Thursday, May 30, 2013

Cuaca Eropassi

Berada di daerah puncak, desaku Passi sudah terlalu akrab dengan cuaca dingin. Setibaku di sini, hujan menyambut hingga berhari-hari. Sepertinya hujan ingin agar aku tetap betah di rumah, melepas rindu dengan kedua orang tua dan saudara-saudara lainnya. Tak ada yang tampak beda di sini, malah yang kutemui peluk sapa yang lebih segar dan tentunya masakan Ibu yang lebih enak ketimbang masakan dari jutaan chef di luar sana. Jika saja perang dunia ke III terjadi kembali, maka yang pertama kali aku selamatkan adalah ikan teri saos bikinannya. Hampir setahun di kota seberang, membuat lidahku makin rindu dengan masakan-masakannya. Untuk berat badanku sekarang yang sudah mencapai 70 kg, mungkin akan tembus 80 kg dalam sebulan saja. Makanku tambah lahap, apalagi ketika senja purna dan hanya terang sisa di ufuk barat, sepohon pisang goroho senantiasa menggoda di sudut dapur dengan centilnya untuk ditelanjangi dan diceburkan ke minyak goreng panas. Tak ketinggalan sepiring sambal pedas khas lidah mongondow-manado yang sudah terbiasa terbakar cabe merah. Air liurku tak sempat menetes, sepiring pisang goroho goreng sudah tersaji di meja makan dan tandas dengan seketika. Tak perlu ke sorga kawan... nikmatnya.

Menurutku, bukan hanya rasa lapar yang bisa membangkitkan selera makan kita. Tapi faktor cuaca pun cukup punya andil. Cuaca Eropassi (demikian kami memberi julukan untuk desa Passi) adalah salah satu faktor yang menjembatani antara selera dan rasa lapar. Dingin yang terasa menusuk-nusuk membuat pori-pori kulit kita ingin menganga dan menyemburkan keringat. Aku tipe manusia yang jika sedang lahap-lahapnya makan, maka keringat tak akan terbendung. Aku hyperhidrosis disaat sedang menyantap makanan atau sedang gugup. Tapi itu aku imbangi dengan banyak meminum air jika sedang makan. Untuk sepiring dua piring nasi, lima-enam gelas akan tersesap tak tersisa.

Selain rasa lapar, rasa mengantuk kita pun terkadang disebabkan oleh faktor cuaca juga. Tidurku akan lebih lama jika sudah memasuki zona rancid room, "kamar hitam" yang asupan air liur untuk bantal-bantalnya cukup terpenuhi. Kamar ini selalu dingin, ditambah lagi dengan cuaca di sini, maka selimut satu-satunya pembungkus raga akan serupa kepompong dan membebatku selama berjam-jam. Kata 'bangun' melesak jauh dan tertimbun mimpi-mimpi. Untuk sadar kembali, aku butuh rasa lapar itu lagi.

Cuaca, tidur, dan lapar... ketiga-tiganya saling erat mengingat. Bahkan disaat kita merasakan panas yang berlebihan, berkeringat, maka dahaga dan lapar pun akan seketika hadir. Tapi untuk pembangkit selera, terkadang yang kamu butuhkan adalah cuaca dingin, cuaca penghujan, cuaca Eropassi. Untuk cuaca panas dan kita merasakan dahaga, mungkin segelas air akan serupa oase di gurun pasir, tapi untuk cuaca dingin, sepiring atau semangkok makanan hangat yang tersaji, akan seperti seunggun api dalam hutan bersalju. Leherku paling sering berkawan dengan yang hangat, bukan dengan yang dingin. Dan apapun soal makanan hangat, pedas. Maka sebatang rokok adalah puncak kenikmatnya.

Jangan lupa pula dengan hangatnya secangkir kopi di sini. Di cuaca Eropassi, di tambah dengan secangkir kopi Kotamobagu, pun kepulan asap rokok merajawali di udara. Maka entah yang kamu rasakan sedang berada di sorga yang tak ternamai. Sorga yang hanya kamu sendiri pemiliknya, tanpa bidadari, tanpa buah-buahan dan sungai-sungai yang dialiri susu. Hanya hitam air kopi dan sebungkus rokok. Itu sudah lebih dari cukup.

Senang bisa merasakan kembali cuacamu Eropassi. Teringat akan malam-malammu yang selalu kami bikin terbakar. Jalanan aspal yang kembali mendidih tertindih panas kayu bakar dari pagar-pagar. Jagung-jagung, ubi kayu, pula sesisir pisang yang dipanggang di atas bara, yang semuanya hasil panenan semalam dari kebun milik 'kakek' kita. Semua momen itu tak akan pernah terbayarkan. Kenakalan yang meremajakan kekanak-kanakkan kita. Tak perlu beranjak dewasa, karena di sini, di cuaca Eropassi... orang-orang dewasa itu seperti orang-orang tua yang seharusnya menyingkir saat kita sedang berpesta. Mereka bukan penikmat cuacamu. Tapi kamilah pengagum sejatimu. Setia menunggui pagi dengan tawa kami.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, May 23, 2013

Selamat Tinggal Bali

Sabtu 25 Mei pukul 06:00 pm, akhirnya tiba juga waktu untuk kembali. Di sini, di Bali, terlalu banyak cerita, begitu banyak hingga kantongku penuh sesak dengan kisah-kisah. Tujuh bulan bukan waktu yang singkat. Petualangan di sini sudah seperti janin yang rasanya mau lekas keluar dan menikmati dunia lainnya.
Selama di sini, lumayan dapat tambahan list teman, jalan-jalan bersama, melancong sana-sini di terik matahari, dan melancung di suasana malam "Bali After Dark".
Sesekali ada beberapa teman dari Kotamobagu yang sempat bertandang ke sini. Bahkan kemarin teman sekampung yang juga sekadar berlibur kemari. Mencundangi rutinitas monoton mereka, lalu terbang menuju sorga dunia. Menghamburkan penat di udara dari ketinggian pesawat, mendarat di pulau ini dengan senyuman segar.
Sekali kau menginjakkan kaki di bandara Ngurah Ray, maka aroma dupa yang kau hidu adalah aroma yang dipenuhi mantra dan kau akan terus merasa untuk kembali lagi ke sini. Itu baru aroma dupanya, setelah kau menyaksikan panorama alamnya. Entah mungkin yang ada dalam benakmu hanya... ingin punya sebidang tanah dan rumah di atas sorga ini. Beranak-pinak dan selamanya memupus usia di sini.

Balinesia, ini negeri sorga. Jika sorga yang kelak dijanjikan untuk kita adalah serupa ini saja. Aku sudah cukup puas. Ini sepertinya negeri Tuhan. Melihat mereka, penduduk di sini dengan kearifan lokalnya yang terus terjaga. Pusaran doa yang tak pernah berhenti bergumam dari bibir-bibir mereka. Keseragaman warna pakaian sembahyang mereka dengan udeng terbungkus melingkar di kepala, tak ketinggalan sekuntum bunga kamboja terjepit di daun telinga. Jalanan yang selalu dipenuhi sesajen, dan rumah-rumah dengan bale tempat mereka bertukar cerita sehari-hari. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari menggantung di pelupuk matamu. Mereka adalah pemuja dan penyembah Tuhan yang paling taat dan teratur. Aku pikir, Hindu adalah agama yang paling mempunyai estetika budaya.

Meski kota-kota lainnya di sini sudah tak purba lagi, seperti dalam catatan-catatanku kemarin. Tapi itu tak meninggalkan kesan akan budayanya yang begitu kental. Modernitas di sini selalu diimbangi dengan tetap menjaga kelestarian budayanya. Bali akan tetap purba meski jaman menggerusnya dengan lancang.

Aku berharap, bisa pulang dengan sebuah senyuman pula, seperti sewaktu pertama kali tiba di sini. Kisah-kisah yang terserak, dari mulai yang nakal, binal, dan jenaka. Ah, Bali.
Tak banyak yang ingin kubagi malam ini. Pulang, adalah kata yang selalu bisa menggerus sebuah petualangan. Rumah adalah sorga yang tak akan pernah bisa tergantikan. Dan kembali---pulang---ke rumah, menyongsong bulan suci Ramadhan bersama-sama dengan kedua orang tua kita, adalah rasa yang tak akan pernah tertebus oleh apapun itu.

Selamat tinggal Bali. Kembali lagi jika sebidang tanah sorgamu bisa kubeli.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, May 21, 2013

Ayah (juga Ibu)

Berawal dari potongan-potongan meracau di Twitter. Tiba-tiba mataku digoda oleh sebuah kata "Papa" yang seliweran di Timeline. Baru saja kemarin seusai mendengar suara lelah seorang Mama tercinta di kampung halaman, aku lupa menanyakan kabar Papa. Sungguh itu lupa yang begitu ceroboh. Padahal, di saku celananya yang tergantung di balik pintu kamar, aku yang paling sering mengeruk harta karunnya di sana. Sebuah pekerjaan yang memompa adrenalin dan cukup melatih kewaspadaan. Jika kepergok, maka paling-paling hukuman terberatnya hanya sebuah ucapan, "ya sudah beli rokok sebungkus sana," kemudian di susul dengan, "kembalikan uang sisanya."
Kebiasaan itu dimulai sejak kita mengenal kata jajan. Dari pakaian merah putih, hingga putih abu-abu yang membalut tubuh remaja kita.

