Wednesday, December 16, 2015

Uyang dan Gelang Tali Kutang

Hampir pukul 4 pagi, Uyang masih terjaga. Sinar matanya menjengkal setiap dinding kamar. Entah apa yang ia cari. Meski tak lama lagi hari akan benderang. Ia enggan bangkit dari tikar lusuh di kamar kosnya. Sedari pukul 9 malam. Ia tak beranjak.

Di pegelangan tangan kanannya, ada dua utas gelang membebat erat. Uyang memacak pandangnya agak lama ke gelang itu. Gelang dari tali kutang berwarna hitam. Lantas ia menghidu aroma gelang dengan mata terpejam. Seakan sebuah galaksi dihirupnya. Aroma sabun mandi masih tersisa di sana. Ia membuka mata. Tetap saja, jejak-jejak per jengkal sorot matanya masih membekas di dinding. Jejak-jejak yang hampa. Lalu aroma gelang itu, tiba-tiba mengibas seperti aroma susu. Harum dan khas. Lega seketika hatinya.

Uyang meraih ponsel di sampingnya. Kemudian menekan *888#. Dan sedetik saja di layar berderet kalimat yang diakhiri angka 0. Ia tak bisa menghubungi siapa-siapa. Gelang kembali ditatapnya. Dihirupnya. Aroma susu itu ada kembali. Dan ia sontak dikagetkan oleh lafadz Allah di masjid sebelah. Seumpat caci, yang pelan, tanpa tenaga, terucap begitu saja. Uyang memaki jantungnya yang acapkali sensitif dengan suara apa saja. Bahkan suara perutnya sendiri bisa membikinnya terkejut.

"Dasar jantung ayam daging!"

Umpatannya kali ini salah. Imajinasi akan paha dan dada ayam berpusar di atas ubun-ubunnya. Ayam bakar, santan, goreng, bahkan ayam jemur pun pasti diterkamnya. Uyang belum makan sejak pagi. Malam kemarin, ia hanya makan tiga buah pisang goreng. Tubuhnya gemetar dan seperti ada lempengan besi di atas dada dan perutnya. Ia terlalu lemah untuk bangkit. Pukul 7 malam, ia sempat berhasil ke dapur mini di kosan. Tapi yang ditemukannya hanya air putih. Ia habiskan tiga gelas lalu merangkak kembali ke kasur. Tak ada siapa-siapa. Hanya ada sunyi.

Di kosan Uyang, ada enam kamar berderet di samping kamarnya. Semuanya mudik untuk merayakan tahun baru di masing-masing kota kelahiran. Ia memilih bertahan, sebab gaji dari kantor tempat ia bekerja belum dicairkan. Hanya sejuta pula. Sedangkan untuk sewa kos sebulan, ia harus merogoh kantong, setengah dari gajinya. Tak ada pilihan, sebab cuma itu kos yang tersisa di sekitar tempat kerjanya. Tadinya Uyang ingin tinggal bersama temannya, akan tetapi rasa nyaman untuk hidup sendiri, menyingkirkan niatnya. Uyang sangat individualis.

Semua yang tinggal di kosan adalah wartawan. Seprofesi dengannya. Jika mereka ada, Uyang memang lebih jarang merasa kelaparan. Meski sama-sama menjadi kontributor pada media nasional. Gajinya hanya bergantung dari hitungan per berita. Teman-temannya sudah punya mobil. Sementara ia masih dengan motor bebek butut. Tiba-tiba ingat motor, Uyang dengan sisa kekuatan bangkit keluar kamar.

"Kugadaikan saja motor ini." ucapnya sembari menepuk sadel motor.

Paling hanya dua ratus ribu bisa untuk dipakai mudik, pikir Uyang. Nanti rencananya ia pulang naik bus. Tarifnya hanya seratus ribu. Menunggu sampai pukul 7 pagi, ia lantas mendorong motornya menuju seberang. Pak Toyo, pemilik warung makan menjadi target pertamanya. Beruntung Pak Toyo ada. Ia segera menawarkan motornya itu.

"Waduh, Dek. Bapak juga sedang kesulitan uang. Beberapa hari ini jualan sepi."

Uyang tak memaksa. Raut Pak Toyo yang berkeriput sendu, ditambah dengan peci kumal yang hitamnya telah pudar, membuat Uyang beranjak ke warung sebelah. Tapi sekali lagi penolakan terjadi. Ia menatap motor bututnya. Lama. Tatapannya bergeser ke gelang itu lagi. Ia kembali mencium gelang beraroma susu itu.

Pukul 12 siang. Uyang tak kunjung menemukan orang untuk bisa digadaikan motor bututnya itu. Energinya yang tersisa, terkuras kering dan membuatnya rebah pada sebuah bangku taman kota. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba sekumpulan tali kutang mengibas lalu seutas melilit lehernya. Tenggorokannya panas dan kering. Sampai tiba-tiba suara berat menegurnya.

"Tidak apa-apa, Mas?"

Sorot matanya coba menembus katup mata. Tapi kedua katup matanya seperti terjahit. Seketika tukang bakso tampak di depan matanya lengkap dengan gerobak. Tukang bakso itu memberinya segelas air. Ditolaknya dengan mata terpejam dan hanya terus mendengar kecemasan si tukang bakso. Kepala Uyang seperti memberi tanda, agar tukang bakso itu segera meninggalkannya. Ia hanya ingin rebah sejenak.

Setelah tukang bakso itu pergi, Uyang membuka mata. Di ujung jalan ia melihat seorang bocah perempuan kumal berkelopak mata kerucut, menengadahkan telapak tangan ke kaca mobil. Di dalam mobil seorang ibu ber-make-up tebal hanya menatap sinis. Setelah lampu menghijau, mobil itu berlalu. Bocah-bocah sebaya berlarian ke arahnya, menunjukkan beberapa lembar rupiah. Mereka lalu duduk di trotoar jalan, lalu menghitung.

Uyang bangkit dengan sisa kekuatan. Ia menatap langit senja tak berwarna. Pun tak ada apa-apa di sana. Hanya matahari yang berkali-kali begitu. Setiap hari, minggu, bulan, tahun. Uyang memilih kembali ke kosan dengan mendorong motor, seakan-akan mereka adalah kawan karib yang baru saja bertemu setelah seabad. Sepanjang jalan, pandangannya seperti termagnetkan dengan kondisi-kondisi miris. Sudah puluhan orang-orang dari, bocah, gadis, ibu-ibu, kakek dan nenek, yang bermuka hampa. Uyang seperti menemukan pembanding.

Sesampainya di kos, motor diparkirnya di depan kamar. Ia membuka pintu yang seketika meruapkan bau tahu, tempe, dan ampas kehidupan. Ia rebah di lantai. Tapi bayangan tali kutang mencekik leher terus bertengger. Uyang memeluk guling. Rasa lapar seketika menjalarinya dari tumit hingga ubun-ubun. Rambut-rambutnya terasa kering. Ia mulai dehidrasi, sebab seharian tadi mendorong motor.

Gelang tali kutang yang membebat ia lepaskan. Nadinya serasa tak berdetak lagi dibuatnya. Kemudian, wajah ibunya seketika hadir. Uyang menatap lama pada gelang tali kutang itu. Tali kutang milik ibunya.