Monday, December 28, 2015

4 Tawaran Untuk 5 Sangadi


"Sekedar info…khusus warga otam. kalo s lat jang iko wangga, sin totok lunta'on intau bulud. napa ni malam so 2 org korban dorg bage kong pukul. dorang ja bagate dipinggir jalan. jd menghindar, iko wangga. kalo nekat iko bulud, usahakan bawa batu !"

Pesan di atas, di-broadcast seorang kawan via BBM (BlackBerry Messenger). Dia tinggal di Desa Otam Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Karena saat itu saya sedang diskusi dengan teman-teman di AJI Gorontalo, pesan nanti saya baca usai adzan Subuh berkumandang. Berdasarkan rekaman waktu, pesan itu disiarkan sekitar tengah malam. Pengirimnya adalah Non Widi, demikian perempuan ini kerap disapa.

Setelah menyimak isi pesan, saya coba bertanya sebab ada kalimat rancu saya temukan di situ. Pembaca mungkin bisa menyimak kekeliruaan isi pesan dalam menyebutkan letak desa. Setelah saya menanyainya, dia membalas kalau yang dia maksud, agar warga Desa Otam berhati-hati lewat di Desa Bulud. Dan alangkah lebih baiknya mengambil jalur di Desa Wangga.

Saya hendak menjelaskan sedikit, soal posisi geografis desa-desa di sekitar kampung saya, Passi. Desa saya, Passi, dan empat desa lainnya, ibarat lingkar gelang. Setelah Desa Passi, jika mengambil jalur kanan, maka desa yang pertama kali akan ditemui adalah Desa Bintau, sesudah itu Bulud, Otam, dan terakhir Wangga yang nantinya akan menembus lagi di Passi. Sebaliknya jika mengambil jalur kiri, maka posisi desa hanya berputar dari Desa Wangga dan seterusnya, hingga menemu Desa Bintau lagi dan kembali ke Desa Passi.

Desa Bintau sendiri, ada jalur yang bisa menembus ke Desa Bilalang. Sama seperti Desa Wangga, ada jalan yang tembus di jalur AKD di Desa Lobong. Nah, posisi Non Widi sendiri, si penyiar pesan, adalah warga Desa Otam. Melalui broadcast, dia mengingatkan, agar warga sesama Otam atau yang mau ke Otam, sebaiknya mengambil jalur kiri dari Passi, yakni melewati Desa Wangga, supaya aman. Sebab jika melewati Desa Bulud, sudah ada dua korban yang diduga dianiaya.

Isi pesan memang harus saya verifikasi dulu, sebelum menulis apa yang sedang Anda baca ini. Saya juga hendak menginformasikan kalau konflik antara dua desa ini (Bulud dan Otam) memang acap kali terjadi. Bukan hanya dua desa ini, tapi lima desa termasuk desa saya, pernah terlibat tarkam di zaman ketika saya masih kanak. Desa Bintau vs Passi; Desa Passi vs Wangga; Desa Wangga vs Otam; Desa Otam vs Bulud; Desa Bulud vs Bintau; dan terkadang acak.

Jika dilihat dari letak desa dan jalur menuju Kotamobagu—meski Desa Bintau dan Wangga memiliki jalur tembus menuju Kotamobagu —apalagi jika terjadi konflik, maka desa kami diuntungkan sebab jika keempat desa ini mau menuju Kotamobagu, mau tidak mau harus melewati desa Passi. Cari masalah dengan orang Passi berarti sama halnya dengan mematikan akses menuju ke kota.

Untuk itulah, Desa kami seringkali menjadi wilayah teraman jika konflik terjadi. Sedangkan Desa Otam, yang diapit 2 desa yakni Desa Bulud sebelah kanannya dan Desa Wangga sebelah kirinya, selalu sial secara georafis. Tak ada jalur alternatif tembus ke Kota kecuali harus melewati jalur "Gaza" yang panas jika terjadi konflik. Sebab tidak mungikin mereka mengambil jalur Moinit sebab tembusannya adalah Poigar. Dan hanya orang Otam sinting yang harus bersusah payah menembus belukar dan rimba raya sejauh kira-kira 40 kilometer, untuk sampai ke wilayah Poigar, kemudian menuju Kotamobagu lagi.

Tapi tujuan saya menulis ini, sebenarnya hanya ingin bertanya; mengapa masih saja terjadi konflik antar desa? Apalagi antara Desa Otam dan Bulud.

Tahun 2012 dan 2013 silam, pernah terjadi "perang" antara kedua desa ini. Perbatasan Desa bahkan dipagari warga secara ketat, membuat sekompi personil kepolisian siap tempur di Polres Bolmong, turun tangan mengamankan. Meski berhasil diredam, rupanya masih saja tersisa dendam. Apalagi remaja galau yang hilang tujuan, mulai bertindak sewenang-wenang dengan aksi duduk di jalanan dan mencegat siapa saja yang sedang bernasib sial.

Sebagai desa yang bakal lebih dahulu dilewati warga Otam, posisi Bulud memang di atas angin. Namun jika perang batu terjadi, posisi Otam yang berada di ketinggian, betapa seenak-perutnya melepas peluru-peluru bisu, sebagaimana yang pernah mereka lakukan 2 tahun silam.

