Wednesday, March 30, 2016

Surat Pendek untuk Teuku Wisnu

Teuku Wisnu (sumber foto: www.pkspiyungan.org)
Ya, karena ini namanya surat terbuka nan pendek, jadi mari kita membaca dengan pikiran terbuka tapi jangan pendekin akal kita. Saya memutuskan menulis surat pendek ini, sebab nasib saya hampir sama denganmu, Teuku Wisnu. Wajah saya juga tak jauh-jauh beda denganmu. Malah lebih ganteng saya. Aih.

Nah, seperti kata penyair Chairil Anwar: nasib adalah kesunyian masing-masing, maka kali ini saya memilih untuk tidak sependapat dengan penyair idola saya itu. Lalu menyatakan: nasib adalah keriuhan bersama. Sebab kenapa? Kita, manusia, terkadang memiliki kesamaan nasib. Bahkan dengan binatang pun bisa. Bukankah Chairil Anwar juga menyatakan itu dalam salah satu puisinya? Dengan lantang dia berkata: aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.

Untuk kesamaan nasib kita, Teuku Wisnu, samanya di mana sih? Samanya di nama. Jelasnya begini, ketika saya membaca berita perihal niatmu untuk mengganti nama. Saya seketika kembali ke masa SMA. Saat guru-guru pertama kali mengabsen, pasti mereka bertanya: agamamu Kristen? Saya kerap ditanyai demikian karena nama depan saya, Kristianto. Jelas, guru-guru yang suka bertanya demikian, mengajari kami dengan ajaran yang salah. Iya, mempertanyakan agama seseorang hanya dari nama.

Bukan hanya sewaktu SMA, saat pertama kali bekerja di salah satu perusahaan swasta, saya juga ditanyai atasan dan teman-teman kerja: kamu Kristen? Saya acap kali tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Bukannya saya tidak nyaman karena nama itu kesannya berbeda dengan agama yang saya anut, yaitu Islam. Tapi saya bosan ditanyai itu melulu.

Rasa penasaran saya memang baru muncul ketika itu. Lalu saya memilih bertanya kepada bapak, kenapa saya dinamai Kristianto. Setelah mendengar penuturan bapak, saya bertambah bangga dinamai Kristianto. Ternyata nama itu diambil dari atlet bulu tangkis legendaris Indonesia, Christian Hadinata. Meski ejaannya diubah, 'Ch' diganti 'K' lalu dibubuhi 'To' di akhiran. Mungkin bapak ingin, agar nama saya itu masih terdengar ke-endonesa-an dan ke-to-to-an, macam Soeharto. Hiks.

Ketika itu, saya lupa menanyai bapak, kenapa memilih atlet bulu tangkis, Christian. Apakah saat saya lahir, si Christian ini menang kejuaraan Asian Games, All England, atau Piala Dunia. Namun setelah saya telusuri di internet, ternyata benar. Masa keemasan Christian di era 70an dan 80an. Tepat di tahun 1983 saya lahir, dan mungkin saja di bulan yang sama, April, Christian berhasil merebut juara ganda putra bersama Boby Ertanto, di turnamen Malaysia Terbuka. Mungkin saja bulan atau harinya bertepatan dengan kelahiran saya. Ah, bapak, akhirnya anakmu ini tumbuh besar dan menjadi seorang jurnalis, bukan pebulu tangkis.

Itu sedikit setjarah nama saya, Wisnu. Dan sampai hari ini, saya bangga dengan nama itu. Saya coba membayangkan, ketika atlet pujaan bapak, yang pasti ditepuki riuh olehnya saat menang lomba. Lalu bersamaan dengan itu, saya lahir ke dunia dan bapak seperti melihat titisan si Christian mungil lahir. Dan dengan bangganya menamai saya, Kristianto. Maka rasa bangga bapak saya saat itu, tidak bisa saya tebus dengan apapun. Bahkan oleh sederet piala-pialanya Christian.

Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi kepadamu, Wisnu. Andaikan bapakmu itu benar-benar gemar menonton film dari tanah Hindustan, atau sering membaca epos Mahabharata dan Ramayana, juga doyan pewayangan. Lalu dia sangat mengidolakan Dewa Wisnu, dan akhirnya memilih nama itu kepadamu. Maka betapa bangganya, sebab bapakmu berharap kamu bisa menyerap sifat-sifat luhur Dewa Wisnu. Bangganya pun itu tidak bisa ditukar dengan sederet nama-nama dewa.

Saya juga yakin, perasaan yang sama menimpamu. Mengenai penamaan yang kesannya melekat pada satu agama tertentu. Tapi tidak cukupkah nama depanmu, yang sangat ke-islam-aceh-an itu? Meski menurut saya, kenapa juga nama harus terbingkai dengan agama-agama?

Maka ketika saya membaca niatmu untuk mengubah nama, sebab "bisikan" dari Ustaz Bachtiar Nazir saat acara talkshow Makna dan Peristiwa yang bertema "Arti di Balik Nama", di salah satu stasiun televisi. Alasannya namamu itu tidak islami. Saya hanya bisa tertawa dan mengumpat dalam hati (kira-kira mengumpat dalam hati bisa dipidanakan?)

Hoi! Teuku Wisnu dan Ustaz Bachtiar Nazir! Siapa juga yang sejak bayi bisa memilih nama atau agama? Dan sejak kapan nama itu beragama?

To... LOL!

Monday, March 28, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (3)


... Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak! (Baca sebelumnya: Bagian 2)

Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.

"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.

"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.

"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."

Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.

Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.

***

Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.

Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.

Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.

"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.

"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.

"Iya. Terminalnya juga dekat kok."

"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.

"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."

