Thursday, December 31, 2015

Kecemasan di Akhir dan Awal


Tahun, adalah sebuah penanda. Atau mungkin ia adalah bandul yang mengingatkan kita akan perjalanan hidup. Tiap kali bandul itu menggaris cekung udara, maka satu-satunya yang berubah adalah ruang, bukan waktu. Seperti tubuh kita yang menjadi ruang bagi jiwa. Ia terus bergerak dan berubah, tapi tidak dengan jiwa.

Setiap perjalanan pun pasti berproses. Acapkali berliku-liku, lurus saja, bergelombang, datar, atau malah penuh dengan kecemasan-kecemasan. Setiap perjalanan butuh tujuan dan kecemasan. Namun sebagian orang melupakan proses perjalanan itu sendiri. Bahkan melupakan kecemasan itu. Sebab kenapa? mendengarkan selalu dikalahkan oleh omongan. Kita lupa bahwa dalam sunyi, kita mampu mendengarkan kecemasan sayup-sayup dan menghantarkan kita menemunya. Kenapa kecemasan harus didengarkan? Agar kita tahu, bahwa dalam hidup ada saja ketakterdugaan yang kerap datang menghampiri. Ia hadir setelah kita mencemaskannya.

Menengok ke belakang pun sangat perlu. Pada tahun-tahun yang pernah terlewati dengan gamang. Sebab dalam lupa, kita tak mampu lagi mengenali esok atau hari ini. Kita semua berangkat dari masalalu. Ketololan-ketololan di masa kecil dan remaja pun akan sangat mengenang. Dan itu abadi di memori.

Pada setiap masa, aku sesekali berpangku tangan. Menatap kosong ke langit, lalu mencoba menemukan putih di antara hamparan hitam. Segala ritus agama telah lama kutinggalkan, hanya tuhan-tuhan kecil yang kerap datang menjawab; apa saja tentang air, udara, bumi, hutan, hujan, dan pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakkan lainnya. Semuanya dilahap, tanpa pernah aku berpikir bahwa semesta adalah ketakterdugaan yang hanya terus memangsa tanya. Apa saja.

Semakin kita mengetahui, maka semakin banyak hal yang tidak kita ketahui. Kita adalah sebuah wadah yang melebihi samudera, bahkan semesta raya. Namun langit akan selalu menjawab apa yang dipertanyakan bumi, selama kita tetap ikhlas tersungkur.

***

Pernah seorang kawan bercerita, bahwa ia menyesali hidupnya. Apa yang dirasakannya hanyalah gerak-gerak monoton. Hingga pada suatu hari, ia memutuskan meninggalkan tanah lahirnya. Segala raut-raut wajah di kampung dirautnya dalam kenang, lalu dijadikannya selimut sebagai penghangat semangat. Jauh hidup di perantauan, hidup jadi begitu keras. Namun berwarna. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab ia kembali merindukan masa dimana segalanya biasa-biasa saja. Ia ingin tidur semaunya, bangun pun sesukanya, dan membakar-bakar mimpi seenaknya. Ia akhirnya memutuskan pulang, menjalani kehidupan lamanya.

Apa yang bisa disalahkan dari pilihannya? Meski ia telah berhasil mencemaskan hidup, melewatinya, lalu pada akhirnya jenuh? Satu-satunya jawaban yang bisa diterima, kala ia berdalih; "Aku tak menemu hal-hal yang tak terduga."

Kawan ini kembali bercerita; selama hidup nun jauh di sana, ia hanya bersuka-suka, menikmati hidup, mencemaskannya sesekali, bekerja, namun tak pernah ada hal-hal yang tak terduga ia temui. Ia akhirnya merasa hanya bertemu dengan bayangan-bayangannya sendiri. Semua orang yang ia temui, adalah refleksi dari kecemasannya yang tanpa satu pun ketakterdugaan hadir di sana. Wajah-wajah yang bisa diterka.

Setelah itu, ia memilih pulang, lantas menjalani kehidupan sehari-hari yang bersiklus; makan, tidur, bekerja seadanya, dan bersenang-senang. Di tahun kemarin, semua kehidupan monoton yang pernah ia tinggalkan, kembali ia pilih untuk dijalani. Setahun, kawan itu akhirnya jenuh. Hidup menurutnya hanyalah repetisi, sebuah pengulangan, yang meski penuh liku atau datar saja, ternyata hanyalah bandul yang memantul setiap hari, bulan, dan tahun. Memantul di tempat yang sama.

Sampai ia memutuskan untuk pergi lagi. Merasakan arti 'rumah' yang sebenarnya, agar rindu tetap terjaga. Ia kembali berpetualang dan mencoba menemukan ketakterdugaan dalam kecemasannya. Lalu kawan itu bertemu dengan wajah-wajah baru. Ia kerap memandangi lama setiap wajah yang ditemuinya. Ia mencoba mencari kemiripan, namun hanya menemui warna-warna berbeda.

Pernah pada suatu malam, kawan itu mendengar kisah dari beberapa wajah-wajah baru itu, tentang karib mereka yang hidup mapan dan memilih turun ke bawah (turba). Satu per satu membenarkan bahwa mereka tak jauh beda dengan sebagian orang, yang telah nyaman berada di kelas atas dan menengah. Terlena di zona nyaman. Padahal, bukankah dengan kita berada di zona nyaman, sikap kritis dan kecemasan kita hilang?

Lalu mereka memilih bunuh diri kelas, turba, dan berbaur hidup dengan kelas bawah. Mereka menemukan kecemasan di sana, dan selalu saja hadir ketakterdugaan. Hidup lebih terasa hidup. Setiap wajah-wajah yang bercerita itu memiliki mimpi-mimpi baru. Kawan itu lalu memutuskan untuk bertahan. Mungkin di tempat baru itu, ia bisa menemukan apa yang selama ini dicarinya. Atau malah, menemukan apa yang selama ini luput ia cari.

Di akhir tahun 2015 dan di awal tahun 2016, setelah pesta kembang api mencoreti kanvas langit, dan pada sebuah kesunyian di ujung malam, kawan itu kembali bercerita; ia telah menemukan apa yang dicarinya, Eureka!

Ia lantas memelukku erat. Sangat erat. Sehingga lipatan-lipatan tangannya tenggelam di tubuhku. Kami menyatu.

Kawan itu.... Adalah bayanganku.

Wednesday, December 30, 2015

Tujuh Elemen Tulisan Menarik


Setidaknya terdapat tujuh elemen yang harus diperhatikan penulis dalam membuat sebuah tulisan.

1. Informatif
Esensi sebuah tulisan adalah memberi informasi, bukan merangkai bahasa. Informasilah yang menjadi batu bata penyusun tulisan yang efektif. Untuk menulis efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detail konkret yang spesifik dan akurat, bukan kecanggihan retorika atau pernak-pernik bahasa.

2. Signifikan
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Panjangnya tulisan dan ruwetnya persoalan jangan sampai penulisnya lupa untuk mengaitkan dengan kepetingan pembaca. Penulis harus meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengandung unsur apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

3. Fokus
Tulisan yang sukses adalah yang bisa secara jelas menyampaikan sebuah pesan. Tidak harus panjang lebar, tetapi justru efektif dan terfokus.

4. Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir.

5. Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Tulisan akan efektif jika penulisanya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya menemui, berkenalan, serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.

6. Bentuk
Tulisan yang efektif mengandung cerita dan sekaligus mengungkapkan cerita. Umumnya tulisan ini berbentuk narasi, dan sebuah narasi bakal sukses jika terdapat pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan lengkap yang memuaskan.

7. Suara
Tulisan akan mudah diingat jika penulisnya mampu menciptakan ilusi bahwa dia sedang bertutur pada pembacanya.

Elemen tulisan bagus ini disusun oleh Farid Gaban. Dandhy Dwi Laksono dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme Investigasi memaparkan elemen tersebut secara lengkap.

sumber: http://asep.wordpress.com/2010/08/10/tulisan-bagus-mengandung-tujuh-elemen/

Ave Maria

Cerpen ini ingin kuabadikan di blog. Susah nyari cerpen ini.
Selamat membaca.

Oleh: Idrus

Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, "Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri."

Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri.

Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu.

Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia memberi hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, "Tuan mencari saya?"

Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawab dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu.

Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Buku yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula.

"Gila", kata ibu.

Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, diambilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhatikannya, katanya, "Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali."

Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguh pun belum kenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya.

Pada suatu hari kata ibu, "Sudah lama Zulbahri tidak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku."

Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan, "Ha, itu dia."

Kami menoleh ke arah jalan. Memang Zulbahri itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula.

Zulbahri menarik nafas panjang-panjang.

Tanya ibu, "Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?"

Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu.

Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh penuh perhatian.

Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak.

Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Karanganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku.

Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir berhasil, hampir-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkalai.

Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di pekarangan, menerangi pekarangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat.

Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yang sudah kuapal-apalkan untuk dikatakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jendela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu.

Wartini, indah betul malam ini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berderet tiga buah itu.

Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini.

Adakah yang hendak kubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.

Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat menolak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dengan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.

Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.

Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini, sekali-sekali adi timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.

Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta.

Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggil aku "dokter Syamsu".

Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dengan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.

Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dengan sering pula kudengarkan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang melewati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan.

Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, sayup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam.

Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syamsulah, Wartini mulai bermain piano kembali. Sekali, malam malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.

Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepasa seseorang yang hampir putus asa, memekik ke arah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan… Dan sesudah habis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano.

"Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?"

"Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama."

Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi."

"Dan semua cita-cita itu kandas, bukan Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu."

"Ya… dan gadis yang kucintai hilang darin pelupuk mataku. Hatiku berdebar-debar." Kedengaran sedu Wartini bertambah-tambah.

"Tapi, mengapa engkau, menangis, Wartini."

Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini.

"Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?"

"Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat. Engkau sehat, Wartini. Hanya aku…"

Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau.

Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama bertambah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari jauh, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pemainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini.

Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku ke luar mendapatkan Syamsu dan Wartini. Melihat aku, Wartini terkejut, gugup katanya, "Kukira engkau sudah tidur, Zul."

"Masakan aku dapat tidur, mendengarkan music yang semerdu itu."

"Tapi mengapa engkau menangis, Tini? Karena music barangkali? Dalam roman sering kubaca, orang menangis karena music. Baru sekarang aku tahu, hal itu mungkin juga kejadian dalam kehidupan sehari-hari."

Sejurus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, "Semua kuketahui, Tini…"

"Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya Wartini adalah hakmu."

Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindari. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit. Aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengar. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bolak-balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusan hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali.

Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak meneruskan perkataannya.

Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kudengar bunyi piano dan biola,… lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenang zaman silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang biola mendengarkan Andante yang sesempurna sempurnanya. Seperti pencuri kudekati rumah itu. Dari jendela kaca kumenengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatannya mukanya berseri, badannya agak gemuk sedikit… Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua.

Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.

Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku… keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kadang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku.

Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin.

Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu itu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal.

Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikan kepada ayah. Air teh yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami

Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, "Ia telah masuk barisan jibaku."

Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. "Karena affair percintaan itu?"

Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, "Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utangku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri."

Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenangan kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven. ***


Sumber: http://goesprih.blogspot.com/2009/08/ave-maria-cerpen-idrus.html?m=1

Monday, December 28, 2015

4 Tawaran Untuk 5 Sangadi


"Sekedar info…khusus warga otam. kalo s lat jang iko wangga, sin totok lunta'on intau bulud. napa ni malam so 2 org korban dorg bage kong pukul. dorang ja bagate dipinggir jalan. jd menghindar, iko wangga. kalo nekat iko bulud, usahakan bawa batu !"

