Tuesday, December 15, 2015

Setapak Langkah DB Menuju Sangadi

No comments
JAUH dari Eropassi (sebutan kami untuk Desa Passi), selain masakan Ibu dan Sigi, rindu senantiasa hadir merayapi setiap jengkal tanah desa tempat saya dilahirkan. Jejak-jejak kenakalan kami dari mencuri duren, matoa, rambutan, mangga, duku, jagung, pisang, ayam, (tapi syukurlah kami tidak pernah menyembelih kambing maupun sapi) semua adalah jejak-jejak yang orang tua pun pada akhirnya selalu mengamini betapa bandelnya kami.

Kenakalan itu semacam arisan dan warisan turun-temurun. Makanya perkara 'mencuri' milik 'kakek', yang dilakoni kami anak-anak bengal di kampung, hanya menjadi buah keprihatinan dan emosi yang meledak sesaat oleh setiap orang tua, dan tidak pernah diproses sebagai tindak pidana. Kecuali, jika apes dan kedapatan, maka bersiap malulah ketika dijejer di rumah salah satu tetua kampung lalu ditampar satu-satu oleh Bobato (Kepala Desa). Ingat, itu jika apes saja. Sebab seolah sudah umum, jika si empu selalu memendam rasa kehilangan, dengan ucapan antara geram dan ikhlas; "Ah, dulu lay torang waktu muda bagini. Akhirnya dapa balasan."

Begitulah Eropassi, desa yang dengan segenap rasa, akan selalu saya dan siapa saja yang telah berada nun jauh di sana, rindukan. Tempat di mana tabung memori kami tertanam. Dan tempat di mana kata pulang begitu sentimentil.

Saya hanya sedang berada di Gorontalo. Tapi rindu ini sungguh setara ketika tapak kaki memijaki tanah Anging Mamiri dan ketika berada di Pulau Dewata, Bali. Dua wilayah terjauh yang selama ini saya jejaki. Tapi menyoal rindu, ruang memang bukan menjadi ukuran, tetapi kesempatanlah yang menjadi satu-satunya kendala. Selain itu, tentu saja selalu klasik; Ompul! Alias Ongkos Pulang. Samantara mancari ini sup..

Dan tibalah hari ini. Selasa 15 Desember 2015. Setelah Pileg 2014, dengan jagoan yang akhirnya lolos, lalu Pilpres 2014 dan Pilkada Boltim barusan, yang paling mendebarkan buat saya adalah momen hari ini; Pemilihan Sangadi (Kepala Desa) di Eropassi. Pileg 2014, sanak-keluarga dan sahabat yang mencaleg dan tentu saya jagokan, berhasil meraih kursi. Beberapa bulan kemudian, pada momen Pilpres ketika Jokowi 'berkelahi' dengan Prabowo, saya yang akhirnya menolak Golput dan memilih berada di barisan mantan Walikota Solo ini, masih bisa mengingat bahkan merasakan bunyi degup jantung saat hari H.

Selanjutnya, Pilkada Boltim 9 Desember 2015 kemarin, kandidat petahana yang jauh-jauh hari sudah saya yakini menang, sempat meremas dan memainkan irama dalam dada yang naik turun. Tapi Pilsang di desa saya, khususnya Passi 1, selain calon petahana dan dua kandidat lagi yang usia paruh baya mereka tak jauh beda, dua kandidat muda, kakak-kakak saya di RPM (Rumah Pemuda Merdeka), yakni Delianto Bengga (disapa DB) dan Tito Sugeha (biasa saya sapa KT), ikut rembuk masuk arena suksesi Pilsang, dan tak hanya secara sentimentil melahirkan getaran-getaran Baper di pelataran hati saya. Tapi efek baper itu, berlipat ganda melahirkan bunyi degup jantung saya lebih kencang di banding Pileg, Pilpres, Pilgub, dan Pilbup Boltim.