"Baguslah."

Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.

"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.

"Biar sehat!" silat Gladys.

Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.

"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.

Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"

"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"

"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."

"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."

"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."

"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."

"Mendadak sekali?"

"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."

"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."

"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."

Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.

Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.

Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.

"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.

"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.

"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"

"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."

"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."

"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."

"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."

"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"

"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."

"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."

"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."

Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.

"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.

"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."

"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.

Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.


(Bersambung)

Thursday, March 24, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (2)

... lalu mengajakku makan. (Baca sebelumnya: Bagian 1)

"Kau pasti lapar. Aku kebetulan masak tadi. Ayo, temani aku makan," ajaknya sambil menuntunku masuk ke kamar kos dan menuju dapur mini.

Tak bisa menolak, aku pun menemaninya makan. Bincang berlanjut. Gladys kemudian menceritakan alasannya putus dengan pacarnya yang polisi.

"Namanya Faisal. Dia anggota tim Gagak juga. Tapi semalam dia tidak ikut razia."

Sebenarnya, sebelum hubungan mereka putus sebulan yang lalu, ketika datang giliran razia, kos-kosan mereka dipastikan aman. Gladys juga tidak berani menuding, bahwa setelah putus dengan Faisal kemudian kos-kosan mereka jadi target razia.

"Aneh ya. Di tempat umum dilarang. Setelah mengurung di dalam kamar kos, tetap saja digeruduk. Mau mereka apa sih!" gerutunya.

"Oh, ya, jika kau tidak suka ditelepon polisi tadi, kenapa memberinya nomor handphone?"

"Aku pikir mungkin dia bisa dimanfaatkan jika kami dirazia lagi."

"Tapi penolakanmu tadi, awal yang buruk untuk sebuah niat agar bisa memanfaatkannya."

Gladys bergumam. Kemudian paha ayam goreng dicabik-cabiknya dengan garpu. Sambil mengunyah, matanya seperti sedang menyusun kata demi kata. Ada segelembung pikir di atas kepalanya.

"Ah, gampang. Tinggal kirim emoticon senyum lewat pesan singkat, pasti direspon. Ya, pokoknya buat jaga-jaga saja."

"Kau nyaman tinggal di Kotamobagu?" aku melontarkan pertanyaan yang membuka celah untuknya. Dia sepertinya tengah tersudut.

"Nyaman apaan. Ruang seprivasi kamar kos saja diterobos. Bahkan isi kulkas pun digeledah. Sekalian saja lubang kloset diobok-obok pakai tangan."

Gladys mengaku sudah jemu tinggal di Kotamobagu. Pulang dari kampus sedang capek-capeknya, tiba-tiba didatangi dan ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Penghuni kos-kosan lainnya adalah pekerja kantoran dan mereka juga acap kali mengeluh.

Beberapa tahun belakangan razia masih sepi. Tapi akhir-akhir ini jadi seperti sedang kedatangan rombongan jamaah tabligh di satu wilayah. Hampir setiap hari pintu diketuk. Urusan iman dan moral personal pun ingin mereka gagahi.

"Itu ada juga yang dari Satpol PP. Sok-sok jadi superhero kepagian!"

"Tim Tuturuga namanya. Bakal menyusul tim Pokpok." Seketika tawa kami lepas, yang sekejap mengundang teguran dari kamar sebelah.

"Gladys! Mau dirazia lagi?" teriak tetangga kamar.

Gladys melempar pandang ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Melihat tingkahnya, aku lantas pamitan setelah berterima-kasih atas jamuan makan malamnya.

"Makasih juga ya. Kau semakin menebalkan dendamku. Atau, lebih tepat niatku untuk menjadi jurnalis," ucap Gladys.

"Tapi kalau mau jadi jurnalis, pasti bakal menetap di Kotamobagu. Katamu sudah tidak nyaman di sini?"

"Ah, rasa kesalku bukan untuk kota ini."

"Untuk siapa?"

"Untuk mereka yang juga kau benci!"

"Asal jangan dendam sama mantan." Kami tertawa lagi. Tapi setelah membekap mulut. Takut dibentak sama penghuni kamar sebelah.

Setelah pamit, aku ditemaninya sampai ke depan pagar kos-kosan. Senyum manisnya terakhir kali terekam di wajah. Kemudian suara motorku menderu, dengan hati yang menggebu-gebu.

Saat perjalanan pulang, aku masih berpas-pasan dengan beberapa anggota Satpol PP di sebuah taman kota. Wajah mereka tampak garang. Terlalu serius dengan pekerjaan mereka. Aku mampir lalu mengeluarkan kamera dari dalam ransel. Kilatan lampu kameraku mengundang perhatian mereka. Aku memang sedang memotret untuk mengundang perhatian mereka. Tahu aksi mereka sedang dipotret, tiba-tiba salah satu anggota Satpol PP dengan gesit melompat ke dalam taman. Seperti Batman yang sedang memergoki Joker. Kemudian terdengar bentakan.

"Bikin apa kalian di sini?" bentaknya kepada kerumunan remaja di taman.

Aku coba mendekati satu personil baret cokelat itu, "Maaf, aku wartawan. Bisa minta komentar tentang razia malam ini?"

"Oh, bisa, bisa."

"Sebenarnya fungsi taman kota ini apa?" aku melempar pertanyaan yang sebenarnya, aku pun tidak berniat membuat berita soal razia itu.

"Hmm... Untuk... Untuk kumpul-kumpul. Juga untuk bersantai."

"Bagaimana rasanya jika sedang asyik menikmati suasana malam Kotamobagu, terus dirazia?"