Ayah. Seringkali yang paling prioritas untuk selalu disebut-sebut jasanya dalam sebuah keluarga adalah sosok Ibu. Dari mulai pepatah; sorga itu di bawah telapak kaki Ibu, atau kasih Ibu sepanjang masa. Itu mungkin sudah terlalu 'mainstream', bukan mengesampingkan sosok seorang Ibu. Tapi di sini, ada sesosok yang gagah dan agak terlupakan oleh pepatah. Seorang Ayah. Ayah selalu terlupakan karena didikannya yang harus tegas, terkadang pula diselipi amarah dan gertakkan. Sesungguhnya amarah seorang Ayah, adalah bekal kita dalam menjejali carut-marut kehidupan yang begitu keras di luar sana. Sekeras lengan bajanya. Dan kapanpun kita telah siap bertarung di luar sana. Lengan itu mengepal, meninju atap langit, dan menyemangati kita untuk harus selalu siap dalam setiap pertarungan.
Tapi Ayah cukup tahu, bahwa untuk menyusun bata demi bata dalam suatu bangunan itu, butuh sisi kelembutan dan kehati-hatian di sana. Ia cukup tahu entah itu untuk anak gadis atau laki-lakinya, bahwa amarah hanyalah satu bentuk wibawanya sebagai Ayah. Ia 'The Leader' dalam suatu keluarga. Dan pemimpin yang tanpa wibawa itu, seperti singa jantan, ompong, di tengah-tengah hutan yang penuh dengan daging rusa yang sudah dikuliti oleh singa betina. Memang di komunitas singa, jantan tak terlalu dominan. Masih selalu sosok Ibu yang lebih tampak aktif. Tapi sebuah istana kerajaan singa tak akan pernah terbangun kokoh tanpa andil seorang ayah.


Jika sebuah keluarga serupa rimba raya tempat hidupnya kerajaan singa. Fabelnya di sini, sosok Ibu itu seperti singa betina yang mengajari anaknya makan, atau pun sekadar berburu dan melayani si jantan dan anak-anaknya. Sementara sosok Ayah, kita baru temukan saat melihat singa jantan berjuang, bertarung, tercabik-cabik, berdarah-darah, demi melindungi betinanya dari singa-singa jantan kelompok lain, pun mejaga wilayah kekuasaannya. Sosok pemimpin. Seekor singa tak pernah memakan bangkai demi harga dirinya. Di sela-selah taringnya terselip sepotong harga diri. Segar dan terjaga.

Mereka ajarkan adalah sikap dependensi, tak bergantung kepada orang lain. Ini bukan hanya bualan tentang satu sosok yang sangat berarti dalam hidup kita. Tapi ini omong kosong suci dari dua sosok yang tak akan pernah tergantikan posisinya di hati. Sosok Ayah yang akan selalu tampak gagah dengan sedikit kemarahannya. Di setiap seringainya, kita jangan pernah lupa di situ ada sepotong 'harga diri' terselip, tersimpan sebagai pengingat. Menjaga harga diri dan tahu bagaimana caranya memimpin dan mengayomi. Juga sosok Ibu yang mengajarkan kepada para anak perempuannya, bahwa lelaki itu seringkali mencari perempuan yang lihai dalam menghidangkan makanan. Makanan enak itu terkadang mampu meringkus rasa cinta. Kepuasan di ranjang dan dapur harus berbanding lurus.


Aku membual di sini, tentang Ayah, tapi tak sanggup untuk tak menyebutkan---Ibu. Untuk soal kasih-sayang tak pernah ada kata 'mainstream'.
Jika di telapak kaki seorang Ibu ada sorga, maka di telapak kaki seorang Ayah ada neraka sebagai pembanding dan untuk mengingatkan kita akan dosa.
Jika kasih Ibu sepanjang masa, maka di setiap 'masa' itu ada Ayah sebagai 'waktu' yang melebur bersama, tak terpisahkan.
Jika ditanya pepatah untuk seorang Ayah apa?
Kita sudah sering mendengarnya, tak asing lagi. Bahwa Ayah adalah seorang pahlawan.
Mungkin 'Superhero' yang sering kita kenal, di dadanya melekat huruf inisial dari namanya. Dan untuk kepahlawanan seorang Ayah, juga Ibu. Dua huruf inisial "A.I" itu melurut di dada, melesak ke dalam hati, kemudian meruyak di segala pembuluh darah. Darahku adalah mereka berdua.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 17, 2013

Hari Spesial

Kemarin seorang bayi laki-laki mungil hadir sudah di tengah keluarga baru ini. Pasangan keluarga Decky Prakoso dan keponakan perempuanku Sri Dindra Mokodongan. Mereka yang selama aku di Bali dengan baik hati berkenan menampung dan menjadi persinggahan sementaraku dari perjalanan ini. Akhirnya peluit untukku kembali, tertiup sudah. Tangis bayi mungil ini adalah pertanda bahwa aku harus kembali. Karena selama aku di Bali, kelahiran ini yang aku tunggu-tunggu. Sekadar melihat senyum malaikat kecil ini.

Setelah sebelumnya diprediksi akan terlahir normal mungkin tepat pada gerhana matahari cincin kemarin. Atau juga tepat pada pemilihan Gubernur Bali yang baru, tanggal 15 Mei kemarin biar momennya lebih terasa spesial. Akhirnya tanggal 16 Mei tepat pukul 15:30, bayi ini lahir dengan operasi caesar. Tak ada pilihan lain karena itu jalan yang terbaik. Tapi, untuk memprediksi bahwa kelahiran bayi ini jatuh pada momen gerhana atau pun pemilihan Gubernur, bagiku tak tepat. Karena sebenarnya kapanpun waktunya, harinya, bulannya, atau tahun kelahirannya, itu yang menjadi hal yang begitu spesial bagi kedua orang tua sang bayi. Detik itu tak akan pernah terbayarkan oleh kehadiran purnama, gerhana, bahkan oleh riang keramaian jutaan para pendukung kandidat Gubernur. Spesial selalu subjektif.

Sebuah proses kelahiran yang akhirnya dengan sehat walafiat kedua ibu dan bayi ini sekarang bisa menghirup oksigen gratis lagi dari Yang Maha Esa. Oksigen yang selama ini tak pernah kita sadari bahwa begitu besar nilai kasih Tuhan yang terkandung di antara udara yang melebur besama kehidupan kita. Dan setelah 9 bulan lebih dikandung, bayi ini akhirnya bisa menghidu aroma dunia. Datang ke kefanaan dengan telanjang dan tanpa berdosa. Hadir dengan kekosongan semacam lembaran kertas putih tanpa setitikpun noda. Satu keajaiban yang dianugerahi Tuhan kepada kita manusia. Keajaiban yang tiada tara.

Bayi mungil, coba kalau bisa kau lihat malam ini bulan di langit melengkung membentuk senyuman. Menyabit langit dan menyambutmu dengan keindahan malamnya. Meski bintang tak bertaburan pada malam ini. Bintang-bintang itu hanya menunggu untuk kau temukan nanti. Menunggu kau menggeledah langit, kemudian menemukan bintangmu. Jangan takut dengan dunia ini, karena miliyaran manusia telah membuktikan mampu berpijak di atas bumi ini. Kamu akan menjadi ksatria kelak.

Kemarin itu, aku menyaksikan pelukan-pelukan yang penuh arti. Melihat buliran air mata yang jatuh oleh kebahagian. Air mata oleh tantenya, oleh nenek, ayah dan ibundanya. Aku menyaksikannya dengan mata buram, karena mataku pun penuh tertutup air mata. Tak ada kalimat yang terlisan selain puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Selamat datang keponakan baruku. Pamanmu ini yang mungkin tak akan sempat melihatmu tumbuh besar dan bermain dengan riang, meninggalkan satu hadiah mainan berupa miniatur motor kecil Ayahmu, untukmu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®



Monday, May 13, 2013

Pondok Patah Hati

Awal September 2012, ada seorang pincang coba melaju di antara kerak-kerak bumi. Sesekali tersandung di antara bebatuan cadas yang mencuat dari tanah kemarau sebuah negeri. Ia ingin mencari sebuah jawaban atas pertanyaan yang mengungkungnya selama berbulan-bulan dalam kamar hitamnya. Pertanyaan yang sama pernah terlisan bertahun-tahun yang lalu. Siapa kita?

