Saturday, December 12, 2015

Sebab di Endonesya, Ikan Mati Lebih Berharga dari Anak Papua

Saat subuh saya kerap terbangun. Bukan untuk salat, tapi ada agenda sunah; nyekrol layar ponsel dan baca berita. Dua kegiatan itu sebagai pengganti nyekrol butiran-butiran tasbih dan baca doa. Aih, ngapain juga bangun subuh buat baca berita? Tapi itulah gaya hidup baru saya yang terpolarisasi begitu saja, setelah menetap di Kota Gorontalo yang dijuluki Serambi Madinah. Di sini, pada setiap waktu salat, adzan bergemuruh ngalahin lagu Sepultura, Orgasmatron, yang saya setel jadi nada alarm.

Nah, sebelum saya dibuli para haters syariah, sebab terlalu banyak cocoklogi dan buat perbadingan sama agama, saya lebih baik serius lanjutin nulis ini, dan ronda ke syaraf-syaraf terpojok dalam otak, di mana bahan-bahan lelucon baru bisa saya temui, juga ide-ide bisa tergali.

Tiba-tiba saja saat nyekrol di Kompas.com, saya langsung ke salah satu konten 'Topik Pilihan'. Yang bertengger di sana, pertama jelas Pilkada Serentak 2015, jadi yang paling ngatap. Saya terus nyekrol lagi, sampai ke topik ke-enam, ada berita-berita nyoal 'Ikan Mati dan Terdampar di Pantai Ancol'.

Kemudian pikir saya terbang menuju Papua (eh, ikan mati di Pantai Ancol, bukan di Papua). Meski saat itu saya terus membacai berita-berita tentang ikan mati. Tapi sekali lagi, bukan ikan-ikan mati yang ada di hadapan saya. Tapi anak-anak Papua, yang tergeletak mati secara misterius. Kata 'misterius' juga saya copas dari Kompas.com, saat memberitakan soal itu, di akhir November.

Dan yang menjadi perusak suasana hati saya di subuh yang khusyuk ini, ragam media nasional di ibukota Jekardah (begitu anak-anak alay nyebutnya), ikan mati di Pantai Ancol saja, topik pilihannya bisa nangkring di posisi enam. Yah, memang jika ditelaah, peringkat itu sesuai banyak atau sedikitnya jumlah viewers yang mengunjungi topik tersebut. Namun ada yang membikin sedih di sini (fase menulis dengan tampang serius), saat membaca beberapa berita, dari yang berjudul 'Ancol Gandeng Berbagai Lembaga Terkait Kasus Ikan Mati', sampai hasil survei cepat dari LIPI yang mengatakan dan dijadikan judul 'Ledakan Populasi Fitoplankton Jadi Penyebab Matinya Ikan di Laut Ancol'. Pun komentar Ahok (sebab media di Jekardah, gak ada nama Ahok, gak nohok), hingga yang terbaru 'Hasil Uji Lab Keluar, Ini Penyebab Matinya Ribuan Ikan di Pantai Ancol'.

Deretan gigi atas dan bawah saling menggerus di mulut yang belum sikat gigi ini. Saya geram. Bukan karena matinya ikan-ikan—yang memang juga membikin hati saya sedih—tapi satu-satunya alasan manusiawi yang membuat saya geram; kenapa pemberitaan tentang puluhan anak-anak Papua yang meninggal, dan sebabnya dikatakan misterius itu tidak di blow-up media-media? Kondisi rakyat Papua memang kerap ditenggelamkan dari pemberitaan. Kecuali riuh-tinggi berita tentang kisruh kontrak Freeport atau anggota TNI yang mati, maka apapun tentang rakyat Papua seperti di-misterius-kan.

Coba Anda gugling dengan tagline 'Anak Papua Mati Misterius', maka berderet pemberitaan dengan judul yang sama, namun hanya heboh sehari-duahari. Membagi angle dan follow-up di setiap media sangat minim. Dibandingkan dengan berita ikan-ikan mati, yang dari sesumbar Ahok sampai hasil lab diulas (bahkan dari kepala ikan, ekor, sampai sirip dan sisik-sisik dibahas). Kata 'misterius' hampir seluruhnya menghiasi judul berita, yang saya pun mengira-ngira beberapa media hanya nyopas.

Penjudulan 'misterius', seakan-akan, anak-anak Papua itu baru saja ditemui Alien yang kemudian menyebarkan virus dari Planet Sumeleketek, yang jauhnya kayak keliling bumi 1 triliun kali. Satu-satunya yang beda adalah jumlah angka korban yang meninggal. Sungguh etos verifikasi dijunjung tinggi di sini (tepok jidat), hingga angka-angka bisa berbeda-beda. Saya pun kesulitan memilah berita mana yang layak dijadikan acuan, soal jumlah korban. Yah, maklum, mungkin kontributor juga minim di sana. Jadi informasinya hanya dari sistem noken per kepala suku. Padahal dari Kota Gorontalo sini, saya siap diterbangkan ke Papua, jika dijadikan kontributor seumur-hidup di sana! (ngancung lengan dengan kepal tangan kiri, sekalian promosi).