Pesan di atas, di-broadcast seorang kawan via BBM (BlackBerry Messenger). Dia tinggal di Desa Otam Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Karena saat itu saya sedang diskusi dengan teman-teman di AJI Gorontalo, pesan nanti saya baca usai adzan Subuh berkumandang. Berdasarkan rekaman waktu, pesan itu disiarkan sekitar tengah malam. Pengirimnya adalah Non Widi, demikian perempuan ini kerap disapa.

Setelah menyimak isi pesan, saya coba bertanya sebab ada kalimat rancu saya temukan di situ. Pembaca mungkin bisa menyimak kekeliruaan isi pesan dalam menyebutkan letak desa. Setelah saya menanyainya, dia membalas kalau yang dia maksud, agar warga Desa Otam berhati-hati lewat di Desa Bulud. Dan alangkah lebih baiknya mengambil jalur di Desa Wangga.

Saya hendak menjelaskan sedikit, soal posisi geografis desa-desa di sekitar kampung saya, Passi. Desa saya, Passi, dan empat desa lainnya, ibarat lingkar gelang. Setelah Desa Passi, jika mengambil jalur kanan, maka desa yang pertama kali akan ditemui adalah Desa Bintau, sesudah itu Bulud, Otam, dan terakhir Wangga yang nantinya akan menembus lagi di Passi. Sebaliknya jika mengambil jalur kiri, maka posisi desa hanya berputar dari Desa Wangga dan seterusnya, hingga menemu Desa Bintau lagi dan kembali ke Desa Passi.

Desa Bintau sendiri, ada jalur yang bisa menembus ke Desa Bilalang. Sama seperti Desa Wangga, ada jalan yang tembus di jalur AKD di Desa Lobong. Nah, posisi Non Widi sendiri, si penyiar pesan, adalah warga Desa Otam. Melalui broadcast, dia mengingatkan, agar warga sesama Otam atau yang mau ke Otam, sebaiknya mengambil jalur kiri dari Passi, yakni melewati Desa Wangga, supaya aman. Sebab jika melewati Desa Bulud, sudah ada dua korban yang diduga dianiaya.

Isi pesan memang harus saya verifikasi dulu, sebelum menulis apa yang sedang Anda baca ini. Saya juga hendak menginformasikan kalau konflik antara dua desa ini (Bulud dan Otam) memang acap kali terjadi. Bukan hanya dua desa ini, tapi lima desa termasuk desa saya, pernah terlibat tarkam di zaman ketika saya masih kanak. Desa Bintau vs Passi; Desa Passi vs Wangga; Desa Wangga vs Otam; Desa Otam vs Bulud; Desa Bulud vs Bintau; dan terkadang acak.

Jika dilihat dari letak desa dan jalur menuju Kotamobagu—meski Desa Bintau dan Wangga memiliki jalur tembus menuju Kotamobagu —apalagi jika terjadi konflik, maka desa kami diuntungkan sebab jika keempat desa ini mau menuju Kotamobagu, mau tidak mau harus melewati desa Passi. Cari masalah dengan orang Passi berarti sama halnya dengan mematikan akses menuju ke kota.

Untuk itulah, Desa kami seringkali menjadi wilayah teraman jika konflik terjadi. Sedangkan Desa Otam, yang diapit 2 desa yakni Desa Bulud sebelah kanannya dan Desa Wangga sebelah kirinya, selalu sial secara georafis. Tak ada jalur alternatif tembus ke Kota kecuali harus melewati jalur "Gaza" yang panas jika terjadi konflik. Sebab tidak mungikin mereka mengambil jalur Moinit sebab tembusannya adalah Poigar. Dan hanya orang Otam sinting yang harus bersusah payah menembus belukar dan rimba raya sejauh kira-kira 40 kilometer, untuk sampai ke wilayah Poigar, kemudian menuju Kotamobagu lagi.

Tapi tujuan saya menulis ini, sebenarnya hanya ingin bertanya; mengapa masih saja terjadi konflik antar desa? Apalagi antara Desa Otam dan Bulud.

Tahun 2012 dan 2013 silam, pernah terjadi "perang" antara kedua desa ini. Perbatasan Desa bahkan dipagari warga secara ketat, membuat sekompi personil kepolisian siap tempur di Polres Bolmong, turun tangan mengamankan. Meski berhasil diredam, rupanya masih saja tersisa dendam. Apalagi remaja galau yang hilang tujuan, mulai bertindak sewenang-wenang dengan aksi duduk di jalanan dan mencegat siapa saja yang sedang bernasib sial.

Sebagai desa yang bakal lebih dahulu dilewati warga Otam, posisi Bulud memang di atas angin. Namun jika perang batu terjadi, posisi Otam yang berada di ketinggian, betapa seenak-perutnya melepas peluru-peluru bisu, sebagaimana yang pernah mereka lakukan 2 tahun silam.

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah keprihatinan atas kecintaan saya, tidak kepada kampung atau desa saya sendiri, melainkan 4 desa tetangga. Sejak saya kanak hingga sudah berbulu ini, masih ada saja pertikaian terjadi. Seperti warisan dari generasi sebelumnya ke generasi setelahnya. Sebuah warisan yang banal dan terkutuk.

Tiap kali 5 Desa ini punya hajat kegiatan perayaan (Hari Raya atau 17-an misalnya), dimana sepak bola masih selalu menjadi kegiatan terfavorit dan mudah dilaksanakan, selalu saja muncul rasa gundah. Sebab hajatan yang mendapat sisipan isu dan cita-cita untuk mempersatukan pemuda di 5 desa, malam semacam menjadi bumerang yang acap kali membuat galau pihak panitia. Alasannya, ya itu tadi, kekhawatiran atas konflik. Bukannya persatuan atau persaudaraan yang terjalin, malah permusuhan. Dendam seolah masih selalu bersemayam, dan turun temurun. Sepak bola masih selalu gagal menjadi pemersatu. Sebab bukan sekali-dua isu persaudaran didulang dan diulang-ulang dalam setiap hajatan itu. Tapi toh, tetap saja gatot (gagal total).

Munculah tawaran gagasan dari saya kepada para pemimpin desa, yakni Sangadi di lima desa ini. Meski ada beberapa desa telah terbagi menjadi dua desa, sebab seperti Desa Passi bersatu yang telah menjadi dua desa, sama halnya dengan Desa Otam Bersatu dan Wangga Bersatu, yang juga menjadi dua desa. Jadi yang awalnya lima desa ini, sekarang menjadi delapan Sangadi.

Gagasan ini sederhana dan menurut saya bisa dipertimbangkan. Semoga saja bisa meredam konflik yang bakal tumbuh subur, atau malah memusnahkan benih-benih konflik dan menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi antar sesama warga desa.

Pertama, bagaimana jika para Sangadi melakukan pertemuan rutin, minimal dua kali sebulan. Pertemuan itu untuk membahas program-program apa saja yang bisa diterapkan nantinya, yang melibatkan warga 5 desa ini. Misalnya gotong-royong mengerjakan saluran air untuk kolam ikan dan persawahan. Atau menyediakan lahan di masing-masing desa, sebagai percontohan dan tempat saling bertukar ilmu berkebun.

Kedua, bentuk ronda lima desa yang dinamakan Kamdesat (Keamanan Desa Bersatu). Jadi kelima desa ini memilih beberapa penjaga kampung dari masing-masing desa, yang nantinya akan digabung dalam satu kelompok bernama Kamdesat. Mereka ini secara bergiliran akan bertugas berpatroli di setiap kampung difasilitasi sepeda motor. Tentunya di masing-masing desa ada pos-pos penjagaan. Dengan ini, para pembuat onar bisa diminimalisir, dan setiap desa memiliki perwakilannya. Mereka pun bakal dilibatkan di setiap acara muda-mudi yang rentan onar.

Ketiga, tiga bulan sekali, diadakan Kemah Bersama yang melibatkan pemuda-pemudi lima desa. Kegiatan perkemahan ini dibuat selama tiga hari, atau boleh juga selama satu minggu. Agar tidak menggangu jadwal sekolah dan pekerjaan, kegiatan Kemah diaktifkan mulai sore hingga malam hari. Perkemahan diadakan bergilir. Di isi ragam acara yang mendidik tetapi harus mengutamakan hiburan. Selain baca puisi, dangdutan juga boleh. Atau bermain kartu Remi dan Domino. Pokoknya terserah, asal menghibur, menggairahkan, dan membuat hubungan semakin mesra.

Keempat, nah, ini soal olahraga yang paling rentan onar yakni sepak bola. Selama ini, kegiatan sepak bola antar desa, acapkali menyulut kekacauan. Maka, bagaimana jika dibuat liga? Tapi bukan liga biasa. Liga ini saya beri nama Limdesat alias Liga Lima Desa Bersatu. Dalam liga ini, dibentuklah tim kesebelasan yang pemainnya terdiri dari gabungan pemain dari lima desa yang ada. Di kocok atau diacak. Misalnya satu tim dari Desa Bulud bernama Perkasa, harus terdiri dari pemain asal Desa Otam, Passi, Wangga, dan Bintau. Begitu pun tim-tim di desa lainnya. Tujuannya adalah, penonton tidak lagi terkubu-kubu pada 'desa kami', tapi 'tim kami'.

Masih banyak lagi gagasan-gagasan lain yang bisa ditambahkan. Dan saya rasa para Sangadi yang terpilih pada Pilsang serentak 15 Desember kemarin, sudah punya konsep-konsep cemerlang, demi ketentraman dan keamanan desa.

Semoga saja, kelima desa ini bisa hidup damai, apalagi jika ditarik silsilah ke leluhur kita, maka kita semua adalah saudara sekandung, sedarah, bahkan semarga, yang hanya dibatasi dan dilabeli sebuah nama desa. Jauh di balik itu, kita semua adalah sama; manusia. Bertengkar hanya menguras banyak energi dan membuang umur. Kenapa energi itu tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaaat? Semacam membaca tulisan ini misalnya.

Tulisan ini dimuat di: http://arusutara.com/2015/12/4-tawaran-untuk-5-sangadi/

Thursday, December 24, 2015

Membaca

buku-bukuku kutitipkan
pada mereka yang mengagungkan jahitan huruf-huruf
pun pada mereka yang enggan dan membiarkannya berdebu

aku gemar membaca
itu dulu
waktu begitu rakus menelan niat
aku pun terlalu sibuk

aku tak pintar menjejer buku-buku
mengutip sana-sini tiap halaman
aku sukar sekali ingat
maka ingin kucuri setiap ingatan orang
dengan membacai alam pikiran mereka

aku punya kegemaran lain sekarang
membacai pikiran-pikiran
katanya pikiran manusia seluas semesta
aku ingin masuk ke dalam
mencuri satu per satu makna
atau mungkin menangisinya

seperti kemarin, aku duduk di depan rumah
datang seorang ibu yang lusuh lantas meminjam uang
ia buruh cuci tak laku yang tak punya ongkos pulang
kawanku memberinya uang
ia pergi dengan 1000 doa
tepat usai adzan Magrib berkumandang

mataku mengusap jalan yang dilaluinya
hingga ibu itu hilang di ujung lorong
aku kembali membaca
1000 buku terhampar di pundaknya
helai-helai rambutnya jadi pembatas buku

begitulah, membaca

Aku Pernah...

aku pernah tenggelam
dalam lautan langit berjuta galaksi
yang dasarnya adalah pasir-pasir gemintang
tempat yang begitu nyaman dan sunyi
sesekali tempat itu meremas dan menahan lama denyut
lalu melepaskannya jauh berjuta-juta cahaya

aku pernah berburu
dalam rimba air yang penuh hiu-hiu
lalu mencoba mengelus sirip-siripnya yang licin
membaui amis pada gelembung-gelembung udara
yang melayang-layang dari sela-sela taring

aku pernah berenang di gemunung
mengejar binatang-binatang malam di antara belukar
memanah semau-suka kemana arah
memangsa dengan degup terhenti
lantas membiarkannya telanjang dan terkuliti

aku pernah merasai semuanya
menyulam pasir dan membentangkannya di lautan
menelanjangi langit hingga tersisa matahari
meneguk samudera dengan cawan kawah

aku pernah melakukan segala ketidakmungkinan denganmu

aku pernah...

