Thursday, May 2, 2013

Hope

Di awal Mei, aku masih terjaring di pulau yang katanya sorga ini. Menunggu kelahiran dari keponakanku, mereka terlalu baik bersedia menampung dan memberikan ruang untukku sejenak rebah karena lelah terus berlari. Ini hanya bisa ku tebus dengan ikut membantu dan merayakan kelahiran putra mereka. Setelah kelahiran, tangisan bayi ini menjadi peluit pertanda aku harus melanjutkan untuk berlari lagi. Lari dari siluet-siluet hantu yang terus mengejarku dengan bayangan seramnya. Seseram kenangan getir yang ikut ku bawa berlari. Ini semakin berat, tapi terkadang menjadi ringan, seringan kupu-kupu yang hinggap di pelupuk mata raksasa. Kemudian terinjak lagi oleh kaki besarnya. Remuk dan berdebu.

Aku tak perlu kata 'andai' kali ini. Semua yang sudah tercetak dalam balok-balok kehidupan ini, adalah bidang yang sudah di atur sedemikian luas dan panjang oleh Sang Pengatur kehidupan. Kita sudah dicetak lebih dahulu di satu alam absurd yang kurang lebih sama dengan alam kita yang berbentuk ini. Dan segala apa yang mengenai penciptaan, lidahku selalu keluh untuk bisa melisankan maknanya. Aku cukup mengeja dalam hati saja, bahwa tak ada kebetulan dalam penciptaan ini. Semesta ini begitu teratur meski tak ada aparatur semesta yang nampak jelas realitasnya sedang sibuk menata bintang-gemintang.

Dalam sekian lama perjalanan ini, satu saja yang bisa terkristalkan dalam hati ini. Berbuat baik saja itu sudah lebih dari cukup. Kebenaran tak selalu harus menampakkan wujudnya, karena ketika sebuah kebenaran itu menjadi mural di dinding-dinding kota. Aku tak bisa membayangkan ia akan memberangus kota itu dalam sekejap. Kita cukup menemukannya di lorong-lorong gelap, becek, dan dipenuhi anjing-anjing liar yang ringkih dan penuh borok. Kebenaran yang seperti itu begitu suci bagiku. Di jalanan itu, kita seperti menukar nasib. Bukan hanya menimang-nimang. Bahkan di remang-remang lorong, cahaya akan selalu seindah gelap yang hadir sebagai pembuka mimpi. Berpadu dan saling merangkul. Hitam dan putih.

Ada pusaran waktu yang menjebakku untuk kembali mengitari hal yang serupa. Kembali ke episode yang sudah seharusnya aku lewatkan karena terlalu 'mainstream' jika diperankan lagi. Tapi aku tahu itu tak sebanding dengan beratus-ratus episode lainnya yang sedang menanti untuk dimainkan. Di tahun ini, aku sering menunduk ketika sadar bahwa sudah sepuluh tahun berjalan sejak raga ini seharusnya sudah mampu berbuat lebih dan tak dipergunakan sebaik mungkin. Sementara kaki ini masih belum mau berhenti untuk menapaki hidup yang sama. Kelebihan apa yang bisa aku gali lagi, itu yang belum aku temukan hingga sekarang. Atau aku sudah menemukannya, namun lupa bahwa di situlah seharusnya aku bertahan. Tak ada yang terlambat dalam hidup ini, kecuali godam kematian telah datang menghantam dan meremukkan segalanya. Balok ini masih tercetak utuh hingga sekarang.

Belum ada yang berakhir, tapi malam ini sepertinya aku merasa lelah dengan semuanya. Meski terlihat begitu tangguh, sebenarnya aku tak lebih dari sebongkah batu yang terus ditetesi air dan berlumut. Kemudian sebuah harapan kembali menegurku bahwa ia ada. Memayungiku dan disitulah kekuatan terakhirku. Menunggu untuk digelar di sebuah taman hijau nan indah. Dengan senyum yang melengkung berayun-ayun di raut wajah luka. Aku luka ditengah segala suka. Beginilah aku dicetak oleh-Nya. Utuh.
Powered by Telkomsel BlackBerry®