Tiga bulan sebelum ia merangsek beranjak dari ranjang itu. Ia terbaring karena musibah yang entah kenapa tak henti-hentinya menggerogoti jasadnya  dan karena kesialannya itu, julukan si Donal Bebek dilekatkan kakak perempuannya sejak mereka mempunyai hobby yang sama membaca komik-komik Paman Gober. Hampir semua koleksi komik Paman Gober milik kakak perempuannya dilahap dengan ketawa. Jelas saja, si Komikus pencipta bebek-bebek lucu itu berhasil menyusupkan rentetan cerita-cerita yang hingga sekarang masih tersimpan di memori jangka panjang mereka.

Lanjut... ke perjalanannya yang diawali dengan menunggangi beratus-ratus potongan besi yang membentuk seekor burung dan terbang mengalahkan teori gravitasi bumi. Seperti berat hanyalah sesuatu yang bisa dimodifikasi hingga bisa saling bersedekap dengan udara. Di atas sana, pemandangan yang ia lihat dari ketinggian sungguh indah. Awan-awan perak yang berarak-arak di hamparan benteng biru lazuardi langit. Pun samudera tenang serupa ubin biru mengkilat yang siap menanti jika saja potongan-potongan besi ini dilepaskan seketika oleh udara dari dekapannya. Jatuh lalu diketawai Newton. Terbang tanpa sayap kita sendiri itu... seperti baru saja menyetorkan nyawa kita dengan bayaran sejuta pula.

Sejam lebih saja, daratan tanah Daeng sudah terlihat datar di bawah sana, tampak seperti kita membuka google map di ponsel. Berpetak-petak, terkotak-kotak, semrawut, dan diiris meliuk-liuk oleh jalanan dan belataran sungai-sungai yang seperti irisan pisau seorang anak kecil di atas kue tart, anak kecil yang baru saja belajar memegangi pisau.
Burung besi ini pun mendarat empuk di atasnya. Sempurna.

Panas meruap seketika, ini kota yang bermatahari lebih dari satu, pikirnya. Jemputan dari saudaranya datang juga, seperti biasanya jika seseorang baru saja menyambangi sebuah kota baru. Kepalanya pasti menempel di kaca mobil dengan pandangan menyapu habis jalanan yang dilewati.
Tak selang berapa lama, tiba juga ia di satu areal perumahan. Hanya dua hari ia di sana, kemudian pamit dan berterima kasih atas kebaikan hati saudaranya yang berkenan menjemputnya di bandara, dan mau menampungnya selama dua hari.
Lalu ia segera mengabari teman-temannya, mereka yang menjadi tujuannya ke kota Daeng ini.
Jemputan kedua berlangsung di anjungan pantai Losari. Rama nama si penjemput itu. Baru kali ini ia bertemu dengan Rama, setelah sebelumnya mereka berdua sering komunikasi di BBM.

Dua jam, setelah mereka mampir dulu di Asrama Bogani, sebuah asrama yang dikhususkan untuk para pelajar dari Bolaang-Mongondow. Akhirnya mereka berdua sampai juga di kos-kosan anak-anak Kotamobagu. Kosan ini diberi nama PPH, akronim dari Pondok Patah Hati. Dari namanya bisa kita tebak, ada yang sedang patah hati lantas dengan segera melekatkan nama itu di kosan ini. Mungkin saja si pemberi nama sedang patah hati karena masalah-masalah kompleks dari sekumpulan mahasiswa yang hidup jauh dari rumah dan kampung halaman. Masalah belum dapat kiriman uang, masalah perkuliahan, atau mungkin masalah percintaan. Entahlah, tapi PPH adalah destinasinya, dan sekarang ia sudah berada di sana.

Hanya ada beberapa anak-anak kos di sini yang ia kenal dan sudah sering ketemu di Kotamobagu. Ada Galing, Ipay, Rizqi, Abol, dan Aan. Yang lainnya sudah berteman di BBM tapi baru sekarang berkesempatan bersua secara langsung. Si Sandry, Rian, Eky, Wawan, dan Oi. Ada juga Dito yang meluangkan waktunya dari Jakarta untuk bisa ke sini, juga Ipan yang karena terdorong fanatisme berlebihnya atas aliran musik yang diusung sebuah band ibukota bernama Noah yang dimotori Ariel dkk. Ia sempat diajak Ipan untuk menonton konser band Noah ini, menyaksikan euforia berlebihnya si Ipan ketika screaming melihat band pujaannya itu konser adalah pemandangan yang paling absurd di muka bumi (ini fitnah yang menyehatkan, ketawa).

Mereka ramah, humoris, interaktif, dan begitu cepat berbaur. Sehari dua hari saja, mereka sudah seperti kawan lama. Meski ada beberapa dari mereka yang masih butuh waktu untuk bisa saling mengenal lebih jauh. Mereka-mereka yang kosannya berbeda, tapi seringkali meluangkan waktu untuk berkumpul di PPH. Ada Andry yang diberi julukan Cecunguk karena seringkali kalah cepat menghitung jika sedang bermain 24 (permainan kartu dengan menjumlahkan secara cepat angka-angka di kartu hingga berjumlah 24), yang ini bukan fitnah. Juga ada Oky, Afra, Tessar, Regi, Tri, Iwan, dan Tiing.
Yang perempuan-perempuannya hanya Viny dan Puput yang sempat akrab dengannya, yang lainnya terlalu jarang mampir ke PPH. Hanya sesekali menongkrong sama-sama di Asrama Bogani, Mall, atau Pantai Losari. Indah, Ika, Ea, Rizi, Iga, dan Tirsa, tak terlalu akrab tapi jika sebuah senyum terlempar sudah dari paras-paras cantik mereka, itu sudah lebih dari cukup. Dan jika kita sedang berada di luar kota, bertemu dengan orang yang sedaerah, dengan sendirinya tali persaudaraan itu akan terjalin. Dan saling tegur sapa.

Soal pertanyaan yang membawanya ke sini. Jawaban dari sebuah pertanyaan yang ia cari itu hanya butuh waktu. Pertanyaan mengenai, siapa kita?

Dan di sini, ia mulai mempelajari awal mula kenapa pertanyaan itu ada. Filsafat bisa menjawabnya, atau mungkin sekadar membantu kita untuk bisa memahami. Kajian filsafat pun di mulai. Hanya butuh waktu 2 bulan untuk ia belajar di sini, karena itu dasar-dasar pengenalan filsafat saja yang ia pelajari, dilanjutkan dengan kajian tauhid, membaca buku, pula berdiskusi. Interval waktu yang sempit, juga diselang-selingi padat kesibukan mereka sebagai pelajar sekaligus pengajar, tapi toh akhirnya kajian itu tuntas juga. Dan menumbuhkan tunas-tunas pertanyaan baru lagi setelah itu. Tapi setidaknya, untuk sebuah jawaban atas pertanyaan, secawan gelas terisi air sudah, diteguk dan kembali kosongkan gelas untuk disiapkan menampung air lagi. Pertanyaan-pertanyaan di benak kita tak terhingga banyaknya. Terlalu banyak.

Seiring waktu yang begitu singkat ini, tiba saatnya untuk sebuah perpisahan lagi. Di suatu subuh yang senyap, ditemani Wawan yang bersedia mengantarnya ke bandara. Ia meninggalkan PPH dengan sedikit lega. Ada yang terjawab sudah di sini. Meski tak banyak tapi cukup membekalinya untuk melanjutkan perjalanan yang masih begitu panjang. Sebenarnya ia tak berpikiran untuk mencari kebenaran. Tapi ia sedang membenarkan cara berpikirnya.

Setelah bersalaman dan pamitan dengan Wawan, ia menitipkan salamnya juga buat teman-teman lainnya yang masih terlelap dibuai sepoi-sepoi belaian kipas angin. Makassar mataharinya memang lebih dari satu.
Pesawat mengudara, tapi bukan kembali, tapi ke Bali. Menjenguk pulau yang katanya sorga. Di negeri ini, adakah sorga itu? Batinnya...
Dengan wajah menempel di tebalnya jendela kaca pesawat, sebuah senyum terukir sudah di wajahnya.
Pertanyaan itu, siapa kita?
Kita makhluk berpikir, karena itu kita bertanya... Siapa kita?
Di Pondok Patah Hati, ia datang dan pergi tanpa sedikit pun patah hati.

