Friday, December 4, 2015

Takhayul Tuyul itu Betul

Jumat malam, seharian di sekretariat AJI Gorontalo, kami akhirnya merasa bosan. Lalu ide untuk pergi melihat tuyul terlontar begitu saja dari mulut Geril dan Andri. Kebetulan saat itu Arnold melintas menuju kamar mandi. Konon, ia bisa membuka mata batin, agar kita bisa melihat penampakan tuyul. Saya, Ivol, dan Opan, yang penasaran ingin melihat tuyul, seketika bangkit dari lantai ubin. Kami sepakat ingin melihat tuyul. Arnold pun bersedia mengantar kami ke tempat di mana tuyul-tuyul itu biasa bermain.

Lewat tengah malam. Saya, Geril, Andri, Arnold, Ivol, dan Opan mengendarai motor, berboncengan mencari tempat di mana tuyul-tuyul itu mangkal. Bayangan tempat gelap, rumah tua, pohon besar, menari-nari di atas kepala saya, selama perjalanan. Meski rasa takut ada, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya ingin melihat tuyul. Harus.

Beberapa menit membelah malam kota Gorontalo, tiba-tiba Geril, Andri, dan Arnold, berhenti di titik pertama. Keadaan jalan gelap gulita. Ada lorong di samping kiri kami. Rimbun pepohonan di pinggir jalan, bak siluet raksasa. Imajinasi saya semakin horor, apalagi cahaya yang ada saat itu, hanya berasal dari tiga lampu motor yang kami kendarai. Malam itu, hanya kami berenam yang berada di jalanan itu. Tak ada kendaraan yang lalu lalang atau pejalan kaki. Namun entah kenapa, titik itu ditinggalkan. Menurut mereka bertiga, Geril, Andri, dan Arnold, tak ada tuyul di situ.

Perjalanan kami lanjutkan. Tanpa jaket, udara dingin merangkul leluasa. Menambah suasana horor malam itu. Hanya beberapa menit, kami berhenti lagi di titik kedua. Pencahayaan di lokasi itu tak terlalu gelap. Ada beberapa lampu jalan, namun tertutup rimbun pepohonan. Sekitar 20 meter dari posisi kami, ada seorang perempuan paruh baya sedang sibuk mengemasi jualannya. Ia pedagang kaki lima yang sering mangkal di situ. Sekali lagi, titik itu ditinggalkan. Alasan yang sama, kata mereka sedang tak ada tuyul yang berkeliaran. Saya mulai mengira-ngira, mungkin di sekitar situ, adalah tuyul-tuyul peliharaan. Tak sama dengan tuyul-tuyul yang kami buru malam itu. Para tuyul
terlantar. Tak bertuan.

Agak jauh dari titik kedua, akhirnya kami berhenti di pusat kota. Lokasi itu tak jauh dari persimpangan jalan. Beberapa kendaraan lalu lalang. Lampu-lampu jalan benderang. Bangunan ruko berjejer. Dalam hati saya, tempat ini cukup terang, sehingga perasaan takut saya yang sedari tadi hampir menyetuh 100 persen, berkurang menjadi 70 persen saja.

"Di sini?" saya bertanya.

"Iya, di sini ada," jawab Arnold, sambil mengeluarkan sebotol air
mineral di kantong celananya. Air itu sengaja dibawa dari sekretariat.

Andri menyeberangi jalan, menuju halte. Tak jauh dari halte, ada rumah kosong, yang menurut penuturan mereka, sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pandangan saya menyapu sekitar lokasi. Tiga meter dari saya, Opan berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupnya. Kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangan, seperti orang kedinginan. Matanya liar. Yang kemudian terpaku lama pada rumah kosong di seberang jalan.

Saya mengira, ritual melihat tuyul akan segera dimulai. Ivol sibuk dengan ponselnya. Ia berencana akan merekam video atau mungkin memotret penampakan tuyul. Kemudian kami bertiga dikumpulkan Arnold. Bibirnya komat-kamit, merapal mantra pada botol air. Lalu ia menyuruh kami bertiga membasuh mata dengan air yang telah dimantrai.

"Kalian bertiga saling berpegangan tangan atau pegang pundak saja,"
terang Arnold. Meski dalam keadaan terang benderang, ketakutan saya kali ini memuncak.

"Ingat, bentuknya hitam, kepala bulat, tak berwajah, dan melayang-layang," jelas Arnold.

Sesuai instruksi Arnold, tangan kanan kami saling memegangi pundak. Jangan sampai lepas. Berjejer, kami disuruh menyeberangi jalan. Satu dua motor melintas. Kami disuruh mundur. Selanjutnya kami diperintahkan berjalan ke samping kanan menuju satu pohon. Sekitar lima meter kami berjalan, tiba-tiba Arnold menyuruh kami mundur beberapa langkah. Kami seperti domba yang sedang digembala. Untuk menghalau rasa takut, dengan ritme cepat saya mengisap rokok yang sudah saya nyalakan sebelum ritual dimulai.

Pohon yang kami dekati itu tak terlalu besar. Seukuran paha orang dewasa. Ada satu tiang rambu-rambu lalu lintas di samping pohon. Salah satu dari kami diminta memegangi tiang itu. Ivol yang berada paling depan, merebut tiang dengan cepat.

