Monday, September 14, 2015

Duka Aylan, Yaman, dan Salman

Tragedi, acapkali menjala kesedihan di mana-mana. Seperti tragedi Aylan, bocah berusia tiga tahun yang mayatnya ditemukan menelungkup di lepas pantai pulau Kos, Yunani. Di negeri Cupid dan para Filsuf ini, Aylan terbaring dengan pipi dikecup bibir pantai. Sesekali buih ombak seakan ingin menyelemutinya. Berharap Aylan tak kedinginan meski kulitnya telah membiru. Tak seberapa jauh dari mayat Aylan, kakaknya Galip yang berusia lima tahun, pun terbaring kaku. Sedangkan mayat ibunya terhempas 120 mil jauhnya. Menunggu.
Media nasional dan internasional dijejali foto-foto mengenaskan atas kematian Aylan, 2 September 2015. Sedangkan sosmed di Indonesia, hanya sedikit yang seliweran mengabarkan duka itu. Berbeda dengan sosmed Twitter di luar negeri, hashtag #KiyiyaVuranInsanlik yang artinya "kemanusiaan terdampar" mencuit riuh. Aylan hanya satu dari ribuan pengungsi yang bernasib naas. Seperti pesan dalam sebuah botol yang mengapung di lautan, Aylan ingin menyampaikan hal yang sama seperti saat terakhir kali ia berbisik pada ayahnya, "Jangan mati ayah."
Pesan Aylan bukan hanya untuk ayahnya yang selamat, akan tetapi sebuah pesan bocah untuk orang-orang dewasa yang telah mengerti apa arti kata perang. Tidak dengan anak-anak, mereka tak pernah tahu harus terlahir di negeri yang penuh prahara. Mereka bocah-bocah yang pasrah dengan kondisi terseret-seret lengan ayah. Dipaksa lari, sembunyi, dan mengungsi. Arab Saudi sendiri menolak kehadiran pengungsi. Sedih.
Sebelum dan sesudah tragedi Aylan, tengok Yaman yang tengah dibombardir Arab Saudi. Korban dari warga sipil, perempuan dan anak-anak terus berjatuhan. Perang memang kejam. Telunjuk Raja Salman, mengarahkan jet-jet tempur menggempur pemberontak Houti di Sanaa, Yaman. Bukan hanya Arab Saudi, 9 negara Teluk mendukung dan urunan menyerang Yaman. Kenapa bukan ISIS yang diperangi? ISIS yang menakuti bocah-bocah seperti Aylan?
Menurut data PBB, sudah 4.500 tewas dalam agresi militer tersebut. Ribuan lainnya luka-luka. Tak pelak, naluri berperang Salman memang telah eksis jauh-jauh hari sebelum ia bermahkota. Salman pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi, tahun 2011. Di tengah gempuran maha dahsyat itu, Yang Mulia Raja Salman berlibur ke Perancis.
Selanjutnya, Jumat 12 September, beberapa hari yang lalu, Salman melarang warga Yaman untuk menunaikan ibadah haji di Mekkah. Kakbah bukan milik Arab, itu milik umat muslim di seluruh dunia. Bahkan Nabi tidak pernah melarang siapa yang hendak berhaji. Sontak saja, ribuan warga Yaman, pemberontak Houti, dan para ulama mengutuk Salman. Entah kenapa, bukan sedang melakoni 'post hoc ergo propter hoc' akan tetapi satu tragedi kebetulan terjadi. Badai pasir dan angin kencang menerpa Arab Saudi. Saat ratusan bahkan ribuan umat muslim di Masjidil Haram, Mekkah, tengah mempersiapkan diri untuk salat magrib. Naas, sebuah Tower Crane roboh diterjang angin kencang. Satu Tower Crane, alat berat yang berfungsi sebagai alat bantu untuk akses bahan dan material konstruksi bangunan, terkulai tak berdaya diterjang angin, lalu menghantam Masjidil Haram. Ratusan korban berjatuhan dan hampir seratus korban tewas. Di antaranya 10 warga Indonesia. 
Media nasional dan internasional kembali 'disurati' duka. Kemudian gagap mengabarkan ke dunia. Tragedi menjadi viral, bahkan sosmed begitu riuh dengan unggahan foto-foto dan status 'Pray for Makkah'. Tagar #PrayForMakkah jadi trending topics di Indonesia.
Tower Crane itu roboh di tengah pembangunan Masjidil Haram, yang digenjot rampung 2016, agar mampu menampung 2 juta jamaah yang sebelumnya hanya 800 ribu. Apalagi bertepatan dengan kunjungan Presiden Jokowi, yang meminta penambahan kuota jamaah haji asal Indonesia, sebanyak 10 ribu. Salman sepakat meski pintu Masjidil Haram ditutup rapat bagi warga Yaman.
Duka dan kesedihan atas tragedi Crane ini seperti tongkat estafet yang terus bergulir. Di BBM, RU riuh rendah dengan ungkapan kesedihan. Di Twitter, Facebook, Path, penuh dengan emoticon air mata yang mengucur deras. Bahkan di Boltim, Bolmut, Bolsel, Bolmong, dan Kotamobagu, duka atas tragedi saling bersikut-sikut mengambil peran.
Lalu, di mana duka kalian, saat bocah Aylan dan ribuan warga Yaman dibombardir Arab Saudi?
Apakah duka terhadap sebuah tragedi harus menjadi trending topics dulu baru bisa dimaknai sebagai kesedihan berjamaah?
Atau karena korban-korban ada yang berasal dari Indonesia, maka empati hanya pantas bagi sebangsa setanah-air?
Apakah duka yang pantas itu, hanya untuk areal Kakbah yang dianggap sakral?
Di mana wajah-wajah, emoticon sedih, dan gerung tangis kalian saat Aylan terkapar di bibir pantai?
Di mana sedih itu, saat ribuan warga Yaman dibombardir oleh jet-jet tempur atas perintah Raja Salman?
Seharusnya kita jengah pula melihat Raja Salman yang tertunduk sembari menyampaikan belasungkawanya, untuk semua korban tragedi Crane. Jet-jet itu masih berterbangan di langit Hadramaut, Salman.
Saya turut berduka cita atas tragedi Crane, sama berdukanya tatkala melihat bocah Aylan tidur menelungkup di atas pasir. Pun duka atas korban-korban agresi militer Arab Saudi dan 9 negara Teluk lainnya ke Yaman.
Ah, haruskah kesedihan itu memilih wajah-wajahnya sendiri?