Saturday, April 20, 2013

Kotak Hitamku

Malam ini tak ada yang keliaran. hanya di teras dengan ubin dingin, sama seperti malam-malam kemarin, membatu di sini raga, dengan bayangan yang ingin ke tempat lain. Hitam langit mau kuringkus dengan bualan malam ini. Tentang sebuah pelarian. Waktu aku berniat untuk keluar kota, setelah pulih dari sakit akibat kecelakaan yang mengerangkengku berbulan-bulan di ruangan 3X4 m. Kamarku. Kini rasanya ingin kembali saja ke ruangan itu. Kecil, kotak, hitam, tapi bernyawa. Di sana seharusnya aku berada. Terkurung oleh tawa.

Banyak buku yang belum kuselami, dan ada tanggung jawab di sana yang tertinggal. Si kecil mungil yang keriting itu menunggu aku menidurkannya seperti suatu ketika. Mungkin sekarang ini sudah waktunya aku membacakan dongeng untuknya. Di kamar itu kemarin hanya ada aku, dia, dan nyamuk-nyamuk yang selalu tak kuijinkan mendarat di kulitnya. Aku selalu siaga dan terjaga untuk menjaga lelapnya. Kamar hitamku, di sana ia terbuahi, di sana pula ia tercerabut dari goa suci dengan amis darah yang menebal di segenap ruangan. Nyawanya dihirupkan di sana.

Aku rindu kamar itu dengan segala ceritanya. Meski baru kemarin beraromakan buku-buku baru, juga dengan debu-debu yang tak tersapu dan sisa air comberan dari kamar mandi sebelah yang meruap menyusup dari rusuk-rusuk jendela kamar. Kisah yang terserak di sana begitu lampau dan sengau jika diceritakan lagi.

Lamat-lamat bayangan hiruk-pikuk, tawa yang menggelegar, denting gelas yang beradu dengan botol, musik yang disetel kencang. Lalu teriakan menegur dari kamar seberang, siluet yang kabur meloncati jendela dan saling mencabik di pepohonan malam, ada yang merangsek di rerumputan, belukar yang terinjak, dan sebuah teriakan merobek malam di luar sana. Kamar itu isinya segala yang nakal. Hingga waktu seperti pasir hisap, menyedot segalanya. Tersisa bayang-bayang yang bergelayut di antara pasir-pasir murka.

Di sini, jauh yang seharusnya hanya selintas hari tuk bisa kembali kesana. Jarak terkadang terasa jauh jika kita masih menghirup udara masehi. Tapi saat ini teknologi dengan suka-sukanya meruyak. Mengoyak-ngoyak kantong dan kantung mata kita. Memudahkan tapi bisa juga menyiksa, karena tak ada lagi yang tak berlabel di dunia ini. Kendaraanku untuk kembali kesana. Dilabeli dengan harga.

Lantai ubin di teras ini makin dingin. Beku setelah lama aku terpekur di sini. Ah, kotak hitamku... menyimpan begitu banyak momen. Meski banyak kisah hitam, tapi bukankah putih juga tak akan tampak tanpa hitam. Mencuri kalimatnya Laksmi Pamuntjak, "Jangan-jangan warna cahaya adalah hitam?"
Powered by Telkomsel BlackBerry®