Powered by Telkomsel BlackBerry®









Lelapku Kanvasmu

Udara dingin malam ini menebal di ruang tamu
Dinding dan meja kursi jadi serupa balok es
Yang tergeletak di sini hanya raga. Jiwaku sedang di sana

Yang kuhirup di sini hanya aroma ceria dan ketawa mereka
Tapi tak terasa di diriku
Mungkinkah aku mati rasa?
Karena terlalu jauh melanglang buana ke negeri iguana
Berduri dan seringkali menikam

Tahu tidak kalau sebulan yang lalu
Jengah merambah menerabas ke segala arah
Hingga hanya satu arah yang membuatku bisa berlari---pulang
Mungkin cahya yang kemarin membawaku kemari redup sudah
Tergantikan warna-warni dan rupa menyilaukan
Menelan putih yang sejak kemarin pucat

Satu yang bisa membuat pipiku merona terlena
Ia jauh tapi bersanding dengan jiwaku
Mendekap erat lalu berpagut bukan atas alasan birahi
Ia yang selalu tahu caranya melukis dan menarikan dengan riang sebatang kuas di atas kanvas sanubari
Ia bukan sedang mewarnai, tapi melukis mimpi

Tahukah kalian warna mimpi itu?
Mungkin kalian bisa mengingatnya jika bisa
Yang ku tahu bagian otak 'sub-conscious mind' tidak bisa mentransfernya dari memori jangka pendek menjadi jangka panjang
Sehingga kita terkadang sulit mengingat mimpi kita apalagi warnanya
Buram, abu-abu, ah, entahlah apa warnanya

Ia, mampu melukiskan mimpi dengan begitu indah
Ia pelukis mimpi
Satu-satunya yang ada di dunia bukan mimpi ini
Atau memang dunia ini mimpi yang dilukisnya?
Aku tahu ia tak akan melukis begitu lama
Karena anugerah untuk tumbuh besar maka akan tiba waktunya ia mulai kenal apa itu petaka

Petaka yang mematahkan batangan kuasnya
Dan memaksa ia harus mengenali jutaan rasa yang digelar di pelataran semesta
Bahkan karena ketakutanku, aku ingin ia tetap selalu kecil dengan keajaiban-keajaiban yang mengitarinya
Mungkin itu yang bisa menjaganya lebih abadi dari apapun

'Childhood' yang mengekalkan segalanya
Dan masa itu yang selalu menggodaku untuk pulang
Melukis bersama mimpi-mimpi kami kembali
Miss you Sigi, my little Medusa
Ada yang tiba-tiba hangat di sini Kemudian mau lelap
Lelapku untukmu
Lelap yang sedari dulu menjadi kanvasmu


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, May 11, 2013

Kambojalogi

Pagi ini, sama seperti pagi-pagi kemarin. Segelas kopi, pula sejuta tarik hela batangan rokok dan dedaunan kamboja berserta bunga-bunganya yang gugur di depan teras rumah. Ada satu yang menarik di sini, ketika bunga-bunga kamboja berguguran tak akan pernah tergeletak lama di atas tanah. Hampir setiap saat orang-orang di sini memungutinya, kebanyakan yang selama aku perhatikan hanya orang-orang tua yang melakukan rutinitas tersebut. Tampaknya mereka seperti sedang memunguti nyawa, menghitung satu demi satu helai bunga kamboja yang katanya kalau berhelai enam bisa membawa rezeki. Entahlah, tapi ini menarik bagiku karena untuk kebersihan lingkungan, budaya memunguti bunga-bunga kamboja yang terserak itu cukup positif.

Aku seringkali menghabiskan waktu hingga sejam lebih di teras ini sembari menatap pohon kamboja yang hampir setiap rumah di Bali menanamnya. Dulu di desa kami pun budidaya menanam pohon ini pernah begitu gencarnya, hampir di setiap halaman rumah ditanami pohon kamboja, hingga seiring waktu telah banyak yang tumbang atau terpangkas dan tergantikan dengan tanaman-tanaman lainnya yang tidak terlalu angker. Kita tahu tanaman ini kebanyakan di tanam di areal pekuburan. Tapi di sini, menjadi tanaman wajib karena hampir setiap upacara keagamaan Hindu mengikutsertakan bunga kamboja untuk setiap ritual upacaranya.

Tanaman pohon kamboja yang bernama latin plumeria acuminata ait ini sebenarnya berasal dari Amerika dan Afrika. Manfaatnya pun sangat banyak, aku juga baru mengetahui kalau tanaman ini bisa difungsikan untuk pengobatan. Lebih jelasnya mungkin bisa dibuka link di bawah ini.
http://www.deherba.com/khasiat-tanaman-kamboja-untuk-kesehatan.html

Kemarin pernah sekali aku bertanya kepada seorang bapak yang tetanggaan dengan rumah kontrakan tanteku. Soal kenapa di sini pohon-pohon seperti ini begitu lestarinya, bukan hanya pohon kamboja, tapi juga pohon-pohon lainnya yang juga berukuran besar dan yang menjulang tinggi berusia ratusan tahun. Kata bapak ini, di setiap pohon ini mempunyai makna filosofis bahwa kita manusia harus mencotohi cara hidup pepohonan, mereka tak pernah saling mengganggu satu sama lainnya. Tetap tenang hidup memancang di bumi hingga ratusan tahun. Mungkin konsep pemujaan terhadap pepohonan di sini kurang lebih maknanya seperti itu. Aku juga baru bisa membedakan yang mana 'sembah' dan yang mana 'puja'. Mereka bukan sedang menyembah pohon, bukan pula memberhalakannya. Tapi mereka memuja kearifan dari makna filosofis yang terkandung dari cara hidup pepohonan tersebut.

Budaya Bali yang begitu kaya dan relevansinya dengan kehidupan antar makhluk untuk saling menghargai ini yang begitu mengubah cara pandangku soal 'pemberhalaan'. Kearifan lokal yang terus bertahan dan tak pernah tergerus oleh perubahan jaman, meski ada juga sebagian wilayah di sini yang sudah acuh tak acuh dengan persoalan ini. Tapi kebanyakan hal itu terjadi bukan karena penduduk lokalnya, tapi karena para pendatang yang sudah menetap di sini. Karena itu Bali yang seperti di wilayah Kuta, aroma dupa dan upacara-upacara agak jarang kita saksikan lagi. Pun disemaraki oleh ras-ras kaukasoid yang lalu lalang dan bangunan-bangunan tak berarsitektur Bali lagi.

Untuk mendapati halaman rumah yang penuh berserakan bunga-bunga kamboja, kita tinggal memilih kota mana di sini yang masih sangat lekat dengan kearifan lokalnya. Ada banyak pilihan, dan di tempatku menetap sekarang di kota Denpasar hal seperti ini masih banyak ditemukan. Halaman-halaman rumah yang dijejali tetumbuhan dan pepohonan rindang. Meski sesekali mengeluh karena kota ini pada malam hari pukul 22:00 sudah mati dibunuh sepi, tapi ada sisi lain yang semburat keluar dan termaknai saking jauhnya dari keramaian. Ada kedamaian di sini, hembusan angin sejuk yang sesekali membelai dengan lembut. Di Denpasar memang suasana siangnya begitu ramai jika di pusat kotanya. Hiruk pikuk yang hampir sama dengan Kuta. Tapi di wilayah tempatku tinggal, di Kampung Jawa, di sini masih agak sepi dengan sesekali raungan kumandang adzan bersahut-sahutan dengan kidung, puja dan doa berbahasa Bali yang juga sering terdengar dari banjar-banjar terdekat.

Di Kampung Jawa ini rumah-rumah orang Bali dan Jawa-Madura berderetan acak. Dan untuk mengenalinya kita cukup melihat mana rumah yang halamannya ditanami pohon kamboja. Ada makna filosofis lainnya yang bisa kugali dari pohon ini. Bunga-bunga yang gugur dan tumbuh begitu cepat, juga tak mengenal musim. Kekal mengakar dan berbunga. Seperti kehidupan kita yang terus silih-berganti. Kematian dan kehidupan terus bersanding. Hingga keabadian itu datang.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, May 7, 2013

Smokol (Cerpen: Nukila Amal)

Batara alias Batre gemar menyelenggarakan smokol secara cermat dan meriah sebulan sekali, atau dua kali—tergantung ilham yang didapatnya dari kunjungan sesekali Peri Smokol. Menurut Batara, peri yang berasal dari Manado ini adalah penguasa dan pelindung smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), pemasak smokol (Batara sendiri), dan kelompensmokol (kelompok penikmat smokol; beranggotakan Batara, Syam, si kembar Anya dan Ale). Tapi ketiga temannya curiga peri ini cuma hasil rekaannya. Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan, niscaya berhalusinasi).

Tapi bagi Batara, smokol tidaklah sesederhana itu. Dengan imajinasi yang berlebih dan gelora bagi kesempurnaan segala sesuatu, Batara selalu muncul dengan smokol bertema aneh dengan makanan aneh-aneh. Ketiga temannya tak pernah bisa menduga apa yang akan terhidang di meja.