"Tangan kalian harus terhubung dengan tanah. Tiang itu jadi media
penghubung. Jangan sampai lepas!" teriak Arnold, yang berada 10 meter jauhnya dari posisi kami.

Selanjutnya kami diteriaki untuk berjalan lagi, masih dengan posisi saling memegangi pundak. Saya yang berada paling belakang, mendapat giliran memegangi tiang. Lengan kanan saya lingkarkan pada tiang, sambil bersandar. Sedangkan tangan kiri berada di pundak Opan.

"Di atas kepala kalian!" Arnold mengarahkan.

Dengan degup jantung tak beraturan, bersamaan kepala kami mendongak. Hanya ada rimbun dedaunan. Kami mendengar teriakan Arnold lagi. Mata kami awas, terus mencari. Tiba-tiba, degup jantung serasa berhenti. Sebuah siluet seukuran bayi yang baru lahir sehari, terbang di atas kepala kami. Wajahnya polos hitam. Siluet seperti berenang di udara. Tangan dan kakinya utuh berbentuk manusia. Siluet itu lalu melayang turun dan tepat berada di belakang kami. Hanya berjarak semeter. Tiba-tiba ia menjauh sembari mengeluarkan suara, seperti jangkrik yang dicekik.

Opan tak tahan menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Ia limbung, tapi masih berhasil mengontrol keseimbangan tubuhnya. Ia tersimpuh di aspal jalan, dengan telapak tangan menutupi wajahnya. Ivol terpaku. Ponsel yang tadinya direncanakan untuk merekam, hanya digenggamnya. Kemudian ia lari menuju pagar di depan ruko. Kami bertiga tercerai-berai.

"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" saya memilih lari menuju tiang lampu jalan. Entah kenapa, suasana jalan seketika sepi. Tak ada lagi kendaraan lalu lalang saat itu.

Tuyul itu terbang menuju rumah kosong. Siluet itu bersinar, saat melintas di bawah lampu jalan. Saya berlari menuju salah satu ruko. Di sana saya dapati Ivol dan Opan masih gemetaran. Andri dan Arnold berada di halte, 20 meter jauhnya dari posisi kami. Dan kami baru sadar, ternyata Geril dengan ponsel ditangannya, berhasil merekam kejadian itu. Tuyul itu lalu hilang di halaman rumah kosong yang gelap gulita. Suasana mencekam makin terdramatisir sebab listrik sekota tiba-tiba padam. Ternyata sedang ada pemadaman bergilir PLN.

Ivol berteriak memanggil Arnold. Meminta agar mata batin kami segera ditutup. Andri dan Arnold beranjak dari halte. Bergegas menghampiri kami. Air kembali diusapkan ke mata. Napas saya masih memburu. Saya bahkan lupa, di mana rokok yang tengah saya isap tadi. Arnold sibuk mengusap pundak Opan. Sampai kondisinya membaik.

Kami bertiga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami saksikan. Ternyata, tuyul yang selama ini saya tonton di film, berbeda bentuknya. Memang ia berkepala botak atau lebih tepat bulat, tapi tidak pucat, atau bercawat. Hanya seperti siluet. Dan setelah menyaksikan penampakan tuyul itu, bangun logika yang selama ini menuntunku untuk berpikir yang rasional, akhirnya luluh lantak. Saya tidak percaya takhayul. Tapi keberadaan tuyul itu ternyata betul.

Beruntung, dari semua ritual untuk melihat tuyul, momen kami terekam jelas oleh Geril. Saking fokusnya kami, Geril terus membututi kami lalu merekam, tanpa kami sadari. Selanjutnya kami memutuskan segera kembali ke sekretariat, untuk menonton video rekaman itu. Hasilnya, tuyul itu terekam jelas. Geril saat merekam memang tidak bisa melihat tuyul itu, sebab mata batinnya tertutup. Tapi kamera yang ia arahkan, berhasil menyorot penampakan tuyul. Hanya satu tuyul memang. Tapi seramnya minta ampun.

Lalu kami memutuskan, suatu saat video itu akan diunggah di youtube. Tapi setelah semua teman teman yang kerap mangkal di sekretariat, keseluruhannya sudah pernah melihat tuyul. Tanpa tersisa. Dan jika video itu diunggah nanti, maka dari Gorontalo, bukan hanya video Norman Kamaru atau Bona Paputungan, yang berhasil menyita jutaan pemirsa. Bahkan bisa jadi, kami akan diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. Ini bukan acara Dunia Lain, yang jika dinalari, hanya berisi tayangan sampah-sampah yang dibalut kisah mistik.

Tapi, sampai sekarang ketakutan itu terus ada. Saya sempat mimpi buruk. Di kamar, malam hingga menjelang pagi, lampu tak pernah dipadamkan lagi. Seperti ada yang terus mengawasi, meski kamar dalam keadaan terang benderang. Namun jauh di dalam hati, ada kepuasan sebab rasa penasaran itu akhirnya terobati. Meski harus dibayar mahal dengan gigir ketakutan. Saya takut sekaligus puas. Dan kepuasan itu akan terus ada. Bahkan jika nanti pada akhirnya kami memutuskan untuk menghapus video itu. Yakinlah, mereka ada.