"Kalau tidak miras, ya, biasa saja. Pokoknya yang kedapatan miras di tempat umum, pasti diangkut,"

"Kalau mereka yang miras di kos-kosan?"

Dia seperti kura-kura yang, perlahan-lahan memasukkan kepala ke dalam cangkang. Saya lantas pergi meninggalkannya.

Saat perjalanan menuju kos, aku mampir ke warung untuk membeli sebungkus rokok. Tiba-tiba suara knalpot meraung di jalanan. Sebuah sepeda motor melaju kencang, oleng, dan menabrak pembatas jalan. Sepeda motornya terhempas dan menggaruki aspal jalan yang, menyebabkan kilatan serupa kembang api. Tubuh pengendara motor terhempas jauh, lalu mendarat di depan pelataran sebuah toko. Helm pengaman retak dan lepas dari kepalanya. Darah menggenang. Tubuhnya diam.

Orang-orang berlarian. Tampak sebagian dari mereka merogoh ponsel dari saku. Lalu siaga memotret. Mereka terlihat berlomba-lomba melakukan itu.

Wartawan-wartawan satu per satu berdatangan. Mereka memang berkelebat cepat kalau ada peristiwa seperti ini. Apa yang berdarah-darah dan berlendir, pasti disukai pembaca. Rating. Sedangkan aku sibuk mencari mobil di jalanan, untuk mengangkut korban menuju rumah sakit.

"Mati?"

Aku coba mengejar arah suara itu, yang ternyata semburat dari mulut seorang wartawan. Namanya Jeki. Dia tampak sibuk memotret.

Tubuh korban terlihat seperti lampu disko. Lampu-lampu kamera berkedap-kedip tanpa henti. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolong korban.  Atau barangkali mereka takut darah tapi bisa dengan cekatan memotret dan membaginya ke media sosial.

Berhasil mencegat mobil yang bersedia mengangkut korban, aku dibantu dua orang warga dan satu wartawan yang tergerak hatinya, segera mengangkat tubuh korban ke dalam mobil. Tubuhnya hangat dan bergerak. Napasnya seperti mendengkur. Tak lama, beberapa personil polisi berdatangan.

Dan tiba-tiba kami dikagetkan suara teriakan. Sumber suara dari perempuan beruban yang adalah ibu korban. Seseorang yang mengenali korban mengabari orangtuanya. Ternyata jarak rumah korban dan tempat kejadian tidak begitu jauh. Sekarang, giliran ibu korban yang bermandikan kilatan-kilatan lampu kamera.

"Kalian tidak punya otak? Anakku keadaannya sudah begini mau kalian foto-foto terus disebar? Coba kejadian ini menimpa saudara kalian? Dasaaarrr! Biadab!" Ibu itu berlumuran darah anaknya. Kemudian sopir mobil coba menenangkan ibu itu, lalu mengajaknya menemani anaknya ke rumah sakit terdekat.

Beberapa wartawan pergi mengejar korban ke rumah sakit. Unit gawat darurat telah dipenuhi wartawan dan keluarga korban. Kondisi ibu korban masih terlihat syok. Seorang wartawan memberanikan diri mendekati ibu korban. Berharap bisa mewawancarainya.

"Maaf ibu. Bisa tahu nama ibu?"

Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak!


(Bersambung)

Sunday, March 20, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (1)


"Awas ada razia!"

Peringatan itu dalam bentuk pesan singkat di ponselku. Pesan dari tetangga kos yang kebetulan seorang polisi. Aku melirik arloji di lengan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seperti biasa, temanku itu suka mengabari jika sedang ada razia di tempat-tempat umum, hotel-hotel, sampai toilet kos-kosan yang tak luput dari kejelian perazia.

Yah, beginilah hidup di Kotamobagu. Kota kecil yang bahkan tidak cukup strategis untuk dijadikan Kota Jasa. Kenapa? Sebab kota ini bukan berada di jalur transportasi antar provinsi. Kota ini berada di tengah-tengah. Sudah tidak strategis, mengusung tagline Kota Model dan Jasa, dan kerap menggelar razia. Apes.

Aku juga heran, kenapa hotel sebesar Sutan Raja nekat berjudi dengan membangun hotel megah di Kotamobagu. Tapi mungkin manajemen hotel itu sedang ingin belajar dari pengalaman mereka membangun hotel megah di Manado. Sutan Raja di Manado ramai, kan? Ups!

Tak berselang lama, pesan singkat dari Gladys masuk. Dia seorang mahasiswi yang kebetulan berteman baik dengan mantan pacarku. Isi pesannya.... soal razia. Sialan! Kota ini memang sedang diteror.

"Sigid, kos Gladys tadi dirazia. Banyak wartawan tadi ke sini. Tolong jangan diberitakan di koran ya. Kalau bisa, Gladys minta tolong, kasih tahu teman-teman Sigid juga yang wartawan-wartawan lain."

Meski hanya lewat pesan singkat, bisa dirasakan kegelisahan di hati mahasiswi itu. Tapi keningku seketika saling merangkul. Aku heran, sebab pacar Gladys kan polisi. Kenapa juga bisa dirazia?

"Kau diangkut ke Polres tidak?" Aku mengirim pesan balasan.

Beberapa detik kemudian, dia membalas, "Tidak sih. Anehnya tadi usai razia ada beberapa polisi yang minta nomor handphone sama pin BBM."

"Eh, kau bukannya pacaran sama polisi?"

"Sudah putus," sejurus kemudian, Gladys mengabarkan bahwa kos-kosan sudah aman. Bergegas aku menemuinya.