Suatu hari, misalnya, ia merekonstruksi menu 'Santap Malam dengan Trimalchio', dan memulai dengan apologia. "Sori, teman-teman, secara keseluruhan, ini lebih bersahaja, tidak seambisius Petronius." Tak hanya terilhami novel atau buku masakan, juga esai—padahal pada paragraf pertama, sang esais telah memperingatkan bahwa resep anak domba sepanjang 13 halaman itu tak pernah sukses dicoba. Di kali lain, ia menghidangkan makanan warna kuning dan hijau saja, atau hanya menyuguhkan rebusan teh putih langka dalam teko dan cawan keramik rompal. Suatu kali ia sibuk menggelar tikar di halaman belakang, tema hari itu adalah piknik makan patita ala Ambon di pinggir pantai imajiner. Ketiga temannya juga bisa terkecoh dengan judul makanan yang terdengar megah, semisal 'Gnocchi di patate alla crema delicata di Gorgonzola', yang ternyata cuma kentang rebus bentuk bola-bola. Begitulah, Batara menyapu berbagai waktu dan negeri: dari Zaman Pertengahan hingga Nouvelle Cuisine tahun '80-an, dari Raja Richard II sampai Oma Sjanne yang tinggal di Tomohon.

Seingat ketiga temannya, hanya satu kali Batara menyajikan smokol betulan.

Bagi mereka, santap smokol adalah hari ideal yang penuh kebahagiaan. Mereka selalu menanti-nantikan hari Sabtu terjadinya peristiwa makan besar ini. Biasanya di malam sebelumnya mereka tidak terlalu banyak makan, tidak berulah macam-macam yang bisa mengakibatkan sakit gigi atau gangguan pencernaan, dan berangkat tidur lebih awal. Mereka tiba di rumah Batara pada pukul sembilan pagi, smokol terhidang pada pukul sepuluh, lalu sedikit minum-minum pukul satu-dua siang sambil menunggu hidangan kue-kue kecil dan kopi pada pukul empat sore, makan malam pasca-smokol pukul enam, minum-minum dengan camilan sekadarnya pada pukul 10 malam, lalu makan pasca-pasca-smokol di tengah malam.

Di saat smokol inilah Batara tampil dalam kebesaran dan kemegahan kuasa kedewaannya. Tak hanya seperti dewa koki, ia juga menjelma seorang oma bawel bercelemek yang repot betul dengan berbagai-bagai masakan yang telah dipersiapkannya sedari pagi secara teliti, murah hati dan penuh cinta kasih. Ia bisa nyinyir menyuruh-nyuruh ketiga temannya seakan mereka adalah anak cucu menantu miliknya seorang; mereka mesti mengaduk, menuang makanan dari panci kuali dandang, bergiliran membawa piring mangkuk lodor ke meja makan. Dan, ketika semua makanan telah datang terhidang, Batara akan mundur selangkah untuk mengagumi tampilan mejanya. Ia berdiri tegak memandang semestanya yang lezat selayaknya para dewa, berkacak pinggang dengan telunjuk terangkat menitahkan ketiga temannya untuk menaklukkan seisi meja. Lalu dengan penuh kuasa ia memerintahkan mereka untuk makan, tambah, makan lagi… secukupnya.

Kalau sudah begini, mereka bagai tenggelam dalam dunia fantasmagoria ciptaan Batara. Bentang alamnya kira-kira tampak seperti ini: pepohonan makanan yang berbuah bola-bola ghoulash yang gemuk-gemuk, berbunga pai gelatin stroberi yang berembun merah berkilat-kilat, berdaun piterseli dan kemangi, rerantingannya pasta bermentega yang menjulur-julur panjang. Danaunya adalah kuah tempat potongan daging wortel kentang paprika berenang-renang, ampela bebek bersampan irisan roti garing. Air terjunnya curahan deras sari buah, anggur, kopi, cinta kasih Batara…. Dan, di antara semua ini, ketiga temannya terhenyak kekenyangan, merasa seperti akan meledak, bunyi-bunyian aneh yang tak terjelaskan akan keluar dari mulut-mulut mereka.

Kerap kali sang dewa kesedapan beterbangan di antara meja makan dan dapur untuk mengambil tambahan ini ekstra itu, sambil berceramah, "Tanda sesungguhnya dari seorang gastronom sejati, teman-temanku, adalah absennya keperluan dan keinginan untuk sok berhati-hati dengan semua makanan berkah Tuhan, sebab dirinya telah sarat pemahaman yang terasah secara cerdas dan halus. Rahasianya cuma satu: tak berlebih. Ingat ini, segala sesuatu mesti berkadar secukupnya, selayaknya satu masakan sempurna. Niscaya dia sehat-walafiat dan kelak meninggal dalam tidur dengan senyum damai di wajah, seperti mendiang omaku—Tuhan memberkatinya. Dan, ketika seorang gastronom telah mampu memahami hakikat alur kulit nanas, misalnya, atau makna keteflonan penggorengan, niscaya saat itulah dia menjelma seorang gastrosof."

Dengan iba ia bicara tentang 'cewek-cewek kurus kering yang tampak kelaparan itu, selalu membangkitkan naluri kekokianku untuk memberi mereka makan'. Ia mencibiri 'kalkulasi asupan kalori, lemak-kolesterol-karbohidrat, berat badan dan segala macam tetek-bengek gaya hidup—cuma obsesi orang-orang yang khawatir dengan berat badan dan penampilan, mereka yang memandang berkah serupa racun, begitu takut akan maut. Maka, makanan pun menjelma energi buruk di badan mereka, penyakit segala macam itu.'

Batara bersendawa, menghardik, membujuk-rayu, atau tertawa senang dengan mata berbinar jika ketiga teman menghujani semesta masakannya dengan puja-puji. Mereka juga mencela secara semena-mena dan keji, khususnya perkara estetika meja makan. Gara-gara ia punya semacam estetika ideal dalam setiap perjamuan yang meliputi jenis makanan, tampilan meja dan atmosfer keseluruhan. Hal ini kerap menimbulkan insiden kecil-kecilan di antara mereka.

Seperti hari ketika ia meletakkan jambangan mahabesar berisi bunga-bunga yang tak bisa dinamai, menjulang tinggi dalam rangkaian agak rumit. Mereka belum lagi mulai bersantap. Batara muncul dari dapur dengan tergopoh-gopoh dan mengepul-ngepul dengan mangkuk besar di tangan, diletakkan di sepetak lahan kosong yang tersisa di meja. Ia lalu mundur selangkah, berkacak pinggang menatap senang tampilan mejanya, telunjuk mengangkat dalam gestur dan titah wajib: "Kelompensmokol, ayo taklukkan makanan di depan kalian!" Lagaknya seperti gembala menghalau ternak, atau mungkin itulah gaya Columbus di atas geladak ketika menemukan Amerika.

Ale. "Aku nggak bisa lihat muka Anya."

Anya. "Aku nggak bisa lihat muka Ale."

Syam. "Gara-gara jambanganmu yang terlalu besar dan megah ini."

Batara. "Terus kenapa? Kalian nggak harus bertatap-tatapan."

Ale. "Kami harus bertatapan."

Anya. "Sudah dari dulu begitu. Orang tua mengajarkan kami menatap orang yang sedang bicara."

Batara. "Nggak bisa. Seandainya kalian bisa menebak apa-apa gerangan yang sudah kulakukan untuk mencapai komposisi, morfologi dan harmoni meja setaraf ini."

Syam. "Kamu jual jiwa kepada setan. Atau jual diri?"

Ale. "Singkirkan deh, supaya makanan bisa lebih lancar ditelan sambil bertatap-tatapan, tak ada yang tersedak."

Anya. "Dan para orang tua berbahagia anak-anaknya makan pengajaran."

Batara. "Aku sendiri yang merangkai bunga semalaman, setelah sesiangan ke Rawabelong. Heh, pantat panci, kuping kuali, paham tidak sih, kemarin itu macet, panas pula berkeliling seantero tukang bunga."

Ale. "Sudahlah, gentong bunga angkat saja. Kami sudah dari tadi menangkap realisme magis meja ini."

Anya. "Angkat, Batre, gentong atau bunga. Pilih salah satu."

Batara. "Repot amat. Tidak bisa dan tidak mau."

Batara mulai berwajah bengis. Ini gelagat yang tidaklah baik bagi semua pihak. Apalagi jika badannya yang gempal mulai bergumpal-gumpal, niscaya sebagai manusia ia tampak berbahaya. Lalu sepanjang hari ia akan terus memasang tampang tukang jagal seram, masam seperti cuka apel, diam membisu seperti talenan, menghunus pandangan tajam yang mengiris-iris seperti pisau daging. Lalu sambil menggumamkan berulang-ulang mantra Sancho Panza, 'All ills are good when attended with food', Batara tetap saja menghidangkan yang perlu dihidangkan, dengan garnis desisan dan geraman pertobatan, 'Ini smokol terakhir, sungguh terakhir….'

Maka, kompromi mesti ditempuh; ketiga temannya rela membolehkan yang biasanya tidak dibolehkan dalam situasi normal. Batara boleh menyanyi berpura-pura menjadi siapalah, atau main akordeon lagu apalah, dan mereka akan mendengarkan dengan tertib.