Wednesday, December 16, 2015

Sore

aku melerai matahari yang bertikai dengan senja 
pada sebuah sore yang dipupusi delusi 
aku lantas mengajak senja pergi 
sembari mengulum kisah-kisah perih 

bercak-bercak sinar matahari lelehi samudera 
ia enggan pergi lalu menantang senja 
kuajak senja memasuki malam 
meski ia ingin kelahi

langit masih merah 
ada sisa benci dan amarah 
burung-burung bersiul-siul saling menyusul 
terbang ke sarang yang entah 

di bumi ada malam, pagi, siang, dan sore 
di angkasa tak ada apa-apa 
tak ada bau 
tak ada napas
yang ada hanya ramalan-ramalan 

sore lalu pergi mengulum malam 
tinggalkan matahari di ujung gunung 
ia pergi 
hilang tanpa arti 
tanpa bau 
tanpa hela napas
yang ada hanya nasib-nasib

Siang

pada sabda matahari
kuletakkan segenggam hari
pada cincin-cincin atmosfer
kulucuti angkuh dan teguh diri
kukembalikan segalanya

pada didih aspal jalan
kurebus tatap dengan bulir peluh
pada lampu jalan kuning, merah, hijau
kuserahkan cemas, henti, dan jejak
kuikhlaskan semuanya

pada bus-bus, motor, dan bising kereta
kualirkan hasrat menggebu
pada jalan-jalan, halte, dan trotoar
kusiapkan perjalanan panjang
kusiapkan apa saja

pada sebaris anak jalanan
kubagi segala duka dan suka
pada deretan kemiskinan memanjang
kuberikan huruf-huruf dan angka-angka
kurelakan yang kupunya

pada siang yang terik
kuhardik congkak julang gedung
pada teriak-teriak buruh dan pendemo
kusematkan sisa semangat
kulebur segala, semua, apa saja, yang kupunya

Uyang dan Gelang Tali Kutang

Hampir pukul 4 pagi, Uyang masih terjaga. Sinar matanya menjengkal setiap dinding kamar. Entah apa yang ia cari. Meski tak lama lagi hari akan benderang. Ia enggan bangkit dari tikar lusuh di kamar kosnya. Sedari pukul 9 malam. Ia tak beranjak.

Di pegelangan tangan kanannya, ada dua utas gelang membebat erat. Uyang memacak pandangnya agak lama ke gelang itu. Gelang dari tali kutang berwarna hitam. Lantas ia menghidu aroma gelang dengan mata terpejam. Seakan sebuah galaksi dihirupnya. Aroma sabun mandi masih tersisa di sana. Ia membuka mata. Tetap saja, jejak-jejak per jengkal sorot matanya masih membekas di dinding. Jejak-jejak yang hampa. Lalu aroma gelang itu, tiba-tiba mengibas seperti aroma susu. Harum dan khas. Lega seketika hatinya.

Uyang meraih ponsel di sampingnya. Kemudian menekan *888#. Dan sedetik saja di layar berderet kalimat yang diakhiri angka 0. Ia tak bisa menghubungi siapa-siapa. Gelang kembali ditatapnya. Dihirupnya. Aroma susu itu ada kembali. Dan ia sontak dikagetkan oleh lafadz Allah di masjid sebelah. Seumpat caci, yang pelan, tanpa tenaga, terucap begitu saja. Uyang memaki jantungnya yang acapkali sensitif dengan suara apa saja. Bahkan suara perutnya sendiri bisa membikinnya terkejut.

"Dasar jantung ayam daging!"

Umpatannya kali ini salah. Imajinasi akan paha dan dada ayam berpusar di atas ubun-ubunnya. Ayam bakar, santan, goreng, bahkan ayam jemur pun pasti diterkamnya. Uyang belum makan sejak pagi. Malam kemarin, ia hanya makan tiga buah pisang goreng. Tubuhnya gemetar dan seperti ada lempengan besi di atas dada dan perutnya. Ia terlalu lemah untuk bangkit. Pukul 7 malam, ia sempat berhasil ke dapur mini di kosan. Tapi yang ditemukannya hanya air putih. Ia habiskan tiga gelas lalu merangkak kembali ke kasur. Tak ada siapa-siapa. Hanya ada sunyi.

Di kosan Uyang, ada enam kamar berderet di samping kamarnya. Semuanya mudik untuk merayakan tahun baru di masing-masing kota kelahiran. Ia memilih bertahan, sebab gaji dari kantor tempat ia bekerja belum dicairkan. Hanya sejuta pula. Sedangkan untuk sewa kos sebulan, ia harus merogoh kantong, setengah dari gajinya. Tak ada pilihan, sebab cuma itu kos yang tersisa di sekitar tempat kerjanya. Tadinya Uyang ingin tinggal bersama temannya, akan tetapi rasa nyaman untuk hidup sendiri, menyingkirkan niatnya. Uyang sangat individualis.

Semua yang tinggal di kosan adalah wartawan. Seprofesi dengannya. Jika mereka ada, Uyang memang lebih jarang merasa kelaparan. Meski sama-sama menjadi kontributor pada media nasional. Gajinya hanya bergantung dari hitungan per berita. Teman-temannya sudah punya mobil. Sementara ia masih dengan motor bebek butut. Tiba-tiba ingat motor, Uyang dengan sisa kekuatan bangkit keluar kamar.

"Kugadaikan saja motor ini." ucapnya sembari menepuk sadel motor.

Paling hanya dua ratus ribu bisa untuk dipakai mudik, pikir Uyang. Nanti rencananya ia pulang naik bus. Tarifnya hanya seratus ribu. Menunggu sampai pukul 7 pagi, ia lantas mendorong motornya menuju seberang. Pak Toyo, pemilik warung makan menjadi target pertamanya. Beruntung Pak Toyo ada. Ia segera menawarkan motornya itu.

"Waduh, Dek. Bapak juga sedang kesulitan uang. Beberapa hari ini jualan sepi."

Uyang tak memaksa. Raut Pak Toyo yang berkeriput sendu, ditambah dengan peci kumal yang hitamnya telah pudar, membuat Uyang beranjak ke warung sebelah. Tapi sekali lagi penolakan terjadi. Ia menatap motor bututnya. Lama. Tatapannya bergeser ke gelang itu lagi. Ia kembali mencium gelang beraroma susu itu.

Pukul 12 siang. Uyang tak kunjung menemukan orang untuk bisa digadaikan motor bututnya itu. Energinya yang tersisa, terkuras kering dan membuatnya rebah pada sebuah bangku taman kota. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba sekumpulan tali kutang mengibas lalu seutas melilit lehernya. Tenggorokannya panas dan kering. Sampai tiba-tiba suara berat menegurnya.

"Tidak apa-apa, Mas?"

Sorot matanya coba menembus katup mata. Tapi kedua katup matanya seperti terjahit. Seketika tukang bakso tampak di depan matanya lengkap dengan gerobak. Tukang bakso itu memberinya segelas air. Ditolaknya dengan mata terpejam dan hanya terus mendengar kecemasan si tukang bakso. Kepala Uyang seperti memberi tanda, agar tukang bakso itu segera meninggalkannya. Ia hanya ingin rebah sejenak.

Setelah tukang bakso itu pergi, Uyang membuka mata. Di ujung jalan ia melihat seorang bocah perempuan kumal berkelopak mata kerucut, menengadahkan telapak tangan ke kaca mobil. Di dalam mobil seorang ibu ber-make-up tebal hanya menatap sinis. Setelah lampu menghijau, mobil itu berlalu. Bocah-bocah sebaya berlarian ke arahnya, menunjukkan beberapa lembar rupiah. Mereka lalu duduk di trotoar jalan, lalu menghitung.

Uyang bangkit dengan sisa kekuatan. Ia menatap langit senja tak berwarna. Pun tak ada apa-apa di sana. Hanya matahari yang berkali-kali begitu. Setiap hari, minggu, bulan, tahun. Uyang memilih kembali ke kosan dengan mendorong motor, seakan-akan mereka adalah kawan karib yang baru saja bertemu setelah seabad. Sepanjang jalan, pandangannya seperti termagnetkan dengan kondisi-kondisi miris. Sudah puluhan orang-orang dari, bocah, gadis, ibu-ibu, kakek dan nenek, yang bermuka hampa. Uyang seperti menemukan pembanding.

Sesampainya di kos, motor diparkirnya di depan kamar. Ia membuka pintu yang seketika meruapkan bau tahu, tempe, dan ampas kehidupan. Ia rebah di lantai. Tapi bayangan tali kutang mencekik leher terus bertengger. Uyang memeluk guling. Rasa lapar seketika menjalarinya dari tumit hingga ubun-ubun. Rambut-rambutnya terasa kering. Ia mulai dehidrasi, sebab seharian tadi mendorong motor.

Gelang tali kutang yang membebat ia lepaskan. Nadinya serasa tak berdetak lagi dibuatnya. Kemudian, wajah ibunya seketika hadir. Uyang menatap lama pada gelang tali kutang itu. Tali kutang milik ibunya.

Tuesday, December 15, 2015

Pengadilan Negeri Kotamobagu

Diterima di Radar Bolmong (RB), Agustus 2014, saya mulai meliput namun masih dengan bimbingan trainer. Namanya Roslely Sondakh (Eling). Dia pemangku pos liputan Hukum dan Kriminal (Hukrim), dimana pos itu menjadi tempat untuk melatih wartawan baru.

Saya pun diajaknya berkeliling ke Markas Polisi Resort (Mapolres) Bolmong, Kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bolmong, Kodim 1303 Bolmong, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu, Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu, sampai ke balik jeruji di Rumah Tahanan (Rutan) Kotamobagu. Kantor Polisi Sektor (Polsek) juga tak ketinggalan, dari yang sekitar Kotamobagu, sampai di beberapa wilayah Bolmong.

Pos Hukrim memang asyik dan kudu cermat, sebab kita dilatih untuk sedetail mungkin menguasai materi liputan. 5W 1H dituntut dalam isi berita. Misalnya ada kasus pembunuhan, harus detail kronologisnya; jam berapa, hari apa, motif, usia korban, senjata, sampai warna celana dalam korban. Setidaknya begitulah penjelasan Eling dengan mimik serius.

Lalu tibalah hari itu. Saya diajaknya ke PN Kotamobagu. Meski sebenarnya dia sendiri jarang ke sana, sebab tempat mangkalnya di Mapolres. Menurut Eling, liputan sidang terlalu lama nunggunya. Di samping itu, memang ada wartawan lain yang dikhususkan di pos pengadilan. Saya calonnya.

Setelah diperkenalkan dengan Humas PN, yang juga merangkap sebagai hakim, Erick Christoffel, saya pun resmi menduduki pos pengadilan. Sidang-sidang mulai saya ikuti, setelah sebelumnya mendapat arahan dari Eling. Seminggu saya sudah dilepasnya sendirian.