Sebulan yang lalu, DB beberapa kali menghubungi saya. Dia suka bertanya-tanya; minta saran dan masukan dari saya dalam rangka suksesi Pilsang yang tengah dimasukinya. Pembaca, siapa yang tidak baper dan agak termehek-mehek lensek!! Seorang Kakak, yang umur bahkan pengalamannya jauh di atas saya, justru minta pendapat sang bocah ingusan. Siapa saya? Bukan konsultan lembaga survey, bukan ahli strategi yang melek pulitik. Tapi itulah DB. Ia selalu bertanya pada siapa saja yang menurutnya perlu ditanyai. Maka percayalah saya saat ini apa yang pernah disampaikan Uwin Mokodongan, pengelola media ini via chat BBM; "Anak-anak SD yang baru pulang sekolahpun dimintai pendapat oleh DB, bagaimana seharusnya menjadi Sangadi (Kepala Desa) yang layak diperjuangkan,".

Sekali lagi, itulah memang DB yang saya kenal. Saat ia beberapa kali megontak, sepintas lalu saya berpikir; Ah, dia mungkin cuma kesepian, atau berbasa-basi saja. Mungkin cuma hendak menanyai kabar saya di Gorontalo. Apalagi sebagai senior, DB lebih lihai dan paham soal strategi dan taktik dalam berpolitik. Dia suka berada di balik layar, dari pemilihan; Bupati, Legislatif, dan turut andil pula dalam Pilgub bahkan Pilpres. Tentu saja, apa yang dia tanyakan hanyalah basa-basi. Apalagi dia adalah pemain catur yang handal. Tapi toh, sekali lagi, inilah DB. "Semua orang itu guru," kata dia mengutip Pramoedya Ananta Toer. Saya kembali teringat saja. Suatu ketika saat reriungan di bawah dego-dego dibawah pohon Tome-tome.

Karena saya terus didesak, dimintai saran dan strategi, meski saya dalam keadaan yang terlalu santai jauh dari formal, akhirnya seenak perut saja saya menanggapinya via telpon. Tentu saja ini adalah gurauan nakal belaka; "Ya, nongkrong jo noh dengan anak-anak muda di leput. Bersulang sama-sama deng dorang,". Begitu saya merespon sembari berkelakar.

Tapi DB ternyata menanggapinya dengan serius. Bahkan tidak meralat soal saran bersulang sama-sama. Kata yang kita tahu begitu tabu bagi setiap calon. Tak usah calon Sangadi, untuk suksesi Ketua Kelas saja, sudah pasti setiap calon harus menghindari kata bersulang.

Setelah saling bersambut kata via ponsel yang selalu lebih dari 20 menit, DB akhirnya minta pamit menutup percakapan. Inilah salah satu yang membuat saya respect dengan DB. Dia sangat menghargai siapa saja. Bahkan seorang junior seperti saya pun didengarkan. Tapi sekali lagi, sudahlah saya, anak SD saja dimintai pendapat.

Waktu itu akhirnya tiba. Sejak pagi, facebook dan BBM saya awasi. Di grup facebook Passi Bersatu, satu demi satu status mulai diposting. Mulai dari dukungan terhadap pada calon Sangadi Eropassi 1 maupun Eropassi 2.

Untuk Eropassi 2 sendiri, saya tidak terlalu menyimak dan mencari tahu. Tapi sore hari, saya sudah dikabari bahwa salah satu figur muda yang tentu sangat saya kenal sekali, Mahdudat Mokodongan, Papa Eding, alias Dada', berhasil terpilih sebagai Sangadi mengalahkan kandidat lain. Selamat dan semoga memangku jabatan yang diamanahkan masyarakat Desa Eropassi 2 dengan adil.

Untuk Passi 1. Beberapa orang saya kirimi chat. Pun di grup BBM, Anak /3-AN (Anak Pertigaan). Jawaban mereka; perhitungan sedang berlangsung. Dusun 1, DB memimpin. Dusun 2 KT menang. Dalam hati saya, DB dan KT, keduanya seusia; muda, kreatif, dan inovatif. Beberapa kegiatan di kampung berupa perayaan-perayaan, mereka giati. Berjibaku meramu gagasan agar desa selalu ramai.

