Tuesday, December 8, 2015

Qiya

Seperti bulan, kelahiran seorang bayi adalah cahaya di kegelapan malam. Dan seperti pula bulan, bayi adalah penyempurna dalam sebuah landscape langit. Meski bagi sebagian orang, langit pun tetap indah bergemintang tanpa kehadiran bulan di sana. Yang terpenting, seberapa luas kita mampu memaknai semesta.

Lalu tersebutlah, Qiya. Namanya singkat dan sebaris gigi putih akan terukir kala menyebutkan nama itu. Nama ayahnya, Dito Buntuan. Seorang lelaki yang lahir dan tumbuh dari kepastian. Ia pun akhirnya bisa memastikan yang mana yang pantas hidup dengannya. Hingga ia menikahi Sindy Binol.

Qiya adalah putri pertama mereka. Atau lebih tepat, adalah ujian pertama bahwa hidup harus; dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dan diarahkan. Lalu Qiya bisa memilih kelak. Tentunya tak harus menjadi seperti ayah dan ibunya. Qiya bisa terbang tinggi bersama layang-layang. Dan segulung benang jadi satu-satunya penghubung yang menjadi teguran.

Qiya, saat lahirmu, Kamis 26 November, tentunya ruang dan waktu hanya berisi kecemasan. Bahwa satu-satunya yang menghuni semesta hanyalah kau. Ayahmu menjengkal lekuk jalanan Bolmut-Kotamobagu setiap Minggu. Sama seperti ibumu yang kerap mengelusmu dari balik daster. Keduanya cemas. Dan kecemasan itu pun akan kau rasakan kelak. Saat mereka berdua menua dan kau telah menemukan kecemasan-kecemasan barumu. Semuanya berbaur. Menjadikanmu matang akan persoalan hidup.

Dari dalam rahim, mungkin kau pernah menendang perut ibumu. Kenapa? Tak sabar ingin menghirup udara di luar sana. Lalu ibumu penasaran ingin melihat kelaminmu. Ditemani ayahmu, dokter mengatakan kau perempuan. Mereka bahagia. Teknologi memang hadir sebagai penolong, meski sebenarnya rasa penasaran begitu tak ternilainya.

Sekarang Qiya bisa menangis,. Tersenyum pun hanya sekali-kali dan paling ditunggu. Mungkin kamera ponsel ibumu telah siaga di depanmu. Siap merekam atau memotret setiap momen. Waktu seperti berbalik dibuatmu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Atau malah selamanya hari tetaplah siang dan penuh aktifitas. Sebab setiap dua jam atau lebih, kau harus menyesap ASI. Meski lelah, wajahmu selalu bisa menghibur, kata ibumu.

Ayahmu juga tak akan letih memacu mobil dari Bolmut. Tempat dimana segala kebiasaan ditanggalkan agar susumu terbeli, popokmu terganti, dan boneka-bonekamu memanjang di almari dan kasur. Jangan pikir ayahmu akan lelah dibuatnya. Itu tak seberapa dengan perjalanannya di Makassar atau selama di pulau Jawa. Pun tak sejauh Kuta ke Kintamani. Dan hanya demi putrinya, semua jarak bisa ia lipat. Hingga senyummu mengunci celah lelah.

Ayahmu suka sekali membaca buku. Tapi akhir-akhir ini ia terlalu sibuk denganmu. Mungkin saja buku-bukunya berserakan di mobil, rumah, lantai, kamar, dan kantor. Ia hanya ingin membacaimu kini. Putri yang akan selalu ia banggakan.

Selamat datang di dunia yang tak sesempit rahim ibumu. Dunia ini bakal penuh dengan tawa, namun sedih kerap bersanding pula nanti. Segalanya tersedia seperti sederet gelas, sendok, piring, dan belanga di dapur. Tinggal kau pilih, Qiya. Tinggal kau pilih, kau hendak memasak apa. Untuk ayah dan ibumu cicipi. Bisa saja nanti kau menumis tangis atau memanggang senang. Lalu menyajikannya di meja makan. Dimana satu-satunya tempat kau bisa berbagi. Dan tempat dimana kisah selalu tersaji.