Pada suatu hari, ada sebuah kasus pemukulan seorang kepala desa (sangadi) terhadap seorang nenek. Tertarik, saya pun mengikuti sidang itu. Usai sidang berlangsung, saya mewawancarai si nenek dan keluarganya. Nenek itu menuturkan kasusnya sudah hampir setahun, tapi baru sekarang disidang. Saya yakin, tidak salah mendengar penuturan nenek itu. Namun hal itulah yang menjadi pangkal "seteru" saya dengan PN Kotamobagu.

Di sub judul, tertera pernyataan nenek itu, bahwa kasusnya sudah setahun baru disidang. Esoknya saya kembali mangkal di PN. Seorang penjaga kantor menghardik saya atas pemberitaan itu. Saya segera menghubungi Eling, yang kemudian menyusul saya di PN.

"Jangan marah-marah dulu, kami ingin ketemu Humas Pengadilan!" kata Eling kepada penjaga itu.

Namun karena Humas PN sedang keluar kota, kami bisa bertemu esoknya. Hakim Erick menyambut kami lalu mempersilakan duduk. Dia menyampaikan keberatan soal pemberitaan RB, mengenai persidangan Nenek Vs Sangadi. Untuk persidangan perkara penganiayaan memang durasi sidangnya, yang paling lama itu mungkin hanya dua bulan. Kami mengaku salah dan memutuskan meralat.

"Biasa itu, wartawan crime pasti banyak kejadian bagini," kata Eling memberi semangat.

Sejak pemberitaan ralat itu, PN Kotamobagu mulai membuka tangan. Saya masuk hampir ke semua ruangan. Membuat profil para panitera sampai staf biasa. Bahkan seorang panitera senior, Reny Kanal, yang sangat phobia mengenai profil, akhirnya bisa saya siasati. Saya melakukan wawancara secara diam-diam. Menanyai nama mendiang suaminya, latar belakangnya, dengan percakapan selama seminggu. Setelah profilnya dimuat, dia mengejar saya sembari berteriak.

"Antoooooo!!! brani nganaaaa!!!" teriaknya. Saya yang tengah memarkir motor segera kabur ke ruang sidang.

Di PN Kotamobagu, sosok ibu dan bapak cukup mudah ditemui dan diakrabi. Hari, minggu, bulan berjalan. Saya sudah dianggap seperti putra mereka sendiri. Terkadang tertidur di ruang sidang dan kerap terbangun dengan ketuk palu. Sidang menarik, para panitera sering mengabari saya. Ikatan emosional terbangun begitu saja, meski seharusnya sebagai seorang wartawan, hal-hal seperti itu harus dihindari. Tapi PN Kotamobagu, apa yang salah dengan lembaga negara ini. Selama saya meliput, tak ada kejanggalan yang saya temui. Persidangan berjalan sebagaimana mestinya. Pun dengan vonis. Ini sejauh saya mengenali PN Kotamobagu. Saya pernah mengikuti sidang, saat Ketua Majelis Hakim membentak seorang saksi polisi. Dia pun menyindir, untuk kasus judi togel, kenapa hanya selalu kurir yang dibawa ke ruang sidang. Bukan bandarnya.

Berbulan-bulan kemudian, saya sempat pindah pos liputan bisnis dan ekonomi. Namun acapkali mampir ke PN Kotamobagu. Setelah itu, tak berselang lama saya kembali ke liputan Hukrim. Lalu hakim-hakim baru berdatangan. Hakim-hakim lama seperti burung (kata Hakim Erick), terbang lagi dan hinggap membangun sarang-sarang di tempat baru. Seperti Hakim Nur Dewi Sundari dan Hakim I Dewa M.B. Watsara yang juga telah pindah. Dan menurut Hakim Erick, yang kerap menanyai keadaanku setelah resign dari RB, bahwa dia pun akan menyusul.

"Saya akan pindah ke Pengadilan Negeri Amurang," sampainya melalui WhatsApp.

Saya tiba-tiba ingat mereka yang, nama mereka tidak bisa saya jejer satu per satu. Saking banyaknya. Di PN Kotamobagu, hampir seluruh penghuninya adalah seperti keluarga besar saya. Pun sebagian pengacara dan jaksa-jaksa. Bahkan mereka yang pernah menjalani sidang, selalu hadir di sana rasa kemanusiaan yang terus tergelitik. Saya banyak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan para tahanan dan keluarga mereka.

Entah kapan, saya bisa mampir lagi ke PN Kotamobagu, untuk sekadar menyapa mereka. Menyapa ibu-ibu dan bapak-bapak angkat saya. Pun kawan-kawan di sana yang selalu ramah.

PN Kotamobagu adalah rumah yang menjadi muara bagi semua perkara. Dan di sana pernah ada ilmu berserakan. Terima kasih sudah membagi banyak ilmu. Sehat selalu untuk kalian semua.

Setapak Langkah DB Menuju Sangadi

JAUH dari Eropassi (sebutan kami untuk Desa Passi), selain masakan Ibu dan Sigi, rindu senantiasa hadir merayapi setiap jengkal tanah desa tempat saya dilahirkan. Jejak-jejak kenakalan kami dari mencuri duren, matoa, rambutan, mangga, duku, jagung, pisang, ayam, (tapi syukurlah kami tidak pernah menyembelih kambing maupun sapi) semua adalah jejak-jejak yang orang tua pun pada akhirnya selalu mengamini betapa bandelnya kami.

Kenakalan itu semacam arisan dan warisan turun-temurun. Makanya perkara 'mencuri' milik 'kakek', yang dilakoni kami anak-anak bengal di kampung, hanya menjadi buah keprihatinan dan emosi yang meledak sesaat oleh setiap orang tua, dan tidak pernah diproses sebagai tindak pidana. Kecuali, jika apes dan kedapatan, maka bersiap malulah ketika dijejer di rumah salah satu tetua kampung lalu ditampar satu-satu oleh Bobato (Kepala Desa). Ingat, itu jika apes saja. Sebab seolah sudah umum, jika si empu selalu memendam rasa kehilangan, dengan ucapan antara geram dan ikhlas; "Ah, dulu lay torang waktu muda bagini. Akhirnya dapa balasan."

Begitulah Eropassi, desa yang dengan segenap rasa, akan selalu saya dan siapa saja yang telah berada nun jauh di sana, rindukan. Tempat di mana tabung memori kami tertanam. Dan tempat di mana kata pulang begitu sentimentil.

Saya hanya sedang berada di Gorontalo. Tapi rindu ini sungguh setara ketika tapak kaki memijaki tanah Anging Mamiri dan ketika berada di Pulau Dewata, Bali. Dua wilayah terjauh yang selama ini saya jejaki. Tapi menyoal rindu, ruang memang bukan menjadi ukuran, tetapi kesempatanlah yang menjadi satu-satunya kendala. Selain itu, tentu saja selalu klasik; Ompul! Alias Ongkos Pulang. Samantara mancari ini sup..

Dan tibalah hari ini. Selasa 15 Desember 2015. Setelah Pileg 2014, dengan jagoan yang akhirnya lolos, lalu Pilpres 2014 dan Pilkada Boltim barusan, yang paling mendebarkan buat saya adalah momen hari ini; Pemilihan Sangadi (Kepala Desa) di Eropassi. Pileg 2014, sanak-keluarga dan sahabat yang mencaleg dan tentu saya jagokan, berhasil meraih kursi. Beberapa bulan kemudian, pada momen Pilpres ketika Jokowi 'berkelahi' dengan Prabowo, saya yang akhirnya menolak Golput dan memilih berada di barisan mantan Walikota Solo ini, masih bisa mengingat bahkan merasakan bunyi degup jantung saat hari H.

Selanjutnya, Pilkada Boltim 9 Desember 2015 kemarin, kandidat petahana yang jauh-jauh hari sudah saya yakini menang, sempat meremas dan memainkan irama dalam dada yang naik turun. Tapi Pilsang di desa saya, khususnya Passi 1, selain calon petahana dan dua kandidat lagi yang usia paruh baya mereka tak jauh beda, dua kandidat muda, kakak-kakak saya di RPM (Rumah Pemuda Merdeka), yakni Delianto Bengga (disapa DB) dan Tito Sugeha (biasa saya sapa KT), ikut rembuk masuk arena suksesi Pilsang, dan tak hanya secara sentimentil melahirkan getaran-getaran Baper di pelataran hati saya. Tapi efek baper itu, berlipat ganda melahirkan bunyi degup jantung saya lebih kencang di banding Pileg, Pilpres, Pilgub, dan Pilbup Boltim.

Sebulan yang lalu, DB beberapa kali menghubungi saya. Dia suka bertanya-tanya; minta saran dan masukan dari saya dalam rangka suksesi Pilsang yang tengah dimasukinya. Pembaca, siapa yang tidak baper dan agak termehek-mehek lensek!! Seorang Kakak, yang umur bahkan pengalamannya jauh di atas saya, justru minta pendapat sang bocah ingusan. Siapa saya? Bukan konsultan lembaga survey, bukan ahli strategi yang melek pulitik. Tapi itulah DB. Ia selalu bertanya pada siapa saja yang menurutnya perlu ditanyai. Maka percayalah saya saat ini apa yang pernah disampaikan Uwin Mokodongan, pengelola media ini via chat BBM; "Anak-anak SD yang baru pulang sekolahpun dimintai pendapat oleh DB, bagaimana seharusnya menjadi Sangadi (Kepala Desa) yang layak diperjuangkan,".

Sekali lagi, itulah memang DB yang saya kenal. Saat ia beberapa kali megontak, sepintas lalu saya berpikir; Ah, dia mungkin cuma kesepian, atau berbasa-basi saja. Mungkin cuma hendak menanyai kabar saya di Gorontalo. Apalagi sebagai senior, DB lebih lihai dan paham soal strategi dan taktik dalam berpolitik. Dia suka berada di balik layar, dari pemilihan; Bupati, Legislatif, dan turut andil pula dalam Pilgub bahkan Pilpres. Tentu saja, apa yang dia tanyakan hanyalah basa-basi. Apalagi dia adalah pemain catur yang handal. Tapi toh, sekali lagi, inilah DB. "Semua orang itu guru," kata dia mengutip Pramoedya Ananta Toer. Saya kembali teringat saja. Suatu ketika saat reriungan di bawah dego-dego dibawah pohon Tome-tome.

Karena saya terus didesak, dimintai saran dan strategi, meski saya dalam keadaan yang terlalu santai jauh dari formal, akhirnya seenak perut saja saya menanggapinya via telpon. Tentu saja ini adalah gurauan nakal belaka; "Ya, nongkrong jo noh dengan anak-anak muda di leput. Bersulang sama-sama deng dorang,". Begitu saya merespon sembari berkelakar.

Tapi DB ternyata menanggapinya dengan serius. Bahkan tidak meralat soal saran bersulang sama-sama. Kata yang kita tahu begitu tabu bagi setiap calon. Tak usah calon Sangadi, untuk suksesi Ketua Kelas saja, sudah pasti setiap calon harus menghindari kata bersulang.

Setelah saling bersambut kata via ponsel yang selalu lebih dari 20 menit, DB akhirnya minta pamit menutup percakapan. Inilah salah satu yang membuat saya respect dengan DB. Dia sangat menghargai siapa saja. Bahkan seorang junior seperti saya pun didengarkan. Tapi sekali lagi, sudahlah saya, anak SD saja dimintai pendapat.

Waktu itu akhirnya tiba. Sejak pagi, facebook dan BBM saya awasi. Di grup facebook Passi Bersatu, satu demi satu status mulai diposting. Mulai dari dukungan terhadap pada calon Sangadi Eropassi 1 maupun Eropassi 2.