Gladys dan teman-temannya sedang ramai di luar kamar. Mereka masih panik usai razia tadi. Di salah satu kamar yang ditempati mahasiswi juga, teman sekampus Gladys, ditemukan botol-botol bir. Menurut Gladys, meski botol-botol yang ditemukan di bawah kasur itu kosong, tapi yang menjadi masalah ada sebotol bir di dalam kulkas yang belum dibuka. Temannya tetap diangkut.

Saat diseret keluar kamar, temannya itu meronta dengan penuh pinta. Air matanya deras. Teriakannya keras. Wartawan-wartawan seperti singa kelaparan yang dengan segera menerkam momen itu dengan lampu-lampu kamera. Sempat terdengar makian dan teriakan temannya itu kepada para wartawan.

"Anjing! Kalian tahu kalau orangtuaku sampai tahu? Aku akan diberhentikan kuliah! Anjiiinnnggggg!" tiru Gladys. Dia tampak masih syok melihat kejadian itu.

Namun yang lebih miris lagi, saat mendengar makian itu, seorang wartawan menyeletuk.

"Wah, bagus ini. Bisa jadi angle menarik. Judulnya bisa jadi, Seorang Mahasiswi Memaki Wartawan Saat Dirazia." Gladys kembali meniru. Tampangnya menunjukkan rasa jijik. Teman-temannya yang lain kembali masuk ke kamar mereka masing-masing. Kami dibiarkan berdua.

Aku hanya bisa memijit dagu. Melihat raut Gladys yang semakin mengerut, aku coba mengalihkan topik pembicaraan. Aku bertanya kapan dia akan selesai kuliah. Air mukanya terlihat kembali tenang. Dia berkata, tinggal setahun lagi akan wisuda. Setelah diwisuda dia berencana menjadi wartawan. Aku heran sekaligus tertarik mengejar cerita tentang cita-citanya itu.

"Kau mau jadi wartawan?"

"Iya."

"Alasanmu?"

"Aku ingin balas dendam! Kesal saja."

Mendengar jawaban itu, arah tanya-jawab ini semakin membuatku penasaran. Dan setelah aku bertanya lagi. Aku mendapati jawaban dari seorang mahasiswi yang sebenarnya boleh dibilang lebih mafhum akan profesi seorang jurnalis.

Gladys ingin balas dendam, setelah melihat realita yang kerap kali dia temui sejak tinggal di Kotamobagu. Menurutnya, wartawan-wartawan seperti enggan mengangkat sisi kaum yang termarjinalkan. Terlalu banyak beropini, amplopan, partisan, dan bahkan dengan yakinnya mengatakan pekerjaan mereka itu mulia.

"Tega ya? Mereka memberi makan anak-istri atau orangtua mereka dengan uang-uang itu."

Kalimatnya kali ini menusuk dada. Aku hanya bisa menunduk, sebab yang diterjang bukan hanya para wartawan yang menghujani jepretan kepada temannya. Tapi aku juga.

"Bukan hanya wartawannya, Gladys. Media tempat mereka bernaung juga yang mengharuskan mereka berbuat demikian."

"Mediamu juga?" dia menodongku.

"Begini, aku dulu sempat bekerja di media seperti itu. Aku juga pernah amplopan. Tapi pada akhirnya, aku sadar, yah, seperti yang kau katakan tadi, tega tidak memberi uang terlebih kepada orangtua dari hasil kita menjerat tikus?"

Aku lanjutkan berkisah, bahwa banyak wartawan yang ketika pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mereka dikenalkan dengan wajah jurnalisme yang salah. Seiring waktu, jelas mereka akan terus mengingat dan memakai topeng wajah yang pertama kali mereka kenali. Ada beberapa yang sadar dan memilih melepaskan topeng itu. Tugas menjadi jurnalis sebenarnya berat, sebab sebagai penyampai pesan.

"Jika wahyu Tuhan itu disampaikan malaikat Jibril. Maka bagi jurnalis, wahyu itu berupa keluh-kesah dari orang-orang tertindas dan yang menjadi Jibril adalah jurnalis itu sendiri. Tidak mungkin kan, Jibril menyampaikan wahyu yang salah?"

Mata Gladys berkaca-kaca. Pipinya merah terkena cahaya bohlam. Terang saja, sebab dia berkulit putih yang diwarisinya dari ibu berdarah Minahasa. Terlihat dia semakin teguh ingin menjadi jurnalis setelah mendengar penjelasanku, yang hampir mirip dakwah Sunan Kalijaga.

“Tapi manusia itu bukan malaikat. Paling-paling para wartawan berapologi begitu.”

“Jelas saja, manusia bukan malaikat. Tuhan lebih mengistimewakan manusia malah. Karena apa coba? Akal kita. Itu bukti superioritas atau keunggulan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan.”

Ponsel Gladys tiba-tiba berdering. Ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Setelah mengernyitkan dahi ke arahku, dia menekan tombol hijau di ponsel androidnya.

“Ini siapa?” Gladys menyetel pengeras suara. Membuatku bisa mendengar jelas suara si penelepon.

“Oh, ini dari Arga. Tadi yang ikut razia dan minta nomor kau. Aku bisa main ke kos?”

“Enak saja!” Tut, tut, tut. Gladys mengakhiri pembicaraan.

Tiba-tiba dia beranjak dari kursi, menatapku sembari tersenyum. Semerbak wangi sampo dari kibasan rambut panjangnya berbaur dengan aroma tubuhnya. Gladys merebut lenganku, lalu mengajakku...