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah keprihatinan atas kecintaan saya, tidak kepada kampung atau desa saya sendiri, melainkan 4 desa tetangga. Sejak saya kanak hingga sudah berbulu ini, masih ada saja pertikaian terjadi. Seperti warisan dari generasi sebelumnya ke generasi setelahnya. Sebuah warisan yang banal dan terkutuk.

Tiap kali 5 Desa ini punya hajat kegiatan perayaan (Hari Raya atau 17-an misalnya), dimana sepak bola masih selalu menjadi kegiatan terfavorit dan mudah dilaksanakan, selalu saja muncul rasa gundah. Sebab hajatan yang mendapat sisipan isu dan cita-cita untuk mempersatukan pemuda di 5 desa, malam semacam menjadi bumerang yang acap kali membuat galau pihak panitia. Alasannya, ya itu tadi, kekhawatiran atas konflik. Bukannya persatuan atau persaudaraan yang terjalin, malah permusuhan. Dendam seolah masih selalu bersemayam, dan turun temurun. Sepak bola masih selalu gagal menjadi pemersatu. Sebab bukan sekali-dua isu persaudaran didulang dan diulang-ulang dalam setiap hajatan itu. Tapi toh, tetap saja gatot (gagal total).

Munculah tawaran gagasan dari saya kepada para pemimpin desa, yakni Sangadi di lima desa ini. Meski ada beberapa desa telah terbagi menjadi dua desa, sebab seperti Desa Passi bersatu yang telah menjadi dua desa, sama halnya dengan Desa Otam Bersatu dan Wangga Bersatu, yang juga menjadi dua desa. Jadi yang awalnya lima desa ini, sekarang menjadi delapan Sangadi.

Gagasan ini sederhana dan menurut saya bisa dipertimbangkan. Semoga saja bisa meredam konflik yang bakal tumbuh subur, atau malah memusnahkan benih-benih konflik dan menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi antar sesama warga desa.

Pertama, bagaimana jika para Sangadi melakukan pertemuan rutin, minimal dua kali sebulan. Pertemuan itu untuk membahas program-program apa saja yang bisa diterapkan nantinya, yang melibatkan warga 5 desa ini. Misalnya gotong-royong mengerjakan saluran air untuk kolam ikan dan persawahan. Atau menyediakan lahan di masing-masing desa, sebagai percontohan dan tempat saling bertukar ilmu berkebun.

Kedua, bentuk ronda lima desa yang dinamakan Kamdesat (Keamanan Desa Bersatu). Jadi kelima desa ini memilih beberapa penjaga kampung dari masing-masing desa, yang nantinya akan digabung dalam satu kelompok bernama Kamdesat. Mereka ini secara bergiliran akan bertugas berpatroli di setiap kampung difasilitasi sepeda motor. Tentunya di masing-masing desa ada pos-pos penjagaan. Dengan ini, para pembuat onar bisa diminimalisir, dan setiap desa memiliki perwakilannya. Mereka pun bakal dilibatkan di setiap acara muda-mudi yang rentan onar.

Ketiga, tiga bulan sekali, diadakan Kemah Bersama yang melibatkan pemuda-pemudi lima desa. Kegiatan perkemahan ini dibuat selama tiga hari, atau boleh juga selama satu minggu. Agar tidak menggangu jadwal sekolah dan pekerjaan, kegiatan Kemah diaktifkan mulai sore hingga malam hari. Perkemahan diadakan bergilir. Di isi ragam acara yang mendidik tetapi harus mengutamakan hiburan. Selain baca puisi, dangdutan juga boleh. Atau bermain kartu Remi dan Domino. Pokoknya terserah, asal menghibur, menggairahkan, dan membuat hubungan semakin mesra.

Keempat, nah, ini soal olahraga yang paling rentan onar yakni sepak bola. Selama ini, kegiatan sepak bola antar desa, acapkali menyulut kekacauan. Maka, bagaimana jika dibuat liga? Tapi bukan liga biasa. Liga ini saya beri nama Limdesat alias Liga Lima Desa Bersatu. Dalam liga ini, dibentuklah tim kesebelasan yang pemainnya terdiri dari gabungan pemain dari lima desa yang ada. Di kocok atau diacak. Misalnya satu tim dari Desa Bulud bernama Perkasa, harus terdiri dari pemain asal Desa Otam, Passi, Wangga, dan Bintau. Begitu pun tim-tim di desa lainnya. Tujuannya adalah, penonton tidak lagi terkubu-kubu pada 'desa kami', tapi 'tim kami'.

Masih banyak lagi gagasan-gagasan lain yang bisa ditambahkan. Dan saya rasa para Sangadi yang terpilih pada Pilsang serentak 15 Desember kemarin, sudah punya konsep-konsep cemerlang, demi ketentraman dan keamanan desa.

Semoga saja, kelima desa ini bisa hidup damai, apalagi jika ditarik silsilah ke leluhur kita, maka kita semua adalah saudara sekandung, sedarah, bahkan semarga, yang hanya dibatasi dan dilabeli sebuah nama desa. Jauh di balik itu, kita semua adalah sama; manusia. Bertengkar hanya menguras banyak energi dan membuang umur. Kenapa energi itu tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaaat? Semacam membaca tulisan ini misalnya.

Tulisan ini dimuat di: http://arusutara.com/2015/12/4-tawaran-untuk-5-sangadi/