Untuk Eropassi 2 sendiri, saya tidak terlalu menyimak dan mencari tahu. Tapi sore hari, saya sudah dikabari bahwa salah satu figur muda yang tentu sangat saya kenal sekali, Mahdudat Mokodongan, Papa Eding, alias Dada', berhasil terpilih sebagai Sangadi mengalahkan kandidat lain. Selamat dan semoga memangku jabatan yang diamanahkan masyarakat Desa Eropassi 2 dengan adil.

Untuk Passi 1. Beberapa orang saya kirimi chat. Pun di grup BBM, Anak /3-AN (Anak Pertigaan). Jawaban mereka; perhitungan sedang berlangsung. Dusun 1, DB memimpin. Dusun 2 KT menang. Dalam hati saya, DB dan KT, keduanya seusia; muda, kreatif, dan inovatif. Beberapa kegiatan di kampung berupa perayaan-perayaan, mereka giati. Berjibaku meramu gagasan agar desa selalu ramai.

Nah, Desa Passi 1 memiliki 5 dusun. Perhitungan naik ke dusun 3. KT berhasil memimpin. Jempol saya seperti tukang ketik yang cemas dan terus mengejar informasi. Setelah masuk ke dusun 4, kolom chat saya sepi. Tak ada jawaban, grup pun demikian. Hanya lima menit, status-satus selamat ditujukan kepada DB. Dia berhasil memimpin secara akumulatif dari dusun 1 hingga 4. Dan tentu saja, dusun 5 adalah mahkota suaranya. Saya segera menghubungi dia, yang saya kira saking sibuknya, telepon saya bakal tak diindahkan. Tapi dia mengangkat, menjawab pertanyaan saya ketika saya berkata;

"Selamat!!" saya berteriak sebab keadaan di sana cukup riuh. Prasangka saya keliru. DB menyahut.

"Ah, blum, blum, tunggu sadiki le!" jawabnya dengan tenang.

Beberapa menit kemudian, kawan saya, Ewin, menelpon. Dia mengatakan kalau DB sudah memimpin dengan pautan sudah menyentuh 100 dibanding pesaingnya. Padahal dusun 5, yang adalah basis suaranya, belum dihitung. Keyakinan saya akhirnya mengental sudah. DB akan menang. Rasa haru sontak menggerayangi saya jauh di Gorontalo.

Untuk KT, terima kasih telah membuat suasana demokrasi di Eropassi semakin berarti. Sumbangsih yang selama ini sudah ada, teruslah dipelihara. Kalian berdua (DB dan KT) adalah dua kawan hebat yang ikut lomba balapan menuju finish, sehingga harus ada salah satu yang menyentuh finish.

Kepada petahana, Papa Lita, dan dua kandidat lain, Mama Jaya dan Papa Sari, yang tak lain adalah orang tua kami sendiri, terima kasih telah ikut melahirkan dan membentuk pemuda-pemuda tangguh di Eropassi. Kampung halaman kita yang kini menerima tongkat estafet dari kalian. Eropassi kini berkesempatan dipimpin seorang pemuda. Pemuda dari Rumah Pemuda Merdeka yang telah kalian didik dan ajarkan bagaimana harus mengambil peran dan keputusan. Kalian seperti Bung Karno mengatakan, kumpulkan 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Dan dalam konteks ini, kalian seolah-olah telah memberi arti dan makna; berikan kesempatan kepada 1 pemuda, maka Eropassi tercinta ini akan membuat sejarah.

Sekarang saya turutkan larik puisi yang dipentaskan saat hari ulang tahun DB, di tahun 2013 silam, ketika kami menggelar pesta ulang tahun di kediamannya. Puisi yang Uwin buat hanya 10 menit, ketika dapur di Mabespond disesaki aroma bumbu masak, dibacakan dengan getar bibir memerah karena pedasnya bebek bumbu RW hasil olahan penyair Eropassi .

Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang-rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terenggut

Adakah hitam menggelepar di lorong-lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis
Yang meriang bersama cerita-cerita elang
dan camar
mematuk tangkai rapuh di pantai

Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci

Di manakah langkah menempuh tujuan?
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal

Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala

Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda-roda berputar
Kita berada di mana napas menghitung langkah
Langkah-langkah gelisah
Langkah-langkah penuh harap
Langkah-langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang

***

Saat ini, saya rasanya gatal untuk ingin sekali menambah langkah-langkah dalam puisi itu. Langkah-langkah itu adalah langkah menjadi Sangadi.

Selamat DB. Cheeerrrssss!!!

-Tulisan ini dimuat pula di
http://arusutara.com/2015/12/setapak-langkah-db-menuju-sangadi/

Saturday, December 12, 2015

Sebab di Endonesya, Ikan Mati Lebih Berharga dari Anak Papua

Saat subuh saya kerap terbangun. Bukan untuk salat, tapi ada agenda sunah; nyekrol layar ponsel dan baca berita. Dua kegiatan itu sebagai pengganti nyekrol butiran-butiran tasbih dan baca doa. Aih, ngapain juga bangun subuh buat baca berita? Tapi itulah gaya hidup baru saya yang terpolarisasi begitu saja, setelah menetap di Kota Gorontalo yang dijuluki Serambi Madinah. Di sini, pada setiap waktu salat, adzan bergemuruh ngalahin lagu Sepultura, Orgasmatron, yang saya setel jadi nada alarm.

Nah, sebelum saya dibuli para haters syariah, sebab terlalu banyak cocoklogi dan buat perbadingan sama agama, saya lebih baik serius lanjutin nulis ini, dan ronda ke syaraf-syaraf terpojok dalam otak, di mana bahan-bahan lelucon baru bisa saya temui, juga ide-ide bisa tergali.

Tiba-tiba saja saat nyekrol di Kompas.com, saya langsung ke salah satu konten 'Topik Pilihan'. Yang bertengger di sana, pertama jelas Pilkada Serentak 2015, jadi yang paling ngatap. Saya terus nyekrol lagi, sampai ke topik ke-enam, ada berita-berita nyoal 'Ikan Mati dan Terdampar di Pantai Ancol'.

Kemudian pikir saya terbang menuju Papua (eh, ikan mati di Pantai Ancol, bukan di Papua). Meski saat itu saya terus membacai berita-berita tentang ikan mati. Tapi sekali lagi, bukan ikan-ikan mati yang ada di hadapan saya. Tapi anak-anak Papua, yang tergeletak mati secara misterius. Kata 'misterius' juga saya copas dari Kompas.com, saat memberitakan soal itu, di akhir November.

Dan yang menjadi perusak suasana hati saya di subuh yang khusyuk ini, ragam media nasional di ibukota Jekardah (begitu anak-anak alay nyebutnya), ikan mati di Pantai Ancol saja, topik pilihannya bisa nangkring di posisi enam. Yah, memang jika ditelaah, peringkat itu sesuai banyak atau sedikitnya jumlah viewers yang mengunjungi topik tersebut. Namun ada yang membikin sedih di sini (fase menulis dengan tampang serius), saat membaca beberapa berita, dari yang berjudul 'Ancol Gandeng Berbagai Lembaga Terkait Kasus Ikan Mati', sampai hasil survei cepat dari LIPI yang mengatakan dan dijadikan judul 'Ledakan Populasi Fitoplankton Jadi Penyebab Matinya Ikan di Laut Ancol'. Pun komentar Ahok (sebab media di Jekardah, gak ada nama Ahok, gak nohok), hingga yang terbaru 'Hasil Uji Lab Keluar, Ini Penyebab Matinya Ribuan Ikan di Pantai Ancol'.

Deretan gigi atas dan bawah saling menggerus di mulut yang belum sikat gigi ini. Saya geram. Bukan karena matinya ikan-ikan—yang memang juga membikin hati saya sedih—tapi satu-satunya alasan manusiawi yang membuat saya geram; kenapa pemberitaan tentang puluhan anak-anak Papua yang meninggal, dan sebabnya dikatakan misterius itu tidak di blow-up media-media? Kondisi rakyat Papua memang kerap ditenggelamkan dari pemberitaan. Kecuali riuh-tinggi berita tentang kisruh kontrak Freeport atau anggota TNI yang mati, maka apapun tentang rakyat Papua seperti di-misterius-kan.

Coba Anda gugling dengan tagline 'Anak Papua Mati Misterius', maka berderet pemberitaan dengan judul yang sama, namun hanya heboh sehari-duahari. Membagi angle dan follow-up di setiap media sangat minim. Dibandingkan dengan berita ikan-ikan mati, yang dari sesumbar Ahok sampai hasil lab diulas (bahkan dari kepala ikan, ekor, sampai sirip dan sisik-sisik dibahas). Kata 'misterius' hampir seluruhnya menghiasi judul berita, yang saya pun mengira-ngira beberapa media hanya nyopas.

Penjudulan 'misterius', seakan-akan, anak-anak Papua itu baru saja ditemui Alien yang kemudian menyebarkan virus dari Planet Sumeleketek, yang jauhnya kayak keliling bumi 1 triliun kali. Satu-satunya yang beda adalah jumlah angka korban yang meninggal. Sungguh etos verifikasi dijunjung tinggi di sini (tepok jidat), hingga angka-angka bisa berbeda-beda. Saya pun kesulitan memilah berita mana yang layak dijadikan acuan, soal jumlah korban. Yah, maklum, mungkin kontributor juga minim di sana. Jadi informasinya hanya dari sistem noken per kepala suku. Padahal dari Kota Gorontalo sini, saya siap diterbangkan ke Papua, jika dijadikan kontributor seumur-hidup di sana! (ngancung lengan dengan kepal tangan kiri, sekalian promosi).

Dan yang paling membikin saya menyeringai pula, saat membaca berita di Kompas.com, Jumat 27 November, dengan judul, yah, sudah bisa ketebak pasti ada kata 'misterius'. Di situ dituliskan bahwa Yan Hubi, petugas Puskesmas Kota Wamena, tadinya mengira itu disebabkan malaria, sama seperti yang pernah terjadi di tahun 1998. Ciri-ciri atau gejala-gejala penyakit misterius sama persis saat itu kata Yan, awalnya demam tinggi, disertai buang-buang air (mencret). Namun dari hasil pemeriksaan darah di Laboratorium Dinas Kesehatan di Wamena, hasilnya negatif malaria. Lalu sebenarnya itu penyakit apa? Mustahil kan, jika petugas medis tidak bisa mendeteksi jenis penyakit apalagi itu hasil tes laboratorium. Kan, bisa dikirim lagi sampelnya ke Jekardah, tempat di mana lab tercanggih ada. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Mesak Kogoya, juga menyampaikan, korban tidak menderita mencret, hanya mengalami demam tinggi, lalu kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.

Nah, lebih menyedihkan lagi, bahkan ada pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giay, bahwa kasus kematian puluhan anak di Kabupaten Nduga, baru diketahuinya tiga hari sesudah kejadian tragis itu muncul ke permukaan. Kemana saja Pak Aloysius, sibuk mendata penambahan alat kesehatan? Hmm.... Sudah kuduga.

Sungguh, dibandingkan ikan-ikan mati di Pantai Ancol, pemerintah Endonesya lebih gesit menangani ikan-ikan tersebut ketimbang kejadian tragis yang menimpa anak-anak Papua. Selain minim tenaga medis, kondisi geografis kerap menjadi kendala, sebab kedua distrik yakni Distrik Mbua dan Distrik Mbulmu Yalma tempat dimana jatuhnya korban, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun coba bayangkan, keseriusan pemerintah menyoal ikan-ikan mati, sampai-sampai LIPI turun tangan, hasil tes lab yang tentu saja dari laboratorium termutakhir sehingga ikan yang kekurangan oksigen bisa terdeteksi, pun berbagai lembaga dilibatkan pengelola Ancol dan pemerintah. Sehingga 'kemisteriusan' ikan-ikan mati bisa dengan cepat terkuak. Sementara anak-anak di Papua? Keroyokan kalian neliti, kayak neliti ikan-ikan mati?