Dan yang paling membikin saya menyeringai pula, saat membaca berita di Kompas.com, Jumat 27 November, dengan judul, yah, sudah bisa ketebak pasti ada kata 'misterius'. Di situ dituliskan bahwa Yan Hubi, petugas Puskesmas Kota Wamena, tadinya mengira itu disebabkan malaria, sama seperti yang pernah terjadi di tahun 1998. Ciri-ciri atau gejala-gejala penyakit misterius sama persis saat itu kata Yan, awalnya demam tinggi, disertai buang-buang air (mencret). Namun dari hasil pemeriksaan darah di Laboratorium Dinas Kesehatan di Wamena, hasilnya negatif malaria. Lalu sebenarnya itu penyakit apa? Mustahil kan, jika petugas medis tidak bisa mendeteksi jenis penyakit apalagi itu hasil tes laboratorium. Kan, bisa dikirim lagi sampelnya ke Jekardah, tempat di mana lab tercanggih ada. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Mesak Kogoya, juga menyampaikan, korban tidak menderita mencret, hanya mengalami demam tinggi, lalu kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.

Nah, lebih menyedihkan lagi, bahkan ada pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giay, bahwa kasus kematian puluhan anak di Kabupaten Nduga, baru diketahuinya tiga hari sesudah kejadian tragis itu muncul ke permukaan. Kemana saja Pak Aloysius, sibuk mendata penambahan alat kesehatan? Hmm.... Sudah kuduga.

Sungguh, dibandingkan ikan-ikan mati di Pantai Ancol, pemerintah Endonesya lebih gesit menangani ikan-ikan tersebut ketimbang kejadian tragis yang menimpa anak-anak Papua. Selain minim tenaga medis, kondisi geografis kerap menjadi kendala, sebab kedua distrik yakni Distrik Mbua dan Distrik Mbulmu Yalma tempat dimana jatuhnya korban, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun coba bayangkan, keseriusan pemerintah menyoal ikan-ikan mati, sampai-sampai LIPI turun tangan, hasil tes lab yang tentu saja dari laboratorium termutakhir sehingga ikan yang kekurangan oksigen bisa terdeteksi, pun berbagai lembaga dilibatkan pengelola Ancol dan pemerintah. Sehingga 'kemisteriusan' ikan-ikan mati bisa dengan cepat terkuak. Sementara anak-anak di Papua? Keroyokan kalian neliti, kayak neliti ikan-ikan mati?

Pemberitaan pun sepertinya hanya mengejar rating. Setelah itu, kelanjutan pemberitaan tenggelam begitu saja. Padahal kita sudah muak dengan sirkus perpanjangan kontrak Freeport yang nantinya, ujung-ujungnya juga sampai rahim hutan Papua puas diaborsi berkali-kali, kontrak tetap akan berlanjut. Tanah kandung Papua tetap menjadi tempat digelarnya lembaran-lembaran dolar. Oh, Presiden Jokowi. Kaos Barisan Relawan tahun kemarin, sudah lama saya bakar. Meski ada beberapa kebijakanmu yang lumayan terterima.

Beruntung, kita masih sedikit terhibur dengan pemberitaan bebasnya Filep Karma (salam merdeka dan damai, Bapa). Setelah itu, matahari Papua kembali terbenam. Sederet kasus pelanggaran HAM oleh militer masih tetap terkubur. Berita tentang rakyat Papua yang dipaksa untuk merubah pangan dari sagu ke beras, dilupakan. Sepertinya pola pikir 'nasi' di Jekardah pengen disama-ratakan hingga ke Papua. Kaka, apa yang disebut pangan itu cuma nasi, kah?

Kemudian menyoal berjuta hektar sawah dan ribuan hektar sawit yang dipaksa dicetak di tanah Papua, terabai diberitakan. Hutan-hutan sagu dan pepohonan diratakan tanah, tak pula diberitakan. Beruntung ada Ekspedisi Indonesia Biru, yang film dokumenternya The Mahuze's, membuka mata batin tentang bagaimana kondisi sebenar-benarnya rakyat Papua dan bisa ditonton gratis di yucub (makasih banyak Mas Dandhy dan Ucok, yang juga sempat mampir di Gorontalo).

Sementara media nasional sendiri, hanya sibuk mengangkat berita kunjungan Paduka-paduka dari tanah Jawa ke Papua. Seremonial. Sungguh di sini sekilas saya teringat Mohammad Hatta (sesegukan dengan mata berkaca-kaca). Subuh ini jadi perenungan bagi saya. Meski rambut saya tidak keriting dan saya berkulit putih. Saya Papua. Dan saya manusia. Saya juga merasakan duka dan juang rakyat Papua. Duka yang sama, yang mendidih dan terus dipendam rakyat Papua.

Ah, dan pada akhirnya, rakyat Papua seperti "dipaksa" untuk menjadi Endonesya.