(Bersambung)

Desaku Eropassi


kami menamainya Eropassi
cuacanya serupa Eropa
gigil kala malam kerap kami ungguni
dengan bara dan pelepah-pelepah kisah

kami tumbuh dengan kebiadaban-kebiadaban
mencuri dengan alasan: kami remaja! kami harus nakal!
kemudian hanya tegur atau tampar memerah di pipi
itu sudah biasa

pada malam Eropassi kami setia menemu pagi setiap hari
paru-paru telah terbiasa dengan embun
kulit pun bersisik ikan
sebab tawa menciptakan itu

mamak-mamak kami gemar menyediakan masakan lezat
lidah kami suka diminta mencicipi
papak-papak kami pun rajin menafkahi
kekar dan berototkan logam

lalu kami yang pergi pasti ingat kembali
rindu pada lipatan-lipatan selimut dan pakaian
rindu akan pekarangan yang serupa semesta
rindu simpang tiga dan tanah lapang yang ramai

Ya... Eropassi adalah puisi
dimana setiap bait jadi temali yang menyimpul darah
dan huruf-huruf yang menyusun belulang
jasad kami kekal di sini

Saturday, March 19, 2016

Evolusi SimSimi Menjadi Samantha


sumber gambar: rebot.me
Siapa sangka, SimSimi, aplikasi yang awalnya diciptakan perusahaan ISMaker pada tahun 2002 di Korea Selatan (Korsel) ini, kembali riuh bagi pengguna Android, Windows Phone, dan iOS di Indonesia. Tapi dari hasil pindaian saya, ternyata yang paling heboh hanya di wilayah Sulut-Gorontalo. Untuk wilayah lain khususnya di pulau Jawa, mesin pencarian saya menemui banyak sekali rekomendasi aplikasi tersebut yang tautannya berkisar tahun 2012-2013.

Sejak pekan terakhir, di pertemanan Facebook, Path, dan BBM, banyak sekali postingan-postingan hasil chating SimSimi. Penasaran, saya pernah coba mengunduh, tapi dengan segera saya hapus kembali. Alasannya, cukup sudah kehidupan saya direnggut oleh gadget. Ketika duduk semeja dengan teman-teman, seringkali saya terlibat chat dengan teman lain di sosmed, dan interaksi dengan orang-orang sekitar kerap terabaikan. Apalagi mau ditambah dengan robot bayi ayam nan unyu itu. Jangankan SimSimi, game favorit CoC pun telah saya hapus. Leher saya suka menegang karena lama menunduk.

Tak hanya CoC, di ponsel android saya, aplikasi pertemanan yang tersisa tinggal Facebook, Path, BBM, dan Whatsapp. Saya memilih menghapus Telegram, Line, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Jempol saya kerap kapalan hanya untuk meladeni chating di semua aplikasi itu.

Kembali ke SimSimi aplikasi bermaskot bayi ayam berwarna kuning nan unyu itu. Ternyata  SimSimi berasal dari bahasa Korsel, yang penyebutannya disesuaikan pula dengan lidah Korsel yakni Shim-Shimee, yang berarti “bosan”. Kenapa “bosan”? Iya, sebab kebanyakan pengguna memang mereka yang sedang jenuh di rumah sendirian. Atau yang sedang sendiri di kamar, meluk guling, jomblo, lalu coba bertanya-tanya kapan dapat jodoh. Bisa juga karena pacar atau teman belum merespon chat, maka ayam unyu jadi pelarian buat curhat. Sebagian juga memilih chating dengan SimSimi, karena ingin lucu-lucuan saja saat mendapati jawaban-jawaban nyeleneh.

Di beberapa negara di Asia, yang jauh-jauh tahun telah mengenal SimSimi, aplikasi ini kerap dijadikan media satir untuk menghujat para pemimpin negara dan politisi. Meski sebenarnya kata-kata kasar dilarang diajarkan pada SimSimi, namun masih saja ada beberapa kosa-kata terlebih berbahasa lokal yang lolos. Jawaban ayam unyu yang nyeleneh memang menjadi kelucuan tersendiri. Misalnya, ketika saya ingin bertanya:

Saya: Ada anggota dewan dari Partai Bebek, SimSimi kenal?

SimSimi: Oh, yang suka bodohi orang-orang?

Sebagian pertanyaan kita dijawabnya suka-suka, namun ada saja beberapa yang tepat. Fitur Teach memang berguna sebagai penyerap kosa-kata. Seperti anak kecil, si ayam unyu ini merekam apa saja pertanyaan kita. Listen and do. Beberapa pengguna juga bisa mengajarinya perbendaharaan kata.

Sambutan pengguna aplikasi SimSimi yang pertama kali diluncurkan Januari 2011 di Indonesia, memang cukup riuh. Bahkan sekarang meriuh lagi. Namun saya tidak yakin SimSimi akan bertahan lama. Sama seperti permainan Duel Otak yang sempat meramaikan jagat gadget di Indonesia. Diawali rasa bosan, akan diakhiri pula oleh rasa bosan.

Tapi, teknologi memang terus berkembang. Berbagai macam temuan guna memuaskan pengguna gadget akan terus hadir. Sama seperti Samantha.

sumber foto: detik.com
Siapa Samantha? Sayangnya dia bukan aplikasi yang tersedia di Google Play Store. Samantha hanyalah sistem operasi dalam film Her (2013). Ketika menonton film itu, saya seketika ingat film Artificial Intelligence (2001), yakni sosok robot pengganti bagi orang tua yang kehilangan atau ingin memiliki anak. Tapi lain dengan Samantha yang hanya berupa operating system (OS). Robot bocah bernama David yang diperankan dengan sangat baik oleh Haley Joel Osment, nyata dalam bentuk fisik. Sedangkan Samantha berada dalam komputer cerdas dan ponsel khusus yang hanya bisa berinteraksi dengan suara. Sesekali Samantha pun bisa membuat ilustrasi pada ponsel yang juga menjadi medianya untuk melihat dunia sekitar.