Pemberitaan pun sepertinya hanya mengejar rating. Setelah itu, kelanjutan pemberitaan tenggelam begitu saja. Padahal kita sudah muak dengan sirkus perpanjangan kontrak Freeport yang nantinya, ujung-ujungnya juga sampai rahim hutan Papua puas diaborsi berkali-kali, kontrak tetap akan berlanjut. Tanah kandung Papua tetap menjadi tempat digelarnya lembaran-lembaran dolar. Oh, Presiden Jokowi. Kaos Barisan Relawan tahun kemarin, sudah lama saya bakar. Meski ada beberapa kebijakanmu yang lumayan terterima.

Beruntung, kita masih sedikit terhibur dengan pemberitaan bebasnya Filep Karma (salam merdeka dan damai, Bapa). Setelah itu, matahari Papua kembali terbenam. Sederet kasus pelanggaran HAM oleh militer masih tetap terkubur. Berita tentang rakyat Papua yang dipaksa untuk merubah pangan dari sagu ke beras, dilupakan. Sepertinya pola pikir 'nasi' di Jekardah pengen disama-ratakan hingga ke Papua. Kaka, apa yang disebut pangan itu cuma nasi, kah?

Kemudian menyoal berjuta hektar sawah dan ribuan hektar sawit yang dipaksa dicetak di tanah Papua, terabai diberitakan. Hutan-hutan sagu dan pepohonan diratakan tanah, tak pula diberitakan. Beruntung ada Ekspedisi Indonesia Biru, yang film dokumenternya The Mahuze's, membuka mata batin tentang bagaimana kondisi sebenar-benarnya rakyat Papua dan bisa ditonton gratis di yucub (makasih banyak Mas Dandhy dan Ucok, yang juga sempat mampir di Gorontalo).

Sementara media nasional sendiri, hanya sibuk mengangkat berita kunjungan Paduka-paduka dari tanah Jawa ke Papua. Seremonial. Sungguh di sini sekilas saya teringat Mohammad Hatta (sesegukan dengan mata berkaca-kaca). Subuh ini jadi perenungan bagi saya. Meski rambut saya tidak keriting dan saya berkulit putih. Saya Papua. Dan saya manusia. Saya juga merasakan duka dan juang rakyat Papua. Duka yang sama, yang mendidih dan terus dipendam rakyat Papua.

Ah, dan pada akhirnya, rakyat Papua seperti "dipaksa" untuk menjadi Endonesya.

Friday, December 11, 2015

Berani?

Saya sekilas terbayang tampang Sehan Landjar yang familiar dengan panggilan Eyang. Jelas saat ini dia sedang gembira. Menang dan kembali menjadi Bupati Boltim dua periode, memang bukan perkara mudah. Meskipun tadinya saya sempat kecewa menyimak tindak kekerasan, yang marak terjadi sebulan sebelum Pilkada Serentak dimulai 9 Desember 2015. Saling lapor, fitnah, penganiayaan, hingga penikaman terjadi. Tuding menuding jadi santapan yang tersaji hangat di pemberitaan media. Bahkan fitnah dan segala macam tetek bengek kisruh, terpapar begitu saja kepada publik.

Kita tentu sangat kenal dengan kondisi ini. De javu. Masyarakat Bolmong Raya (BMR) dan wilayah yang menjadi helat Pemilukada, Boltim dan Bolsel masih ingat; kondisi ini tak jauh beda dengan Pilpres 2014. Bentuk pesta demokrasi yang dengan gamblangnya menampakkan kebrutalan politik. Bahkan media memposisikan diri untuk calon presiden jadi hal yang biasa, dan tidak bisa tidak, rakyat Indonesia dibola-ping-pong-kan dengan karut-marut pemberitaan.

Boltim sendiri adalah miniatur dari perhelatan politik kala Pilpres 2014. Dibandingkan Bolsel yang juga mengusung calon bupati petahana, Boltim bertensi di rata-rata dua matahari. Untuk Bolsel, pembaca cukup tahu pula, bahwa Herson Mayulu melenggang tanpa sedikit pun hadang. Tekstur politiknya halus. Sama seperti Pilgub Sulut, Olly Dondokambey yang jauh-jauh hari berada di atas angin dan dipastikan menang. Sedangkan di Boltim, rakyatnyalah yang membuktikan berhasil melawan sebuah kekuatan besar.

Dari segi ragam berita baik cetak dan elektronik di Bolmong. Pembaca akan lebih mudah pula mengkategorikan media mana saja yang terafiliasi dengan partai politik atau pasangan calon. Pelahap berita dengan mudahnya mencicipi, yang mana media partisan di kubu A, B, atau C. Sama seperti Tv One kepada Prabowo dan Metro Tv kepada Jokowi, saat Pilpres tahun lalu.

Pada HUT AJI ke 20 tahun lalu, Watchdoc membuat film dokumenter 'Media dan Pemilu'. Diulas secara jelas, bahwa media yang terafiliasi dengan partai politik bukan hanya di zaman sekarang. Pada suatu masa di era kemerdekaan, beberapa media tak bisa dipisahkan dari partai politik. Seperti Pedoman dengan PSI, Bintang Timur dan Harian Rakjat dimiliki PKI, Duta Masjarakat punya NU, Harian Abadi milik Masyumi, dan masih ada beberapa media lainnya. Tapi mereka tetaplah koran; ditulis, dicetak, dengan sumber daya sendiri. Masyarakat diberi pilihan untuk membeli atau tidak membeli.

Lalu datanglah era televisi. Seperti TVRI yang menjadi mesin propaganda Golkar, yang tidak mau tidak menjadi satu-satunya pilihan penonton. Lalu diawal 90an, muncul benih-benih stasiun teve swasta yang disebar kroni keluarga Cendana. Semua memakai ranah publik berupa frekuensi. Lalu saham-sahamnya diperjual-belikan, sehingga seseorang bisa memiliki lebih dari satu stasiun teve.

Rakyat seharusnya berhak menuntut untuk disuguhi pelbagai siaran edukatif. Bukan sampah-sampah seperti sinetron, ritual memburu hantu, iklan-iklan politik, atau pernikahan selebriti dengan tayangan hampir di setiap stasiun teve. Meski tak bisa dipungkiri, teve swasta pun cukup punya andil di era reformasi.

Menyoal media yang terafiliasi dengan partai politik, di era kemerdekaan — Orde Lama — media-media tersebut memiliki sumber daya sendiri. Sedangkan untuk stasiun teve di era sekarang — atau pada rezim Orde Baru — mereka memakai sumber daya publik berupa gelombang radio atau frekuensi. Seperti disampaikan Roy Thaniago (Remotivi), bahwa sekarang adalah zaman dimana media menjadi tempat promosi seseorang atau ideologi partai, ketimbang berita yang benar secara kaidah jurnalistik.

Di BMR sendiri, jelang Pemilukada, dari kubu Eyang dan lawan politiknya Sahrul Mamonto, akrab disapa Alul, disuguhi rentetan pemberitaan yang cenderung memihak. Tentunya pemberitaan dalam bentuk berita dan opini berbeda. Dalam berita, kaidah jurnalistik yang harus cover both side dan fairness dipertaruhkan. Sedangkan opini dengan bebas-bebasnya penulis menyampaikan pandangan politiknya. Dan pada media-media di BMR, hampir seringkali ditemui, pemberitaan yang tidak bisa dibedakan lagi mana opini dan berita. Media yang dirangkul para politisi, menjadi hal yang biasa. Bahkan secara gamblang, awak media telah menjadi dua kutub magnet ketika mengawal politisi yang diusungnya.

Kita lupa, bahwa sejarah pers di Indonesia tak melulu tentang bisnis dan afiliasi politiknya. Ignatius Hariyanto, salah satu dosen Sejarah Pers, masih dalam film dokumenter itu mengatakan, banyak tokoh-tokoh pers pada zaman dulu, seperti Tirto Adhi Soerjo di koran Medan Prijaji, yang oleh sebab mengkritik bupati-bupati korup dan pemerintah Belanda, ia bolak-balik masuk penjara. Juga tokoh pers pendiri koran Doenia Bergerak, Marco Kartodikromo, yang dibuang pemeritah kolonial dan meninggal di Boven-Digoel, Papua. Yang mereka perjuangkan jelas, terarah, dan berdarah-darah. Sebagaimana jurnalistik seharusnya berada pada relnya.

Masih banyak lagi kisah juang para tokoh pers di Indonesia, yang bisa menjadi panutan para jurnalis — jika memang mengaku jurnalis atau mungkin hanya sebatas sebagai penulis berita — untuk dijadikan bahan renungan. Konteks yang segaris dengan Pilkada Boltim, bahwa media di BMR atau Sulut yang terafiliasi secara politik, seharusnya tunduk dan malu dengan pemberitaan akhir-akhir ini, pada jelang Pilkada. Saling serang kerap menjadi tontonan masyarakat akhir-akhir ini. Lalu yang mana lagi media yang layak dibaca, ditonton, atau didengar nanti oleh masyarakat?

Pada akhirnya, seperti apa yang diingatkan Marco Kartodikromo; berani membela yang benar. Jelas yang dimaksudkan pula oleh Marco; bukan semata membela yang bayar. Dan satu-satunya yang dibela adalah rakyat Boltim itu sendiri. Mereka yang telah berani melawan politik uang, yang telah menulang dan bernadi pada segelintir orang. Mereka rakyat yang nasibnya nanti, bisa ditentukan oleh garis pena para jurnalis. Namun, jika politik uang telah berhasil dilawan, apakah antara Wartawan dan Bupati, bisa dihilangkan pula sikap partisannya?

Jika Eyang berkuasa lagi. Berani?

Tuesday, December 8, 2015

Titik Nadir Munir

1965, kau lahir 8 Desember
ayahmu menamai Munir; bercahaya
mungkin tanda-tanda tlah bersinar
pada garis-garis rambut merahmu

kau tunduk melihat kaum marjinal
kau cemooh ketimpangan
kau murka akan ketidak-adilan
kau todong para penguasa dengan kata
juangmu hingga ke titik nadir

buruh kau suruh melawan
orang hilang kau minta kembali
nyawa-nyawa tak sia-sia kau cari
agar ayah-ibu tahu kemana pancangkan nisan

lalu langit memelukmu kelak
cahayamu diam, marah, dan mati
penguasa negeri dibisingi teriakmu
mereka takut! neraka telah lebih dulu kau bakar
dengan nyala api juangmu

kau mati hanya raga
jasadmu dibakar matahari, digenangi hujan, dibadaikan angin, dilarung
oleh samudera
tapi ruhmu tertitis di antara tangis
dan lahirlah nyawa seribu yang tak gentar di-Munir-kan

Qiya

Seperti bulan, kelahiran seorang bayi adalah cahaya di kegelapan malam. Dan seperti pula bulan, bayi adalah penyempurna dalam sebuah landscape langit. Meski bagi sebagian orang, langit pun tetap indah bergemintang tanpa kehadiran bulan di sana. Yang terpenting, seberapa luas kita mampu memaknai semesta.