Sontak saja senyum dan energi Batara pun kembali, dirinya baterai ceria penuh terisi. Ia mondar-mandir lagi tanpa henti, seperti anak kelinci bintang iklan baterai. Konon, ia beroleh nama panggilan Batre karena sedari bocah telah begitu lincah. Teman-temannya pernah terlibat diskusi panjang yang kira-kira mirip dialektika ayam dan telur: apakah Batre menghidupi namanya, ataukah justru nama itulah yang menghidupinya; bukankah melelahkan sekali menghidupi nama? Tapi mereka sepakat, Batre memang baterai nomor satu, sumber energi infiniti bagi dirinya sendiri: terus, terus dan terus….

Mereka tahu bahwa di balik aksi-aksi ngambek sok bengis itu, sesungguhnya Bataralah orang yang paling tulus dalam cinta kasihnya, tanpa tahu mengapa atau untuk apa, bahkan tak hendak bertanya. Tak ada sesuatu apa di balik cintanya; tanpa pretensi, kalkulasi, atau imbal balik. Semacam cinta yang hanya bisa dipunyai anak-anak. Ia manusia paling riang gembira sekelompok ini, bahkan sekota Jakarta. Sesekali saja ia jatuh berduka.

Seusai smokol, sambil menunggui mereka mencuci piring, Batara duduk memangku akordeon merah bernama Patchouli dan memainkan lagu dengan khusyuk. Sang dewa smokol duduk megah menutup-buka akordeonnya, menebar nada dewata di udara, di antara ketiga manusia jelata pencuci piring dan pemberes meja makan yang cuma mendencing-dencingkan porselen dan penggorengan teflon.

Di malam-malam larut, kelompensmokol menyambangi halaman belakang rumah Batara. Keempatnya duduk bersandar kekenyangan, mengangkat kaki menatap bintang. Mereka berbicara tentang apa saja; mengkhayalkan dapur hidup fantasi dalam kosmologi Fourier, definisi tengik, cita rasa akhirat.

"Akhirat…. Aku curiga cita rasa akhirat akan seperti ini. Kenyang dan bahagia. Di surga kita akan kenyang, terlalu kenyang untuk menginginkan. Buah zaitun dan anggur yang sejangkauan tangan, para bidadari yang duduk bertelekan—terbuang percuma. Sedang Tuhan YME menyaksikan kita, manusia-manusia yang terkesima, yang bergumam-gumam heran, lho, tak kepingin lagi. Maka Tuhan bersabda, kenapa tak dari dulu, wahai manusia." Batre bergumam.

Di malam-malam larut seperti ini, ada cita rasa pulang yang mengalir dalam udara pelan. Salah seorang akan berucap dan semua seakan percaya pada apa yang terdengar. Tak ada yang mengatakan, tapi semua memahami yang terasa: sececap cita rasa yang tak ternamai, tertinggal manis di lidah. Dan cahaya bintang, meski hanya seberkas, namun cukup.

Maka, suatu hari Batara sungguh-sungguh jatuh berduka. Duka paling nadir yang pernah dirasanya. Batara menangis tersedu-sedu sambil memeluk satu pak tisu ukuran jumbo di depan ketiga temannya.

Ia berbicara terpatah tentang sekampung orang yang meninggal karena kelaparan, tentang anak-anak berperut buncit dan bermata hampa yang berjalan menyeret-nyeret kaki telanjang dan busung lapar mereka—adegan-adegan yang akhir-akhir ini kian sering muncul di TV. Ia tercenung membayangkan apa rasanya lapar berhari-hari. Ia mengenang meja makan Oma Sjanne di Tomohon yang penuh sesak dengan makanan, tak satu pun tamu atau musafir yang keluar dari rumah mereka dalam keadaan lapar. Ia merenungkan betapa tampilan mejanya selama ini adalah aspirasi penciptaan kembali meja makan mendiang omanya. Batara tak mengerti mengapa Oma Sjanne luput menyelipkan satu saja bau kelaparan di antara sejuta bebauan sedap masakan di dapur, mengapa meja makan Oma Sjanne tak pernah menampakkan realisme meja-meja makan lain yang kosong belaka.

Kini bayang-bayang lapar yang telah selalu tercegat di bawah meja makan itu datang menerjang di depan mata Batara. Berdiam di dalam pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.

Batara tampak agak kurus akhir-akhir ini. ***


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Bintang Kecil

Suatu malam di desa tak bernama...
"Bintang kecil di langit yang kecil, amat kecil menghias yang kecil, aku kecil terbang dan mengecil, jauh kecil ke tempat yang terkecil," Sayup nyanyian itu terdengar seperti direbut angin. Malam makin meninggi dengan ribuan bintang terhampar di bidang hitam langit. Kedua lengan gadis kecil itu menyilang sembari memangku dagunya yang sedari tadi bertengger di antara ruas-ruas jendela. Matanya mengkilat disaput temaram lampu. Ia sedang memikirkan sesuatu sambil bernyanyi atau lebih tepatnya berbisik, apa yang ia pikirkan, jelas sesuatu yang tak kecil.

Dalam degup jantung belianya sudah terbiasa dengan tangis dan jeritan yang senantiasa merobek hari, yang sesekali melambatkan detak jantungnya. Malam ini, ada satu bintang yang redup. Seorang anak laki-laki seusianya sekaligus tetangganya baru saja meregang nyawa di seberang sana. Matanya yang mengkilat tadi, kini semakin berbinar seiring selaput basah yang bening serupa kaca menyemir kelopak matanya. Retak, lalu kemudian di kedua pipinya tergaris sudah sungai kecil dengan air mata deras mengalir. Anak laki-laki yang meninggal itu, si Bintang, adalah satu-satunya teman baiknya yang tersisa. Dan kini ia harus kehilangan lagi. Setelah Wulan, Mirah, Uncit, dan Ranggas yang juga meninggal berturut-turut setahun yang lalu.

Bintang sakit sudah hampir sebulan, dukun kampung yang membantu pengobatannya tak bisa lagi berbuat apa-apa. Dan seperti hari-hari kemarin, ada saja anak meninggal karena sebab yang sama. Demam berdarah. Wabah ini menjangkiti anak-anak riang dengan begitu gembira. Merenggut nyawa tanpa suara. Mengendap dalam tubuh yang masih liat. Menurut rumor di desa ini, demam berdarah ini kutukan karena penduduk desa tak lagi menggelar sesajen di sebuah pohon beringin tua di ujung desa. Rumor itu semakin menyeruak tatkala anak-anak yang menjadi korban kemarin, adalah mereka yang sering duduk gembira bermain di bawah rindangnya pohon itu. Apalagi ada kabar kalau Bintang pernah mengencingi pohon itu dua bulan yang lalu sebelum ia jatuh sakit. Dan aku, anak perempuan yang paling diwanti-wanti oleh orang tuaku untuk ke sana. Aku yang tersisa dari teman sebayaku, menebalkan keyakinan mereka tentang mitos itu.

Sepuluh meter dari pohon beringin tua itu ada cerukan besar yang seringkali digenangi air karena hujan deras yang mengguyur di musim penghujan. Di musim paceklik biasanya cerukan itu akan kering. Dan di desa ini, sejak lima bulan yang lalu hujan masih awet hingga sekarang. Bahkan di malam ini, gerimis baru saja bercinta dengan udara di gelap gulita. Bintang gemintang di langit tersaru gerimis, sama seperti Bintang yang juga jasadnya tersaru kain lusuh bercorak batik. Dengan wajah pucat setengah mengintip di balik kain. Ia menjadi benda mati serupa kain. Lusuh dan bisu.

Aku menutup jendela kemudian berbaring sembari membungkusi tubuh menggigil ini dengan selimut. Lelap hingga pagi datang menyapa lewat corong toa tua yang melantunkan ayat-ayat suci. Tak lama lagi acara penguburan Bintang. Aku mandi, mengganti pakaian serba hitam, lalu bergegas ke rumah penuh duka itu. Diusiaku yang baru mau menginjak 13 tahun, kata ayah dan ibu, aku terlalu jauh berbeda dengan anak seusiaku. Padahal sebenarnya Bintang tak jauh berbeda denganku, orang tua kami kurang memantau gerak-gerik keingintahuan kami yang berlebih, juga sifat pembangkang kami. Setahun yang lalu, aku sering diajak Bintang bermain di sekitar pohon beringin itu secara diam-diam. Satu-satunya alasan klasik adalah belajar kelompok dengan teman. Kubangan air yang tak jauh dari pohon besar itu kami sempat bermain dedaunan yang dibentuk mirip perahu. Dengan meletakkan dua semut api di atasnya, berharap itu adalah miniatur kami. Kubangan air itu cukup jernih hingga puluhan atau mungkin ratusan jentik-jentik nyamuk bisa terlihat jelas menyerupai segerombolan ikan piranha yang menunggu karamnya perahu daun yang ditumpangi dua semut api. Mereka memang tak akan memangsa kedua semut api itu, cukup air yang membunuh api. Pun untuk membunuh, jentik-jentik nyamuk hanya menunggu untuk dewasa, dan sebenar-benarnya mangsa adalah kita. Tak kusangka Bintang salah satu mangsa yang diintai mereka.

