petualang malam, yang lupa jalan pulang. Pun bukan atas laporan salah satu pensiunan yang adalah ayah dari sahabat saya. Dilema seperti ini sulit disanggah di dunia jurnalistik. Namun dilema yang kita sendiri—wartawan—pun tahu 9 elemen apa yang seharusnya ada di genggaman.
Saya jadi ingat perkataan Avatar Aang, "Ketika kita menyentuh titik terendah, maka kita sedang membuka gerbang perubahan besar dalam diri kita." Entah di episode ke berapa. Mungkin Aang benar. Saat kita terpuruk, salah satu gerbang ketulusan akan menganga lebar, lalu ada perubahan besar dalam diri. Di sini, kita menempatkan titik emosional pada dua kutub yang sama, lalu terombang-ambing. Hingga akhirnya sebenarnya kita sadar, bahwa kita tidak terlalu merdeka untuk bangkit lalu memilih. Dan.... Tak ada yang berubah. Siapa yang salah, siapa yang benar, hanya berakhir pada satu kata. Deal.
Ah, bicara tentang Avatar. Kita terlena pada kehebatan pengendali air, tanah, udara, dan api, yang saling unjuk gigi, sehingga melupakan si nenek Hama, sang Pengendali Darah. Saya pun nyaris lupa pada Hama. Entah di episode ke berapa, Katara tiba-tiba dikendalikan si nenek. Pengendali darah terdengar begitu mengerikan. Anda bisa menjadi boneka yang bisa dikendalikan semaunya. Kemampuan ini hanya bisa dikuasai segelintir orang. Yang pasti, yang berkuasa adalah dia.
Pada akhirnya, kita tersudut di sofa, lalu memainkan jemari di atas layar bidang. Tau-tau mo ba train goblin jo kong mancari di CoC. Sebab hanya di CoC, kita bisa begitu merdeka.