Lalu tersebutlah, Qiya. Namanya singkat dan sebaris gigi putih akan terukir kala menyebutkan nama itu. Nama ayahnya, Dito Buntuan. Seorang lelaki yang lahir dan tumbuh dari kepastian. Ia pun akhirnya bisa memastikan yang mana yang pantas hidup dengannya. Hingga ia menikahi Sindy Binol.

Qiya adalah putri pertama mereka. Atau lebih tepat, adalah ujian pertama bahwa hidup harus; dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dan diarahkan. Lalu Qiya bisa memilih kelak. Tentunya tak harus menjadi seperti ayah dan ibunya. Qiya bisa terbang tinggi bersama layang-layang. Dan segulung benang jadi satu-satunya penghubung yang menjadi teguran.

Qiya, saat lahirmu, Kamis 26 November, tentunya ruang dan waktu hanya berisi kecemasan. Bahwa satu-satunya yang menghuni semesta hanyalah kau. Ayahmu menjengkal lekuk jalanan Bolmut-Kotamobagu setiap Minggu. Sama seperti ibumu yang kerap mengelusmu dari balik daster. Keduanya cemas. Dan kecemasan itu pun akan kau rasakan kelak. Saat mereka berdua menua dan kau telah menemukan kecemasan-kecemasan barumu. Semuanya berbaur. Menjadikanmu matang akan persoalan hidup.

Dari dalam rahim, mungkin kau pernah menendang perut ibumu. Kenapa? Tak sabar ingin menghirup udara di luar sana. Lalu ibumu penasaran ingin melihat kelaminmu. Ditemani ayahmu, dokter mengatakan kau perempuan. Mereka bahagia. Teknologi memang hadir sebagai penolong, meski sebenarnya rasa penasaran begitu tak ternilainya.

Sekarang Qiya bisa menangis,. Tersenyum pun hanya sekali-kali dan paling ditunggu. Mungkin kamera ponsel ibumu telah siaga di depanmu. Siap merekam atau memotret setiap momen. Waktu seperti berbalik dibuatmu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Atau malah selamanya hari tetaplah siang dan penuh aktifitas. Sebab setiap dua jam atau lebih, kau harus menyesap ASI. Meski lelah, wajahmu selalu bisa menghibur, kata ibumu.

Ayahmu juga tak akan letih memacu mobil dari Bolmut. Tempat dimana segala kebiasaan ditanggalkan agar susumu terbeli, popokmu terganti, dan boneka-bonekamu memanjang di almari dan kasur. Jangan pikir ayahmu akan lelah dibuatnya. Itu tak seberapa dengan perjalanannya di Makassar atau selama di pulau Jawa. Pun tak sejauh Kuta ke Kintamani. Dan hanya demi putrinya, semua jarak bisa ia lipat. Hingga senyummu mengunci celah lelah.

Ayahmu suka sekali membaca buku. Tapi akhir-akhir ini ia terlalu sibuk denganmu. Mungkin saja buku-bukunya berserakan di mobil, rumah, lantai, kamar, dan kantor. Ia hanya ingin membacaimu kini. Putri yang akan selalu ia banggakan.

Selamat datang di dunia yang tak sesempit rahim ibumu. Dunia ini bakal penuh dengan tawa, namun sedih kerap bersanding pula nanti. Segalanya tersedia seperti sederet gelas, sendok, piring, dan belanga di dapur. Tinggal kau pilih, Qiya. Tinggal kau pilih, kau hendak memasak apa. Untuk ayah dan ibumu cicipi. Bisa saja nanti kau menumis tangis atau memanggang senang. Lalu menyajikannya di meja makan. Dimana satu-satunya tempat kau bisa berbagi. Dan tempat dimana kisah selalu tersaji.

Sunday, December 6, 2015

Pagi

pagi ini kembali terbata-bata
pada tetes air di toilet
pada musik  sayup-sayup
pun pada ikan yang mondar-mandir di kotak kaca

sebentar lagi mentari mengintip
pastikan apakah ubin masih bisa kutiduri
bersama sisa kenangan dan harapan
satu-satunya yang harus direbut adalah hari ini
dimana segala yang mungkin belum tentu terjadi. 

aku menunggu sebuah sejarah
yang akan bergelantungan di dahan atau  dedaunan
kemudian berubah menjadi siput-siput yang siap mengeja langkah

pada setiap pagi yang kutulisi puisi
bagiku puisi itu laci
tempat  menyimpan benci
tapi ini hanya benci pada sebuah diri
yang kerap melulu ingin menjadi suluh
atau malah lebih sering redup dipadamkan  peluh

pagi ini masih tersisa selarik diri
yang mencoba pergi melirik
jauh ke dalam hati
kenapa iri, dengki, atau caci sudah terlalu lama bertamu
belum juga mau pergi

Malam

coba kutolak malam, tak lagi kataku
tapi malam merebutku sekali
begitu menurut, terus pergi mari
kita menuju gelap, terang, gelap
di antara pohon-pohon purba dan lampu-lampu jalan

aspal beku oleh dingin
seperti lahar yang enggan pulang ke rahim gunung
asa hinggap di dahan, bertengger siaga
menoleh ke bawah, ke atas, ke bawah
purnama bergerak dan retak di sana

malam-malam mau lagi merebut
di negeri yang pernah dijilati Holand
berserak preman-preman jalanan berdenting gelas, botol, gelas
punah tawa saling merobek kulit

aku masih membasuh malam
malam panjang yang kujengkal perlahan
hingga pagi datang tanpa permisi
diributi deru motor, mobil, motor
jadi berisik ini pisah, segaduh jumpa

sampai jumpa-mitan malam, tak mau lagi aku
ini dunia sudah pergi mengecil
sembunyi di antara senyap-senyap
pada retak langit, purnama, langit
kita meninggi lalu merendah
rebah

Friday, December 4, 2015

Takhayul Tuyul itu Betul

Jumat malam, seharian di sekretariat AJI Gorontalo, kami akhirnya merasa bosan. Lalu ide untuk pergi melihat tuyul terlontar begitu saja dari mulut Geril dan Andri. Kebetulan saat itu Arnold melintas menuju kamar mandi. Konon, ia bisa membuka mata batin, agar kita bisa melihat penampakan tuyul. Saya, Ivol, dan Opan, yang penasaran ingin melihat tuyul, seketika bangkit dari lantai ubin. Kami sepakat ingin melihat tuyul. Arnold pun bersedia mengantar kami ke tempat di mana tuyul-tuyul itu biasa bermain.

Lewat tengah malam. Saya, Geril, Andri, Arnold, Ivol, dan Opan mengendarai motor, berboncengan mencari tempat di mana tuyul-tuyul itu mangkal. Bayangan tempat gelap, rumah tua, pohon besar, menari-nari di atas kepala saya, selama perjalanan. Meski rasa takut ada, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya ingin melihat tuyul. Harus.

Beberapa menit membelah malam kota Gorontalo, tiba-tiba Geril, Andri, dan Arnold, berhenti di titik pertama. Keadaan jalan gelap gulita. Ada lorong di samping kiri kami. Rimbun pepohonan di pinggir jalan, bak siluet raksasa. Imajinasi saya semakin horor, apalagi cahaya yang ada saat itu, hanya berasal dari tiga lampu motor yang kami kendarai. Malam itu, hanya kami berenam yang berada di jalanan itu. Tak ada kendaraan yang lalu lalang atau pejalan kaki. Namun entah kenapa, titik itu ditinggalkan. Menurut mereka bertiga, Geril, Andri, dan Arnold, tak ada tuyul di situ.

Perjalanan kami lanjutkan. Tanpa jaket, udara dingin merangkul leluasa. Menambah suasana horor malam itu. Hanya beberapa menit, kami berhenti lagi di titik kedua. Pencahayaan di lokasi itu tak terlalu gelap. Ada beberapa lampu jalan, namun tertutup rimbun pepohonan. Sekitar 20 meter dari posisi kami, ada seorang perempuan paruh baya sedang sibuk mengemasi jualannya. Ia pedagang kaki lima yang sering mangkal di situ. Sekali lagi, titik itu ditinggalkan. Alasan yang sama, kata mereka sedang tak ada tuyul yang berkeliaran. Saya mulai mengira-ngira, mungkin di sekitar situ, adalah tuyul-tuyul peliharaan. Tak sama dengan tuyul-tuyul yang kami buru malam itu. Para tuyul
terlantar. Tak bertuan.

Agak jauh dari titik kedua, akhirnya kami berhenti di pusat kota. Lokasi itu tak jauh dari persimpangan jalan. Beberapa kendaraan lalu lalang. Lampu-lampu jalan benderang. Bangunan ruko berjejer. Dalam hati saya, tempat ini cukup terang, sehingga perasaan takut saya yang sedari tadi hampir menyetuh 100 persen, berkurang menjadi 70 persen saja.

"Di sini?" saya bertanya.

"Iya, di sini ada," jawab Arnold, sambil mengeluarkan sebotol air
mineral di kantong celananya. Air itu sengaja dibawa dari sekretariat.

Andri menyeberangi jalan, menuju halte. Tak jauh dari halte, ada rumah kosong, yang menurut penuturan mereka, sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pandangan saya menyapu sekitar lokasi. Tiga meter dari saya, Opan berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupnya. Kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangan, seperti orang kedinginan. Matanya liar. Yang kemudian terpaku lama pada rumah kosong di seberang jalan.

Saya mengira, ritual melihat tuyul akan segera dimulai. Ivol sibuk dengan ponselnya. Ia berencana akan merekam video atau mungkin memotret penampakan tuyul. Kemudian kami bertiga dikumpulkan Arnold. Bibirnya komat-kamit, merapal mantra pada botol air. Lalu ia menyuruh kami bertiga membasuh mata dengan air yang telah dimantrai.

"Kalian bertiga saling berpegangan tangan atau pegang pundak saja,"
terang Arnold. Meski dalam keadaan terang benderang, ketakutan saya kali ini memuncak.

"Ingat, bentuknya hitam, kepala bulat, tak berwajah, dan melayang-layang," jelas Arnold.

Sesuai instruksi Arnold, tangan kanan kami saling memegangi pundak. Jangan sampai lepas. Berjejer, kami disuruh menyeberangi jalan. Satu dua motor melintas. Kami disuruh mundur. Selanjutnya kami diperintahkan berjalan ke samping kanan menuju satu pohon. Sekitar lima meter kami berjalan, tiba-tiba Arnold menyuruh kami mundur beberapa langkah. Kami seperti domba yang sedang digembala. Untuk menghalau rasa takut, dengan ritme cepat saya mengisap rokok yang sudah saya nyalakan sebelum ritual dimulai.

Pohon yang kami dekati itu tak terlalu besar. Seukuran paha orang dewasa. Ada satu tiang rambu-rambu lalu lintas di samping pohon. Salah satu dari kami diminta memegangi tiang itu. Ivol yang berada paling depan, merebut tiang dengan cepat.

"Tangan kalian harus terhubung dengan tanah. Tiang itu jadi media
penghubung. Jangan sampai lepas!" teriak Arnold, yang berada 10 meter jauhnya dari posisi kami.

Selanjutnya kami diteriaki untuk berjalan lagi, masih dengan posisi saling memegangi pundak. Saya yang berada paling belakang, mendapat giliran memegangi tiang. Lengan kanan saya lingkarkan pada tiang, sambil bersandar. Sedangkan tangan kiri berada di pundak Opan.

"Di atas kepala kalian!" Arnold mengarahkan.