Gundukan tanah basah mulai ditinggalkan para pelayat, yang tersisa hanya aku dan pusara. Aku mengelus-ngelus pusara, maaf Bintang, karena aku pernah mengingatkanmu untuk jangan keseringan bermain di sana. Jentik-jentik nyamuk itu, mereka berubah dengan cepat menjadi pembunuh keji yang sudah menjadi kodratnya. Tapi karena kamu anak laki-laki, mungkin sifat pembangkangmu melebihi aku. Cengengesan kamu bilang, "Bintang kecil di langit, jauh dari jangkauan larva-larva kecil." Kamu lupa kalau mereka nanti bersayap.

Setelah dari kuburan aku sempatkan ke pohon beringin tua, memang jaraknya tak jauh dari kuburan umum desa kami. Di bawah pohon ada sesajen yang masih segar tergeletak ramah membujuk, begitu rapi dan menghamba. Alisku beradu. Kemudian tubuhku membungkuk, memunguti sekuntum bunga kemboja di antara tumpukan sesajen. Menuju ke arah belakang pohon, ke cerukan itu. Kubangan airnya masih tetap jernih, sangat jernih. Aku meletakkan bunga kemboja di atas air, tak ada semut api. Air memang selalu lebih berkuasa atas api dan apa yang ada di atasnya. Aku bernyanyi dengan suara kecil, "Bintang kecil di langit yang kecil, amat kecil menghias yang kecil, aku kecil terbang dan mengecil, jauh kecil ke tempat yang terkecil." Jentik-jentik nyamuk itu menari-nari. Berenang tenang tak mau mengenang. Padahal ibu mereka baru saja membunuh. Sama seperti yang dilakukan para leluhur-leluhur mereka. Tapi, mereka diciptakan untuk menjadi para pembantu malaikat maut. Ah, Aedes aegypti... hanya dengan ujung proboscis, kalian menikam sahabat-sahabatku. Para betina yang tak pernah dilema di antara memberi makan larva-larvanya atau membunuh.

Langkah kaki ini pelan sampai di rumah. Aku duduk tercenung di teras, memandangi rumah Bintang yang masih ramai. Almarhum Bintang. Hingga sore tiba, ada sesuatu yang masih tersangkut di hati. Aku menemui ayah dan ibuku kemudian bercerita panjang hingga menciptakan puluhan mimik di wajah keduanya. Soal jentik-jentik nyamuk dan maut. Soal sesajen dan mitos yang harus segera diplontosi. Ayahku kepala desa. Ia kagum dengan apa yang aku bicarakan barusan tapi sebelumnya ia marah soal "alasan klasik". Tapi beginilah orang tua, sekejap pengampunan terjadi di meja makan. Setelah itu baru aku beranjak ke kamar. Bertengger kembali di antara ruas-ruas jendela dengan dua lengan yang masih tetap menyilang. Seperti malam kemarin. Menunggu Bintang yang biasanya datang mengajakku melompati jendela. Berlari di malam hari sambil menghitung bintang gemintang. Kali ini, tak ada lagi nyanyian. Aku lelah sekaligus lega. Kemudian terlelap. Keesokan harinya bukan jeritan corong toa yang membangunkanku. Tapi kepulan asap dari si tukang fogging. Hari ini penduduk desa sibuk dengan pengasapan dan program 3-M yang seharusnya sudah sejak dulu digalakkan dan baru sekarang disemangati setelah sekian banyak kematian yang telah 'menguras' nyawa, 'menutup' mata anak-anak, dan 'mengubur' mereka beserta mimpi-mimpinya. Kenapa baru sekarang aku dan mereka jujur, Bintang.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 3, 2013

Kopi “Nuklir” Kotamobagu

Saya menetap di Bali sekarang. Sudah sejak bulan November tahun 2012 lalu. Pada awal Januari tempat wisata terakhir di Bali yang belum saya kunjungi adalah Kintamani. Daerah puncak dengan pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih hampir tiga jam. Udara sejuk itu mulai terhidu, meski masih sangat siang karena saat itu jam baru menunjukan pukul 13:00, kabut yang meruap tampak mulai menyarukan pemandangan di bawah sana.

Di tengah udara yang dingin ini satu hal yang paling cepat melesak dalam pikiranku adalah secangkir kopi. Selain tujuanku kemari untuk menyaksikan panorama alam ini, lidahku ingin merasakan gigitan kopi Kintamani yang katanya cukup menggigit layaknya gigitan anjing Kintamani.

Di sebuah rumah makan yang posisinya terletak paling di atas, namanya rumah makan Gunawan (entah kenapa namanya tidak 'kebali-balian'), kami selonjoran sembari pandangan menyapu segala yang memesona di depan mata. Kabut yang sesekali datang, kemudian hilang kembali entah kemana.

Kata orang-orang sini, pada pukul 15:00 nanti, kabut itu akan menutupi pandangan kita hingga malam menjelang. Untunglah masih tersisa dua jam untuk kami berpuas diri. Pesanan kopi Kintamani datang juga, tapi ini bukan kopi Luwaknya, hanya kopi biasa yang kalau dilihat warnanya cukup hitam pekat. Kopi ini dibuat dengan air yang dijerang bersamaan dengan kopi dan gula. Mirip dengan caraku membuat kopi Kotamobagu di rumah.

Setelah menyeruput sebelum keburu dingin, karena udara di sini cukup cepat membuat makanan dan minuman hangat menjadi beku sekejap. Sekali seruput, rasa pahitnya menyeruak menebal di dinding langit-langit mulutku. Rasa manis yang hadir belakangan, kemudian mengalir hangat melewati tenggorokan dengan rasa yang begitu sempurna. Rasanya tak perlu ke surga. Setiap menikmati minum kopi, pikirku adakah tanaman ini di surga kelak.

Tapi satu hal yang membuatku merasa istimewa adalah sekejap saja tubuh saya seperti berdislokasi, dari puncak Kintamani ini, lalu bertukar tempat kembali ke kota asalku, Kotamobagu. Rasa kopi ini memetik momen-momen di mana saya masih berada di sana.

Di salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, kabupaten Bolaang-Mongondow adalah tempat lahirku. Kotamobagu dulunya adalah nama Ibukota Kabupaten ini, tapi setelah pemekaran terjadi, Kotamobagu kini menjadi Kotamadya atau Kota, karena untuk sekarang istilah Kotamadya telah dirubah menjadi Kota. Kemudian Ibukota Kabupaten berpindah tempat di kota Lolak, salah satu kota di pinggiran pantai di daerah utara. Sedangkan Kotamobagu adalah kota yang jauh dari pantai dan dikelilingi pegunungan, ada satu gunung yang paling mencuat dari sekian banyak barisan gunung dan perbukitan, Gunung Ambang namanya. Dan desa saya, desa Passi berada di daerah puncak. Dari desa kami bisa terlihat pemandangan kota Kotamobagu terhampar luas. Hanya butuh sepuluh menit untuk turun ke kota.

Dulu kopi Kotamobagu ini adalah tanaman yang wajib ditanam oleh penduduk sini, di desaku saja masih ada sebagian penduduk yang tetap mempertahankan tanaman kopi peninggalan jaman penjajahan Belanda itu.

Ada satu kisah yang sangat menohok hatiku, cerita ayahku bahwa di setiap lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk, di dasar ceruk lesung selalu dikasih plakat dari tembaga yang berguna agar penjajah waktu itu bisa mengetahui kalau kita, telah memakai lesung itu untuk menumbuk sendiri biji kopi atau padi. Dan siapa saja yang ketahuan akan dihukum tembak mati.

Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi saja nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan dibaliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat.

Minuman kopi pun bisa menciptakan sebuah revolusi. Sebagian dari kita mungkin tahu, bahwa di setiap rovolusi yang terjadi di dunia, ada gelas-gelas kopi yang ikut andil menghadirkan buah-buah pemikiran. Minuman ini purba dan bersejarah.

Sesudah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Dari mulai hanya tanaman kopi yang wajib ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan penduduk setempat. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena waktu itu harga vanilli dan cengkeh sempat melambung tinggi.

Tapi, hingga sekarang tanaman kopi ini  masih terus kokoh menancapkan akar purbanya di daerah kaki Gunung Ambang yang saya sebutkan tadi di atas, tepatnya di kecamatan Modayag, desa-desa di kecamatan ini masih menjadi pusat penghasil kopi Kotamobagu terbanyak di daerah ini. Desa seperti Purwerejo dan Liberia, juga desa-desa lainnya.

Mungkin bagi orang Jawa nama desa Purwerejo tak begitu asing di telinga. Karena memang di kecamatan Modayag ini ada beberapa desa yang menjadi daerah transmigrasi penduduk dari pulau Jawa. Mereka turut melestarikan tanaman kopi ini hingga sekarang. Kopi Kotamobagu adalah jenis kopi arabica, tumbuh pada ketinggian 600-2200 m di atas permukaan laut, di kaki dan punggung Gunung Ambang yang menjulang jangkung.                