Meski hanya OS, Samantha bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan layaknya kita berinteraksi dengan manusia. Kegelisahan pun bisa dirasakannya. Bahkan, Samantha pun akhirnya jatuh cinta dengan penggunanya, Theodore Twombly, yang diperankan aktor Joaquin Phoenix. Dan Theodore pun jatuh cinta pada Samantha, yang bahkan tidak memiliki fisik. Mereka pernah bercinta secara verbal. Keduanya pun bisa saling cemburu, bahkan merasa rindu satu sama lainnya.

Dalam film Her, Theodore seperti ingin mengajarkan, bahwa cinta tak harus memiliki fisik seutuhnya. Perhatian, kecocokan, dan pengertian Samantha mampu membuatnya jatuh cinta. Meski dalam hubungan itu beberapa masalah kerap hadir. Apalagi Theodore akhirnya tahu, tak hanya dia, ada sekitar 8000-an user lainnya yang secara aktif diladeni Samantha. Dan Samantha jatuh cinta kepada 600-an user. Bukan hanya Theodore.

Samantha pernah sekali mencoba nyata. Seorang wanita sepakat untuk dijadikannya media agar bisa berinteraksi fisik dengan Theodore. Namun Theodore merasa aneh, bahwa wanita itu tidak sedikitpun dikenalnya. Theodore merasa tidak nyaman lalu mereka bertengkar karena itu. Tapi akhirnya mereka akur lagi dan malah semakin bahagia.

SimSimi mungkin bisa berevolusi seperti Samantha nantinya. Sebab keduanya diciptakan untuk orang-orang yang kerap merasa bosan dan kesepian. Sama seperti Samantha, yang diciptakan untuk orang-orang seperti Theodore, yang penyendiri dan kesepian setelah berpisah dengan istrinya.

Namun seperti kata Samantha:

“Ini bagaikan aku membaca sebuah buku. Dan buku ini sangat kusukai. Tapi sekarang aku pelan-pelan membacanya. Kata-katanya makin menjauh dan jarak antar kata hampir tak terbatas. Aku masih bisa merasakanmu dan kata-kata dalam cerita kita. Tapi dalam jarak tiada akhir antar kata dimana kutemukan diriku. Tempat yang bukanlah berbentuk dunia fisik. Itu adalah tempat bagi hal lain yang bahkan aku tak tahu itu ada. Aku sangat mencitaimu. Tapi di sinilah tempatku sekarang. Dan inilah diriku sekarang. Aku ingin kau merelakanku. Sebesar aku menginginkanmu. Aku juga tak bisa tinggal di bukumu lagi.”

Itu kalimat-kalimat perpisahan yang diutarakan Samantha yang bisa didengar Theodore lewat earphone. Samantha hanyalah sebuah OS yang bisa dikendalikan perusahaan pembuatnya. Dan sudah tiba saatnya mereka harus berpisah. Offline.

Sepertinya, Samantha pun akhirnya memberi kesempatan pada Theodore, agar seharusnya berinteraksilah dengan manusia.

Sunday, March 13, 2016

Ayah, yang Kamu Lakukan ke Sigi itu, Jahat


Malam kali ini begitu hening. Seperti sebuah kecupan ibu di kening. Tak ada suara apa-apa. Bahkan angin pun sepertinya pergi bertapa. Aku lantas menengadah lama ke langit. Menemui sepi yang serupa miliaran bintang tanpa bunyi. Gemerlap yang senyap. Kemudian aku ingat. Kau.

Aku ingin menyebut 'kau' di sini. Aku ingin seperti sedang bercakap dengan sahabat. Tentu kau setuju, Sigi?

Ulang tahunmu sebentar lagi. Bukan kau yang memilih tanggal lahirmu tepat 28 April. Tapi kejang tubuh ibumu dan letupan ketuban. Itu tanggal yang begitu spesial kali ini memang. Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) perdana tayang di tanggal itu. Iya. Tepat di hari ulang tahunmu. Kau memang spesial. Sampai-sampai Rangga rela membacakan puisi-puisi di hari ulang tahunmu, setelah 14 tahun dan ribuan purnama berlalu. Cinta pasti cemburu padamu.

Tapi, ketika aku melihat trailer perdana usai gerhana matahari total kemarin. Aku masih merasa biasa-biasa awalnya. Meski sebenarnya sangat berdegup ketika menunggu trailer itu, tinimbang gerhana yang tak sedetik pun aku saksikan dengan kacamata-kacamata rakitan itu. Lalu di akhir trailer berdurasi mendadar telur itu, tiba-tiba Cinta mengucap satu kalimat. Tak lama setelah Rangga berkata apa yang ia lakukan kepada Cinta itu tidak adil.

Cinta menyahut, "Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat."

Di situlah aku mengingatmu untuk pertama kalinya. Bukan malam ini. Sekali lagi, kau di sini sebagai sahabat. Sebab ketika kau kuanggap sosok putriku. Maka jelas kau akan sangat marah saat membaca catatan ini kelak. Untuk waktu dua bulan, aku hanya merinduimu dua kali. Aku memang tidak adil bahkan hanya untuk merindu. Tapi kita bisa bersahabat, bukan? Sahabat selalu memaafkan.

Kau tahu, tidak seperti pasangan remaja di era 90an, atau mereka yang telat merasai kepuitisan AADC, yang lalu coba mendonlotnya hanya untuk sekadar beradaptasi dengan cerita. Aku di sini bukan melihat sosok Rangga dan Cinta sebagai sepasang kekasih, yang hubungan mereka telah berjaring laba-laba belang di tembok keraton putih. Tapi aku pada posisi ayah dan kau itu anakku. Aku tidak memilih posisi itu. Namun ia berkelebat hadir begitu saja. Berdiam di atas ubun-ubunku. Tentu saja aku merasa jahat. Apalagi yang mewakili mengatai itu Cinta.