Dengan degup jantung tak beraturan, bersamaan kepala kami mendongak. Hanya ada rimbun dedaunan. Kami mendengar teriakan Arnold lagi. Mata kami awas, terus mencari. Tiba-tiba, degup jantung serasa berhenti. Sebuah siluet seukuran bayi yang baru lahir sehari, terbang di atas kepala kami. Wajahnya polos hitam. Siluet seperti berenang di udara. Tangan dan kakinya utuh berbentuk manusia. Siluet itu lalu melayang turun dan tepat berada di belakang kami. Hanya berjarak semeter. Tiba-tiba ia menjauh sembari mengeluarkan suara, seperti jangkrik yang dicekik.

Opan tak tahan menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Ia limbung, tapi masih berhasil mengontrol keseimbangan tubuhnya. Ia tersimpuh di aspal jalan, dengan telapak tangan menutupi wajahnya. Ivol terpaku. Ponsel yang tadinya direncanakan untuk merekam, hanya digenggamnya. Kemudian ia lari menuju pagar di depan ruko. Kami bertiga tercerai-berai.

"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" saya memilih lari menuju tiang lampu jalan. Entah kenapa, suasana jalan seketika sepi. Tak ada lagi kendaraan lalu lalang saat itu.

Tuyul itu terbang menuju rumah kosong. Siluet itu bersinar, saat melintas di bawah lampu jalan. Saya berlari menuju salah satu ruko. Di sana saya dapati Ivol dan Opan masih gemetaran. Andri dan Arnold berada di halte, 20 meter jauhnya dari posisi kami. Dan kami baru sadar, ternyata Geril dengan ponsel ditangannya, berhasil merekam kejadian itu. Tuyul itu lalu hilang di halaman rumah kosong yang gelap gulita. Suasana mencekam makin terdramatisir sebab listrik sekota tiba-tiba padam. Ternyata sedang ada pemadaman bergilir PLN.

Ivol berteriak memanggil Arnold. Meminta agar mata batin kami segera ditutup. Andri dan Arnold beranjak dari halte. Bergegas menghampiri kami. Air kembali diusapkan ke mata. Napas saya masih memburu. Saya bahkan lupa, di mana rokok yang tengah saya isap tadi. Arnold sibuk mengusap pundak Opan. Sampai kondisinya membaik.

Kami bertiga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami saksikan. Ternyata, tuyul yang selama ini saya tonton di film, berbeda bentuknya. Memang ia berkepala botak atau lebih tepat bulat, tapi tidak pucat, atau bercawat. Hanya seperti siluet. Dan setelah menyaksikan penampakan tuyul itu, bangun logika yang selama ini menuntunku untuk berpikir yang rasional, akhirnya luluh lantak. Saya tidak percaya takhayul. Tapi keberadaan tuyul itu ternyata betul.

Beruntung, dari semua ritual untuk melihat tuyul, momen kami terekam jelas oleh Geril. Saking fokusnya kami, Geril terus membututi kami lalu merekam, tanpa kami sadari. Selanjutnya kami memutuskan segera kembali ke sekretariat, untuk menonton video rekaman itu. Hasilnya, tuyul itu terekam jelas. Geril saat merekam memang tidak bisa melihat tuyul itu, sebab mata batinnya tertutup. Tapi kamera yang ia arahkan, berhasil menyorot penampakan tuyul. Hanya satu tuyul memang. Tapi seramnya minta ampun.

Lalu kami memutuskan, suatu saat video itu akan diunggah di youtube. Tapi setelah semua teman teman yang kerap mangkal di sekretariat, keseluruhannya sudah pernah melihat tuyul. Tanpa tersisa. Dan jika video itu diunggah nanti, maka dari Gorontalo, bukan hanya video Norman Kamaru atau Bona Paputungan, yang berhasil menyita jutaan pemirsa. Bahkan bisa jadi, kami akan diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. Ini bukan acara Dunia Lain, yang jika dinalari, hanya berisi tayangan sampah-sampah yang dibalut kisah mistik.

Tapi, sampai sekarang ketakutan itu terus ada. Saya sempat mimpi buruk. Di kamar, malam hingga menjelang pagi, lampu tak pernah dipadamkan lagi. Seperti ada yang terus mengawasi, meski kamar dalam keadaan terang benderang. Namun jauh di dalam hati, ada kepuasan sebab rasa penasaran itu akhirnya terobati. Meski harus dibayar mahal dengan gigir ketakutan. Saya takut sekaligus puas. Dan kepuasan itu akan terus ada. Bahkan jika nanti pada akhirnya kami memutuskan untuk menghapus video itu. Yakinlah, mereka ada.

Tuesday, December 1, 2015

Hai Sigi


Sigi. Kamu itu suluh, obor, kata kamus. Kamu penerang jalanku. Kilat bola mata bundarmu sepakat. Dan kamu masih selalu menjadi ruhku dalam menulis apa saja tentang hidup. Sebab kamu hidup. Terbenam dalam nadiku.

Ibumu tahu aku rindu padamu. Setiap saat. Meski kita hanya sedetik pernah terkurung bersama. Kala itu tengkar acapkali ada. Kamu masih takut menatapku. Bahkan dalam tidur lelapmu.

Kamu tahu, Sigi. Sama sepertimu, ibumu kukenali dari kilat bola mata. Meski bola mata ibumu cokelat, tak seperti warna bola matamu yang hitam. Namun malam itu kilatannya menyilaukan. Jauh ke dalam, sekali lagi, nadi. Aku pikir, semesta pun cemburu, dengan cara kami saling bertatapan kala itu.

Aku pernah coba melupakanmu, saat kita tak serumah lagi. Meski kutinggalkan beberapa helai pakaianku, untuk kamu baui saat bayi. Kata orang tua, itu agar kamu tak rewel. Tapi aku tetap merinduimu. Kamu kerap menangis dibuatnya. Rindu memang selalu bercumbu dengan air mata.

Kamu masih ingat? Tatkala usiamu dua tahun. Kamu sangat lincah berlari. Aku tengah duduk di sofa kamar. Tiba-tiba kamu berlari dan meringkuk di antara pahaku. Kamu ingin berlindung dari apa, Sigi? Takut dengan apa? Oh, ternyata nenekmu sedang menyuapimu nasi. Kamu bukan takut, tapi kenyang ternyata. Baguslah, kamu kenali apa itu kenyang, agar tak serakah jika dewasa nanti. Benar, Sigi, menjadi dewasa itu rentan serakah. Kakekmu sangat benci dengan orang tamak.

Setiap 28 April, aku menulis tentangmu. Itu tanggal lahirmu. Tapi ini bukan April. Iya, Sigi, kita berdua terlahir di bulan yang sama. Aku tanggal 12. Tuhan seperti ingin agar bulan itu menjadi spesial bagi kita berdua. Mungkin itu satu-satunya cara Tuhan menghiburku. Memberiku porsi bahwa aku patut diberi momen. Sebab ibumu terlalu banyak momen denganmu. Bahkan setiap ibu di dunia, selalu lebih spesial, bukan?

Akhir November 2015, aku terkejut. Kamu meneleponku.
"Hallo Aba, ada ba apa?"
Aku pikir ibumu yang menelepon. Aku ingat, asap mengepung Kalimantan, dan kamu berada di Banjarmasin, aku begitu cemas. Ternyata kamu sudah kembali ke Passi. Desa dimana kamu dicipta dan dilahirkan. Aku senang sekali kala itu. Apalagi kamu menyusulku dengan SMS. Aku tidak tahu persis, kamu yang menekan tombol huruf atau ibumu. Tapi itu membikinku senang.

Sesudah itu, setiap hari kamu mengirim pesan. Bertanya aku di mana, sedang apa, dan pertanyaan pertanyaan pasangan remaja yang kasmaran. Aku tahu saat itu kamu mendengar instruksi ibumu. Kamu terlalu kecil untuk tahu 5W 1H. Tapi aku anggap itu sepenuhnya kamu. Lalu aku menegurmu, jangan terlalu lama main ponsel. Eh, sesaat kemudian ibumu mengirim pesan suara. Kamu menangis. Kenapa Sigi? Kamu takut dengan sosok ayah yang pelarang? Aku bukan ayah seperti itu. Aku hanya takut kamu menjadi anak yang tidak interaktif. Kamu akan nyaman dengan ponsel itu, sedangkan ada semesta tempatmu bermain. Kamu bisa berkejar-kejaran dengan anak tetangga. Mandi hujan lalu melompat-lompat di genangan air. Atau mencuri tomat nenekmu di kulkas. Kamu masih doyan makan tomat?

Usiamu baru 4 tahun 8 bulan. Memang Tak lama lagi kamu masuk taman kanak-kanak. Aku sempat bertanya apakah kamu sudah bisa berhitung dan mengeja huruf. Di ujung telepon sayup-sayup ibumu bilang.
"Sigi, baru ada tunjung kalamaring!"
Tapi aku ingatkan ibumu, jangan dulu diajari berhitung dan membaca. Di usiamu sekarang, biarkan saja kamu bermain sepuasnya. Menggambari tembok dan mendengarkan dongeng ibumu. Kenali dunia sekitar hingga tempat tidurmu. Tak lama, aku bertanya apakah kamu sudah bisa menyanyi. Kamu menyanyikan lagu 'Kasih Ibu'. Kamu anak pintar.

Aku juga meneleponmu waktu itu. Hingga kamu capek menggenggam telepon. Benar Sigi, menjadi orang dewasa itu capek. Terpaku pada gadget sampai lupa waktu. Makanya, lepaskan ponsel lalu bermain lagilah. Aku rela. Lalu kita bersalam pisah. Kamu mengecup di ujung sana. Terdengar rekat.

Oh, ya, kamu sudah ketemu nenek di rumahku? Jawabmu sudah. Katamu nenek memberimu uang puluhan ribu. Iya, nenek selalu begitu. Apalagi ia terlalu rindu denganmu. Sejak kamu ke Banjarmasin, nenekmu acapkali bersedih, sebab kamu tidak pamitan. Tapi baguslah kamu telah pulang. Lalu bertemu nenek lagi. Pasti kamu dibuatnya kenyang lagi.

Aku tanyai lagi, sudah ke makam kakek? Katamu belum, nanti akan ke rumah nenek lagi, terus ke makam kakek. Iya, kakek juga pasti rindu kamu. Saat kakek berpulang, kamu masih di Passi. Momen duka itu menjadi suka bagiku. Sebab kamu selalu takut bertemu denganku. Dan akhirnya di hari pemakaman kakek, kamu akhirnya mau kupeluk. Biasanya momen seperti itu, hanya bisa kucuri saat kamu tertidur pulas.

Hai Sigi. Kamu bidadari yang hanya bisa kutulisi, entah sampai kapan. Getah Semesta ini, tabung memori untukmu. Akan kupenuhi dengan segala semesta hidupmu dan hidupku. Mereka yang ada di sini pun adalah jejak-jejak hidup kita berdua. Sebab sebenarnya setiap mahluk itu saling terhubung. Ada getah yang merekatkan kita.

Ok, Sigi. Jangan nakal ya, sama ibu. Bilang sama ibumu, rambut keritingmu jangan digunting. Jangan lupa selalu tersenyum dan puas-puaslah bermain. Sayangi kakek dan nenekmu di rumah ibu. Sayangi pula nenek di rumah ayah. Sayangi keluargamu. Sayangi tetangga-tetanggamu. Sayangi boneka-bonekamu. Sayangi teman-temanmu. Sayangi semua manusia. Sayangi pula binatang binatang yang kamu temui. Jika mereka tidak menggangu, jangan usik mereka. Sayangi semua mahluk.

Sudah dulu ya, Sigi. Berulang kali ayah berpesan: Jangan pernah dewasa!! Muaaachhh!!