Nah, Desa Passi 1 memiliki 5 dusun. Perhitungan naik ke dusun 3. KT berhasil memimpin. Jempol saya seperti tukang ketik yang cemas dan terus mengejar informasi. Setelah masuk ke dusun 4, kolom chat saya sepi. Tak ada jawaban, grup pun demikian. Hanya lima menit, status-satus selamat ditujukan kepada DB. Dia berhasil memimpin secara akumulatif dari dusun 1 hingga 4. Dan tentu saja, dusun 5 adalah mahkota suaranya. Saya segera menghubungi dia, yang saya kira saking sibuknya, telepon saya bakal tak diindahkan. Tapi dia mengangkat, menjawab pertanyaan saya ketika saya berkata;

"Selamat!!" saya berteriak sebab keadaan di sana cukup riuh. Prasangka saya keliru. DB menyahut.

"Ah, blum, blum, tunggu sadiki le!" jawabnya dengan tenang.

Beberapa menit kemudian, kawan saya, Ewin, menelpon. Dia mengatakan kalau DB sudah memimpin dengan pautan sudah menyentuh 100 dibanding pesaingnya. Padahal dusun 5, yang adalah basis suaranya, belum dihitung. Keyakinan saya akhirnya mengental sudah. DB akan menang. Rasa haru sontak menggerayangi saya jauh di Gorontalo.

Untuk KT, terima kasih telah membuat suasana demokrasi di Eropassi semakin berarti. Sumbangsih yang selama ini sudah ada, teruslah dipelihara. Kalian berdua (DB dan KT) adalah dua kawan hebat yang ikut lomba balapan menuju finish, sehingga harus ada salah satu yang menyentuh finish.

Kepada petahana, Papa Lita, dan dua kandidat lain, Mama Jaya dan Papa Sari, yang tak lain adalah orang tua kami sendiri, terima kasih telah ikut melahirkan dan membentuk pemuda-pemuda tangguh di Eropassi. Kampung halaman kita yang kini menerima tongkat estafet dari kalian. Eropassi kini berkesempatan dipimpin seorang pemuda. Pemuda dari Rumah Pemuda Merdeka yang telah kalian didik dan ajarkan bagaimana harus mengambil peran dan keputusan. Kalian seperti Bung Karno mengatakan, kumpulkan 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Dan dalam konteks ini, kalian seolah-olah telah memberi arti dan makna; berikan kesempatan kepada 1 pemuda, maka Eropassi tercinta ini akan membuat sejarah.

Sekarang saya turutkan larik puisi yang dipentaskan saat hari ulang tahun DB, di tahun 2013 silam, ketika kami menggelar pesta ulang tahun di kediamannya. Puisi yang Uwin buat hanya 10 menit, ketika dapur di Mabespond disesaki aroma bumbu masak, dibacakan dengan getar bibir memerah karena pedasnya bebek bumbu RW hasil olahan penyair Eropassi .

Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang-rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terenggut

Adakah hitam menggelepar di lorong-lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis
Yang meriang bersama cerita-cerita elang
dan camar
mematuk tangkai rapuh di pantai

Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci

Di manakah langkah menempuh tujuan?
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal

Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala

Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda-roda berputar
Kita berada di mana napas menghitung langkah
Langkah-langkah gelisah
Langkah-langkah penuh harap
Langkah-langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang

***

Saat ini, saya rasanya gatal untuk ingin sekali menambah langkah-langkah dalam puisi itu. Langkah-langkah itu adalah langkah menjadi Sangadi.

Selamat DB. Cheeerrrssss!!!

-Tulisan ini dimuat pula di
http://arusutara.com/2015/12/setapak-langkah-db-menuju-sangadi/

No comments :

Post a Comment