Tahun demi tahun aku lalui tanpamu. Atau lebih tepat, tahun demi tahun kau lalui tanpa aku. Tak hanya sekali, aku dibuatmu mengecil saat bersua. Tatapan asingmu. Senyummu yang begitu berat. Hingga tangis dan enggan yang berulang kali, saat aku berpinta memelukmu. Seiring waktu aku menjadi semakin asing. Itu yang membuatku cemas, seberapa jahat nanti aku di matamu.

Tapi mungkin saja benar; sosok ayah yang tidak pernah hadir dalam kehidupan anaknya, akan membuat anaknya semakin terobsesi dengan sosok ayahnya. Kalimat yang sedikit menghibur, yang saya temui tatkala menonton film Daddy's Home. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. 

Setiap ulang tahunmu, aku kerap membikin catatan di blog ini. Hanya tekor di tahun pertama. Tahun kedua, ketiga, dan keempat, aku rajin mengirim tulisan yang meski belum saatnya kau pahami. Aku niatkan seluruh isi tulisan di blog ini untukmu. Semua waktu yang abai ingin kutebus dengan cerita. Setidaknya saat kau membaca nanti, waktu yang kuringkus dalam catatan demi catatan bisa lepas menemanimu. 

Jika aku mati, tulisanku tak ikut mati. Cerita tuk Sigi nanti.

Aku menuliskan kalimat itu di profil akun google. Meski ngeri juga sebab ada kata 'mati'. Padahal aku ingin mati seribu tahun lagi. Aku masih ingin menulis untukmu.

Lantas apakah 14 tahun lamanya, baru kita bisa bertemu lagi? Tentu tidak. Waktu selama itu memang jahat. Meski setahun pun sudah jahat untuk kita. Sebulan juga jahat. Seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik, ah, tetap jahat.

Tapi aku akan coba menemuimu 28 April nanti. Aku memilih untuk mengabaikan menonton AADC2. Sebab kau lebih spesial dari itu. Bahkan dari 1000 puisi yang telah terbacakan Rangga dan Cinta atau para pujangga.

Kemudian, malam masih tetap hening. Seperti sebuah kecupan ibu di kening. Tak ada suara apa-apa. Bahkan angin pun sepertinya pergi bertapa. Aku lantas menengadah lama ke langit sekali lagi. Menemui sepi yang serupa miliaran bintang tanpa bunyi. Gemerlap yang senyap.

Kali ini, aku mengingatmu untuk ketiga kalinya. Sejahat-jahatnya mengingat.

Tuesday, March 8, 2016

Kenangan

Ada yang pernah berdosa pada kenangan

Ada pula yang enggan untuk mengenang

Tapi hidup seperti ini adanya

Selalu ada yang perlu dikenang

Meski itu bukan tentang kita lagi

Tuesday, March 1, 2016

Logo "Kopi Sufi" Pilihan Barista Handi

Saya berusaha menerka logo mana yang bakalan juara. Satu per satu saya pandangi, saat 71 logo mulai kami rekatkan ke tembok. Setelah semuanya menempel, Handi si pemilik Kedai Kopi Maksoed yang menyayembarakan logo, menantang saya. Dari ke-71 logo, ia menyuruh saya memilih 5 terbaik. Saya segera mengerutkan dahi, lalu memandangi setiap logo. 5 berhasil saya pilih. Saya menunjuk satu per satu desain yang sederhana.

"Mantap, mantap!" kata Handi yang disusul dengan ulur jabat.

Saya sambut menjabat erat. Senang, sebab mungkin dari 5 logo yang saya pilih, ada salah satu yang memang bakal jadi juara, sesuai pilihan Handi.

Kemudian kami disibukkan dengan mendekor kedai kopi sore itu. Lampu-lampu hias yang dibikin Pipin dari tongkol jagung bergelantungan. Meja dan kursi rapi berjejer. Kedai kopi disulap jadi berwarna-warni nan remang. Temboknya pun telah dimural keroyokan sehari sebelum acara Sayembara Logo Kedai Kopi Maksoed.

Senja berpulang, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Mata mereka memindai segala sudut ruang. Logo-logo yang bertebaran di tembok jadi tuju yang utama. Setelah itu, mural menyusul mereka kagumi.

Pukul 8 malam, semakin bertambah banyak tamu yang datang. Kursi-kursi tak lagi kosong. Gelas telah ditebar. Kudapan hinggap dari satu meja ke meja lainnya. Acara pun dimulai. Komunitas Sastra Tanpa Nama (KSTN) yang telah hadir bersama penyair-penyair, diminta membuka dengan sesi Puisi Kopi. Jamil mulai memantrai penonton. Hening.

"Di akhir hari, pada sunyi jalanan dan riuh kedai-kedai kopi. Puisiku adalah perdu yang tak menemukan matahari. Diriku adalah perindu yang berupaya memecahkan teka-teki. Tentang pelukanmu yang mendadak, tentang kecupanmu yang sekelabat, tentang gigitanmu di bahuku yang berusaha jadi abadi."

Jamil meringkus nakal suasana, hingga mengundang siul penonton disusul gemuruh tangan bertepukan. Kemudian Yudin berganti duduk. Puisi masih bertema kopi dibacakan. Asrul paling akhir menyusul.

