Tuesday, December 1, 2015

Hai Sigi


Sigi. Kamu itu suluh, obor, kata kamus. Kamu penerang jalanku. Kilat bola mata bundarmu sepakat. Dan kamu masih selalu menjadi ruhku dalam menulis apa saja tentang hidup. Sebab kamu hidup. Terbenam dalam nadiku.

Ibumu tahu aku rindu padamu. Setiap saat. Meski kita hanya sedetik pernah terkurung bersama. Kala itu tengkar acapkali ada. Kamu masih takut menatapku. Bahkan dalam tidur lelapmu.

Kamu tahu, Sigi. Sama sepertimu, ibumu kukenali dari kilat bola mata. Meski bola mata ibumu cokelat, tak seperti warna bola matamu yang hitam. Namun malam itu kilatannya menyilaukan. Jauh ke dalam, sekali lagi, nadi. Aku pikir, semesta pun cemburu, dengan cara kami saling bertatapan kala itu.

Aku pernah coba melupakanmu, saat kita tak serumah lagi. Meski kutinggalkan beberapa helai pakaianku, untuk kamu baui saat bayi. Kata orang tua, itu agar kamu tak rewel. Tapi aku tetap merinduimu. Kamu kerap menangis dibuatnya. Rindu memang selalu bercumbu dengan air mata.

Kamu masih ingat? Tatkala usiamu dua tahun. Kamu sangat lincah berlari. Aku tengah duduk di sofa kamar. Tiba-tiba kamu berlari dan meringkuk di antara pahaku. Kamu ingin berlindung dari apa, Sigi? Takut dengan apa? Oh, ternyata nenekmu sedang menyuapimu nasi. Kamu bukan takut, tapi kenyang ternyata. Baguslah, kamu kenali apa itu kenyang, agar tak serakah jika dewasa nanti. Benar, Sigi, menjadi dewasa itu rentan serakah. Kakekmu sangat benci dengan orang tamak.

Setiap 28 April, aku menulis tentangmu. Itu tanggal lahirmu. Tapi ini bukan April. Iya, Sigi, kita berdua terlahir di bulan yang sama. Aku tanggal 12. Tuhan seperti ingin agar bulan itu menjadi spesial bagi kita berdua. Mungkin itu satu-satunya cara Tuhan menghiburku. Memberiku porsi bahwa aku patut diberi momen. Sebab ibumu terlalu banyak momen denganmu. Bahkan setiap ibu di dunia, selalu lebih spesial, bukan?

Akhir November 2015, aku terkejut. Kamu meneleponku.
"Hallo Aba, ada ba apa?"
Aku pikir ibumu yang menelepon. Aku ingat, asap mengepung Kalimantan, dan kamu berada di Banjarmasin, aku begitu cemas. Ternyata kamu sudah kembali ke Passi. Desa dimana kamu dicipta dan dilahirkan. Aku senang sekali kala itu. Apalagi kamu menyusulku dengan SMS. Aku tidak tahu persis, kamu yang menekan tombol huruf atau ibumu. Tapi itu membikinku senang.

Sesudah itu, setiap hari kamu mengirim pesan. Bertanya aku di mana, sedang apa, dan pertanyaan pertanyaan pasangan remaja yang kasmaran. Aku tahu saat itu kamu mendengar instruksi ibumu. Kamu terlalu kecil untuk tahu 5W 1H. Tapi aku anggap itu sepenuhnya kamu. Lalu aku menegurmu, jangan terlalu lama main ponsel. Eh, sesaat kemudian ibumu mengirim pesan suara. Kamu menangis. Kenapa Sigi? Kamu takut dengan sosok ayah yang pelarang? Aku bukan ayah seperti itu. Aku hanya takut kamu menjadi anak yang tidak interaktif. Kamu akan nyaman dengan ponsel itu, sedangkan ada semesta tempatmu bermain. Kamu bisa berkejar-kejaran dengan anak tetangga. Mandi hujan lalu melompat-lompat di genangan air. Atau mencuri tomat nenekmu di kulkas. Kamu masih doyan makan tomat?

Usiamu baru 4 tahun 8 bulan. Memang Tak lama lagi kamu masuk taman kanak-kanak. Aku sempat bertanya apakah kamu sudah bisa berhitung dan mengeja huruf. Di ujung telepon sayup-sayup ibumu bilang.
"Sigi, baru ada tunjung kalamaring!"
Tapi aku ingatkan ibumu, jangan dulu diajari berhitung dan membaca. Di usiamu sekarang, biarkan saja kamu bermain sepuasnya. Menggambari tembok dan mendengarkan dongeng ibumu. Kenali dunia sekitar hingga tempat tidurmu. Tak lama, aku bertanya apakah kamu sudah bisa menyanyi. Kamu menyanyikan lagu 'Kasih Ibu'. Kamu anak pintar.

Aku juga meneleponmu waktu itu. Hingga kamu capek menggenggam telepon. Benar Sigi, menjadi orang dewasa itu capek. Terpaku pada gadget sampai lupa waktu. Makanya, lepaskan ponsel lalu bermain lagilah. Aku rela. Lalu kita bersalam pisah. Kamu mengecup di ujung sana. Terdengar rekat.

Oh, ya, kamu sudah ketemu nenek di rumahku? Jawabmu sudah. Katamu nenek memberimu uang puluhan ribu. Iya, nenek selalu begitu. Apalagi ia terlalu rindu denganmu. Sejak kamu ke Banjarmasin, nenekmu acapkali bersedih, sebab kamu tidak pamitan. Tapi baguslah kamu telah pulang. Lalu bertemu nenek lagi. Pasti kamu dibuatnya kenyang lagi.

Aku tanyai lagi, sudah ke makam kakek? Katamu belum, nanti akan ke rumah nenek lagi, terus ke makam kakek. Iya, kakek juga pasti rindu kamu. Saat kakek berpulang, kamu masih di Passi. Momen duka itu menjadi suka bagiku. Sebab kamu selalu takut bertemu denganku. Dan akhirnya di hari pemakaman kakek, kamu akhirnya mau kupeluk. Biasanya momen seperti itu, hanya bisa kucuri saat kamu tertidur pulas.

Hai Sigi. Kamu bidadari yang hanya bisa kutulisi, entah sampai kapan. Getah Semesta ini, tabung memori untukmu. Akan kupenuhi dengan segala semesta hidupmu dan hidupku. Mereka yang ada di sini pun adalah jejak-jejak hidup kita berdua. Sebab sebenarnya setiap mahluk itu saling terhubung. Ada getah yang merekatkan kita.

Ok, Sigi. Jangan nakal ya, sama ibu. Bilang sama ibumu, rambut keritingmu jangan digunting. Jangan lupa selalu tersenyum dan puas-puaslah bermain. Sayangi kakek dan nenekmu di rumah ibu. Sayangi pula nenek di rumah ayah. Sayangi keluargamu. Sayangi tetangga-tetanggamu. Sayangi boneka-bonekamu. Sayangi teman-temanmu. Sayangi semua manusia. Sayangi pula binatang binatang yang kamu temui. Jika mereka tidak menggangu, jangan usik mereka. Sayangi semua mahluk.

Sudah dulu ya, Sigi. Berulang kali ayah berpesan: Jangan pernah dewasa!! Muaaachhh!!