Kopi Kotamobagu ini sudah go International dan menjadi minuman dalam acara gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia di sana. Menjadi trade mark provinsi Sulawesi Utara, kopi Kotamobagu menjadi satu-satunya produk kopi pilihan dan cukup berkualitas di Sulawesi Utara yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia ataupun di dunia. Meski kita tahu bahwa soal cita rasa mungkin lebih bersifat objektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.

Ada kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya agak kecil layaknya kedai-kedai kopi biasa. Terletak di Desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Tepat di depan lapangan sepakbola desa Sinindian. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Namanya juga mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda).

Tapi ini bukan sederetan kedai-kedai kopi, tapi hanya satu kedai kopi saja. Mungkin hanya meminjam kepopuleran nama Jarod, tapi menurutku sebaiknya nama kedai kopi itu adalah Kedai Kopi Abak (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan 'Abah'), karena Abak adalah pemilik dan sekaligus menjadi peramu minuman kopinya cukup familiar juga di seantero kota Kotamobagu.

Kedai kopi ini dilengkapi juga dengan koneksi jaringan internet wi-fi, dengan dipungut biaya langganan hanya Rp 10.000 setiap bulannya untuk perorangan. Abak tak ketinggalan zaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun. Selain untuk menarik pelanggan, Abak cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya.

Banyak mahasiswa dan wartawan yang sering mangkal di sini. Atau segelintir orang yang ingin duduk minum kopi sembari bertukar cerita. Sesekali juga ada pejabat-pejabat kabupaten yang berkesempatan datang dengan para wartawan di sini, kemudian berbincang-bincang soal isu-isu hangat perkembangan politik di daerah ini, pun di negara ini. Untuk secangkir kopi dan roti bakarnya, harganya cukup murah meriah karena uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.

Sebenarnya selain di kedai kopinya Abak ada beberapa tempat tongkrongan lainnya juga yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Abak dengan cerek kopinya.

Cara membuatnya pun begitu sederhana karena cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Abak sendiri tahu takarannya. Karena orang-orang yang datang sibuk berdiskusi begitu pun juga saya. Jadi komposisinya tak begitu saya ketahui dan biar saja menjadi rahasia perusahaannya Abak. Minuman itu tersaji begitu cepat dan cekatan seperti bukan seorang tua renta yang membikinnya.

Sempat saya berpikir, jika Abak nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih tapi cekatan ini. Semoga saja Abak selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Abak tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuknya. Dan kami pun memakluminya.

Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga saya. Tapi untuk minum kopi sepertinya meski kita meminum kopi jenis apapun, selalu ada hal yang istimewa di setiap rasanya. Ada keselarasan antara rasa pahitnya yang begitu intim melebur dalam hitamnya. Minuman yang selalu membuat kita tenang dan berpikir positif, membuat otak kita berputar dan selalu segar.

Pernah saya membaca bukunya Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Di situ saya bersama seorang teman tergerak hati kemudian berencana ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Abak, atau kalah bersaing dengan Abak, lahan di sana yang akan digunakan untuk membangun rumah kopi itu adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Selain untuk menghemat biaya yang akan keluar nanti dengan tidak perlu menyewa tempat atau lahan. Tapi nanti sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi Nusantara untuk bertemu sejuta barista. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studinya di kota Makassar. Semoga saja terwujud. Karena apapun soal minuman yang satu ini, itu adalah mimpi yang menunggu untuk diaduk kemudian disajikan bahwa mimpi itu ada dan bisa terwujud jika kita berkemauan keras.

Pikirku, jika saja presiden Korea Utara dan Korea Selatan mau meluangkan waktu untuk duduk bersama ditemani cangkir-cangkir kopi. Mungkin saja tidak akan ada peperangan itu. Karena sebenar-benarnya seni perang telah dianalogikan secara sederhana oleh secangkir kopi. Dari dua sisi, pahit dan manis. Dikotomi antara hitam dan putih tak perlu ada. Secangkir kopi telah memadukan keduanya menjadi sesuatu yang begitu nikmat. Bahwa pahit dan manis hanyalah dua rasa yang bisa disinergikan dan menjadi minuman yang begitu nikmat. Bukankah hidup ini untuk dinikmati. Dan perang dalam diri manusia adalah bagaimana kita mampu mengendalikan diri kita kemudian bisa hidup damai dalam segala bentuk perbedaan. Keseimbangan hidup ada dalam secangkir kopi, dan seni perang dari segala perang bisa kita rasakan ketika menyeruput minuman ini. Seni perang adalah kedamaian.

Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam. Saya masih berkesempatan beranjak untuk sekadar menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir "Persia", diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi "Nuklir" Kotamobagu siap diseruput. Meledak begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini. Sederhana.

Artikel ini saya kirim di http://www.minumkopi.com/


Thursday, May 2, 2013

Hope

Di awal Mei, aku masih terjaring di pulau yang katanya sorga ini. Menunggu kelahiran dari keponakanku, mereka terlalu baik bersedia menampung dan memberikan ruang untukku sejenak rebah karena lelah terus berlari. Ini hanya bisa ku tebus dengan ikut membantu dan merayakan kelahiran putra mereka. Setelah kelahiran, tangisan bayi ini menjadi peluit pertanda aku harus melanjutkan untuk berlari lagi. Lari dari siluet-siluet hantu yang terus mengejarku dengan bayangan seramnya. Seseram kenangan getir yang ikut ku bawa berlari. Ini semakin berat, tapi terkadang menjadi ringan, seringan kupu-kupu yang hinggap di pelupuk mata raksasa. Kemudian terinjak lagi oleh kaki besarnya. Remuk dan berdebu.

Aku tak perlu kata 'andai' kali ini. Semua yang sudah tercetak dalam balok-balok kehidupan ini, adalah bidang yang sudah di atur sedemikian luas dan panjang oleh Sang Pengatur kehidupan. Kita sudah dicetak lebih dahulu di satu alam absurd yang kurang lebih sama dengan alam kita yang berbentuk ini. Dan segala apa yang mengenai penciptaan, lidahku selalu keluh untuk bisa melisankan maknanya. Aku cukup mengeja dalam hati saja, bahwa tak ada kebetulan dalam penciptaan ini. Semesta ini begitu teratur meski tak ada aparatur semesta yang nampak jelas realitasnya sedang sibuk menata bintang-gemintang.

Dalam sekian lama perjalanan ini, satu saja yang bisa terkristalkan dalam hati ini. Berbuat baik saja itu sudah lebih dari cukup. Kebenaran tak selalu harus menampakkan wujudnya, karena ketika sebuah kebenaran itu menjadi mural di dinding-dinding kota. Aku tak bisa membayangkan ia akan memberangus kota itu dalam sekejap. Kita cukup menemukannya di lorong-lorong gelap, becek, dan dipenuhi anjing-anjing liar yang ringkih dan penuh borok. Kebenaran yang seperti itu begitu suci bagiku. Di jalanan itu, kita seperti menukar nasib. Bukan hanya menimang-nimang. Bahkan di remang-remang lorong, cahaya akan selalu seindah gelap yang hadir sebagai pembuka mimpi. Berpadu dan saling merangkul. Hitam dan putih.

Ada pusaran waktu yang menjebakku untuk kembali mengitari hal yang serupa. Kembali ke episode yang sudah seharusnya aku lewatkan karena terlalu 'mainstream' jika diperankan lagi. Tapi aku tahu itu tak sebanding dengan beratus-ratus episode lainnya yang sedang menanti untuk dimainkan. Di tahun ini, aku sering menunduk ketika sadar bahwa sudah sepuluh tahun berjalan sejak raga ini seharusnya sudah mampu berbuat lebih dan tak dipergunakan sebaik mungkin. Sementara kaki ini masih belum mau berhenti untuk menapaki hidup yang sama. Kelebihan apa yang bisa aku gali lagi, itu yang belum aku temukan hingga sekarang. Atau aku sudah menemukannya, namun lupa bahwa di situlah seharusnya aku bertahan. Tak ada yang terlambat dalam hidup ini, kecuali godam kematian telah datang menghantam dan meremukkan segalanya. Balok ini masih tercetak utuh hingga sekarang.

Belum ada yang berakhir, tapi malam ini sepertinya aku merasa lelah dengan semuanya. Meski terlihat begitu tangguh, sebenarnya aku tak lebih dari sebongkah batu yang terus ditetesi air dan berlumut. Kemudian sebuah harapan kembali menegurku bahwa ia ada. Memayungiku dan disitulah kekuatan terakhirku. Menunggu untuk digelar di sebuah taman hijau nan indah. Dengan senyum yang melengkung berayun-ayun di raut wajah luka. Aku luka ditengah segala suka. Beginilah aku dicetak oleh-Nya. Utuh.
Powered by Telkomsel BlackBerry®