Sesi kedua, stand up comedy berupaya mengocok keheningan. Penampilan para komika lokal, sukses menggelitik kuping-kuping penyimak. Lalu musik akustik menggulir sesi. Pendengar berpayungkan teduh dari mereka yang bersuara merdu.

Di teras, live sketch dari Gorontalo Perupa (Goropa), mulai mencorat-coret kertas dengan model-model dari beragam raut. Ada laki-laki gendut, perempuan berhijab, dan pusaran wajah-wajah cemas lain yang berharap disketsa. Bagaimana mereka tidak tertarik? Bahkan larutan bubuk kopi pun jadi alat lukis.

Puncak acara yang saya nanti sedari sore akhirnya menggelinding tiba. Poster logo yang juara masih terbungkus rapat. Sejurus, bungkusan yang terpampang itu akhirnya dibuka oleh sang barista. Kilat lampu kamera bergantian menangkap momen. Dan yang jadi pemenang, sebuah logo berlatar warna cokelat. Ternyata karya Usman Dunda, karib yang tengah menjadi musafir ilmu di negeri seberang, Makassar. Segera kami buru di mana letak versi logo yang menempel di tembok. Logo itu hanya berjarak semeter dari posisi saya.

Selebrasi dari kami, yang juga tak menyangka bahwa logonya Usman yang juara, masih membisingi kedai kopi. Saya yang merekam momen itu, lalu segera mengunggahnya ke facebook. Usman saya tandai, pun dengan sederet ucapan selamat. Ia mengomentari tautan video, dengan basa-basi yang dibuat seolah-olah tak percaya juga, kalau ia bakal menang. Ia sedang merendah.

Di logo kecil yang tertempel di tembok, saya terus terpaku. Memang desainnya sangat sederhana. Ini juga soal pilihannya Handi, si owner sekaligus barista di Kedai Kopi Maksoed. Jujur saja, logo itu tidak berhasil menggoda pandang saat saya coba menerka sedari sore. Dari 5 yang saya pilih, tak ada satu pun logo itu. Handi hanya coba membikin hati saya senang sore tadi, dengan uluran tangan dan ucapan 'mantap'. Sialan.

Namun saat seseorang berkomentar tentang ilustrasi logo cangkir yang serupa melayang, saya mulai bisa berdamai dengan pilihan Handi. Saya memerhatikan sekali lagi, logo yang telah terpajang seukuran separuh pintu rumah itu. Saya coba mencermati dan mulai menduga-duga.

Begini, Handi adalah sosok barista yang religius. Bahkan pelanggannya kerap kali menungguinya, saat ia mendadak menghilang. Alasannya sudah diduga-duga pelanggan setianya. Sebab setiap Handi kembali, rona wajahnya seperti baru saja melakukan pertemuan dengan relasi antar galaksi atau dimensi. Ya, kalau bukan dari taman pengajian, paling-paling dzikir bersama. Butiran tasbih yang terkalung di leher mempertegas dugaan. Meski itu satu-satunya aksesoris berbau religi yang menempel di tubuhnya.

Dari alasan itulah, saya mulai sepakat dengan Handi. Desain logo yang sederhana itu, menyiratkan sebuah kesederhanaan dari sosok Handi dan kedai kopi mungilnya. Pada logo, cangkir dan tatakan berwarna putih tampak bergradasi menjadi abu-abu lalu kehitam-hitaman. Tiga lengkungan uap kopi melengkapi atas cangkir yang ternyata memiliki makna; bahwa founding fathers Kedai Kopi Maksoed adalah tiga sekawan. Sedang ilustrasi bayangan di bawah tatakan, mengisyaratkan bahwa benda di atas tengah melayang. Lalu tulisan Kedai Kopi Maksoed berada paling bawah. Simpel dengan warna kuning dan putih.

Saya coba menginterpretasikan secara singkat pilihan Handi itu. Setelah semalam kesal tak berhasil mendapat jawaban, kenapa ia memilih logo karya Usman.

Saya pikir, Handi cukup tahu nuansa filosofis dan sufistik pada logo tersebut. Entah pikiran saya sama dengannya, tapi setelah saya cermati, posisi cangkir dan tatakan yang melayang, mengibaratkan spiritualitas seseorang. Semakin tinggi maqom spiritual manusia, maka ia seakan berada di antara bumi dan langit. Namun bayangan di bawah, mengingatkan manusia akan sifat membuminya. Sedangkan lengkung uap yang meninggi, adalah pikir kita yang juga tetap melangit.

Tentang gradasi warna pada cangkir, putih kerap jadi simbolisasi kesucian. Dari gradasi warna putih pada logo, yang berubah menjadi abu-abu lalu kehitam-hitaman; adalah ilustrasi dari gradasi wujud. Putih saya ibaratkan wujud 'Tuhan', lalu abu-abu dan kehitam-hitaman adalah 'manusia'. Ketika 'Tuhan' maujud menjadi 'abu-abu' lalu 'hitam', itu adalah tentang proses penciptaan. Bahwa kita manusia berasal dari citra Tuhan itu sendiri. Posisi sebaliknya, jika manusia yang dari 'hitam' maujud menjadi 'abu-abu' kemudian 'putih', itu menandakan suatu proses maqom spiritualitas seorang manusia. Kembali ke citra asal.

Setidaknya begitulah Handi. Ia sedang menjalani proses itu. Menjadi seorang barista sufi.

But, a picture is worth a thousand words. Sila menafsir sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, saya ingin mencuri kalimat Pidi Baiq, vokalis The Panas Dalam yang juga seorang penulis.

"Ya Allah, mudah-mudahan sederhana. Tetapkan pikiran kami terus melangit, dan dengan hati yang terus membumi."